Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Rumah Baru


__ADS_3

Maya merebahkan diri di tempat tidurnya yang tidak terlalu luas. Ucapa Raja tadi membuat pertahanan dirinya sedikit goyah. "Setidaknya pikirkan perasaan Ibumu, bagaimana jika terjadi sesuatu denganmu karena perbuatanku?" Ucapan Raja yang kini terus terngiang dikepalanya.


"Haruskah aku menerima lamaran pria itu?" Tanyanya dalam hati. "Tapi apakah aku akan sanggup hidup dengan lelaki yang sudah merenggut kehormatanku? Bahkan melihatnya saja bisa membuatku kembali mengingat kejadian itu!" keluhnya masih dalam hati.


"Dan dia... dia bahkan mencintai orang lain, bagaimana bisa aku menikah dengannnya jika hatinya sudah dimiliki orang lain! Aku bahkan masih mengingat wajah sedihnya saat itu." Gumamnya, "Tapi, bagaimana jika aku benar hamil nantinya, ahhhh tidak! Selama itu belum terjadi lebih baik aku menghindar saja, aku ingin menikah dengan pria yang kucintai dan juga mencintaiku, bukan pria yang menikahiku karena iba atau rasa bersalah."


Ketukan pintu membuyarkan lamunan Maya.


"Maya, boleh Ibu masuk, Nak?"


"Masuklah Bu."


Ibu masuk kekamarnya, lalu duduk dihadapannya. "Apa kau sudah memberi jawaban atas lamaran Nak Raja?" Tanya Sang Ibu, ia menggeleng.


"Kenapa? Apa kau tidak menyukainya?"


"Aku bahkan tak begitu mengenalnya, Bu! Bagaimana bisa aku menikah dengan orang yang belum lama kukenal?" Ucap Maya.


"Ibu pikir kalian berdua telah lama saling mengenal, makannya dia menyatakan keseriusannya." Ucap Ibu.


Maya kembali menggeleng. "Aku baru bertemu beberapa kali dengannya, kami bahkan belum pernah saling sapa, Bagaimana bisa kami hidup bersama, Bu?" Keluhnya.


"Nak, Ibu tak akan memaksamu untuk menerimanya, tapi ... ibu hanya ingin mengingatkan, lelaki yang baik seperti dia sudah tak banyak didunia ini." Ucap Ibunya seraya menatapnya lekat.


"Kau tahu, Nak? Salah satu impian para orang tua adalah bisa mendampingi anaknya hingga kepelaminan, apalagi bisa melihat anaknya menikah dengan orang yang tepat, terutama seorang anak perempuan, tentu harus mendapatkan lelaki yang tak hanya baik tapi... tulus dan juga bertanggung jawab! Dan Ibu bisa melihat semua itu dari mata Nak, Raja!"


Maya menghela napasnya, "Bu... kenapa ibu bisa merasa seperti itu, padahal ibu baru saja mengenalnya."


"Karena Ibu bisa melihat kesungguhan dan ketulusan darinya, dan Ibu tidak salah menilai."


Maya terdiam, padahal baru saja ia punya niatan untuk menolak lelaki itu. Namun, sekarang Ibunya malah seolah mendorongnya untuk menerima lelaki itu.


🌺🌺🌺🌺🌺


Sementara itu, Inder membawa Za untuk melihat rumah barunya. Sebuah rumah mewah di kawasan elit ibukota, letaknya tak terlalu jauh dari kawasan perumahan orang tua Inder maupun tempat tinggal Mami dan Papi Za jadi mereka bisa saling berkunjung kapan saja.

__ADS_1


Za menatap kagum pada interior rumah ini, cukup besar dan kesan mewah sangat terlihat dari bangunan ini.


"Kau menyukainya?" Tanya Inder.


Za mengangguk. "Ya, hanya saja apa rumah ini tak terlalu besar untuk ditinggali kita berdua?"


"Siapa bilang kita hanya berdua?" Ucap Inder, membuat Za menoleh padanya.


"Apa Bi Irah akan tinggal bersama kita lagi?" Tanya Za. Inder menggeleng.


"Tapi aku akan mengambil beberapa pelayan untuk mengurus rumah ini!"


"Jangan terlalu banyak Inder, cukup satu pembantu saja, lagipula tak ada pembantupun aku bisa mengurus rumah sendirian." Ucap Za.


Inder tersenyum, "Aku menikahimu untuk menjadi ratuku, Sayang! Bukan untuk jadi asisten rumah tanggaku. Tugasmu hanya mengurusku dan anak-anak kita kelak!" Ucap lelaki itu sambil melingkarkan tangannya di tubuh sang Istri.


Za tersenyum canggung, ia masih malu untuk membicarakan tentang anak, terlebih mereka berdua belum melakukan apapun yang biasa dilakukan oleh sepasang pengantin baru.


Ya malam pertama mereka harus terus tertunda, Za merasa tak nyaman jika harus melakukannya di tempat orang tua Inder ataupun orang tuanya, jadi ia memutuskan untuk menundanya sampai mereka pindah kerumah mereka sendiri. "Kalau begitu terserah padamu." Ucapnya mengalah


"Ayo kutunjukan kamar kita!"


