
Rega
Pria itu berbincang dengan pria yang sudah dia anggap ayahnya sendiri, Rega mendengarkan dengan seksama permintaan dari ayah Inder, rupanya sahabat dari Ayah Inder ingin menjadikan Inder sebagai Brand ambasador salah satu product perusahaannya.
"Tolong bujuk Inder, ya Ga. Ini permintaan langsung dari teman ayah, jadi gak enak kalau ayah nolak." Pinta Ayah Rangga.
"Rega coba, ya. tapi Rega gak bisa janji apapun, karena keputusan tetap ada di Inder dan jadwal Inder juga udah padat sampai tiga bulan kedepan."
"Ya sudah kamu coba bicarakan dengan Inder dulu, dan usahakan untuk atur jadwal agar Inder bisa bertemu dengan teman ayah itu."
"Iya, Yah. biar nanti Rega atur ulang jadwalnya."
Percakapan itu berakhir, Rega keluar dari ruang kerja Ayah Rangga kembali menuju ruang keluarga, hanya ada Bunda Arini disana.
"Indernya mana, Bun?" Tanyanya, saat tak mendapati sahabatnya disana.
"Duduk sini, Ga. Bunda mau nanya sama kamu." Ucap Bunda sembari menepuk kursi di sebelahnya.
"Kenapa Bun? Terus Indernya kemana?" Ucapnya kembali mengulang pertanyaan.
"Inder mau istirahat katanya, kamu udah makan?" tanya Bunda lagi.
"Sudah, Bun. Sebelum kesini sudah makan malam dengan Inder tadi." Ucapnya seraya tersenyum, perhatian kecil dari wanita yang sudah di anggapnya sebagai ibu sendiri, membuatnya merasa di sayangi, merasa mendapatkan kembali kehangatan keluarga yang selalu di idamkannya sejak belia.
Keluarga Inder seperti keluarga kedua baginya, Ayah dan Bunda selalu memperlakukannya sama baiknya dengan anak mereka sendiri, itu sebabnya ia membalas budi mereka dengan terus berada di sisi Inder menjaganya. Sebagai manager, Asisten, sahabat, dan saudara.
Saat orang tuanya lebih mementingkan bisnis dan dunia mereka sendiri, meninggalkannya bersama pelayan dan pengawal maka orangtua Inder lah yang menggantikan peran orang tuanya, hadir di acara sekolah, datang sebagai wali saat guru memanggil orangtuanya karena ia membuat ulah. Menasihatinya saat dia berbuat salah, merangkulnya saat dia merasakan kesedihan seperti itulah orang tua Inder memperlakukannya, membuatnya merasakan artinya kehangatan keluarga yang tak bisa di dapatnya dari keluarganya sendiri.
"Ga, Bunda boleh tanya sesuatu?" Tanya Bunda Arini, ia mengangguk.
"Ada apa dengan Inder?" Tanya Bunda lagi khawatir. "Dia meminta izin pada kakaknya untuk tinggal di rumah kakaknya, dia juga meminta Bi irah untuk tinggal disana, jujur Bunda sangat khawatir, apa terjadi sesuatu, Ga? kenapa tiba-tiba dia ingin pindah dari apartemennya?"
Rega tersenyum lega,"Aku pikir Bunda mau nanya apa, Bun." Ucapnya tenang. "Bunda gak perlu khawatir, selama Rega bersama Inder, Rega akan memastikan kalau dia baik-baik saja."
"Bunda tau, Bunda percaya padamu. Tapi kenapa dia tiba-tiba berubah, Ga? Maksud Bunda...selama ini Inder selalu nyaman melakukan segalanya sendiri tapi sekarang dia minta seseorang untuk menemaninya, Bunda pikir dia terkena masalah."
__ADS_1
Rega menggeleng."Bukan masalah serius kok Bun." Ujarnya yang membuat Bunda salah faham.
"Jadi benar dia terkena masalah?"
Rega menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia sadar ia sudah salah bicara."Bukan gitu, Bun. Inder cuma sedang punya masalah dengan hatinya, jadi Bunda tak perlu khawatir." Ucapnya berharap jawabannya membuat sang Bunda Puas, tapi sepertinya ia salah lagi, karena kini Bunda menatapnya penuh rasa ingin tau.
"Hati? Jelaskan apa maksudnya."
Huh...dia tak bisa mengelak lagi, ia harus mengatakan kebenarannya atau Bunda akan terus memborbardirnya dengan banyak pertanyaan.
"Inder sedang menyukai seseorang, Bun." Ucapnya yang membuat Bundanya beringsut lebih mendekat. "Seorang gadis yang baru beberapa hari ini ia kenal." Ujarnya menjelaskan, Bunda masih setia menyimak.
