
Queenza masuk kedalam mobil taksi, ia terisak pilu tak perduli dengan supir taksi yang memandangnya penuh tanya. Sebuah pantai menjadi tujuannya, ia turun dan berlari ke pantai itu.
"Sayang... jika kau sedang merasa sedih tapi tak bisa membaginya pada orang lain, kau bisa membaginya dengan alam. Berteriaklah pada laut lepas, berteriaklah sampai kau merasa lebih baik." Sebuah kalimat dari almarhum ayah tirinya yang kini akan di lakukannya, "Setidaknya alam tidak akan protes sekencang apapun kita berteriak padanya" Kata ayahnya saat itu, dan sejak itu pula setiap kali dadanya terasa sesak ia akan pergi ketempat dimana ia bisa berteriak sesuka hati dan itu akan membuatnya lega.
"Aaaaaaaaaaaa" Teriaknya penuh emosi.
"Apa salahku tuhan....kenapa kau memberiku takdir sekejam ini"
"Aku sudah dipisahkan dengan mereka secara tidak adil, aku sudah digantikan haruskah aku dianggap tiada juga." Teriakan pilu yang disertai tangisan itu membahana,
"Aku masih hidup, Mami" jeritnya lagi.
"Aku belum mati huhuhu... Putri kalian masih hidup..... aku belum mati...."
Tubuhnya ambruk, bibirnya terisak, wajahnya sudah basah oleh air mata.
"Kenapa kau mempertemukanku dengan mereka? Tak cukupkah penderitaanku selama ini?" Tanyanya disela tangisan yang entah pada siapa.
Hatinya hancur saat ini, dadanya kian terasa sesak seperti ada yang menghantam dadanya membuatnya tak bisa lagi berteriak ia hanya menangis. Rintik hujan yang mulai turun tak mampu mengajaknya bergerak untuk berteduh, ia justru menelungkupkan kepalanya dan menekuk lututnya hingga keduanya saling bersentuhan, bahunya naiknturun, ia membiarkan tubuhnya dibasahi air hujan yang turun semakin deras.
hujan yang tak kunjung berhenti tak membuatnya beranjak. Lihatlah bahkan alampun menangis seolah ikut merasakan kepiluan hatinya. Malam yang kiat larut membuat tetesan air hujan yang jatuh di tubuhnya terasa menusuk kulit. Tubuhnya mulai menggigil tapi ia bergeming masih setia terisak dan larut dalam kepedihan hingga ia mendengar suara yang sangat di kenalnya.
"Astagaa Za, apa yang sedang kamu lakukan!" pekikan yang disusul rengkuhan tubuhnya yang mulai lemah, ia mendongak masih sempat merekam wajah khawatir pria itu sebelum kemudian ia kehilangan kesadarannya.
đşđşđşđş
"Ga!" Teriak Inder panik, ia membopong tubuh Queenza menuju mobil miliknya.
Rega dengan sigap membukakan pintu mobil bagian belakan lalu membantu Inder membaringkan Queenza disana.
"Kita kerumah sakit terdekat, Ga!" Ujarnya kemudian. Jalanan yang lengang membuat mereka melaju mulus di tanah beraspal itu, Inder terus menggosok-gosokkan tangannya berharap akan mberikan kehangatan pada tubuh yang kini sedingin es itu.
__ADS_1
"Bertahanlah, Za." Ucapnya sembari menyelimuti tubuh gadis itu dengan apapun yang ada di mobilnya, tangannya terus menggenggam. Rega mengamati wajah khawatir Inder dari spion, pertama kalinya ia melihat Inder seperti ini.
Mobil yang mereka kendarai sampai di rumah sakit terdekat, Queenza dibawa keruang sweet room, Inder ikut masuk sementara Rega mengurus administrasi.
Rega menyusul sahabatnya itu, setelah ia menelpon bodyguard agar membawakan mereka pakaian ganti kerumah sakit.
Inder tampak kacau malam ini, matanya menatap khawatir ruang rawat di depannya.
"Dia pasti baik-baik saja, Bro!" Ujar Rega.
"Ga." Ucap Inder membuat si pemilik nama menoleh. "Cari tau ada hubungan apa antara Queenza dengan keluarga pramudza di masa lalu."
Rega mengernyit, "Lo, mencurigai sesuatu?"
Inder mengangguk. "Dia selalu murung setiap kali bertemu dengan mereka. Cari tau sedetail mungkin tentang masa lalunya Za, dan apa hubungannya dengan keluarga itu."
"Ok gue akan nyari tau."
đşđşđşđş
"Kau yakin akan datang? Apa kau yakin akan siap kembali kerumah itu?" Tanyanya saat Queenza bercerita padanya di telpon.
"Aku harus datang, Al. Akan sangat tidak sopan jika aku menolaknya."
"Tapi Za, apa kau siap terluka? Bukankah gadis penggantimu juga ada disana? Aku takut kau akan terluka jika melihat kebersamaan mereka."
"Aku akan baik-baik saja, Al. jangan khawatir." Ucap Za kala itu.
Dan sekarang apa yang dikhawatirkannya terjadi, gadis itu pasti sangat sedih hingga memutuskan untuk pergi.
Ia kembali menelpon ponsel Za, berharap memdapatkan kabar yang baik pagi ini.
__ADS_1
"Halo." Ucapnya, begitu telpon itu terangkat.
"Halo, siapa ini." Suara serak khas bangun tidur terdengar disebrang sana, jelas itu bukan Za, itu suara laki-laki.
"Mas Inder, bagaimana keadaan Za? Apa kalian menemukannya." Tanyanya, sudaj dari semalam ia mencoba menghubungi ponsel Za kembali namun baru kali ini diangkat.
"Gue bukan Inder, tapi Za udah ketemu dan kami membawanya kerumah sakit karena dia pingsan."
"Pingsan? Kenapa?"
"Gue belum tau, dokter masih memeriksanya." Ujar lelaki itu lagi.
"Bisa kasih tau saya, Za dirawat di rumahsakit mana?" Tanyanya lagi.
"Ok, nanti gue sharelock."
"Makasih Mas."
"Sama-sama."
đşđşđş
Kembali kerumah sakit, Rega dan Inder kini sudah berganti pakaian, mereka masih menunggu dokter yang masih belum keluar juga. "Istirahatlah dulu, Nder. Lo belum tidur dari semalam." Ucap Rega.
Inder menggeleng."Gue gak ngantuk! Lo tidur aja, Lo juga belum tidur kan."
Rega menggeleng " Gue temenin lo aja kalau gitu." Ucapnya.
Namun yang terjadi beberapa detik kemudian adalah, ia ketiduran karena saking lelahnya ditambah dengan mata yang belum terpejam semalaman. Dan dering ponsel Za yang di pegangnya membangunkannya ketika pagi mulai menyingsing.
Ia mengangkat telpon itu dengan mata yang masih terpejam, menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari gadis di ujung telpon sana.
__ADS_1
Hingga matanya mulai terbuka ketika la merasa sangat familiar dengan suara itu, ia tertegun dengan ponsel yang masih menempel di telinganya, padahal panggilan itu sudah berakhir beberapa saat yang lalu.
"Kenapa rasanya gue gak asing ya dengan suara cewek tadi?"