Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Za Diculik! 2


__ADS_3

Maya merasakan kepalanya begitu berat, ia terbangun dengan posisi terikat di sebuah kursi kayu. Ahh ia ingat seseorang memukul kepalanya hingga pingsan, tadi.


"Baguslah kau sudah bangun, tadinya aku berencana menyiram air untuk membangunkanmu." Ujar suara seseorang yang Sangat familiar di telinganya.


"dimana Queenza? Kenapa kau menculiknya? Kenapa kau begitu jahat padanya, Friska? Padahal dia selalu baik padamu!" Cerca Maya.


"Baik kau bilang? Baik apanya? Dia bahkan sudah merenggut semua milikku!" Sergah Friska. "Dia merenggut kasih sayang Mami dan Papi, dia merebut perhatian Inder dariku, Dan bahkan gara-gara dia aku diusir dan dicoret dari keluarga Pramudza. Apakah itu yang dibilang baik?" Ujar Friska.


"Kau hanya iri, Friska! Bukan salah Za jika semua orang menyayanginya, dan Inder? Yang ku tahu dia memang sudah jatuh cinta pada Za sejak pertama kali, jadi bukanlah salah Za jika Inder lebih memilihnya!" Ucap Maya.


"Kau tidak tahu, apa-apa!" Bentak Friska. "Hidupku sempurna sebelum ia datang! Aku bahkan hampir saja mendapatkan Inder jika saja ia tak hadir ditengah-tengah kami! Tapi ia menghancurkan semua mimpiku." Geram Friska, tapi sedetik kemudian wajah wanita itu menyeringai. "Tapi sebentar lagi, Za akan kubuat menderita, dan kupastikan setelah ini Inder akan memilihku, dan kami akan hidup bahagia!" Ucap Friska sembari tersenyum membayangkan wajah Inder.


"Wanita ini sudah gila!" Pikir Maya.


"Memangnya apa yang kau rencanakan? Mau kau apakan Za?" Tanyanya.


Friska tersenyum miring, "Satu lagi lelaki bodoh yang tertipu wajah polosnya berhasil kumanfaatkan, Dia akan menikmati tubuh wanita ****** itu, dan merekam aksinya, dan tentu saja dengan senang hati akan tunjukan hasil videonya pada Inder, dan aku yakin Inder akan meninggalkannya."


"Astagaa, Za dalam bahaya saat ini!" Ucap Maya dalam hati.


Friska mendekat pada Maya. "Bergabunglah denganku, Maya! Aku tau kalau kau juga sama terlukanya denganku saat melihat kedekatan Za dengan Kak Raja! Dan tak ada yang bisa menjamin kalau mereka tak akan kembali bersama saat Inder mencampakkan Za nanti!"


Maya terdiam mendengar semua ucapan Friska. Ia berpura-pura berpikir padahal dibawah sana ia berusaha melepas ikatan di tangannnya, tapi ikatan itu begitu kencang hingga sulit dilepaskan.


Hingga suatu ide muncul dikepalanya. "Kau benar!" Ucap Maya dengan wajah yang ia buat sesendu mungkin. "Dadaku selalu sesak tiap kali melihat mereka bersama, dan Raja bahkan tak pernah memikirkan perasaanku saat ada Za!" Ucap Maya lagi, ia menunduk dengan wajah sedihnya.


Friska tersenyum. "Gampang sekali wanita ini dihasut, sebentar lagi dia pasti akan bergabung denganku, Dan Za, tamatlah sudah riwayatmu!" Batin Friska.


"Jadi bagaimana Maya? Kau akan bergabung untuk membantuku? Ayo kita sama-sama singkirkan parasit itu!" Cetus Friska.


Maya menatap wajah Friska. "Apa yang bisa kulakukan untuk membantumu?" Ujar Maya.


"Ada pekerjaan yang bisa kau lakukan! Telpon kakakku, kecoh mereka agar tak bisa menemukan tempat ini." Ujar Friska dengan senyuman kemenangan.


"Kalau begitu lepaskan tanganku, agar aku bisa menelpon mereka!" Ucap Maya.


Friska terdiam, ia berpikir sejenak lalu melepas ikatan Maya.


Maya tersenyum saat Friska membebaskannya, matanya melihat sekelilingnya mencari sesuatu yang bisa membantunya. Dan... ia melihat tongkat kayu yang mungkin digunakan Friska memukulnya tadi.


"Ayo telpon Raja, dan kecoh mereka!" Seru Friska.


