
Queenza..
Gadis kecil itu duduk di kursi belakang mobil, di sampingnya sang kakek duduk dengan angkuh.
Sejak dulu ia sangat takut pada kakeknya ini, Ia tak pernah merasakan kasih sayang dari pria yg ia sebut kakek ini, bahkan ia tak pernah merasakan keramahannya.
Ia menunduk, tak berani lagi berontak ataupun menangis seperti saat pertama di masukkan ke mobil tadi. Hanya isakan kecil yg tersisa, yg ia tahan dengan menggigit bibirnya kuat-kuat agar tak terdengar oleh orang di sampingnya. Sesekali kepalanya menoleh arah belakang mobil, berharap kakaknya datang dan menyelamatkannya.
Mobil itu berhenti di sebuah gang kecil, Kakeknya menyuruhnya turun, membuatnya semakin ketakutan. Mungkinkah kakeknya akan membuangnya disini?
Tapi semua dugaannya terpatahkan begitu kakeknya berjalan mendahuluinya, sementara ia mengekor di belakang bersama pengawal yg menuntunnya.
Queenza melihat kekanan kirinya, ia sama sekali tak mengenal jalan ini. Ingin bertanya tapi ia takut, jadi ia putuskan diam dan mengikuti kemana Pria paruh baya itu membawanya.
Mereka sampai di pekarangan rumah bercat putih. Ada tiga rumah kecil yg berjejer di sana, satu pengawal mengetuk pintu rumah tengah.
Sedetik kemudian pintu itu terbuka dari dalam, Pengawal itu terlihat berbicara, lalu keluarlah seorang wanita seumuran Maminya, menatapnya nanar lalu menghambur memeluknya.
" Putriku.... akhirnya Bunda bisa bertemu denganmu...."
Putriku?
Queenza masih mencoba mencerna perkataan wanita ini, namun wanita itu kini menghujaninya ciuman membuat semakin bingung, hingga akhirnya membuatnya bertanya. " Siapa Anda? "
Tanyanya membuat wanita itu menghentikan aktifitasnya, dan mendongak menatap kakeknya.
" Dia ibumu! " Jawab kakeknya.
Ia mendongak, " Ibuku? " Tanyanya bingung, ia menggeleng keras " Ibuku Mami, dia di rumah sekarang! "
" Aku ibu kandungmu, Sayang." Ucap Resha lembut. " Dan Mami Maura ibu angkatmu." Sambungnya, membuat Queenza kembali menggelengkan kepalanya.
" Enggak! Ibuku cuma satu, Mami! aku gak punya ibu yg lain! Tante pasti salah orang." Sanggahnya, ia hendak berbalik namun tertahan karena wanita itu kembali memeluknya.
" Bunda ini ibumu, Nak! Maaf karna Bunda terpaksa membuangmu saat lahir." Ucap wanita itu lagi.
" Tapi... kini Bunda menyesal! Bunda ingin kau kembali pada Bunda."
" Tante... pasti salah orang! aku ini anaknya Mami dan Papi, Bukan anak tante!"
" Tidak sayang kau putriku, Putri yg kulahirkan delapan tahun lalu."
" Dia Ibumu, Queenza! Apa yg dikatakannya semua adalah kebenaran, Mami dan Papimu menemukanmu delapan tahun yg lalu. " Ucap kaleknya.
" Bunda dengan terpaksa membuangmu saat itu, karena kakekmu tak bisa menerima kehadiranmu. Maafkan Bunda." Ujar Resha penuh penyesalan
__ADS_1
Di buang? Jadi dia adalah anak yg tak di inginkan? bahkan ia dibuang sedari lahir? Batinnya.
" Bunda mohon, sayang. Tolong maafkan Bunda!" Ucap Resha lagi.
" Tidak! Kalian bohong." Sangkal Queenza.
" Orang tuaku adalah Mami dan Papi! Aku tidak mengenalmu! "
" Dan Kakek! Kakek hanya ingin buat aku sedih, makannya kakek bohong sama aku supaya aku sedih."
" Kalian bohong.. kalian bohong..." Teriaknua. Ia berlari keluar dari halaman rumah itu. Tanpa perduli teriakan Resha yg memanggil dan mengejarnya.
Para bodyguard baru akan mengejarnya namun Andika melarang mereka.
" Biarkan saja! yg penting anak itu sudah tahu jati dirinya.
Aldi yg melihat kejadian itu menggelengkan kepalanya, " Apa anda sama sekali tidak perduli dengan perasaan anak itu, Pak Andika? Bagaimana bisa anda setenang ini setelah membuat perasaannya hancur? "
" Perasaan anak itu bukanlah urusanku, sebaiknya kalian bersiap saja. Pastikan kalian pergi jauh setelah mendapatkan anak itu kembali." Ucapnya seraya pergi meninggalkan tempat itu.
