Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Kontrak pekerjaan


__ADS_3

Inder


Pria itu terus mematut dirinya di cermin, sudah dari dua jam lalu ia dengan gelisah mencari pakaian yang menurutnya akan pas untuk di pakainya pagi ini.


Entah sudah berapa pakaian yang ia coba hingga membuat kamar di apartemennya yang biasa rapi kini tak ubahnya kapal pecah, saking berantakannya.


Pilihanya jatuh pada jaket denim yang ia padukan dengan t-shirt putih sebagai inner, celana jeans, dan tak lupa sneakers putih kesayangannya untuk melengkapi penampilannya.


Ia keluar dari kamar, duduk di sofa tamu apartemennya, membuka sosmednya sembari menunggu sang manager sekaligus sahabatnya datang.


Sudah hampir jam sembilan, tapi managernya itu masih belum terlihat batang hidungnya. membuatnya kesal dan memutuskan untuk turun, dan menunggunya di luar saja. Ia baru turun dari lift, ketika melihat managernya itu datang.


"Dari mana aja, lo? pacaran dulu, jam segini baru nyampe?" Tanyanya kesal.


Sang manager berdecak kesal,"Jangan asal nuduh, bukannya lo yang bikin gue bergadang sampe bangun kesiangan?"


Inder terkekeh, "jadi mana kontrak kerjanya?"


Inder mengambil surat kontrak kerja itu dari tangan Rega, memeriksa lembar demi lembar kemudian berseru."Bagus, perfect. kalau begitu ayo kita berangkat!"


"Tunggu dulu! apa lo yakin dengan semua syarat yang lo ajukan itu?" Tanya Rega, Inder menoleh. "Memang kenapa?"


"Apa lo yakin membiarkan gadis itu tinggal bareng lo? Lo gak takut kejadian tempo hari terulang lagi?" Tanya sang manager, membuatnya kembali mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu, ketika asisten managernya masuk ke kamarnya. Inder menggeleng " Gua yakin, Dia bukan cewek seperti itu."


"Ya sudah ayo kita berangkat."


Mereka segera berangkat menuju tempat Inder dan Queenza akan bertemu.


🌺🌺


Queenza


Duduk di meja yang memang sudah du sediakan untuknya, hari ini ia akan membicarakan tentang tawaran pekerjaan dari seorang artis terkenal.

__ADS_1


Sejujurnya ia tak yakin untuk menerima pekerjaan ini, swjak kecil dua tak terlalu pandai bergaul, terlebih kepahitan di masa lalu membuatnya selalu menjaga jarak dari semua orang. Sedangkan pekerjaan ini? Jika ia menerima pekerjaan sebagai asisten manager, tentu ia akan sering bertemu banyak orang.


"Huuuuuhhhh" Quenza menghembus nafas perlahan, mencoba meyakinkan diri bahwa ia akan bisa melakukan pejerjaan ini dengan baik, karena dia butuh pekerjaan ini.


Sepuluh menit berlalu, orang yang ditunggunya akhirnya datang juga.


"Maaf, membuatmu menunggu lama." Ujar orang itu yang tak lain adalah Inder.


Ia menggeleng "Tidak apa-apa, aku juga belum lama kok."


"Ih, ya. perkenalkan, ini managerku Rega."


Queenza melirik lelaki di samping inder, dan tersenyum sopan." Halo, aku Queenza." Ucapnya sembari mengulurkan tangan yang langsung disambut pria itu.


"Aku Rega, manager Ivander." Ucap pria itu.


Iya mengangguk, lelaki bernama Rega itu memberikan sebuah map bewarna merah kehadapannya." Nona bisa membacanya dulu, jika ada sesuatu yang ingin anda tanyakan, atau mungkin ada phoint yang membuat anda merasa keberatan, anda bisa mengatakannya sekarang." Ujar pria itu lagi.


Queenza mengambil map itu, membuak dan membaca kata perkatanya dengan seksama.


"Tugas anda mengurus segala keperluan Ivander, mulai dari menyiapkan pakaian, makanannya, mengingatkan tentang sqedule nya dan juga menemaninya melakukan segala aktifitasnya." Jelas Rega.


Ia mengangguk mengerti. Ia kembali pokus membaca isi kontrak itu lagi, mengabaikan Inder yang cemas memperhatikan geraknya.


Tiba di phoin ketiga, ia kembali mendongak dan bertanya." Apakah tinggal bersama itu, menjadi sebuah keharusan?"


"Tentu!" Kali ini Inder yang menjawab. " Seperti dijelaskan disana, aku bisa saja memerlukanmu mendadak dan jika kita tinggal bersama tentu itu akan jauh lebih mudahkan?"


"Ok cukup masuk akal" Pikirnya, tiba di phoint keempat ia mulai mengernyit.


"Kenapa nona?" Tanya Rega, membuatnya kembali bertanya." Bisa tolong di perjelas, maksud phoint keempat?"


Inder dan Rega saling melempar pandang, "Maksudnya kau tidak boleh pacaran dengan lelaki manapun selama kontrak kerja ini berlangsung, aku ingin kau fokus pada pekerjaanmu. Apa kau keberatan?" Jawab Inder.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak keberatan." Ucapnya. "Baiklah, dimana aku harus tanda tangan." Tanyanya kemudian.


"Disini, dan disini." Ujar Inder bersemangat.


Ia baru akan membubuhkan tanda tangannya, namun sesuatu masih mengganjal di benaknya.


"Boleh aku bertanya satu hal lagi?"


"Tentu, kau bisa menanyakan apapun." Jawab Inder.


"Apa di dalam rumah itu, kita hanya tinggal berdua? Maksudku... apa pak manager ikut tinggal bersama atau apa ada orang lain yang tinggal disana?" Tanyanya.


Kedua lelaki di depannya diam, "Mungkin kalian akan menganggapku kolot, kuno, atau apapun itu. Tapi... jujur aku merasa tak nyaman jika hanya tinggal berdua saja walau itu dengan alasan pekerjaan sekalipun."


"Jangan khawatir, ada Art di rumahku, dan juga beberapa pengawal." Ucap Inder kemudian yang membuatnya cukup lega.


Setelah mendapatkan penjelasan ia memutuskan untuk membubuhkan tandatangannya dan menyerahkannya pada lelaki di hadapannya.


"Selamat." Ucap pria bernama Rega itu.


"Terimakasih." Ucapnya menyambut tangan Rega.


"Jadi kapan kau bisa mulai bekerja? Sekarang bisa?"


"Sekarang?"


"Ahhh maafkan artisku ini nona, maksudnya kau bisa mempersiapkan dirimu sekarang untuk bekerja mulai besok."


"Oh... iya tentu." Ucapnya.


"Kalau begitu, kami permisi dulu, Ivader ada syuting." Ucap Rega sembari beranjak dari kursinya, membuatnya ikut berdiri, mengangguk sopan.


Mereka meninggalkan meja yang ia tempati, dengan Rega yang sedikit menyeret artisnya yang malah terlihat keberatan untuk pergi.

__ADS_1


Artis itu, Ivander kamal prasetya, mulai besok ia akan bekerja padanya, bertanggung jawab atas segala hal yang berhubungan dengannya, apa ia akan mampu?


Semoga......


__ADS_2