
Queenza
sudah mengganti pakaiannya dengan rapi, hari ini hari pertamanya bekerja. Sebelum berangkat ke lokasi syuting kali ini, Rega menjelaskan segala tugasnya.
"Hari ini Ivander ada dua syuting sinetron dan satu syuting iklan, lokasinya udah gue kirim ke ponsel lo, jadi pastikan semua keperluan Ivander udah di bawa dan gak ada yang ketinggalan." Ucap Rega menjelaskan.
"Iya, mas." Ucapnya mengerti.
"Ikut gue." Ujar Rega, diapun menurutinya. Ia mengekor di belakang Rega yang membawanya ke arah belakang mobil, dan membuka bagasi mobil.
"Gue udah pisahin pakaian untuk syuting kali ini, yang ini untuk syuting pertama yang akan kita tuju, yang itu buat syuting kedua, dan paperbag yang coklat itu untuk syuting iklan." Lanjut Rega, sembari menunjuk beberapa Paperbag yang ada di mobil itu. Ia masih setia menyimak dan mengangguk mengerti.
"Kulit Ivander sangat sensitif, jadi dia gak bisa pakai pakaian yang di sediakan PH, jadi pastikan dia hanya memakai pakaian yang ada di mobil ini."
"Dan satu lagi, pastikan dia makan tepat waktu bagaimanapun caranya, dia agak susah makan kalau gak dipaksa."
"Oke, mas. Saya ngerti." Ucapnya.
Mereka berangkat ke tempat tujuan, sepanjang jalan Queenza mencatat semua yang dikatakan Rega tadi, ini hari pertamanya bekerja ia ingin semuanya berjalan sempurna.
Mereka sampai di lokasi, Rega mengenalkannya pada semua crew sebagai asisten manager, ia cukup gugup ini pertama kalinya ia berhadapan dengan banyak orang.
Queenza tetap mencoba tenang, menghela dan menghembuskan nafasnya untuk mengurangi kegugupannya.
Dan untunglah hari ini Rega masih mendampinginya, tapi esok... ia tak tau apa ia bisa melakukannya dengan baik.
đşđşđş
Hari berganti hari, tak terasa sudah dua bulan Queenza bekerja dengan Inder. Sekarang ia sudah mulai terbiasa dengan pekerjaannya, Rega sudah melepas semua tanggung jawab pada dirinya.
Semakin hari ia juga makin mengenal sosok atasannya itu, sekarang dia sangat bersyukur karena tuhan mengirimkan orang sebaik Inder untuk menjadi atasannya.
Ia pun tak pernah menyangka bahwa ia bisa beradaptasi secepat ini, Diluar rumah mereka sebagai atasan dan asisten, tapi di rumah Inder memperlakukannya sebagai sahabat dan itu membuatnya nyaman hingga hampir tak ada satu hal pun yang bisa ia keluhkan meski pekerjaannya seolah tak habis-habis.
Suara notifikasi pesan di ponselnya membuat Queenza melihat layar pipih itu.
Jangan lupa siang nanti, Inder ada janji dengan orang tuanya untuk makan siang.
Itu pesan dari Rega, sekarang Rega lebih di pokuskan untuk mengurus bisnis inder yang lain, ia baru tau bahwa Inder memiliki beberapa bisnis yang menjanjikan. Mulai dari hotel, Cafe hingga Resto, bisnis yang ia rintis bersama manager sekaligus sahabatnya.
Sekarang ia lah yang bertanggung jawab untuk menemani keseharian Inder, meski urusan kontrak dan jadwal Inder tetap Rega yang mengatur.
"Siapa?" Tanya Inder yang kini berada di sampingnya, saat ini mereka sedang dalam perjalan menuju mall terbesar di kota ini, Inder ada jadwal Meet n Great disana.
__ADS_1
"Mas rega, dia ngingetin kalau kamu ada janji makan siang sama orangtuamu." Ucapnya, tapi atasannya itu hanya diam.
"Kenapa? Kok kyaknya gak seneng mau ketemu orang tua kamu." Tanyanya melihat raut wajah inder yang datar.
"Bukan gak senang, cuman.. sebenarnya malas aja, aku tau maksud pertemuan ini."
"Mas Rega bilang, teman ayahmu ingin menjadikanmu Brand ambasador product barunya, itu bagus dong? Apalagi ku dengar ini perusahaan besar, jadi bagus buat kariermu, kenapa kamu malah malas?"
"Sudahlah, aku berdebat soal ini, kamu akan tau nanti."
Mobil yang mereka tumpangi berhenti di parkiran mall itu, dengan segera beberapa pengawal menghampiri mereka hingga mereka aman masuk kesana.
đşđşđşđş
Semua acara berjalan dengan lancar.
"Good job, Inder!" Serunya begitu Inder turun dari panggung, seraya menyodorkan sebotol air mineral pada Inder.
"Tanks." jawab Inder, sambil memberikan kembali botol air mineral itu setelah meneguknya. "Habis ini kita kemana?"
"Kita ada janji makan siang dengan orang tuamu, ingat? Mas Rega sudah mengaturnya di resto dekat Mall ini, agar kamu gak perlu pergi kelain tempat lagi." Jawabnya.
"Kamu ikut, kan?" Tanya Inder kemudian.