đş
Queenza
Gadis kecil itu terus berlari, mengikuti jalan setapak sepanjang gang itu.
Ia menabrak seseorang.
" Queenza! " Pekik suara yg sangat ia kenali. membuatnya mendongak.
" Mami.... huhuuuu mami...." Tangisnya pecah, begitu mengetahui orang itu adalah Maminya.
" Sayang... Mami mencarimu, nak. Kau baik -baik saja? Mami sangat khawatir padamu." Ucap Maminya, sembari memeriksa seluruh badannya dan memeluknya.
" Mami.... huhuhu... Mami.." Lagi- lagi hanya itu yg bisa keluar dari bibir kecilnya.
" Ssssshhh, sudah sayang jangan nangis lagi, Mami disini sekarang."
" Queenza!!" Panggilan dari arah belakangnya membuat tangisnya semakin menjadi, ia memeluk Maminya lebih erat.
" Queenza.. Ayo ikut Bunda, nak." Ujarnya lagi, kali in tangan wanita itu mencoba melepas pelukan Queenza dari Maminya.
" Lepas tanganmu dari putriku! " Geram Maminya.
" Dia Putriku, aku ibu kandungnya! " Jawab wanita itu tak kalah sengit.
__ADS_1
" Tapi kamu sudah membuangnya. " Tegas Papinya yg kini menghampiri mereka.
" Pak Rendy, Anda sudah setuju untuk menyerahkan Queenza pada saya! "
Papinya tak menjawab, Ia mengalihkan pandangannya kearah mereka " Bawa Queenza dan Raja ke mobil, dan tunggu aku disana." Ucapnya kemudian.
" Tidak!! Tunggu.. kembalikan anakku.. kembalikan putriku.."
Queenza masih bisa mendengar teriakan wanita yg mengaku sebagai ibu kandungnya itu. hingga suaranya menghilang saat mereka keluar dari gang itu dan masuk kemobil.
Queenza didudukan di kursi belakang, sementara sang kakak duduk di kursi samping kemudi.
" Sayang kau tidak apa-apa kan? Apa kakek menyakitimu?" Tanya Maminya.
Queenza menggeleng. Tak ada sepatah katapun yg keluar dari bibir mungilnya, hanya air mata yg tak berhenti membasahi pipinya yg mewakili perasaannya saat ini.
" Apa kakek mengatakan sesuatu padamu? " Tanya maminya lagi, Queenza masih diam. Terlalu banyak hal yg berkecamuk di pikirannya membuatnya bingung harus berkata apa. ia merasakan Maminya kembali merengkuh tubuhnya dalam pelukan.
" Dengarkan, Mami.. Apapun yg terjadi nanti, kau putri Mami dan selamanya akan begitu!"
Tak ada jawaban darinya, hanya isak pilu yg terdengar.
Tak lama Papinya datang, lalu melajukan mobil menuju rumahnya tanpa berkata apapun.
đşđş
Mereka sampai di rumah ketika hari hampir pagi. Maura mengantar Queenza kekamarnya, membantunya membersihkan diri dan menggantikan baju seragamnya.
" Queen mau Mami temani tidur? " Tanya Maminya, Queenza menggeleng.
"Ya sudah kalau begitu Queen istirahat, ya. Gak perlu memikirkan apapun, Queen hanya harus percaya kami menyayangimu, kami gak akan biarkan siapapun merebutmu dari sisi kami!" Ucap Maminya. Sebuah kecupan di keningnya menjadi salam perpisahan mereka.
Queenza
Air mata gadis kecil itu kembali meluruh mengingat kejadian demi kejadian menyesakkan yg kini kembali berputar di otaknya.
Dia adalah anak yg di buang, anak yg tak diinginkan.
Mami dan Papinya bukan orangtua kandungnya, Kakak tersayangnya bukanlah kakak kandungnya, dan bahkan kemungkinan besar dia akan berpisah dengan mereka.
Airmata yg sempat mengering itu kini mulai berlomba mengaliri pipi nya.
Sungguh ia ingin menyangkal semua kenyataan ini, Sungguh ia masih berharap ini hanya mimpi buruk yg akan berakhir ketika ia terbangun dari tidur.
bibirnya tersenyum pahit, melihat lampu warna warni, hadiah ulangtahun dari kakaknya tahun lalu, Kakak yg sangat disayanginya, kakak yg sangat menyayanginya, akankah ia sanggup berpisah dengannya?
__ADS_1
Ia tarik selimutnya hingga menutupi kepalanya, menengelamkan wajahnya di bantal untuk meredam tangisnya.
Hingga rasa lelah karena terlalu lama menangis membawanya menuju alam mimpi.