Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Kok sakit Ya?


__ADS_3

Inder melangkah tergesa menuju kamar rawat Za, Tadi ia menitipkan Za pada Rega karena dokter memanggilnya sedang Alika masih belum datang.


Sebuah panggilan telpon membuat langkahnya terjeda. Friska nama di layar telpon itu, membuatnya menolak panggilan bahkan langsung mematikan ponselnya.


Keningnya berkerut melihat lelaki yang berjalan dari arah kantin rumah sakit.


"Ga." Panggilnya. Pria itu menoleh, lalu nyengir. "Hai Nder, udah selesai?"


"Lo bukannya gue titipin Za, ya. Kok lo malah disini? Za sama siapa?"


"Sory, tadi gue laper jadi ditinggal ke kantin bentar." Ucapnya.


"Dasar, gak da tanggung jawabnya lo."


"Jangan marah, lagipula dia masih tertidur kan? Jadi aman di tinggal sendiri juga."


"Kalau dia sadar trus disana gak ada siapa-siapa, gimana?"


"Iya maaf, gue kan udah minta maaf, Nder."


Inder melanjutkan langkahnya, mempercepatnya agar segera sampai ke kamar rawat, Za.


Ia sedikit heran melihat pintu kamar rawat itu sedikit terbuka, tapi ia tak memperdulikannya ia terus masuk kedalam.


Namun begitu ia masuk justru pemandangan menyesakkan yang ia saksikan.


Queenza... gadis pujaannya sedang berada dalam pelukan seorang pria.


Ia berbalik pemandangan di depannya tak bagus bagi kesehatan jantungnya. Baru saja ia melangkah, hendak keluar dari kamar itu, suara Za menghentikannya.


"Inder, kau mau kemana?"


Rupanya gadis itu menyadari keberadaannya.


"Aku... panggil dokter dulu, ya. kasih tau kalau kamu sudah sadar." Ucapnya, ia bergegas keluar dan mendapati Rega di balik pintu.


"Gue udah panggil dokter." Ucap sahabatnya itu. Ia mengangguk.


"Ga."

__ADS_1


"Hemz"


"Kok sakit ya?" Ucapnya seraya memegang dadanya.


🌺🌺🌺🌺


Queenza


Ia melonggarkan pelukan dari sang kakak begitu menyadari keberadaan Inder.


"Inder, mau kemana?" Tanyanya, melihat atasan sekaligaus sahabatnya itu malah berbalik.


"Aku panggil dokter dulu, ya. Kasih tau kalau kamu sudah sadar." Ucap Inder tanpa berbalik memandangnya, kemudian pergi keluar dari kamar tanpa menunggu jawabannya.


Pandangannya beralih pada kakak yang kini membelai rambutnya, segera ia kembali memeluk kakaknya lagi, dibalas dengan ciuman sang kakak di keningnya.


Sungguh... rasanya ia masih belum puas meluapkan semua rindu yang selama ini hanya di pendamnya.


Tak lama dokter dan dua perawat masuk kekamarnya, memeriksanya secara menyeluruh, menanyakan apa yang saat ini dirasakannya.


"Ok, semuanya baik, dan untungnya tak ada komplikasi lannya." Ucap dokter, membuatnya cukup lega. "Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya tinggal pemulihan saja" Lanjutnya lagi.


"Kakak kenapa kau terus memandangiku seperti itu." Ucapnya mendapati sang kakak masih memandangnya.


"Aku hanya masih tidak percaya kalau pada akhirnya aku bisa menemukanmu, selesai sudah pencarianku." Ucap kakaknya dengan terus mengenggam tangannya.


"Pencarian? Kakak mencariku?" Tanyanya. Raja mengangguk.


"Jadi kakak tau dari awal kalau aku masih hidup?"


Raja mengangguk lagi. "Maaf, karena tak bisa menghalangi mereka membawamu saat itu." Sesal Raja.


Za tersenyum getir,"Saat mereka membawaku keterminal bus, aku terus melihat kebelakang." Ucapnya, ia menghela nafas mengingat kejadian memilukan itu."Aku selalu berharap, kakak akan datang mengejarku dan membawaku kembali. dan bahkan ketika mereka membawaku kerumah mereka, aku selalu berharap kalian akan datang menjemputku." Sambungnya, dengan airmata yang kembali mengalir, membuat sang kakak kembali merengkuhnya dalam pelukan.


"Maaf." Ucap Raja.


"Maaf, karena saat itu aku tak bisa berbuat apa-apa." Ucap kakaknya, membuatnya kembali terisak karena sesak yang kembali hadir memenuhi dadanya.


🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Rega membawa Inder menuju cafe di dekat rumah sakit tempat Za dirawat. Ia bisa melihat kalau sahabatnya itu tidak sedang baik-baik saja.


"Kenapa rasanya dada gue mendadak sesak melihat dia pelukan sama cowok lain." Keluh Inder. Ia tak menjawab ataupun berkelakar seperti yang biasa ia lakukan, ia tau yang dibutuhkan oleh Inder saat ini adalah teman yang bisa mendengarkan semua keluhannya.


"Sialan, gue kalah start sama tuh cowok!" gerutu Inder lagi. "Gimana bisa mereka sedekat itu? Padahal pas makan malam saja mereka bahkan tidak saling sapa." Sambungnya lagi.


Rega menepuk pundak sahabatnya itu. "Udah gak usah dipikirin! Gue punya kabar bagus buat lo."


"Apa?"


"Tenta Raja pramudza!"


"Tentang hubungannya sama Za? Sorry gue lagi gak minat bahas itu sekarang." Ucap Inder, cukuplah ia melihat mereka berpelukan tadi, jangan sampai hatunya makin remuk mengetahui kebenaran hubungan mereka.


"Bukan!" Sanggah Rega cepat, membuatnya kembali menoleh.


"Terus tentang apa?"


Rega mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi galeri lalu menunjukannya pada Inder.


"Lo masih ingat tentang gadis ini?"


Inder mengambil ponsel yang ia sodorkan, matanya membelalak seketika.


"Gadis ini...? Darimana lo dapet foto ini, Ga?"


Ia menyeringai melihat ekspresi Inder, sesuai dugaannya Inder pasti akan penasaran.


"Dari laman pribadi milik Raja pramudza." Ucapnya membuat lelaki dihadapannya semakin membulatkan matanya.


"Kok bisa?"


"Itu yang sedang gue selidiki. Tapi kalau dilihat dari captionnya gadis kecil ini adalah adiknya."Ujarnya lagi sembari menunjukan captions yang di tulis Raja.


Merindukanmu... Adik kecilku.


Caption Raja dalam unggahan foto yang di post beberapa tahun yang lalu.


"Apa yang lo pikirin, Nder?" Tanyanya melihat pria di depannya termenung.

__ADS_1


"Ga, apa lo pikir gadis kecil itu adalah friska??"


__ADS_2