
Raja
Lelaki berusia dua puluh tujuh tahun itu, masih bergeming di kasurnya, pagi yang sudah menjelang tak membuatnya tergoda untuk beranjak dari tempat tidurnya.
Ia baru sampai di kota kelahirannya tadi malam, dan begitu memasuki rumah semua kenangan masa lalu langsung berkelebatan, berputar di otaknya.
Rasa bersalah itu kembali menghimpit dadanya, membuatnya terasa sesak.
"Maafkan kakak Queen, sampai saat ini kakak masih belum menemukanmu." Ucapnya, sembari menatap poto berpigura.
Sebuah ketukan dari balik pintu, membuatnya menyimpan kembali foto itu diatas nakas.
Ia beranjak, membuka pintu kamarnya. Mami Maura menatapnya cemas dari balik pintu.
"Kau baik-baik saja, nak?" Ucap Mami Maura, sembari mengelus lembut wajah sang putra.
Ia mengangguk, tersenyum pada Maminya. meyakinkan Maminya kalau dia baik-baik saja. Bertahun tinggal di negeri orang tak pernah sekalipun ia kembali kekamar ini, jikapun ia pulang ia akan lebih memilih kamar tamu sebagai ruang tidurnya. Tapi semalam, hatinya tergerak untuk melangkah kekamar ini, kamar penuh kenangan bersama adik tercintanya.
Maminya tentu tau, bagaimana dia dan sang adik menghabiskan waktu bersama di kamar ini , bercerita, bermain, membantu adiknya belajar hingga ketiduran. Dan tentunya, itulah yang membuat Maminya khawatir, mungkin maminya takut ia akan kembali terpuruk seperti beberapa tahun lalu saat baru kehilangan adiknya.
"Aku baik-baik saja, Mi." Ucapnya meyakinkan.
Mami Maura menghembus nafas lega, "Kau membuat Mami takut karena tak keluar dari kamarmu sejak semalam, Mami pikir...."
"Tak perlu berpikir macam-macam, Mi. aku baik-baik saja." Ujarnya,
"Syukurlah, kalau begitu ayo kita sarapan, semua orang menunggumu."
đşđşđş
Raja turun bersama Maminya, di meja makan Papi dan Friska anak pengganti yang di bawa kakeknya sudah menunggu.
"Selamat pagi, Papi." Sapanya, Friska terlihat kesal di tempatnya. tapi Raja tak perduli, meski gadis itu sudah bertahun-tahun tinggal bersama keluarganya bagi Raja gadis itu tetaplah orang asing.
"Pagi, Nak. ayo kita sarapan."
Mereka sarapan dalam diam, tak ada kehangatan deperti saat adik kecilnya masih berada disini, Semuanya berubah, semua berbeda.
"Raja, siang nanti bisakah kau temani Mami ke mall? Friska tak bisa mengantar mami karena ada acara di kampusnya." Tanya sang Mami.
"Tentu, Mi. Raja akan menemani Mami."
__ADS_1
đşđşđş
Queenza
Sepulang dari pertemuan dengan Inder, Ia memutuskan untuk mampir ke mall. Ia ingin jalan-jalan untuk terakhir kalinya, sebelum kesibukan pekerjaan menyita waktunya.
Ia berjalan santai, sekedar mencuci mata daripada bosan jika harus sendirian menunggu kepulangan Alika di rumah.
Langkahnya ia percepat, saat melihat seorang ibu yang berjalan terhuyung.
Hap. Ia menangkap tubuh wanita parubaya itu sebelum terjatuh.
"Ibu baik-baik saja." Ucapnya seraya memapah Ibu itu, menuju kursi terdekat.
Deg.
Jantungnya seakan terlepas saat ia menatap wajah parubaya itu.
"Mami" Batinnya.
"Terima kasih, ya nak." Ucap wanita paru baya itu. "Mungkin ibu sudah terjatuh kalau kamu tak menolong tadi." Lanjutnya.
"Dari mana kamu tau kalau saya biasa di kawal?" Ucap Ibu paruh baya itu.
Queenza tersentak, otaknya berpikir mencari jawaban yang masuk akal. Karena tidak mungkinkan kalau dia bilang kalau ia adalah gadis kecil yang sempat mereka rawat.
