Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Siapa Namamu?


__ADS_3

Inder benar-benar kesal dengan Friska, gadis yang jadi pasangannya dalam iklan ini sama sekali tak profesional. Berkali-kali mereka harus mengulang take yang sebenarnya sangat simpel hanya karena Friska yang selalu melakukan kesalahan.


Seperti ketika mereka harus berpegangan tangan Friska enggan melepasnya padahal tuntutan naskah ia harus melepas pegangan tangannya. "Astagaaa bagaimana bisa orang seperti ini dijadikan artis. dia janya modal tampang dan kaya saja" Keluhnya dalam hati.


Hanya karena Za yang masih setia berdiri menemaninya di kejauhanlah, yang membuatnya bertahan. Hingga saat kembali melirik gadis itu ia mendapati pemandangan tak mengenakan.


Darahnya seakan mendidih melihat gadis itu sedang saling pandang dengan seorang pria. Raja pramudza, ia mengenal pria itu sebagai anak pemilik gedung ini, tapi... apa hubungannya dengan Za? Apa mereka saling mengenal?


"Ok, Break makan siang dulu deh. " Ucap sang Sutradara yang sepertinya juga kesal pada Friska, Karenanya syuting yang harusnya selesai hari ini dipastikan molor karena dari tadi belum berhasil mengambil adegan satu take pun.


Inder melangkah tergesa menghampiri Za yang masih saja betah memandang pria itu.


"Ayo, Za. kita makan siang aku sangat lapar." Ucapnya seraya menarik tangan Za, membuat si empunya tersentak tak siap membuatnya oleh dan hampir terjatuh.


Hap, Raja menangkap tubuh gadis itu sebelum jatuh, "Apa kau tak bisa lembut pada wanita? kau membuatnya hampir terluka." Ujar Raja geram.


Za yang mulai bisa menguasai diri, segera melepas gamitan tangan Raja di pinggangnya. "Terima kasih." Ucapnya.


"Ayo, Inder bukankah kau lapar." Ucapnya lagi gantian menarik tangan lelaki itu mengajaknya pergi.


"Jika itu benar dirimu, mengapa kau tidak mengenaliku, Queen?"


🌺🌺🌺


Za menyiapkan makanan yang diberikan crew, "Makanlah." Ucapnya ia hendak pergi untuk mengambil air mineral yang ada di tasnya tapi tangan inder mencekalnya.

__ADS_1


"Maaf." Ucap Inder. "Aku menarikmu terlalu kasar tadi."


Za menghela nafas, "Tidak apa-apa, Makanlah aku akan membawakan air minum untukmu." Ucapnya tersenyum.


la kembali dengan dua botol air mineral di tangannya, "Kau masih belum makan?"


"Aku menunggumu, makan sendirian itu tidak enak." Jawab Inder.


Za duduk berhadapan dengan Inder, "Kalau begitu ayo kita makan." Ucapnya.


"Za, apa kau mengenal Raja pramudza?"


"Uhuk.." Za tersedak mendengar pertanyaan Inder.


"Hei... kau baik-baik saja? Ini minumlah."


"Aku melihat kalian ngobrol tadi, dan kau... kau memandangnta begitu dalam." Ujar Inder, Queenza terdiam sejenak, kemudian tertawa kecil.


"Kalau bertanya aku salah satu crew atau bukan itu kau sebut mengobrol ya... aku mengobrol dengannya." katanya, "Bahkan aku tak sempat menjawabnya tadi." Ucapnya lagi pelan.


"Bagaimana kau bisa menjawabnya kalau kau keburu terpesona sampai tak berkedip melihat dia." Cibir Inder kesal.


Baru saja ingin menjawab Inder, dua oramg paruh baya datang menghampiri mereka.


"Selamat siang, Inder." Sapa Mami Maura.

__ADS_1


"Siang Tante, Om." Ujar mereka bersamaan.


"Apa kami mengganggu?" Tanya Papi Raja, Inder menggeleng.


"Dari tadi saya terus bertanya-tanya dimana saya pernah bertemu dengan asistenmu itu, dan sekarang saya ingat, Kamu gadis yang menolong saya waktu itu, kan?" Tanya Maura antusias.


Inder menatap gadis itu mencari jawaban, gadis itu tersenyum. "Itu hanya kebetulan Nyonya, siapapun yang ada di posisi saya pasti akan melekukan hal yang sama."


"Tidak, Nak. Tak semua orang perduli dengan orang lain di sekitarnya, terbukti hanya kamu yang menolong tante padahal saat itu banyak orang di Mall itu." Ucap Mami Maura lagi.


"Terima kasih, Nyonya. Tapi anda terlalu melebihkan." Ucapnya dengan sopan.


"Sebagai ucapan terima kasih, kami ingin mengundangmu untuk makan malam di rumah kami." Ucap Papi Rendy. Za sedikit terkejut, makan malam di rumah? Itu berarti ia akan kembali menginjakkan kaki di rumah penuh kenangan itu.


"Ivander, kami bolehkan mengundang asistenmu ke rumah kami?" Tanya Mami Maura penuh harap.


"Tentu, Tante."


"Kau dengar, Nak. Jadi tak ada alasan kamu untuk menolaknya."


Mau tak mau, Za mengangguk. "Baiklah Nyonya." Ucapnya.


"Jangan panggil aku Nyonya, kau bisa memanggilku Tante seperti Ivander memanggilku."


"Baiklah Tante." Ucapnya sedikit canggung.

__ADS_1


"Oh, ya Nak. Tante belum tau namamu, Siapa namamu??


__ADS_2