
Raja dan Papi Rendy baru saja tiba di rumah sakit. Mereka langsung menuju kamar rawat Za dimana semua orang sudah berada disana.
"Papi ucapkan selamat untuk kehamilanmu. Bagaimana keadaanmu sekarang, Nak?" Tanya Papi Rendy. "Dan dimana suamimu? Papi tidak melihatnya."
"Aku sudah baik-baik saja, Pi! Hanya sedikit mual saja tadi pagi, selebihnya aku baik-baik saja. Inder ada sedikit urusan jadi saat Mami dan Maya datang dia izin pergi sebentar." Jawab Za.
Papi Rendy menatap lamat wajah Za. "Rasanya baru kemarin Papi dan Mami menggendongmu membawamu masuk kerumah, sekarang kau sudah akan memberi kami seorang cucu." Ucapnya sembari mengelus rambut Za dan tersenyum bahagia.
"Iya, aku juga tidak menyangka waktu begitu cepat berlalu." Ucap Za seraya memeluk Papinya. "Terima kasih sudah membawaku kerumah kalian saat itu, aku tak tau apakah aku bisa selamat jika kalian tidak merawatku!" Ucapnya dengan pipi yang sudah basah.
"Kau adalah anugrah untuk kami, Nak! Dan Papi benar-benar menyesal karena kebodohan Papi kita pernah terpisah!" Ucap Papi Penuh penyesalan.
Semua orang menatap haru percakapan Ayah dan anak itu, Mami Maura menyusut bulir bening disudut matanya dan mengusap lembut punggung suaminya. "Semuanya sudah berlalu, Mas! Tuhan sudah mengembalikan Queen pada kita, bahkan memberi kita kebahagiaan berkali lipat dengan kehadiran calon cucu kita." Ucap Mami Maura. Papi Mengangguk, sembari melepas pelukannya.
Kini giliran sang Kakak yang yang memberinya selamat." Selamat Queen! Aku turut bahagia atas kehamilanmu." Ucap Raja seraya memeluk adiknya. "Terima kasih Kakak!" Ucapnya membalas pelukan kakaknya.
"Aku sangat khawatir saat melihatmu tenggelam kemarin, syukurlah sekarang kau sudah baik-baik saja. Kalau sampai terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan melepaskan Friska!" Ucap Raja.
"Aku sudah baik-baik saja, jadi jangan lakukan apapun padanya." Ucap Za.
"Jangan terlalu baik, Queen! Dia harus diberi pelajaran agar bisa jera dan tak berusaha menyakitimu lagi. Dia sudah berani menyakiti Queenku, bagaimana mungkin aku membiarkannya begitu saja, dia sudah mendapatkan hukuman yang pantas untuknya!" Ujar Raja.
"Apa yang kakak lakukan padanya?" Tanya Za khawatir.
"Kau tak perlu memikirkan hal itu, sekarang kau cukup memikirkan bayimu saja." Ucap Raja.
"Raja benar! Lagipula, Friska pasti sudah kapok, dan tak berani menyakitimu lagi." Timpal Papi Rendy.
"Kau dengar Papi bilang apa, jadi sekarang kau tak perlu khawatir lagi." Ucap Raja sembari merangkul bahu adiknya, menempatkan kepala Za didada bidangnya.
Tanpa Raja sadari ada hati yang tiba-tiba merasakan sesak, melihat perlakuannya pada Queenza.
đşđşđşđşđşđş
Papi Rendy sudah pamituntuk kembali kekantor, dan Mami Maura dan Maya mengantarnya sekalian makan siang. Dan Raja? begitu Inder datang ia juga pamit, rupanya hubungan mereka belum begitu baik, padahal Za sempat senang saat dipesta Mami Maura kemarin mereka sudah tidak berdebat lagi.
Inder baru selesai menyuapinya ketika seorang dokter datang untuk kembali memeriksanya.