"Karena.... aku pernah melihat anda di televisi, Anda nyonya pramudza, kan?" Jawabnya, Ibu itu mengangguk, tersenyum. "Jadi kupikir, istri dari orang penting seperti anda pasti di kawal kan?"
"Kau benar, nak. Biasanya memang ada pengawal yang menemani ibu, tapi saat ini ibu pergi bersama putra ibu, jadi ibu merasa tak memerlukan pengawalan."
"Putra Ibu?"
"Apakah yang dimaksud Mami adalah kak raja? Tuhan.... kenapa disaat aku bertekad melupakan mereka, kau justru mempertemukanku dengan mereka." Batin Queenza.
Queenza memandang wajah pucat Maminya itu, ada rasa bahagia di hatinya, ingin rasanya ia memeluk tubuh maminya mengatakan kalau ia adalah putri kecilnya tapi......Ingatannya pada kejadian malam itu membuatnya mengurungkan niatnya.
"Apa Ibu sedang sakit, mengapa wajah ibu terlihat sangat pucat? Dan dimana putra ibu? Mengapa dia membiarkan ibu sendirian?" Tanyanya kemudian.
"Tadi dia sedang menelpon, ibu berniat berjalan-jalan, tapi tiba-tiba kepala ibu mendadak pusing, terima kasih kamu sangat perhatian pada ibu." Ucap Maura tulus.
"Kau tahu nak, kau mengingatkan ibu pada putri ibu." Ucapnya lagi. "Jika saja dia masih bersama kami, dia pasti seumuran denganmu."
__ADS_1
"Putrimu, ada dihadapanmu, Mami... aku putrimu... aku putrimu.." Queenza membatin, ingin rasanya ia mengatakan itu pada maminya, tapi... ia sudah berjanji pada bundanya kalau dia tidak akan kembali pada keluarga lamanya.
"Siapa namamu, nak?" Tanya Maura kemudian.
"Namaku...." Ia baru akan menjawa, ketika terdengar suara dari belakangnya.
"Mami.."
Seorang pria menghampiri mereka, memeluk erat wanita parubaya yang tak lain adalah Maminya itu.
"Apakah itu dirimu kak? betapa aku sangat merindukanmu.." Batinnya.
"Kenapa Mami pergi, aku sangat khawatir, Mi. tolong jangan lakukan ini lagi." Ucap lelaki itu, raut khawatir terlihat jelas di wajahnya. "Apa mami terluka?"
Maminya menggeleng,"Berterimakasihlah pada gadis ini, jika bukan karena dia, mungkin sesuatu yang buruk akan menimpa Mami!" Ucap Mami Maura.
lelaki itu menoleh padanya, pandangan mereka saling bertemu. "Terima kasih sudah menolong Mamiku." Ucap pria itu.
Ia hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban, Pria itu kembali mengalihkan pandangan pada Maminya.
"Ayo mi, kita pulang sepertinya mami masih perlu banyak istirahat."
Pria itu membantu maminya berdiri, membuatnya ikut berdiri juga, "Terima kaaih, ya nak. ibu berharap kita bisa berjumpa lagi." Ucap Maminya sebelum mereka benar-benar pergi meninggalkan tempat itu.
"Bolehkah aku kecewa, karena kalian tidak mengenaliku?"
đşđşđş
Raja dan Maura sedang dalam perjalanan pulang.
"Kau lihat gadis yang menolong Mami tadi, Ja? Dia mengingatkan Mami pada adikmu" Ucap Maura. "Melihat gadis itu, membuat Mami merindukan adikmu. Seandainya saja dia masih bersama kita...." Mami Maura menghela nafasnya, mengingat putri kecilnya selalu membuat perasaannya emosional.
Tak ada jawaban dari sang putra membuatnya tak melanjutkan kata-katanya, ia tau putranya juga masih menata rasa, ia tak mau putranya kembali terpuruk dan memilih menjauh lagi.
Mereka sampai di rumah, Raja mengantar Maminya ke kamar untuk beristirahat.
"Istirahatlah, Mi." Ucapnya.
Ia melangkah menuju pintu kamar maminya, menoleh kembali wajah Maminya sebelum menarik handle pintu.
"Maafkan Raja, Mi. Seandainya Raja bisa mengatakan yang sebenarnya."
__ADS_1