
Za bangun ketika kokokan ayam sudah nyaring terdengar, tubuhnya terasa sedikit sesak dan sulit bergerak, Za tersenyum melihat tangan kokoh yang melingkari tubuhnya ia bergeser sedikit untuk kemudian berbalik memandangi wajah tampan sang suami yang masih terlelap.
"Kenapa dia tetap terlihat tampan walau sedang tertidur seperti ini?" Gumamnya, dengan jemari yang menyusuri setiap lekuk wajah suaminya.
Za terus memandangi wajah suaminya, ada rasa bersalah mengingat kelakuannya semalam, ia tersenyum tipis merasa sangat beruntung mempunyai suami yang sangat pengertian seperti Inder, jika lelaki lain mungkin saja akan memaksanya, Kan?
Cup. Ia iseng mengecup kilat bibir suaminya. Namun, saat ia hendak menjauhkan wajahnya, tengkuknya ditarik membuatnya membulatkan mata seketika. Kecupan singkat itu kini berbuah ciuman yang dalam dan menggairahkan. Za memejamkan mata, menikmati setiap ******* lembut yang diberikan sang suami.
Ia membuka matanya ketika ciuman itu berakhir, meninggalkan rasa kebas dibibirnya.
Za menatap wajah sang suami yang kini mengulum senyum. "Mau lagi?" Tanya Inder, tersenyum penuh arti, membuatnya bangun dari posisinya, ia duduk sambil memalingkan muka, sebal sekaligus malu.
"Kalau Mau dengan senang hati kukabulkan." Goda Inder lagi, seraya ikut beranjak menyamakan posisinya dengan sang istri.
"Ck!" Ia hanya bisa berdecak, tanpa niat membalas godaan sang suami.
"Kayaknya ada yang nyesel nganggurin suami tampannya semalam!" Cibir Inder, sambil melingkarkan tangannya di tubuh Za dari belakang.
"Ishh, pagi-pagi udah narsis." Ucap Za. "Udah ah, aku mau bantuin Bunda bikin sarapan." Ucap Za, seraya hendak beranjak dari tempatnya, tapi terhalang lengan kokoh sang suami.
Inder tak membiarkan istrinya pergi begitu saja, ia malah mengeratkan tangannya menaruh dagunya di bahu Queenza, "Inder aku mau bantu Bunda bikinin sarapan." Ucap Za ketika sang Suami malah mengeratkan pelukannya.
"Ya, udah! Pergi gih!" Ucapnya, seraya menciumi tengkuk Za membuat gadis itu meremang.
"Inder!" Pekiknya seraya memejamkan mata saat sang Suami menggigit kecil daun telinganya membuat gelenjar aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Inder tak menyia-nyiakan kesempatan, melihat istrinya ikut menikmati ia menurunkan bibirnya menyusuri leher mulus Za, meninggalkan beberapa tanda kepemilikannya disana. "Emhhh" Desah Za membuatnya makin bersemangat memberikan kenikmatan yang belum pernah gadis itu rasakan .
"Bodoh kenapa aku tak melakukannnya semalam? " Rutuknya dalam hati.
Inder terus memberikan serangan-serangan lembut, menjelajahi leher jenjang milik sang istri , tangannya tak tinggal diam terus bergerak dan kini turun menyelusup kedalam piyama tidur Za untuk menikmati dua bukit yang belum pernah tersentuh itu. Namun suara ketukan!!!! pintu membuyarkan konsentrasi keduanya membuat Za langsung beranjak.
"Za, Inder, Bangun, Nak! Kita sarapan." Ucap Bunda Resha dari balik pintu.
"I...iya, Bun! Sebentar lagi kami turun." Ucap Za sedikit berteriak.
"Kamu sebaiknya mandi dulu, aku bantu Bunda siapkan sarapan." Ucap Za, sambil berlalu tanpa menoleh lagi.
Inder tersenyum kecil, melihat istrinya. Ia tau istrinya itu sedang malu. "Sabar... sebentar lagi hak mu pasti terpenuhi" Ucapnya pada diri sendiri
đşđşđşđşđş
Sementara itu dipagi berikutnya ditempat yang berbeda seorang gadis berlari kecil menuju sebuah butik dan salon tempatnya bekerja.
Peluh yang membasahi keningnya menjadi saksi berapa jauh gadis itu berlari. Ia segera menuju Fingerprint menempelkan sidk jarinya di mesin itu tepat saat jarum jam bergilir pada angka delapan.
Gadis itu menghela napasnya lega, hari ini tepat setahun ia bekerja di tempat itu dan pertama kalinya ia hampir terlambat karena ojek yang ditumpanginya mogok.
"Pagi, May!" Sapa pegawai lain."Kenapa kamu keringetan gitu, May?"
