
Queenza mengedarkan pandangan kesekitar, pepohonan rimbun dan bunga warna-warni menghiasi di sekelilingnya.
"Apa aku sudah di surga?" Tanyanya pada diri sendiri, karena seingatnya ia berada di pantai di bawah guyuran air hujan. Queenza mengernyitkan dahi menyadari bahwa ia seperti mengenal tempat ini.
Ia berjalan masuk melewati taman bunga dan kebun sayur mayur di sepanjang rumah ini, dan dugaannya benar! Ini adalah villa keluarga pramudza, tempatnya menghabiskan waktu liburan saat masa kecilnya.
Ia merangsek masuk makin dalam, langkahnya terhenti melihat seorang pemuda dan gadis kecil sedang bermain.
Bibirnya melengkung sempurna tatkala melihat pemuda itu menggoda sang gadis dengan mengangkat tinggi-tinggi boneka barbie milik gadis tersebut. Sedangkan orang tua mereka duduk tak jauh dari kedua anak nya, tersenyum melihat apa yang di lakukan anak-anak mereka.
Airmata mulai berdesakkan untuk keluar dari sudut matanya, pemandangan di depannnya tak lain adalah kejadian di masa kecil yang sangat indah baginya, namun terasa begitu pedih saat ia mengingat kenyataan pahit yang baru ia terima.
"Jika ini adalah mimpi, maka jangan biarkan aku terbangun." Ucapnya sedih. "Aku tak mau bangun lagi."
"Tapi kau harus bangun, Nak!" Suara berat dari belakang membuatnya menoleh, netranya menangkap sosok pria yang sangat ia kenali, Kakeknya.
"Kau harus bangun, demi orang-orang yang sangat mencintaimu."
Ia masih bergeming, netranya terpaku pada tubuh renta yang dulu sangat ia segani bahkan ia takuti.
Sang kakek yang seolah mengerti perasaannya berjalan mendekat membuat tubuhnya seketika bergetar takut. Namun... ada yang aneh dengan raut wajah yang biasa beraura arogan itu.
"Kakek!" Gumamnya, menatap lamat pada wajah yang kini bersimbah air mata. Dan... ia bejingkat kaget saat sang kakek berlutut di hadapannya.
__ADS_1
"Kakek, apa yang anda lakukan?" Ucapnya.
"Maafkan aku, Nak!" Suara kakek terdengar serak, ia menatap khawatir pada tubuh yang kini menunduk dengan bahu bergetar itu.
"Maafkan aku yang telah dengan sengaja menyakitimu... aku bahkan memisahkanmu dengan orang tua dan kakakmu, padahal aku tau benar kalau mereka sangat menyayangimu."
"Maafkan aku...tolong maafkan aku."
Airmata Za meluncur deras mendengar pengakuan sang kakek, ia masih mematung dengan pandangan yang tak teralih dari tubuh renta itu.
"Tuhan sudah menghukum semua keangkuhanku, Za. Semua sikap sok kuasaku telah dibayar telak dengan sebuah karma yang menyakitkan." Ucap kakeknya lagi. Za masih setia mendengarkan, ia masih menata hatinya.
"Maafkan lah aku yang menjadi penyebab penderitaan dalam hidupmu, Nak! Tuhan sudah menukar kesombongan dan sikap aroganku dengan sebuah ketidak berdayaan di akhir usiaku, Maafkan aku." Ucap kakek penuh sesal.
"Aku memaafkanmu kakek." Ucapnya sungguh-sungguh. "Aku sudah lama memaafkanmu." Ulangmua sembari tersenyum.
Kakek meraih tubuh Za dalam dekapannya, "Kau memang anak baik! Hatikulah yang buta hingga tak bisa melihat ketulusanmu. Maaf, Nak. Maafkan aku."
Za membalas pelukan itu dengan erat. Untuk pertama kali kakek memeluknya, dan ia tak ingin melepas pelukan itu. Namun sang kakek menjauhkan sedikit badannya, menatap wajahnya lalu berkata. "Bangunlah Nak, sudah saatnya kau raih bahagiamu." Ucap kakek seraya mengecup keningnya membuatnya menutup matanya.
Za membuka matanya perlahan kecupan dikeningnya terasa begitu nyata, namun bukan sang kakek yang ia dapati tapi Kakak yang dirindukannya selama ini.
Wajah mereka begitu dekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan, matamya mengerjap bersamaan dengan kesadarannya yang mulai pulih.
__ADS_1
"Kakak..." Ucapnya.
Membuat lelaki itu mengalihkan pandangan padanya. "Kau sudah sadar, Queen? Syukurlah... Terima kasih Tuhan!" Ucap syukur kakaknya.
Ia masih mengerjap-ngerjapkan matanya, "Apa aku masih bermimpi?" Ucapnya membuat sang kakak terkekeh.
"Kau tidak bermimpi, Queen. aku disini... aku sudah menemukanmu." Ucap kakaknya seraya membawa tubuh lemahnya dalam pelukan, membuatnya yakin kalau yamg ia rasakan bukanlah mimpi.
"Kakak... hiks... kakak."Ucapnya sembari membalas erat pelukan lelaki yang sangat ia rindukan itu. "kenapa butuh waktu begitu lama untukmu menemukanku." Ucapnya lagi di sela tangisnya.
Raja mengeratkan pelukannya, :Maaf karena terlambat menemukanmu." Mereka terlarut dalam ritual melepas rindu, membuat mereka tak menyadari kehadiran seseorang yang mematung menyaksikan kehangatan mereka.
Siapa hayo yang datang??
Hai aku menyapa lagi๐
Mau ngucapin makasih untuk semua yang sudah mendukungku sampai saat ini๐
Makasih untuk kalian yang bersedia mampir untuk membaca tulisan hasil kehaluanku yang tentunya masih berantakan๐
Harap maklum, Ya. Authornya baru netas jadi masih harus banyak belajar. Jangan sungkan kalau mau kasih kritikan dan saran yang membangun, ya.
Lov U All ๐๐
__ADS_1