
Alika menurut saat Queenza memapahnya menuju ke kamar tamu untuk beristirahat.
"Sebenarnya aku sudah menyiapkan kamar untukmu diatas, tapi melihat kondisimu sekarang sangat tidak memungkinkan untuk naik turuntangga, untuk sementara kau dikamar tamu dulu." Ucap Za, yang diangguki oleh Alika.
"Tak apa, Za! Kamar ini sudah lebih dari cukup untukku."
Za tersenyum, ia memapah Alika dan mendudukkannya di sisi ranjang tempat tidurnya.
"Kalau begitu istirahatlah, Aku keluar dulu. Nanti kita bicara lagi!" Ucap Za seraya melangkah keluar dari kamar, dan menutup pintu. Za tak ingin mengganggu waktu istirahat sepupunya itu.
Ia berniat untuk menghubungi Inder, pertemuannya dengan Rega tadi mengingatkannya bahwa ia belum memberi kabar pada lelaki itu.
Za baru akan menelpon ketika melihat Raja melangkah mendekat membuatnya mengurungkan niat dan memasukkan kembali ponselnya kesaku jaketnya.
"Kakak ingin mengajakmu kesuatu tempat! Jadi bersiaplah dengan cepat, kita harus berangkat sebelum hari menjadi gelap."
"Kemana? Dan mengapa begitu mendadak?" Tanya Za.
"Nanti kau akan tau, Jadi bersiaplah! Aku tunggu didepan." Ucap Raja.
"Tapi Alika? Apa kita akan meninggalkannya sendirian? Dia kan lagi sakit, Kak."
"Dia tidak sendirian, Queen! Ada Reihan yang bisa menjaganya, juga ada para pelayan dan Bodyguard disini."
__ADS_1
Queenza mengangguk, "Baiklah aku ganti baju dulu!"
"Oke, Kakak tunggu didepan!"
đşđşđşđşđş
Za sudah berada didalam mobil bersama Kakaknya, dia memutuskan untuk mengirim pesan pada Alika agar gadis itu tak kebingungan mencarinya saat bangun nanti.
"Kita mau kemana, Kak?" Tanyanya, tapi Raja tak menjawab dan terus pokus pada jalanan.
Dan itu membuat Za memutuskan untuk diam, hingga mereka sampai di sebuah taman tak jauh dari rumah orangtua angkatnya dulu.
"Tempat apa ini? Dan kenapa kakak membawaku kesini?" tanya Za, bingung.
Sayup-sayup Za mendengar suara tangisan yang begitu menyayat hati, ia mengeratkan genggaman tangan Raja, dan setelah ia lebih masuk kedalam barulah ia sadar, ini bukanlah taman seperti yang ada dipikirannya tapi sebuah makam!
Ia terus mengikuti langkah besar Raja, hingga lelaki itu menghentikan langkahnya membuatnya ikut berhenti juga.
Didepannya sepasang suami istri terlihat menangis pilu dihadapan sebuah makam yang sepertinya baru saja di bongkar. ia pun tak tahu makam siapa, Namun ia tau dengan jelas siapa sepasang paruh baya didepannya, mereka adalah Mami dan Papinya! Mereka berdiri didepan makam yang terlihat baru saja di bongkar itu dan membelakanginya.
"Kenapa Papa tega melakukan ini pada kita, Mas?" Ucap Maminya dengan suara yang serak. "Kenapa dia tega membiarkan kita menangisi makam kosong bertahun-tahun lamanya." Sambung Mami maura.
"Tolong maafkan Papa ku, Ra! Tolong maafkan semua kesalahan yang dia lakukan." Ucap Papi Rendy.
__ADS_1
Peecakapan dari Mami dan papinya membuat hatinya bertanya-tanya.
"Makam kosong? Kesalahan Kakek? Mungkinkah ini adalah..." Ia mendongak mencari jawaban dari pertanyaan yang bahkan tidak ia ucapkan.
"Disana itu adalah makam yang ditunjukan Kakek, sebagai makammu!" Ucap Raja seolah mengerti arti dari tatapannya.
"Kakek sengaja memilih tempat ini, dengan tujuan agar Mami mudah mengunjungi makam ini, secara tidak langsung ia ingin terus mengingatkan Mami tentang kematianmu, agar tak ada niatan untuk mencari ataupun mengingatmu lagi." Ucap Raja dengan bibir sedikit bergetar.
Airmata Za kembali mengalir, meski ia sudah mengiklaskan dan menerima apa yang terjadi padanya sebagai takdir hidupnya, namun entah kenapa dadanya masih terasa sesak jika diingatkan kembali pada kejadian di masa silam itu.
Raja merengkuh tubuh Za dalam dekapan, "Maaf, karena tak bisa berbuat apa-apa saat itu." Ucapnya.
Za tak dapat berkata apapun lagi, hanya airmata yang mengalir makin deras yang menunjukan kalau luka itu masih belum sembuh sepenuhnya.
"Kita temui Mami dan Papi, ya." Ucap Raja. "Mereka sudah sangat merindukanmu." Lanjut Raja lagi.
Raja menuntun langkah Za mendekat pada Mami dan Papinya yang masih terlarut dalam kesedihan hingga tak menyadari keberadaannya.
"Kita harus mencari, Queen. Mas! Aku masih berharap bisa menemukannya." Ucap Mami Maura disela tangisnya yang bisa mereka dengar dengan jelas.
"Ya, aku akan melakukan apapun untuk bisa menemukannya, Sayang. Aku janji!" Ucap Papi Rendy.
"Tak perlu mencarinya, Pi! Queen sudah bersama kita sekarang!"
__ADS_1