
Inder memandangi wajah cantik istrinya yang masih terlelap, ia tersenyum kecil mengingat aktivitas menyenangkan tadi malam. "Dia pasti sangat kelelahan!" Gumamnya, ia beranjak dari tempat tidur dengan perlahan, memakai kembali pakaiannya dan bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara itu Queenza mulai menggeliat, matanya memincing, menyesuaikan cahaya sinar matahari yang menembus kamarnya.
"Astaga...jam berapa ini?" Ucapnya ketika menyadari Matahari sudah meninggi.
"Pagi sayang, kau sudah bangun rupanya!" Ucap sang suami yang baru keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
Glek...Queenza menelan ludahnya sendiri melihat pemandangan indah yang terpampang nyata dihadapannya, jantungnya terasa berdetak lebih cepat. Segera ia alihkan perhatiannya sebelum sang suami menyadarinya.
"Kau mau mandi sekarang? Aku siapkan air hangatnya dulu, ya!" Ucap Inder seraya kembali kekamar mandi.
"Huuuh!" Za menghembuskan nafas lega, pemandangan tubuh suaminya memang indah, tapi tak baik untuk kesehatan jantungnya.
Ia memakai kembali pakaiannya, lalu beranjak untuk pergi kekamar mandi. "Ssshhhh" Desis Za sambil meringis ketika merasakan sakit di area sensitifnya.
Ia melangkah perlahan, ahhh ucapan Alika kembali terngiang di telinganya, tapi syukurlah setidaknya ia masih bisa berjalan, tak seperti yang diceritakan Alika!
"Sayang... harusnya kau memanggilku." Ucap sang suami, saat melihatnya sudah berada di depan pintu kamar mandi. "Apa terasa sakit? Emhhh maksudku..."
Za tersenyum, "Sedikit." Jawabnya. "Sekarang kau keluarlah! Aku mau mandi dulu." Ucap Za seraya mendorong pelan tubuh suaminya.
"Sayang! Biarkan aku membantumu membersihkan diri, barangkali kau butuh bantuanku?" Ucap Inder membuat matanya membola.
"Tidak! Aku bisa mandi sendiri! Keluarlah Inder." Ucapnya sedikit memaksa.
"Kau yakin? Mungkin aku bisa membantu menggosok punggungmu? atau menggosok bagian yang lainnya, dengan senang hati aku akan melakukannnya!" Goda suaminya.
"Aku melakukan semuanya sendiri! jadi sekarang kau keluarlah dan pakai pakaianmu!".Ucap Za, seraya menutup pintu kamar mandi.
Za merendam tubuhnya, bayangan aktivitas semalam kembali menari di otaknya, ia tersenyum kecil, meruntuki kebodohannya yang percaya begitu saja pada cerita Alika hingga menunda malam pertamanya.
Ya... mungkin Alika benar tentang rasa sakit yang dialami saat melakukannya pertama kali, tapi rasa sakit itu tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kenikmatan yang didapatkannnya saat mencapai puncaknya semalam.
"Ishh ...kenapa otakku jadi mesum begini?" Keluhnya dalam hati. Za menggelengkan kepala mengusir pikiran kotor yang mampir diotaknya lalu segera menyelesaikan ritual mandinya.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Sementara dilain tempat Raja tengah dilanda kegelisahan. Papi Rendy sudah memanggilnya untuk kembali ke Ibukota, tapi sampai saat ini Maya masih belum memberikan Jawaban.
"Anda memanggil saya tuan?" Tanya Reihan.
__ADS_1
"Kau pulang duluan, handle semua pekerjaanku. Sepertinya aku masih harus beberapa hari lagi disini?"
"Tapi, Tuan..."
"Aku tak bisa pulang sebelum mendapatkan jawaban dari Maya, Rei!" Pangkas Raja.
"Bagaimana jika Nona Maya menolak lamaran Anda, Tuan?" Ucap Reihan, membuat Raja menatapnya tajam.
"Apa kau sedang mendoakan aku, Rei?" Bentaknya.
"Bu...bukan begitu maksud saya Tuan! Maaf... tapi melihat sikap Nona Maya..." Ucapan Reihan terhenti melihat mata Tuan mudanya kembali membesar.
"Maafkan saya, Tuan! Kalau begitu saya permisi!" Ucapnya sembari melangkah menjauh.
Raja menghela napasnya, apa yang dikatakan Reihan benar, bagaimana bila gadis itu menolak niat baiknya? Tidak, dia tak akan menyerah, bagaimanapun caranya dia harus bisa mengambil hati gadis itu!
๐บ๐บ๐บ๐บ
Maya sedang membantu Ibunya membereskan bekas sarapan mereka, ketika ketukan pintu yang disertai salam terdengar membuatnya segera melangkah untuk membukanya.
"Kau? Mau apa kau kesini sepagi ini?" Ketus Maya melihat Raja datang.
"Aku ingin menagih jawabanmu!" Ucap Raja.