"Selamat siang." Sapa sang dokter begitu masuk kedalam ruang rawatnya.
"Siang dokter!" Jawab Inder.
"Bagaimana keadaannya, Nona? Apa yang dirasakan?" Tanya sang Dokter memulai pemeriksaan.
__ADS_1
Za menggeleng, karena saat ini ia memang merasa baik-baik saja.
"Hanya saja tadi pagi, istri saya merasa pusing dan mual yang lumayan hebat, dia juga muntah beberapa kali Dok. Apa itu normal?"
Dokter tersenyum. "Itu normal, Tuan! Hal seperti itu disebut morning sickness, dan itu normal untuk ibu hamil pada trimester pertama." Ujar dokter menjelaskan.
"Kita usg dulu ya. Untuk melihat perkembangan bayinya."
"Iya, Dok!"
Dokter mulai mengoleskan gel yang terasa dingin di perutnya, lalu menempelkan tranducer di perutnya. Gambar di monitor mulai terlihat, Inder dan Za menatapnya dengan seksama.
"Wah udah terlihat baby nya! Masih sebesar kacang, usia kandungannya tiga minggu, dan alhamdulillah kandungannya sehat."
Inder menatap gambar dilayar monitor itu dengan berkaca-kaca, itu adalah gambaran calon anaknya, buah cintanya bersama wanita yang paling dicintainya.
"Tak ada yang perlu dikhawatirkan, bayinya sehat, perkembangannya juga sangat bagus!" Ujar sang dokter. "Tapi jangan dulu melakukan aktifitas terlalu berat dan melelahkan! Trimester pertama kandungan masih sangat rentan, jadi harus sangat dijaga!" Pesan Dokter yang mereka angguki.
"Saya resepkan vitamin, dan obat untuk mengurangi mual nya ya. Banyakin minum air putih dan makanan dengan gizi yang seimbang!"
"Baik Dok." Jawab Za.
"Ada yang ingin ditanyakan?" Ucap Dokter.
"Emmmh sebenarnya ada dok, tapi..." Ucap Inder terlihat ragu, ia menatap sang istri yang memandangnya penuh tanya.
"Emhhh tadi dokter bilang, istri saya tidak boleh melakukan aktifitas berat dan melelahkan! bisa lebih spesifik seperti apa maksudnya?" Tanyanya.
"Emhhh... ya aktifitas yang banyak menguras tenaga, seperti angkat-angkat barang, atau olah raga berat, itu belom boleh. Jadi Nona hanya boleh melakukan aktifitas ringan saja. kalau hanya sekedar menyapu, atau olahraga ringan seperti yoga, itu masih boleh!" Jelas Dokter.
Za masih berkerut, mencoba menerka kemana arah pembicaraan Dokter dan suaminya itu.
"Kalau melakukan aktifitas suami, istri? Apa masih boleh? Maksud saya apa itu tidak akan membahayakan janinnya?" Tanya Inder membuat mata Za membesar seketika, bersamaan pipi yang bersemu merah.
"Inder!" Pekik Za, seraya membulatkan mata pada suaminya itu.
Dokter tersenyum, "Tidak apa-apa, Nona. Sangat wajar jika suami Anda menanyakan hal seperti itu!" Ucap Dokter.
"Sebenarnya tidak apa-apa jika mau melakukan hubungan suami istri, tapi usahakan selembut mungkin, dan harus lebih hati-hati." Ucap Dokter.
"Baik, terima kasih atas penjelasannya, Dok!" Ucap Inder.
"Lalu kapan saya bisa pulang, Dok?" Tanya Za.
__ADS_1
"Karena semua hasil pemeriksaan sangat baik, Nona sudah bisa pulang sore ini."
"Terima kasih, Dokter!" Ucapnya.
"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu" Pamit Dokter, seraya meninggalkan ruangan Za.
"Haruskah kau menanyakan hal seperti itu, Inder?" Tanya Za seraya mendelik pada sang suami.