Maya mengambil ponselnya yang diberikan oleh Friska, rupanya ada sebuah pesan masuk dari nomor Inder.


📩: Tekan berlian yang ada di tengah kalung Za, agar kami bisa menemukan kalian!


Tulis Inder dalam pesan itu, yang segera ia hapus. Sepertinya Friska tak punya waktu untuk memeriksa ponselnya.


Ia mulai menghubungi Raja, kakinya melangkah mendekati tongkat kayu itu, dengan Friska mengekor dibelakangnya.


Tiba-tiba tubuhnya ia balikkan dan menonjok Wajah Friska dengan dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


Bugh satu pukulan mendarat di wajah Friska membuat tubuh wanita itu limbung karena tak siap dengan serangan yang mendadak.


Maya memanfaatkan itu untuk mengambil tongkat kayu dan kembali memukul wanita jahat itu hingga tersungkur. Ia lalu menarik kasar tubuh Friska sudah setengah tak sadar dan mengikatnya di kursi tempat Friska mengikatnya tadi.


"Kau menipuku!" Sentak Friska.


"Kau salah jika berpikir aku akan berbuat sejahat dirimu! Mungkin hatiku pernah tersakiti melihat kebersamaan Raja dengan Za, tapi aku tidak akan pernah menyakiti orang lain." Ucap Maya dengan napas yang terengah.


"Kau akan menyesal Maya!" Teriak Friska sambil meringis menahan sakit dikepalanya.


Maya tak lagi menanggapi ocehan Friska suara teriakan Za dilantai atas membuatnya bergegas meniti anak tangga menuju sumber suara.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Queenza membuka matanya perlahan, ia berusaha untuk bangun meski dengan kepala yang masih terasa berputar. "Dimana aku?" Gumamnya. Saat menyadari ia berada ditempat yang begitu asing.


Ia memegangi kepalanya yang terasa masih sakit, dan menatap pergelangan tangannya yang memerah, membuatnya mengingat peristiwa didepan rumah sakit.


"Astaga...!" Pekiknya.


Za mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan ini, ia berniat untuk beranjak dan kabur dari tempat itu.


"Kau sudah bangun!" Suara khas seorang lelaki membuatnya menoleh kesumber suara.


"Mike?!" Seru Za terkejut. "Kenapa kau bisa ada disini? Jangan bilang kalau kau...?" Za tak mampu melanjutkan perkataannya, hatinya berusaha menyangkal pikirannya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang yang sangat ia kenal sebagai pria supel yang baik hati menculiknya?


"Kau tenang saja, aku tidak akan menyakitimu!" Ucapan Mike membuatnya yakin kalau pria dihadapannya adalah dalang dari drama penculikan ini, tapi untuk apa Mike menculiknya?


Mike tersenyum dan mulai mendekatinya. "Aku hanya ingin bersamamu, Za!" Ucapnya lembut. Tangannya terulur untuk menyentuh wajah Za namun gadis itu menepis tangannya kasar.


"Jangan sentuh aku!" Pekik Za. "Mike, suamiku pasti sedang khawatir padaku, tolong biarkan aku pergi." Pintanya.


"Melepaskanmu?! Setelah dengan susah payah aku membawamu kemari? Maaf tapi aku tak bisa melakukannya, Za!" Ucap lelaki itu, menyeringai.


"Aku mencintaimu, Za! Aku jatuh cinta padamu dari saat pertama kali kita bertemu.Tapi sayangnya kau malah lebih memilih artis itu daripada aku, padahal aku bisa memberikan lebih dari apa yang dia berikan padamu!" Aku Mike membuat Za menatapnya tak percaya.


"Aku minta maaf karena tak mengetahui perasaanmu, tapi sekarang aku sudah menikah, jadi kumohon, tolong biarkan aku pergi!" Bujuk Za lagi.


"Tidak semudah itu, Sayang!" Ucap Mike sembari menyeringai. "Bagaimana kalau kita bersenang-senang dulu malam ini?!"


Za memundurkan badannya ketika Mike terus mendekat. "Suami dan Kakakku tidak akan membiarkanmu hidup, kalau kau berani macam-macam denganku!" Gertak Za, berharap Mike akan mengurungkan niatnya.


"Aku rela mati asal bisa merasakan tubuhmu!" Ucap Mike.


"Kau gila!" Teriak Za.


"Ya aku memang gila! Aku tergila-gila padamu!"


Za terus mundur hingga tubuhnya sudah menyentuh tembok, "Kau mau kabur kemana, Sayang! Ha ha ha" Cibir lelaki itu dengan tawa menggelegar.


