
Maura masih enggan keluar dari mobilnya meski sang suami sudah membukakan pintu mobil untuknya.
Saat ini ia tengah berada di depan tempat pemakaman yang selama belasan tahun selalu ia kunjungi hampir setiap minggunya. Dulu, ia bahkan bisa menghabiskan waktu berjam-jam di tempat ini, namun setelah sang putra membuka kebenaran tentang putrinya yang ternyata masih hidup kini ia enggan memasuki tempat itu.
Terlebih hari ini dia dan juga sang suami sepakat untuk membongkar makam tersebut guna mengetahui apa yang ada didalamnya!
"Ayo, Sayang!".Ajak sang suami.
Maura menyambut uluran tangan suaminya, berjalan gontai dengan perasaan yang bercampur aduk dalam hatinya.
Langkah mereka melambat begitu mendekati makam yang kini tengah dibongkar itu, ia menyiapkan hati untuk melihat apa yang ada didalam makam yang selama bertahun-tahun ia tangisi.
"Pembongkaran sudah sampai di dasarnya, Ada peti kayu disini, haruskah kami mengangkatnya keatas, pak?" Tanya pekerja yang berada dibawah.
"Tak perlu! Buka saja petinya disana, aku ingin tau apa isinya!" Ucap Rendy.
Maura mengeratkan genggaman tangannya pada Rendy, meski ia bahagia dengan semua bukti yang ditunjukan oleh Raja bahwa Queenza masih hidup sangatlah kuat, tapi ia takut hatinya akan meragu jika ada jasad didalam peti itu, ingatan yang terus ditanamkan tentang kematian putri kecilnya selama belasan tahun tentu tak bisa menghilang begitu saja hanya dalam waktu sekejap.
Peti itu mulai dibuka, dan... tangis Maura pecah begitu melihat jika itu hanyalah sebuah peti kosong, Ia pasti sudah ambruk ke tanah jika saja Rendy tidak menahan tubuhnya.
"Kenapa Papa tega melakukan ini pada kita, Mas!" Keluhnya disertai tangisan yang begitu pilu.
"Kenapa ia tega membiarkan kita menangisi makam kosong bertahun-tahun lamanya." Lanjutnya, dengan emosi yang hampir meledak.
"Maafkan Papaku, Ra! Tolong maafkan semua kesalahan yang dia lakukan." Ucap Rendy penuh penyesalan.
Ucapan dari suaminya tak bisa ia jawab, hatinya begitu pedih mengetahui ia sudah dibodohi sedemikian rupa oleh almarhum mertuanya, jika saja mertuanya masih hidup ingin rasanya ia meluapkan semua amarahnya saat ini dengan memaki dan menyumpahi mertuanya yang sudah berlaku begitu kejam memisahkannya dengan putri kecilnya.
__ADS_1
Tapi yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menangisi dan merutuki kebodohannya dan juga suami yang percaya begitu saja pada ucapan mertuanya.
"Kita harus mencari Queen, Mas! Aku masih berharap kita bisa menemukannya." Ucapnya.
Meski terdengar mustahil karena kejadian itu sudah bertahun- tahun lamanya, putri kecilnya bahkan mungkin sudah melupakan dirinya, mengingat waktu sudah bergulir sangat lama.
"Ya, aku akan melakukan apapun, untuk bisa menemukannya! Aku janji." Ucap suaminya penuh tekad.
"Tak perlu mencarinya, Pi! Queen sudah bersama kita sekarang!"
Suara dari arah belakang mereka membuat keduanya menoleh serempak.
"Aku sudah membawanya sesuai janjiku!" Lanjut Raja, yang kini datang bersama seorang gadis disampingnya.
Maura menatap gadis yang dibawa putranya. Gadis itu bukanlah orang asing,
Maura mengenalnya dengan cukup baik.
Mulai dari bagaimana panik dan khawatirnya gadis itu di awal pertemuan mereka karena mendapatinya sendirian dan hampir celaka, sampai pada reaksi gadis itu saat ia menyatakan tentang putrinya yang meninggal, membuat Maura mendekat dan menatap gadis itu dalam.
Mata yang sama dengan milik sang putri, membuatnya langsung membawa gadis itu dalam dekapannya. "Putriku... Putri kecilku..." Ucapnya, dengan tangis yang kembali pecah, namun kali ini tangis bahagia.
"Mami..Mami... Akhirnya aku bisa memelukmu lagi."
"Mulai sekarang Mami takkan pernah melepasmu, Sayang."
"Aku merindukanmu, aku sangat merindukan kalian!"
__ADS_1
Raja tersenyum bahagia melihat pemandangan di depannya sementara Rendy kini ikut mendekat, dan mengusap lembut rambut Queenza.
"Maafkan Papi!" Ucapnya serak membuat mereka melepas pelukannya.
"Maaf karena percaya begitu saja pada pada kakekmu." Sambungnya.
"Tak ada yang perlu dimaafkan Papi, semua adalah takdir yang diberikan Tuhan padaku." Ucap Za.
"Bolehkah Papi memelukmu, Nak?"
Queenza mengangguk, "Tentu!" Ucap Za, yang kemudian menghambur kepelukan Papinya. "Aku sangat merindukanmu, Papi. Rasanya seperti mimpi aku bisa memeluk kalian lagi."
"Mulai sekarang kau akan selalu bisa memeluk kami, Nak!" Ucap Rendy.
"Queen nya Papi sudah besar sekarang!" Sambungnya, sembari mengecup puncak kepala Queenza.
Mereka terlarut dalam haru, dan juga bahagia. Hari yang mulai beranjak sore membuat mereka memutuskan untuk pulang, Sepanjang perjalanan Maura tak pernah melepas genggaman tangannya daru putri kecilnya itu sementara Queenza pun, terlihat nyaman menyandarkan kepalanya di bahu Mami yang selalu ia rindukan.
Senyum tak pernah hilang dari bibir keduanya, juga dari bibir kedua pria yang berada di kursi depan mobil yang terus memandang mereka dari kaca spion, tak ada kata atau percakapan namun lengkungan sempurna dari bibir mereka bisa mewakilkan seberapa besar kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini.
Assalamualaikum, para readers semua๐
Alhamdulillah ya, Za udah bisa kembali bersama keluarga pramudza nih.
Gimana mau lanjut atau sampe sini aja nih?
Kali mau lanjut, boleh dong minta like dan komennya๐
__ADS_1
Makasih buat yang masih setia baca sampai bab ini.
Lov U All ๐๐๐