Raja menghela napasnya, nampaknya ia harus lebih bersabar menghadapi gadis ini. "Kalau begitu aku akan menunggu sampai kau memberiku jawaban." Ucapnya yakin.
"May, siapa yang datang?" Tanya sang Ibu yang datang dari dalam. "Nak Raja, mari masuk! Kamu ini ada tamu bukannya disuruh masuk."
"Terima kasih, Bu." Ucap Raja.
Maya menghela napasnya, entah kenapa seriap kali melihat wajah pria itu semua kejadian malam itu langsung berputar di otaknya, membuatnya selalu kesal dan juga marah.
Maya menghampiri Ibunya dan juga Raja yang kini sedang berbincang di ruang tengah.
"Maaf ya, Nak. Ibu harus tinggal kepasar dulu. Rencananya hari ini ibu mau menggelar acara tahlilan untuk mengenang satu tahun kepergian bapaknya Maya, jadi ibu harus berbelanja semua keperluannya." Ucap Ibunya Maya.
"Bagaimana kalau saya antar?" Tawar Raja.
"Gak perlu! Saya dan ibu yang akan kepasar, jadi sebaiknya anda pulang saja!" Ucap Maya, membuat pria itu menatapnya.
"Apa kau sedang mengusirku?" Tanyanya.
__ADS_1
"Tolong maafkan Maya, ya Nak. Maksud Maya bukan seperti itu." Ucap Ibu menyela. "Oh ya. Kenapa tidak kalian berdua saja yang kepasar?" Cetusnya kemudian.
"Ibu!" Sergah Maya.
Ibu menghampiri Maya."Banyak barang yang harus dibeli, dan kau tau sendiri kaki ibu tidak bisa lama-lama berjalan, bisa sakit dan keram." Ucap Ibu Maya. "Tolong ya, pergilah kepasar bersama Nak Raja." Bujuknya.
Mau tak mau Maya menurut, Kening Raja berkerut saat Maya membawanya kepasar tradisional.
"Bukankah sebaiknya kita keswalayan saja?" Ucap Raja.
"Kalau kau tidak mau, kau bisa kembali, atau menunggu di mobil saja." Ketus Maya sambil keluar dari mobil.
Raja menghela napasnya, mana mungkin dia menyerah, ini bisa jadi wajahnya untuk membujuk gadis itu! Ia ikut turun dari mobilnya menyapukan pandangannnya kesekitar pasar, cukup bersih meski agak sedikit becek dan juga berdesakkan.
"Kubilang kau bisa menunggu di mobil saja!"
Raja menggeleng, "Aku akan ikut!" Ucapnya.
"Terserah!"
Maya masuk kedalam pasar dengan Raja yang mengekor dibelakangnya. Maya memilih beberapa barang yang harus dibelinya, ia berpindah dari satu kios ke kios lainnya, sesekali ekor matanya memperhatikan pria yang berjalan dibelakangnya.
Pria dengan setelan jas itu nampak santai meski sesekali sepatu mahalnya harus terkena cipratan air yang menggenang, penampilan dan wajahnya yang tak biasa membuatnya jadi pusat perhatian. "Sini kubantu bawakan!" Ucap pria itu seraya mengambil alih tas belanjaan milik Maya.
Semua barang yang ada di dalam catatan yang diberikan ibunya sudah ia dapatkan, hanya tinggal beberapa barang peralatan rumah tangga dan ia harus berjalan sedikit jauh untuk mendapatkan barang itu.
"Kau bisa kembali kemobilmu, aku harus membeli beberapa barang lagi." Ucap Maya.
"Kalau begitu aku akan menemanimu." Ucap Raja tersenyum. Senyum yang mampu membuat Maya terpaku sesaat.
Maya menuju sebuah kios yang menjual berbagai macam peralatan rumah tangga. Kios itu berada terpisah dari pasar, sebenarnya di pasarpun ada kios seperti itu, tapi Maya ingin mendapatkan harga yang lebih murah, karena ia akan membeli beberapa barang sekaligus.
Kios ini nampaknya sedang direnovasi terlihat ada beberapa kayu yang menyangga atapnya dan beberapa kayu juga berjajar di dekat kios.
Maya berjalan menuju kios itu dengan mata yang sesekali masih melirik pria dibelakangnya. Bruk...karena tidak hati-hati ia tak sengaja menabrak kayu penyangga atap yang langsung terlihat goyah, Raja yang berada didekatnya langsung reflek memeluk Maya menghalangi apapun yang akan menimpanya.
Bruk... sebuah kayu penyangga itu menimpa punggung pria itu.
๐บ๐บ๐บ๐บ
Assalammualaikum, mohon maaf beberapa hari ini gak bisa up rutin๐ Mertuaku sedang sakit, jadi aku gak bisa pokus menulis.
__ADS_1
Minta doanya ya, untuk kesembuhan Ibu mertuaku๐ semoga Alloh segera mengangkat segala penyakitnya.
Terima kasih sebelumnya๐ Lov u all๐