Ia menggeleng. "Itu acara keluarga, mana mungkin aku ikut."
"Tapi....." Ia tak bisa melanjutkan kata-katanya, tangannya sudah ditarik tanpa persetujuan membuatnya hanya pasrh mengikuti langkah kaki Inder.
Mereka sampai di salah satu resto yang cukup besar yang berada di sebrang mall itu.
Sudah ada beberapa orang di sana, mungkin itu Ayah Inder dan temannya, tapi tunggu dulu mengapa ia merasa mengenal sosok pria paruh baya yang duduk di depan ayahnya Inder itu.
"Siang Yah, Om." Sapa Inder begitu menghampiri kedua pria paruh baya itu.
"Oh ya, Yah. Kenalkan ini Za, asisten pribadi Inder." Sambung Inder memperkenalkan dirinya pada sang ayah.
Ia segera mengulurkan tangannya, "Za. senang bisa bertemu dengan anda." Ucapnya sopan.
"Ayulah, jangan seformal itu pada om, kau tahu, Za? sudah lama Om ingin beremu denganmu, Inder banyak bercerita tentangmu tapi baru kali ini kita bisa bertemu." Ujar ayah Inder membuatnya menyunggingkan senyum, ternyata ayah Inder sama menyenangkannya dengan bos nya itu.
"Dan kenalkan ini Pak Rendy pramudza, teman ayah kau mengingatnya kan Inder?"
Deg.
__ADS_1
Queenza mematung menatap wajah pria yang masih terlihat tampan di usia matangnya. Matanya tak mampu lepas dari wajah yang kini tersenyum padanya. "Papi"
Sebutnya dalam hati. Ia sudah tak mendengar lagi apa yang di bicarakan mereka, pikirannya terpokus pada papinya.
Senggolan dari Inder menyadarkannya, segera ia menyambut tangan Papi Rendy yang masih terasa begitu hangat di telapak tangannya. Mereka duduk berhadapan dengan Ayah Inder dan Papinya yang berda di hadapannya. Pandangannya terus tertuju pada pria yang sangat ia rindukan itu, Hingga kedatangan seorang gadis yang langsung bergelayut manja di lengan Papinya membuatnya bertanya-tanya Siapa gadis itu?
"Papii kenapa tidak menungguku, Aku kan sudah bilang ingin berangkat bersama papi." Ucapnya manja.
Queenza mengernyit, mencoba menerka siapa gerangan gadis dihadapannya ini.
"Maafkan Papi sayang, kebetulan tadi papi juga ada rapat bersama klien di sini jadi tak bisa menjemputmu. Oh ya, kenalkan ini om rangga, dan Inder, kau masih ingat pada mereka?"
"Tentu papi, bagaimana mungkin aku lupa." Ujar Friska. "Hai Inder, apa kabar." lanjutnya
"Baik." Jawab Inder singkat.
"Dan itu Asistennya Inder, siapa namamu tadi Nak?"
Ia menoleh pada papi Rendy, "Zaa." Ucapnya.
"Ahhh iya, Zaa. kenalkan ini putriku Friska."
Serasa ada belati tak kasat mata menghujam dada Queenza, entah mengapa kata putriku yang dikatakan papi Rendy begitu terdengar menyakitkan baginya. Ia mengulurkan tangan pada gadis yang memandangnya tak acuh.
"Senang bisa berkenalan dengan anda." Ucapnya dengan tangan yang masih tak bersambut.
"Maaf ya, tapi tanganku sudah steril gak bisa salaman dengan sembarang orang." Ucap gadis itu, dengan segera ia menarik kembali tangannya, "ya.. tidak apa-apa." Ucapnya dengan senyum terpaksa.
"Friska kamu tak boleh bicara seperti itu!" Ucap Papi Rendy, terlihat tak suka dengan sikap friska.
"Apa sih Pi, papi kan tau tanganku sensitif, lagipula dia hanya asisten Inder, kan." Ucap Friska lagi tak mau mengalah.
"Tidak apa-apa om, tak dipermasalahkan." Ucapnya sembari tersenyum, kemudian tersenyum pada Inder menegaskan bahwa dia baik-baik saja pada pria yang terlihat kesal itu.
"Tuh kan, dianya juga ga apa-apa." Ucap friska lagi.
"Oh ya Inder, Rega sudah bicara tentang kerja sama yang Om Rendy tawarkan, bagaimana apa kau sudah membuat keputusan?" Ujar Ayah Inder mengalihkan pembicaraan.
Dan ternyata berhasil kini mereka melanjutkan percakapan mereka mengenai pekerjaan, Queenza hanya bisa menyimak obrolan mereka hingga tak terasa waktu bergulir cepat mereka pamit pulang.
Sepanjang perjalanan Queenza hanya terdiam, hatinya masih terasa begitu sakit. Bukan karena ucapan Friska padanya, yang membuat hatinya terasa di hujam belati,
tapi....justru Ucapan Papinya lah yang membuat hatinya terasa berdenyut nyeri.
__ADS_1
*Jika gadis itu adalah putri Papi.. apa berarti aku telah gantikan? Tuhan..... mengapa rasanya begitu sakit dari saat bertemu dengan kakak dan mami kemarin.
Sekarang aku tau ada yang lebih sakit dari sekedar di lupakan, yaitu.... Digantikan.