
Queenza.
I Miss U...
Suara yg keluar dari hati boneka yg ditekan kakaknya itu membuatnya tersenyum. " bonekanya bisa bunyi, kak! " Pekiknya senang.
" Iya makannya kakak pilihkan yg ini, kamu suka? " Tanya sang kakak. Ia mengangguk.
" Nanti, kalau aku rindu kakak, Mami dan Papi, Aku akan peluk dan tekan hati boneka ini, biar kalian tahu aku merindukan kalian."
Ucapannya membuat semua terdiam, Mami dan kakaknya menatap dengan sendu.
" Jangan bicara begitu, Sayang. Kamu gak akan kemana-mana, Mami, Papi, dan kakak akan selalu bersama Queen." Ucap Mami Maura sembari memberikan usapan lembut di rambutnya.
Tubuhnya di rengkuh tangan sang kakak yg duduk disampingnya. " Kamu tidak Perlu merindukan kami, karena kita akan selalu bersama." Ucap kakaknya.
" Aku sayang kalian semua." Ucapnya dengan merekatkan pelukan pada kakaknya.
" Kami juga sayang padamu"
Suasana haru seketika berubah ketika dari arah berlawanan sebuah bus yg kehilangan kendali menghantam mobil mereka. Mami Maura memekik keras. " Mas, Awas! "
Dan Brakkkkkkkk
đşđş
" Mamiiiiii" Teriak Queenza, ia terbangun dengan nafas memburu..
" Syukurlah kamu sudah sadar, sayang. " Ucap wanita yg duduk disampingnya. Seraya memeluknya " Sebentar, ya. Bunda panggil dokter dulu! "
Kehadiran wanita itu membuatnya mengedarkan pandangan, matanya menyisir seluruh ruangan yg di dominasi warna putih ini. " Dimana ini? " Tanya yg ia tujukan untuk dirinya sendiri.
Sejenak kilasan mimpinya muncul, membuatnya menggeleng keras.
" Itu cuma mimpi, kan? Gak mungkin! Itu mimpi...itu mimpi...." Ia meyakinkan dirinya.
" Ini kenyataan, Queenza! " Ucap Andika, yg muncul dari balik pintu.
Suara barinton itu membuatnya menoleh, wajahnya berubah ketakutan begitu melihat si pemilik suara.
" Kau bukan hanya mengancam Nama baik keluargaku, tapi juga membawa kesialan pada keluargaku! " Hardiknya.
" Seandainya saja mereka tak bersikeras mempertahankanmu, mereka pasti baik-baik saja sekarang!" Lanjutnya tanpa iba.
Airmata Queenza, meluncur bebas. Pekataan kakeknya menjelaskan bahwa apa yg ia alami bukanlah mimpi buruk.
Kini ia mulai khawatir, bagaimana keadaan keluarganya? Mami dan Papinya? Kakaknya? Apakah mereka baik-baik saja?
" Gara- gara kau, mereka hampir kehilangan nyawanya! Kau anak pembawa sial." Hardik Kakeknya lagi.
__ADS_1
" bagaimana keadaan mereka, Kakek? aku ingin melihat mereka! " Pintanya. Tanpa perduli dengan hardikan sang kakek.
" Dan memberi mereka kesialan lainnya? Tidak! Mulai saat ini tak akan kubiarkan kau dekat-dekat dengan mereka lagi! " Bentak Kakeknya lagi.
" Cukup, Pak Andika!" Geram Resha yg baru saja masuk bersama dokter.
" Dia bahkan baru siuman, tapi anda begitu tega mengatakan semua itu padanya! "
" Aku hanya mengatakan yg sebenarnya! sebaiknya kalian segera bawa anak pembawa sial ini! Atau aku yg akan menyingkirkannya dengan caraku. " Ancam Andika.
" Anda tak perlu khawatir, kami akan segera membawanya pergi, begitu dokter memastikan keadaannya." Jawab Aldi.
" Kalau begitu tunggu apalagi, periksa keadaannya! " Titah Andika, pada para dokter yg sedari tadi hanya menyimak. Dan segera mereka melakukan perintahnya.
" Nona kecil ini hanya luka ringan, tapi untuk memastikannya kami harus melakukan pemeriksaan lanjutan! " Ucap Dokter.
" Tak perlu! " Tolak Andika. " Berikan saja mereka surat pengantar agar bisa melakukannya di kota lain."
" Tapi Pak.."
" Kau berani menentangku? " Ucapnya menatap dokter itu tajam.
Dokter itu menggeleng, " Kalau begitu, lakukan perintahku!" Sambungnya.
" Baik pak, segera kami berikan suratnya." Ucap dokter itu, " Suster, lepas infusnya dan lakukan pengecekkan terakhir! "Lanjutnya sebelum pergi dari kamar rawat Queenza.
Resha dan Aldi hanya bisa menatap tak percaya mendengar perintah Andika.