Sekali lagi Za harus mengakui selera sang suami benar-benar tak bisa diragukan, desain kamar mereka begitu elegan, tak semewah ruangan utama di bawah , tapi interior kamar ini sangat indah. Inder membuka pintu penghubung yang ada dikamarnya, "Ini ruang kerjaku, jadi jika kau membutuhkan aku saat aku sedang ada diruang kerja kau tinggal membuka pintu ini saja!" Ucapnya. Ia kemudian kembali melangkah.


"Dan ini tempat tidur kita!" Ucapnya seraya menarik istrinya untuk duduk di kasur. "Bagaimana kau menyukainya? Atau jika kau ingin mengganti apapun katakan saja, aku akan menyuruh orang untuk melakukannya."


Za menggeleng, "Ini sudah sempurna, aku menyukai semuanya." Ucap Za.


"Kita bisa menempatinya hari ini juga." Ucap Inder, yang diangguki oleh Za.


"Kalau begitu kita harus pulang dan berpamitan pada ayah dan Bunda!" Ucap Za.


Inder tersenyum. "Jadi kau setuju kita pindah kerumah ini?" Ucapnya antusias.


Za mengangguk sebagai jawaban. "Kenapa tidak? Lagipula aku juga tak mau merepotkan orang tua kita lama-lama."

__ADS_1


"Baiklah, nanti kita pulang dulu lalu bicarakan ini.dengan Bunda dan Ayah, juga Mami dan Papi." Ucap Inder semangat, dan Za menyetujuinya.


Sore harinya mereka bicara dengan kedua orang tua mereka, awalnya Bunda Arini menolak, berharap Za tinggal bersamanya tapu dengan bujukan ayah Rangga dan janji Za yang akan sering mengunjungi mereka akhirnya Bunda Arini memberi izin.


Dan kini Mami Maura, dan Bunda Arini berserta para ayah mengantar mereka kerumah baru yang akan mereka tempati.


Setelah berbincang cukup lama dan makan malam bersama para orangtua itu pamit pulang, meninggalkan mereka yang hanya tinggal berdua.


Setelah membersihkan semua peralatan makan, mereka bergegas kekamar untuk istirahat.


Za sudah bersiap untuk tidur ketika sang suami memeluknya dari arah belakang, dan membisikan sesuatu yang membuatnya meremang.


"Boleh aku memintanya sekarang?".Ucap suaminya lembut.


Za tak menjawab ia hanya mengangguk, mengiyakan. Za berbalik kini mereka saling berhadapan, Inder mendekatkan wajahnya pada wajah Za, menyatukan bibir mereka sebelum kemudian ******* lembut mulutnya, menyapu setiap inci rongga mulut istrinya itu.


Za memejamkam matanya, menikmati setiap aksi yang dilakukan suaminya, Kini bibir Inder mulai menyusuri leher Queenza, menyesap wangi tubuh sang istri yang bagai candu baginya.


mengecup hingga menggigit lembut leher jenjang milik sang istri, dengan tangan yang mulai menggerayangi setiap lekuk tubuhnya. melucuti satu persatu pakaian yang dikenakannya."Eeemmmhhh" Suara ******* mulai keluar dari bibir Za, ketika tangan pria itu memainkan puncak gunung kembarnya.


Bahkan kini kepalanya sudah turun menikmati gunung kembar Za membuat Za menggelinjang bagai merasakan tersengat aliran listrik ratusan volt.


"I..inder, apa yang kau lakukan?" Pekik Za ketika jari lelaki itu mulai berpindah kearea pribadinya, "I...inder...hemhhh..." Apapun yang ingin dikatakannya tak bisa ia lanjutkan, karena suaminya sudah membungkam mulutnya dengan ciuman menggairahkan.


Inder ******* bibir sang istri tanpa menghentikan aksi jemarinya diarea pribadi istrinya, hingga... "I...inder... aku...hemhhh..." Sebuah ******* panjang menjadi penanda puncak kenikmatan yang sudah diraih istrinya.


Za terkulai lemas tubuhnya terasa bagai jely dan tak bertulang. "Ahhhh apa itu tadi? Rasanya seperti..." Ucapnya dengan napas terengah-engah, entah ia harus mendeskripsikan seperti apa.


Inder tersenyum melihat ekspresi sang istri, "Kau menyukainya?" Tanyanya membuat gadis itu merona, padahal selepas akad dulu, dia yang selalu menghindari aktivitas ini, tapi nyatanya kini ia merasakan dirinya menginginkan hal itu lagi.


Inder kembali menciumi wajah istrinya setelah memberi istirahat sejenak untuk Za, ia mengulangi aksinya dengan lembut hingga membuat sang istri terbuai dan kembali bergairah.


Kini ia sudah memposisikan dirinya, mengungkung tubuh mungil sang istri, kembali ia sapukan bibirnya pada bibir ranum sang istri.


"I Love You!" Bisiknya saat memasukkan miliknya pada daerah pribadi istrinya, membuat istrinya memekik, dan mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Inder menggerakkan tubuhnya perlahan dan selembut mungkin Tanpa melepas ciumannya, *******, dan erangan penuh kenikmatan memenuhi ruangan kamar mereka hingga keduanya mencapai puncak kepuasannya.


Bab dua done, ya😘


__ADS_2