Inder terkekeh kecil. "Harus dong, Sayang. Aku kan perlu tau apa aku masih bisa menyentuhmu atau tidak. Aku tak mau jika saat melakukannya nanti malah menyakiti bayi kita." Ucapnya.
"Tapi aku kan jadi malu, Inder!" Keluh Za.
"Kenapa harus malu, bukankah dokter juga bilang hal yang sangat wajar jika aku menanyakannya."
"Terserah, aku memang tak akan pernah menang berdebat denganmu!" Cibir Za lagi.
Inder memeluk gemas tubuh istrinya itu. "Aku tak pernah menyangka, sebentar lagi aku akan jadi seorang Daddy." Ucap Inder.
" Ya akupun tak menyangka secepat ini tuhan memberikan anugrah terindah buat kita. Dan syukurlah debaynya baik-baik saja." Ucap Za, seraya mengelus perutnya yang rata. "Aku sempat khawatir tentang kejadian kemarin, takutnya akan memberi dampak yang buruk untuknya!" Keluhnya lagi.
Inder mengelus perut sang istri yang masih rata. "Dia akan tumbuh sekuat Momy nya!" Ucapnya.
kini ia berdiri didepan istrinya dan menekuk kakinya menempatkan kepalanya tepat didepan perut istrinya. "Tumbuhlah sehat dalam perut Momy mu, Sayang!" Ucapnya lagi, "Jadilah anak baik dan tak merepotkan Momymu!" Ucap Inder seraya mencium perut istrinya.
Za tersenyum melihat apa yang dilakukan suaminya, "Terima kasih, Tuhan. Sudah memberikan dua anugrah terbaik dalam hidupku! Suamiku, dan calon anak kami." Gumamnya didalam hati.
Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap benci melihat kemesraan mereka dari balik pintu rumah sakit yang sedikit terbuka. Ia adalah Friska yang sengaja datang untuk mencari informasi tentang Za.
"Kau pikir, kau bisa hidup bahagia setelah merebut semua dariku, Za? Sebentar lagi aku akan membuatmu hancur sehancur-hancurnya dan kita akan lihat apakah suamimu masih bisa mencintaimu setelah apa yang kulakukan padamu nanti!"
Friska segera pergi begitu melihat Mami Maura berjalan menuju kamar rawat Za, ia melangkah menjauh agar tak ada satu orang pun yang curiga.
Ia mengamati dari jauh saat Mami Maura dan Maya masuk kedalam kamar Za, ia sudah memperhitungkan semuanya, sesuai informasi yang ia dapat Za akan pulang sore ini dan itu berarti kesempatannya sangat sempit karena jika sudah berada dirumah keluarga prasetya atau keluarga Pramudza ia akan kesulitan mencari celah karena penjagaannya sangat ketat.
Ia melangkah keluar dari rumah sakit, masuk ke sebuah mobil sport hitam dimana sudah ada seseorang yang menunggunya.
"Bagaimana? Kau dapat informasi apa?" Tanya lelaki itu.
"Za akan pulang sore ini, itu berarti waktu kita sangat tipis jadi kita harus melakukannya secepat mungkin, karena jika dia sudah pulang baik itu kerumah keluarganya maupun mertuanya akan sangat sulit untuk melakukan rencana kita!" Ujar Friska.
"Kalau begitu kita lakukan sekarang juga, aku tak mau membuang kesempatan ini!"
"Aku ada rencana! Tapi kita membutuhkan orang dalam untuk melakukan semua ini!"
__ADS_1
"Akan sulit mencari orang dalam yang mau bergabung dengan kita, tapi aku tau siapa yang sanggup melakukan hal seperti ini!" Jawab lelaki itu. Ia meraih benda pipih miliknya dan mengirimkan pesan pada seseorang.
"Temui aku di rumah sakit Xx, ada pekerjaan untukmu!" Tulisnya dalam pesan itu.