" Sepertinya anda sangat tidak sabar untuk menyingkirkan anak saya?" Kalimat yg lolos begitu saja dari mulut Resha membuat pria itu menatapnya tajam.
" Aku tak perlu membuang waktu, lebih cepat dia pergi akan jauh lebih baik!" Tegas Andika, seraya melangkahkan kaki," Sebentar lagi orang ku akan datang membawa keperluan anak itu, jadi saat dokter menyerahkan surat pengantar itu kalian bisa langsung membawa anak itu pergi! " Ujarnya lagi, lalu keluar dari kamar rawat itu.
đşđş
Resha
Ia membawa putri kecilnya itu dalam dekapan, ia tahu hati putrinya pasti sedang sangat terluka mendengar semua ucapan kakeknya.
Isakan kecil mulai terdengar di bibir mungil anak itu, membuatnya merasa ikut tersayat pilu. " Jangan ditahan, kau bisa menangis sepuasmu." Ucapnya mendengar isak tertahan dari bibir mungil itu.
kemarin ia sempat ingin menyerah, saat melihat kedekatan putrinya dengan keluarga yg merawatnya. Tapi hari ini ia merasa membawa putrinya pergi bersamanya adalah pilihan yg tepat, mengingat perlakuan Andika pada putrinya barusan.
Ketukan di pintu rumah sakit segera di buka oleh sang suami, seorang berpakaian serba hitam masuk menyerahkan sebuah tas berwarna pink pada suaminya.
" Ini tas sekolah nona Queenza, juga surat pengantar dari rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan nona Queenza, dan ini cek dari pak Andika untuk membeli segala kebutuhan nona, beliau ingin kalian pergi sekarang."
Sang suami menatapnya meminta persetujuan.
" Kami akan pergi sekarang juga." Ucapnya.
__ADS_1
" Kita harus pergi, Nak! Bunda tak ingin pria itu menyakitimu lebih dari ini." Ucapnya sembari berniat membantu putrinya berdiri.
Namun diluar dugaannya, gadis kecil itu seperti mendapatkan kekuatan karena ia langsung bediri dan mendorongnya. " Aku gak mau pergi bersama kalian!" Teriaknya, kemudian berlari keluar kamar rawat .
đşđş
Queenza
Gadis kecil itu berlari keluar dari kamarnya, ia mengedarkan pandang kesekelilingnya berharap menemukan kamar tempat Kakak atau orangtuanya dirawat.
Ia melihat sebuah kamar yg dijaga oleh beberapa pengawal di depannya. Bibirnya tersenyum sumringah, ia yakin kamar itu tempat rawat kakak atau orangtuanya apalagi ada pengawal yg sangat ia kenali.
" Om Reno... " Pekiknya sembari berlari menuju pintu, tanpa menghiraukan sakit di seluruh badannya.
" Nona Queen. " Ucap pengawal itu, saat ia sudah berada di hadapannya.
" Aku mau ketemu sama Mami, papi dan juga kak Raja. Tolong izinkan aku, Om." Ucapnya dengan raut mengiba.
" Tidak bisa, nona. Tuan muda masih belum siuman, dan kenapa Nona Queen bisa disini? harusnya nona juga di ruang perawatan."
" Aku mau ketemu kakak, Om. tolong ..."
" Tidak boleh! " Suara itu membuat tubuhnya menegang, ia tahu siapa pemilik suara itu. Ia memberanikan diri untuk berbalik pada si pemilik suara.
" Kakek.. tolong izinkan aku berpamitan pada kakak, dan juga mami dan Papi." Pintanya, meski dengan tubuh yg sudah ketakutan.
" Queenza.." Teriak khawatir wanita yg kini berlari menghampiri mereka.
" Kalian benar-benar tidak becus! " Hardik Andika pada dua orang yg baru saja datang. " Apa perlu aku menyuruh pengawal untuk membantu kalian membawa anak ini, atau kalian ingin aku.."
" Tidak perlu, Pak! Kami akan membawanya pergi sekarang juga! " Tukas Aldi, memotong kata-kata kakenya.
Pria itu lantas menggendongnya, membuatnya merota minta di lepaskan. Namun tangan itu terlalu kokoh untuk gadis kecil sepertinya, ia hanya bisa berteriak-teriak memanggil kakaknya.
Mereka membawanya ke terminal bus, Ia hanya bisa pasrah dengan air mata yang berderai membasahi pipinya.
Sesekali ia melihat kearah jendela bus, berharap sang kakak bangun, dan mengejarnya. Namun hingga mereka turun dari bis itu, harapannya hanya tinggal harapan.
" Aku benar-benar pergi sekarang, kakak. Maaf tak bisa menepati janjiku pada kalian."
__ADS_1
" Kakak, bolehkah aku berharap kau akan menepati janjimu padaku? Bolehkah aku berharap kau akan mencari, dan membawaku kembali? "