"Pagi juga, mbak! Ojek langgananku tiba-tiba aja mogok, jadi lari dari ujung jalan sana biar gak terlambat." Akunya dengan napas yang masih tersenggal.
__ADS_1
"Minum dulu, gih May. Cape banget pasti." Saran pegawai itu lagi.
Ia menurut, segera menuju pantry mengisi gelas dengan air dan meminumnya sampai tandas.
Ia kembali kedepan bermaksud untuk melayani para pembeli yang biasanya sudah mulai berdatangan.
Dahinya berkerut melihat butik yang biasanya ramai mendadak kosong melompong.
"Tumben banget jam segini belum ada yang datang, mbak?" Tanyanya.
"Butik hari ini emang gak bakal buka, May." Jawab mbak asri teman kerjanya hari ini. "Hari ini kita mau kedatangan tamu spesial, mertuanya adik dari bos kita, buat fiting baju untuk acara besok lusa." Ujar Mbak asri menjelaskan.
"Ohh, pantes dari tadi aku gak lihat pegawai lain disini." Ujar Maya. Ia baru ingat esok lusa akan ada perhelatan mewah, adik dari pemilik butik tempatnya bekerja akan menggelar resepsi mewah di hotel ternama.
Dan bahkan kalau saja dia tak tertimpa musibah dialah yang dikirim untuk mendandani mempelai perempuan saat akad beberapa hari yang lalu, sayang, dua hari sebelumnya, kejadian naas menimpanya. Membuatnya meminta cuti dengan alasan pulang kampung, padahal ia sedang berusaha menenangkan diri saat itu.
"Pegawai lain memang sengaja diliburkan, cuma kita dan nancy aja yang disuruh kerja untuk melayani keluarga mertuanya mas Ivander." Ucap Mbak asri lagi membuyarkan lamunannya.
Ia manggut-manggut paham, sepertinya bosnya ingin pekerja terbaik yang melayani keluarga mertua adiknya itu.
"Bersiap, ya. Berikan pelayanan terbaik kalian, sebentar lagi keluarga mertuanya Inder datang!" Seru Ivana yang baru masuk. "Maya."
"Iya Bu."
"Kamu layani Nyonya Pramudza, tunjukan pakaian yang sudah kita siapkan untuk keluarga mereka, tampung jika ada yang ingin mereka tambahkan atau yang mereka kurang suka, nanti langsung lapor kesaya! Saya mengandalkan kalian jadi jangan kecewakan saya." Titah Ivana.
Maya mengangguk. "Ibu bisa percayakan pada kami." Ucapnya.
"Siap, Bu."
"Oke, saya keruangan sebentar tolong kasih tau saya kalau mereka sudah datang."
Tak berapa lama tamu yang dinanti datang, Maura bersama beberapa kerabatnya datang, yang langsung disambut oleh Ivana.
"Siang Tante, apa kabar?" Ucap Ivana, seraya memberikan kecupan dipipi kiri dan kanan Maura.
"Baik, sayang. kamu gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah, aku juga baik, mari Tante kita langsung masuk kedalam." Ajak Ivana.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, Raja masih parkirin mobil, takutnya dia nyariin."
"Ohh, kita masuk duluan aja, biar mas Raja ditungguin pegawainya Vana, nanti biar diantar kedalam!" Ucap Ivana.
"Oh baiklah kalau begitu."
"May, tolong kamu tungguin anaknya Tante Maura, ya! Namanya Mas Raja, nanti kamu anter keruangan saya.!" Titah Ivana.
"Baik, Bu!" Jawab Maya.
"Yang lainnya tolong dibantu tamu kita.untuk mencoba pakaiannya!" Ujar Ivana pada dua pegawainya yang lain.
"Baik, Bu!"
Maya berdiri di dekat pintu menunggu tamu yang dibicarakan bosnya, tak berapa lama seorang pemuda datang, Maya segera membukakan pintu butik, "Mas Raja?" Tanyanya memastikan kalau pemuda yang pokus pada ponsel tersebut tamu yang ditunggunya.
"Ya!" Jawab pemuda tersebut seraya mendongak, membuat wajah yang tadi terhalang topi yang dikenakannya kini terlihat.
Deg.
Jantung Maya terasa lepas dari tempatnya, tubuhnya menegang seketika begitu melihat wajah pemuda didepannya. Air matanya meleleh tanpa permisi ketika ingatan tentang kejadian naas yang menimpanya seminggu yang lalu kembali berputar di kepalanya.
Dia... pemuda didepannya adalah lelaki yang sudah merenggut kehormatannya.
Tubuh Maya mendadak limbung dan hampir saja terjatuh, dengan sigap lelaki itu menahan tubuhnya. "Mbak, anda baik-baik saja?" Tanya Raja, memegang pinggang rampingnya.
__ADS_1
"Lepas! Jangan sentuh saya!!"