
Raja
Remaja berusia lima belas tahun itu, merebahkan tubuhnya kembali di kasur. Sudah hampir dini hari namun matanya tak mampu lagi terpejam.
Setelah mengisi air dari dapur tadi tanpa sengaja ia mendengar percakapan orangtuanya.
" Aku tak bisa kehilangannya mas. Dia seperti anugrah di tengah keterpurukanku, dia putriku, dan aku tak bisa kehilangannya! "
Sepenggal kalimat Maminya yg kini terngiang di telinganya, membuatnya bertanya-tanya.
" Apa yg sebenarnya terjadi? Apa tidak ku ketahui? "
Ia memutuskan mencoba memejam mata untuk kembali tertidur, namun hingga pagi menyingsing matanya tetap tak bisa terpejam.
đşđşđşđş
Sarapan pagi ini benar-benar terasa berbeda bagi Queenza, meja makan yg biasanya berisik mendadak sepi tanpa ia tau apa sebabnya.
Queenza memandangi keluarganya satu persatu, tak ada satupun dari mereka yg terlihat memiliki selera makan. Makanan itu hanya diaduk-aduk tanpa ada niat untuk dinikmati.
Ada apa dengan keluarganya?
Pertanyaan yg entah harus ia tanyakan pada siapa? Ia bingung, tapi tak berani bertanya.
Sampai sarapannya usai, keadaan masih tetap sama.
đşđşđş
Raja
Ia lajukan motornya menuju sekolah namun bukan untuk masuk kesekolah dan belajar, tapi menggantikan motornya dengan motor yg ia pinjam dari temannya.
Remaja berparas tampan itu memutuskan untuk tak sekolah hari ini, ia bolos demi ingin mencari tau masalah apa yg mengusik keluarganya?
Ada sesuatu yg terjadi dengan keluarganya dan ia yakini ada hubungannnya dengan sang adik.
Ia pacu kuda besi itu kembali menuju rumahnya, berhenti beberapa meter dari pagar gerbang rumahnya, mengintai sang ayah itulah tujuannya.
Ia bergegas menghidupkan mesin motor ketika melihat mobil sang ayah keluar dari gerbang.
Sengaja ia menjaga jarak, agar tak di curigai oleh para bodyguard yg biasa berkonvoi di belakang mobil Papinya.
Tapi... tunggu dulu! Ada yg aneh! Mengapa tak ada bodyguard yg berkonvoi di belakang mobil Papinya? Kemana sebenarnya Papinya akan pergi tanpa pengawalan?
Ia baru menyadari bahwa jalan yg ditapaki Papinya bukanlah jalan menuju kantor, ini lebih menuju ke daerah pemukiman padat penduduk, Untuk apa ayahnya kesini? akan menemui siapa?
đşđşđş
Rendy Pramudza.
__ADS_1
Pria itu masuk kedalam mobilnya bersama Bodyguard kepercayaannya, hanya berdua tanpa para bodyguard lain yg biasa berkonvoi mengiringinya.
Ia sudah memutuskan, ia akan menemui mereka, Orangtua Queenza.
Ia akan melakukan apapun untuk bisa mempertahankan putri kecilnya itu.
Baru separuh perjalanan, Reno mengatakan ada yg mengikuti mereka.
" Saya sudah curiga dari saat kita berangkat tadi, Tuan. Tapi saya tetap ingin memastikannya sebelum bicara pada anda, dan sekarang saya yakin dia memang mengikuti kita. " Ucap Reno.
Rendy memperhatikan pemuda yg mengendarai motor itu, ia tersenyum simpul karena mengenal jaket yg di pakai pemuda itu.
" Biarkan dia mengikuti kita, Reno! berpura-puralah tidak menyadari keberadaannya."
" Baik, Tuan."
Reno menuruti perintah Tuannya itu, meski ia penasaran kenapa tuannya membiarkan oranglain mengikutinya, sedangkan para bodyguard saja dia suruh menyingkir.
" Ini urusan pribadiku! Hanya kau yg ku percaya"
Begitu katanya, saat Reno menanyakan keputusannya untuk berkendara hanya membawanya. Namun ia tak bisa bertanya lagi kali ini, ia hanya bisa menahan rasa penasarannya.
Mobil itu berhenti tepat di sebuah gang kecil.
" Kita harus berjalan kaki untuk bisa sampai kesana, Tuan. Anda bisa menunggu disini, biar saya yg bawa mereka kemari." Ucap Reno.
" Rumah yg berjejer itu, Tuan. disanalah mereka tinggal." Ucap Reno lagi, menunjukan tiga bangunan sederhana bercat putih yg berjejer disana.
Rendy memandang bangunan itu dengan tatapan miris, bagaimana mungkin ia biarkan putrinya tinggal di tempat seperti ini!
Rendy baru akan berniat mendekat pada Rumah itu, namun panggilan dari arah belakang menghentikan langkahnya.
" Rendy, Sepertinya kita punya pemikiran yg sama!" Ucap Pria paruh baya itu.
" Papa..." Gumamnya lirih, ia tak menyangka akan bertemu Papanya di sini.
" Aku tak menyangka kau juga akan merepotkan diri untuk menemui mereka." Katanya lagi.
