Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Menjelang Akad


__ADS_3

Inder sudah bersiap dengan jas putih mahalnya, dari semalam matanya tak bisa terpejam, rasa gugup membuatnya terus terjaga hingga pagi tiba.


Semua orang sudah bersiap di mobil, namun dia masih berdiri di depan cermin sembari berlatih mengucapkan kalimat akad. Padahal, biasanya dia selalu begitu percaya diri untuk melakukan apapun tapi hari ini dia benar-benar gugup.


Ketukan pintu tak membuatnya beranjak dari tempatnya, membuat si pengetuk menerobos kamar itu.


"Oh astaga Inder, apa yang sedang kau lakukan, kami semua sudah bersiap berangkat, dan kau masih santai di depan cermin, Huh!" Keluh Ivana.


"Huh, Santai kau bilang. Aku sedang gugup setengah mati, itu sebabnya aku sedang menghafal kalimat untuk akad nanti." Ujarnya membuat sang kakak tergelak.


"Kenapa kau malah tertawa?" Sungut Inder kesal.


"Kau yang lucu! Baru pertama kali aku melihatmu segugup ini. Sudah ayo kita berangkat atau kita akan terlambat disana!"


Akhirnya keluarga Prasetya berangkat menuju tempat tinggal Raisa, seperti yang diinginkan Za, acara ijab qabul akan dilaksanakan di kampung halaman Bunda Resha.


Sepanjang perjalanan Inder tak terlalu banyak bicara, pria itu benar-benar merasa gugup, diamnya Inder justru menjadikannya bahan ledekan kakak dan temannya Niko.


"Gue sempet gak percaya lho, Bang. waktu Rega ngomong ke gue kalau dia mau nikah." Ujar Niko. "Secara dia gak pernah suka ma cewek!" Imbuhnya, disusul gelak tawa.


"Jangankan lo, Niko! Ayah sama Bunda aja sampai terkaget-kaget denger dia minta dilamarin!" Timpal Ivana.


"Bener, Tuh! Bang Andra aja sampe syok denger ade bungsunya ngrengek minta kawin, sampe bela-belain pulang saking penasarannya sama mempelai wanita." Ujar Razka suami Ivana.


Dan Inder hanya menanggapi ucapan mereka dengan senyuman, ia terlalu malas meladeni omongan mereka.


🌺🌺🌺🌺


Sementara itu di kediaman mempelai wanita Queenza sudah terlihat cantik dengan kebaya modern putih membalut tubuhnya, wajahnya diberi make up natural yang membuat wajah manisnya terlihat makin cantik.

__ADS_1


"Kau sempurna, Za!" Ucap Alika, membuat gadis itu tersenyum.


"Terima kasih, Al." Ucapnya. "Oh ya dimana mas Rega? Dia sudah datang dari kemarin tapi tidak menemuiku?"


"Kau sudah sibuk dengan segala ritual dari kemarin jadi bagaimana bisa bertemu dengannya? Dan sekarang dia sedang didepan menunggu keluarga mempelai pria yang sudah dalam perjalanan." Ucap Alika lagi.


"Sudah dalam perjalanan?" Tanya Za memastikan.


"Iya, Bersiaplah sebentar lagi kau akan resmi jadi istri Ivander kamal Prasetya."


Za meenghela napas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan. "Aku deg-degan banget, Al."


"Jangan khawatir, semua akan berjalan lancar, percayalah!"


Za mengangguk, "Aamiin"


Suara ketukan pintu membuat keduanya menoleh. "Sayang boleh Mami dan Papi masuk?" Tanya Maura dari balik pintu.


"Kalau begitu, aku kedepan dulu."Ujar Alika sengaja memberi ruang untuk Za bersama Mami dan Papinya.


"Kau cantik sekali sayang." Puji Maura seraya memeluk putrinya. "Rasanya baru kemarin kami membawamu kerumah kami, dan sekarang kami harus melepasmu untuk menikah dengan lelaki pilihanmu." Sambung Maura dengan air mata yang sudah mengintip dari sudut matanya.


"Terimakasih sudah menyelamatkanku saat itu, Mam, Pi. Aku tak tahu apa jadinya jika bukan kalian yang menemukanku saat itu." Ucap Za tulus.


"Kau adalah anugrah terindah untuk kami,Nak! Kami bersyukur Tuhan mempertemukan kita." Ucap Rendi seraya mengelus rambut Za.


Pelukan Za beralih pada Rendy, "Papi..." Ucapnya memeluk erat tubuh Rendy. "Terima kasih untuk semuanya." Sambungnya, Za sudah tak bisa berkata-kata lagi, ia sudah terisak di pelukan Papinya. Kenangan masa kecil kembali terbaang di benaknya, bagaimana sang papi selalu memanjakannnya.


"Rasanya baru kemarin, Papi menggendongmu sepulang sekolah, Nak. Papi tak pernah menyangka harus melepasmu secepat ini, terlebih kita baru saja kembali bersama!" Ujar Papi Rendy.

__ADS_1


"Aku akan selalu mengunjungi kalian." Ucap Za. "Aku janji."


Kedua parubaya itu mengangguk. "Kami akan selalu menantikanmu, sayang."


"Sudah, tidak boleh menangis lagi, lihatlah make up mu jadi berantakan, Pi tolong panggilkan Penata riasnya untuk merias wajah Za lagi, Putriku harus tampil sempurna hari ini." Ucap Mami Maura.


"Baiklah, Sekalian Papi kedepan untuk cek rombongan mempelai pria."


"Oh iya, tolong panggil mbak Resha juga ya!"


Seorang MUA datang dan memperbaiki riasan wajah Za, tak lama Alika dan juga Resha datang menghampiri mereka dan mengabarkan bahwa rombongan pengantin Pria sudah tiba.


Jantung Za berdegup dengan kencang, saat kedua ibunya memapahnya menuju tempat akad akan dilaksanakan. Langkahnya gemetar dia benar-benar gugup saat ini, Dengan kedua lengan digamit Mami dan Bundanya, serta Alika yang mendampingi dibelakangnya ia memantapkan langkah menuruni anak tangga hingga sampai kelantai bawah.


Mami dan Bundanya mendudukannya disamping Inder, ia menunduk, masih berusaha menetralkan jantungnya.


Deg. Jantungnya seolah melompat ketika tangan lelaki itu menggenggam jemarinya, ia menoleh pada pria yang sebentar lagi akan sah jadi suaminya.


Inder tersenyum padanya seolah meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja.


"Bagaimana, apa saksi sudah lengkap?" Tanya penghulu.


"Sudah pak!" Jawab Paman Za, yaitu Ayah Alika yang menjadi saksi dari mempelai wanita, Sedangkan Mas Andra sebagai saksi dari pihak laki-laki. penghulu mulai memeriksa kelengkapan persyaratan pernikahan.


"Alhamdulillah semua persyaratannya sudah lengkap." Ucap Penghulu. "Bagaimana Mas Ivander, sudah siap memulai Akad?" Tanya Pak penghulu pada pria disampingnya.


Inder mengangguk pasti. "Insyaallah saya siap, pak!" Jawabnya tegas.


"Baiklah, untuk mempersingkat waktu, kita mulai ijab qabulnya." Ucap Penghulu.

__ADS_1


Inder melepas genggaman tangannya, beralih menjabat tangan sang penghulu yang menjadi wali nikah Za.


__ADS_2