"Inder menjadikannya asisten pribadi dan mengharuskannya untuk tinggal bersama, tapi gadis itu bilang kalau dia tidak nyaman jika hanya tinggal berdua saja."
Bunda tersenyum lega. "Sepertinya dia gadis baik." Ucap Bunda kemudian.
Rega mengangguk membenarkan." Aku juga berpikir seperti itu Bun, itu sebabnya aku mendukung Inder, tapi aku tetap akan mengawasinya."
đşđşđşđş
Queenza
"Aku pasti akan merindukanmu, Za." Ujar Alika sedih, semalam mereka sudah saling bertukar cerita. Itulah sebabnya Alika meminta izin agar bisa pulang lebih awal agar bisa mengantarnya malam ini.
"Kita masih bisa saling bertemu, kok. aku akan menemuimu kalau libur kerja." Ucapnya.
Suara dering ponsel di tangannya membuatnya segera menekan icon hijau di layar datar itu. "Halo." Ucapnya setelah panggilan itu tersambung.
"Oh, ok. saya segera ke depan." Ia menoleh pada Alika. "Calon bos ku udah di depan, mereka gak bisa kesini takut bikin keributan katanya." Ucap Queenza, Mereka keluar dari rumah itu berjalan menuju depan komplek menghampiri sang calon bos.
Mereka tentu mengerti, artis terkenal seperti Ivander tak akan mau merendahkan diri menghampiri mereka di rumah kontrakannya yang kecil, apalagi itu juga akan membuat keributan. Tak terbayangkan bagaimana jika Ivander menghampiri rumah mereka sudah pasti para tetangga akan berkerumun hanya untuk sekedar bersalaman, atau melihatnya.
Tiba di gang komplek seorang sopir turun dari mobil menjemput Queenza.
"Nona, Tuan sudah menunggu anda di mobil." Ucap sopir itu.
__ADS_1
"Waww dia menjemputmu secara langsung, Za? Andai aku bisa bertemu dan melihat wajahnya." Ucap Alika.
"Sepertinya dia sangat sombong, Al. Terbukti dia bahkan tak mau turun dari mobilnya." Ucap Queenza, wajahnya kini terlihat murung. "Apa aku bisa bekerja dengan orang seperti dia, ini dunia yang baru untukku."
"Aku yakin kamu bisa, Za. Dan lagipula, Ivander itu orang yang baik aku bisa melihat itu dari caranya bersikap di tv, aku yakin dia memperlakukanmu dengan baik." Ucap Alika.
"Semoga saja penilaianmu itu benar, aku pergi ya. Jaga dirimu, Al." Ucap Queenza seraya melangkah menuju mobil.
"Jaga dirimu juga, Za."
đşđşđşđş
Queenza mengerjap saat membuka matanya, ia menyisir sekeliling ruangan yang bercat merah muda itu.
"Astagaaaa" Serunya panik, "Bodoh, bagaimana kau bisa lupa kalau kau sudah bekerja sekarang, Za." Ujarnya, merutuki diri sendiri sembari bergegas mencuci mukanya lalu keluar dari kamar menuju dapur.
Sampai di dapur ia melihat seorang wanita yang sudah cukup berumur, sedang menata makanan di meja di bantu oleh pemuda tampan yang ia yakini bos nya.
"Siang sama malam nanti, bibi gak perlu masak, istirahat aja biar aku makan di luar." Ujar Inder.
"Makan di rumah saja, Den. Bibi akan masakin makanan kesukaan aden."
"Jangan, nanti Bibi cape. biar aku makan di luar saja, inget Bibi istirahat gak boleh kerja! aku sudah minta orang untuk beresin dan bersihkan rumah, jadi Bibi cukup ngawasin mereka aja."
Queenza tersenyum melihat pemandangan di depannya sepertinya Alika benar, dia orang yang baik. Pikirnya.
"Selamat pagi, maaf aku kesiangan." Ucapnya menunduk malu, membuat kedua orang itu menoleh.
"Pagi juga, aku maafkan karena ini hari pertamamu bekerja, ayo duduklah kita sarapan." Ujar Inder sembari tersenyum ramah.
"Sebaiknya saya mandi dulu saja."
"Sarapan dulu saja, setelah itu kau bisa mandi."
Mau tak mau Queenza menurut, mereka sarapan. Disinilah Queenza bisa melihat bagaimana bosnya itu memperlakukan pekerjanya, terutama wanita berumur yang memperkenalkan diri sebagai Bi irah, Inder bahkan meminta Bi irah untuk duduk bersama saat sarapan, sebuah pemandangan yang mampu membuatnya cukup kagum pada sosok seorang Ivander Kamal Prasetya.
__ADS_1