" Sepertinya Kau sudah mengambil keputusan hingga kau merendahkan diri datang kemari!"
Rendy mengangguk pasti " Ya. Aku sudah mengambil keputusan tentang putriku, Pa."
" Baguslah, makin cepat makin baik. Ayo kita temui kedua orang itu, dan selesaikan semuanya." Ajak Andika kemudian.
Pintu yg diketuk itu langsung terbuka dari dalam, menampilkan wajah pemilik rumah yg terlihat kaget dengan kedatangan mereka.
Setelah dipersilahkan masuk, mereka kini berada di ruangan yg tak lebih besar dari kamar mandi di rumahnya.
Ruangan yg hanya di sekat oleh triplek tipis untuk membatasi ruangan satu dengan lainnya.
__ADS_1
Bukankah kata Papanya mereka ini kerabat dekat seorang wartawan terkenal? lalu kenapa mereka bisa tinggal di tempat menyedihkan seperti ini?
Sekali lagi Rendy menyapukan pandangan keseluruh ruangan, " Tuhan... bagaimana mungkin aku bisa membiarkan putriku di tempat seperti ini." Pekiknya dalam hati.
" Apa yg membuat tuan-tuan mau repot datang kemari? Dan kenapa kalian tak membawa putriku bersama kalian? " Tanya Resha tanpa basa-basi. Ia lalu mengalihkan pandang pada Andika. " Pak Andika, Anda tidak berubah pikirankan?"
" Tenang saja, Aku bukan orang yg suka mengingkari janji. Hanya saja aku ingin kalian membuat surat perjanjian, dan menandatanginya di atas materai."
" Kami bersedia melakukan apapun, asal bisa mendapatkan putri kami kembali." Tegas Aldi.
" Tunggu dulu! " Seru Rendy. " Kalian tak bisa melakukan apapun tanpa persetujuanku." Ucapnya membuat semua orang kini beralih menatapnya.
" Rendy, ada apa denganmu? Bukankah kita kemari dengan tujuan yg sama? menyerahkan anak itu? " Ucap Andika.
Rendy menggeleng, " Tujuan kita berbeda, Pa! Aku masih tetap pada keputusan awalku, Aku akan mempertahankan Queenza untuk tetap bersama kami!" Ujarnya.
" Rendy... Kau benar-benar mengecewakan Papa! " Bentak Andika.
" Maafkan aku, Pa. Tapi kebahagiaan istri dan anakku adalah yg utama."
" Meski Nama baik keluargamu yg jadi taruhannnya?"
Rendy menunduk, tak menjawab.
" Aku tak pernah menyangka, anak yg ku besarkan dengan penuh kebanggaan akan rela menghancurkan nama baik keluarga hanya demi memenuhi obsesi istrinya! " Hardik Andika, ada kekecewaan yg jelas dalam nada bicaranya.
" Ini bukan Obsesi, Pa! Maura sangat menyayangi anak itu, Raja juga. Tak bisakah Papa mengerti itu? Maura akan sangat hancur jika kehilangan Queenza, tolong mengertilah." Ucap Rendy dengan suara yg naik dua oktaf.
Andika tersenyum pahit, " Maura...Maura.. dan hanya Maura yg kau pikirkan! Apa kami sebagai orangtuamu sudah tak ada artinya bagimu Rendy? Apa masih kurang pengorbanan kami untukmu? Haruskah Papa memohon padamu, agar melepas anak itu demi kebaikan keluarga kita? Demi nama baik keluarga kita."
Rendy diam, apa yg dikatakan Papanya benar, selama ini orangtuanya sering mengalah demi memenuhi keinginannya.
Andika melipat kedua tangannya " Aku memohon padamu, tolong relakan anak itu! Kembalikan dia pada keluarganya demi nama baik keluarga kita!" Ucapnya, membuat Rendy terhenyak.
" Tolong jangan seperti ini pa! Jangan menyuruhku memilih, Pa."
" Haruskah aku berlutut dihadapanmu, Putraku? " Ucapnya lagi. Baru saja ia akan menekuk lututnya, Rendy menahannya.
" Aku akan melakukan apa yg Papa katakan!!" Ucapnya menyerah. " Aku akan melepas Queenza dan menyerahkan pada orangtua kandungnya. Tapi tolong, berikan aku waktu untuk menjelaskan pada Raja dan Maura, Kumohon Pa!" Sambungnya dengan menghiba.
Resha dan Aldi saling memandang, dalam hati mereka sangat bersyukur, mungkin orang akan menilai mereka jahat, tapi apa daya mereka benar-benar menginginkan anak itu.
Andika menghela nafas, namun ia harus menuruti keinginan anaknya itu, yg penting putranya setuju menyerahkan anak itu.
" Baik, Papa beri kau waktu tiga hari, Untuk menjelaskan pada anak dan istrimu! " Andika lalu mengalihkan perhatiannya pada dua manusia yg sedari tadi hanya menyimak. " Kalian dengar, tiga hari lagi kalian akan dapatkan anak kalian kembali..."
" Tak ada yg bisa mengambil adikku!!"!!
.
__ADS_1