Mike berusaha untuk memeluk Za namun dengan cepat Za melempar bantal didekatnya dan menendang tubuh Mike. Za turun dari ranjang king size itu dan berlari menuju pintu kamar itu.

__ADS_1


"Kau pikir bisa lari dariku, Hah!" Bentak Mike seraya menarik kasar tangan Za, lalu membopongnya dan menghempas kasar tubuhnya ke tempat tidur.


"Awww!" Pekik Za ketika merasakan pinggangnya menghantam sisi ranjang itu.


"Aku sudah membujukmu baik-baik, tapi kau yang memaksaku berbuat kasar!" Geram Mike.


Mike kini berada tepat diatas tubuh Za, mengungkung tubuh kecil wanita yang kini sudah bersimbah air mata. "Jangan Mike, kumohon! Aku sudah bersuami, aku bahkan sedang hamil!" Pekik Za menghiba dengan sisa tenaga yang ia miliki.


"Tak apa, Sayang! Jika setelah ini suamimu mencampakanmu, dengan senang hati aku akan menikahimu!" Ucap lelaki itu, sembari menyusuri wajah Za dengan jemarinya.


Za meronta-ronta dengan sisa tenaganya, meski gerakannya tak membuat tubuh besar lelaki itu bergerak sedikitpun.


"Semakin kau berontak, semakin aku bernafsu ingin menyentuhmu." Ucap lelaki membuat Za semakin terisak.


"Tuhan... tolong selamatkan aku!!" Jeritnya dalam hati.


Bugh... "Ahhhh!" Seseorang memukul kepala lelaki itu dari arah belakang, membuatnya mengaduh. Lelaki itu menoleh kearah belakang dan, Bugh. Satu pukulan lagi membuatnya jatuh dan hampir menimpa tubuh Za.


Za segera menendang junior milik lelaki itu dan mendorong tubuh lelaki itu sekuat tenaga, hingga pria itu jatuh kelantai dan tak sadarkan diri.


"Za!" Pekik Maya sambil menghampiri wanita itu dan memeluknya. "Kau baik-baik saja!"


"Untunglah kau datang di saat yang tepat, May! laki-laki itu... dia... Huhuhu.." Za tak mampu menyelesaikan perkataannya, Maya sangat paham bagaimana perasaan Za saat ini.


"Ayo kita harus keluar dari sini!" Ucap Maya.


Maya membawa Za untuk keluar dari rumah itu. Namun, ia ingat pesan Inder dan berbalik. "Tekan berlian di tengah kalungmu Za!" Seru Maya. Dan tanpa bertanya ia menuruti perintah calon kakak iparnya itu.


Mereka baru turun kelantai bawah ketika Friska sudah berdiri bersama dua lelaki yang tadi berjaga di depan.


"Kalian pikir bisa lari semudah itu, Hah! Kalian tidak akan bisa keluar dari rumah ini hidup-hidup!" Ucapnya. "Tangkap mereka berdua!"


Maya dan Za kembali mundur teratur, "Berbalik, Za! Cari tempat untuk bersembunyi sampai Inder dan Mas Raja datang menolong kita!" Bisiknya pelan yang diangguki oleh Za.


Mereka berbalik dan berlari menjauh dari Friska dan dua bodyguardnya itu. Namun, diarah sebaliknya sudah ada Mike yang ternyata sudah sadar dan menghadang mereka. "Kau pikir bisa lari dariku, Sayang!" Geram lelaki itu seraya mendekat.


"Bagaimana ini, May?" Tanya Za mulai panik.


Maya menarik tangan Za untuk kembali berlari kesembarang arah, ia menemukan kamar yang terbuka mereka masuk dan mengunci pintunya dari dalam.


"Sssshhh" Desis Za ketika mereka sudah berada didalam kamar.


"Ada apa Za? Kau baik-baik saja?!" Tanyanya panik.


"Perutku! Perutku terasa keram May!" Ucapnya.


"Ya Tuhan! Aku lupa kalau kau sedang hamil, bertahanlah Za! Kak Raja dan Inder pasti segera menolong kita." Ucap Maya mencoba menenangkan.


"Bayiku akan baik-baik saja, kan May!" Tanya Za mulai khawatir.


"Dia bayi yang kuat, dia pasti bisa bertahan Za!" Ucap Maya, seraya memeluk Za. "Semuanya pasti akan baik-baik saja, percayalah padaku!"

__ADS_1


__ADS_2