Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Maukah Kau Jadi Istriku!


__ADS_3

Inder membawa Za kerumah sakit terdekat, dengan segera Queenza mendapatkan perawatan di ruang rawat president suite di rumah sakit itu.


Setelah lebih dari satu jam, akhirnya dokter keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" tanya Inder dengan wajah khawatir.


"Bagaimana bisa ini terjadi, Tuan?" tanya dokter dengan raut wajah marah. "Asal Anda tahu pendarahan yang terjadi pada istri Anda termasuk pendarahan yang cukup berbahaya, apalagi terjadi di trimester pertama. Beruntung bisa cepat mendapat penanganan jika tidak, kalian bisa saja kehilangan calon bayi kalian!" ucap dokter, membuat tubuh Inder terasa melemas.


"Lalu bagaimana keadaan pasien dan kandungannya sekarang, dok?" tanya Maya.


"Alhamdulillah, pasien sudah baik-baik saja, saya sudah berikan penguat kandungan. Hanya saja pasien harus istirahat total tak boleh ada pergerakan berlebihan. Karena saat ini kandungannya sedang sangat lemah." Ucap dokter.


"Mohon diperhatikan, pasien tidak boleh stress juga belum boleh bangun dari tempat tidur, pergerakan sedikit saja bisa berakibat fatal baginya."


"Baik, dok," Ucap Inder. Dokter lalu pamit pada mereka.


"Ini semua karena kesalahanku!" desahnya sembari mengusap kasar wajahnya. "Seandainya saja aku bisa lebih menjaga Za, ini semua tidak akan terjadi!" imbuhnya.


Maya menepuk bahu Inder. "Jangan terus menyalahkan dirimu, yang terpenting sekarang Za dan calon anak kalian sudah baik baik saja." Ucap Maya menenangkan.


Inder mengangguk pelan. "Aku sampai lupa berterima kasih padamu, May! Terima kasih karena sudah menolong Za, aku tidak tau apa yang akan terjadi jika kau tak mengikuti mobil itu." Ucapnya tulus.


"Aku hanya melakukan apa yang kurasa benar." Ucap Maya.


Sebuah panggilan dari ponsel Inder menghela obrolan mereka. Nama Rega muncul dilayar ponselnya.


"Ada apa, Ga?" Tanyanya.


"Kami dalam perjalanan menuju rumah sakit, tolong minta dokter untuk siapkan ruang operasi!"


"Operasi? Untuk apa?" Tanyanya lagi mulai panik.


"Pak Raja! Dia tertembak!" Ucap Rega lagi.


"Ya Tuhan..." Desahnya. "Aku akan segera bicara dengan pihak rumah sakit, untuk menyiapkan ruang operasi." Inder menghela napasnya, baru saja ia merasa sedikit lega dengan keadaan Za, sekarang ia mendapat kabar buruk tentang kakak iparnya.


"Ada apa Inder? Kenapa bicara tentang operasi?" cecar Maya yang berada di sebelahnya.


Inder menatap wanita itu, walau bagaimanapun Maya berhak tau. "Raja... dia tertembak!" ucapnya.


Maya menangkup bibirnya, "Kenapa ini bisa terjadi? Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Maya.


"Aku tidak tau, tapi mereka memintaku memberitau dokter untuk menyiapkan ruang operasi. Kita berdoa saja semoga dia baik-baik saja."


"Aku titip Za sebentar ya! Aku harus bicara dengan pihak rumah sakit!" Ucapnya yang diangguki Maya. Inder baru akan melangkah tapi ia kemudian kembali berbalik pada Maya. "May, tolong rahasiakan ini dari Za, dia tidak boleh banyak pikiran jadi..."


"Aku mengerti!"


"Terima kasih, aku pergi dulu."


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Maya menemani Queenza yang masih terlelap karena efek obat, syukurlah gadis itu tertidur nyenyak jika tidak, Za pasti akan menanyakan wajahnya yang nampak begitu kacau saat ini.


"Raja ... dia tertembak!"


Ucapan Inder yang terus terngiang ditelinganya.


Ceklek. suara pintu yang terbuka dari luar membuatnya menoleh. Mata Maya membulat saat melihat calon suaminya sudah berdiri didepan pintu dan tersenyum padanya. Sontak ia menghampiri, dan menghambur kepelukan calon suaminya itu.


"Mas! Syukurlah kamu baik-baik saja! Aku benar-benar takut saat Inder bilang kau tertembak!" ucap Maya, dengan isak lirih.


Raja tak mengatakan apapun, ia melonggarkan pelukannya agar bisa menatap wajah Maya.

__ADS_1


Cup. sebuah kecupan hangat dan sangat lama terasa di kening Maya. Lalu kemudian tubuh Raja menghilang.


"Mas? Mas Raja? Mas jangan tinggalin aku? Mas....Mas..."


"May...Maya, sadar Nak! Maya..."


Suara Mami Maura membuat matanya perlahan terbuka. Ia melihat sekelilingnya, ia berada didepan kamar Za, sudah ada Alika, Mami Maura, Bunda Resha juga Bundanya Inder yang kini menatapnya cemas.


"Apa aku baru saja bermimpi?" Gumamnya dalam hati. "Tuhan, kumohon... jangan biarkan aku kehilangan lagi." Batin Maya.


"Ada apa, May? Kenapa kamu berteriak-teriak?" tanya Alika


Maya menggeleng. "Aku bermimpi buruk, Al!" ucapnya. "Bagaimana keadaan Mas Raja? Apa dia sudah sampai? Apa sudah ditangani dokter?" cecarnya begitu mengingat calon suaminya.


Wajah Mami Maura berubah sendu. "Dokter sedang melakukan operasi, kita doakan saja, semoga operasinya berhasil dan Raja bisa selamat."


"Aamiin!" ucap semua orang.


"Mami apa boleh aku melihatnya?"


"Tentu, Nak! pergilah, biar kami yang menjaga Queenza." Ucap Mami Maura, membuatnya segera beranjak menuju ruang operasi berada.


Maya berjalan cepat, sampai didepan ruangan sudah ada Inder, reihan juga Rega beserta Papi Rendy.


"Maya?" Rega menjadi orang pertama yang menyadari keberadaannya.


"Apa dokter masih belum keluar?" tanyanya. Dan semua orang menggeleng.


Maya terduduk lemas, kenapa ia harus mengalami ini lagi? Air matanya meluncur tanpa aba-aba. Papi Rendy duduk disebelahnya mengusap lembut bahunya.


"Semua pasti baik-baik saja, Nak!" ucap Papi Rendy menyemangati. "Raja pria yang kuat, dia pasti bisa bertahan." Sambungnya.


Maya tak menjawab, dihatinya saat ini sedang berkecamuk, apa lagi mimpinya tadi terasa begitu nyata. "Tidak,Tuhan! Kali ini aku tak bisa kehilangan lagi, tolong jangan biarkan dia pergi, Tuhan!"


Bayangan saat operasi Ardi melintas begitu saja dibenaknya, ketika semua orang mendekat pada dokter dia justru menjauh tak ngin mendengar ucapan dokter. Ia takut kejadian yang sama terulang lagi ketika dokter justru menyuruhnya mengiklaskan lelaki yang dicintainya untuk pergi.


Suara adzan yang subuh yang menggema, menuntun langkah Maya menuju mushola, ia memilih untuk mengerjakan sholat lalu duduk di tempat itu, bibirnya tak berhenti merapal doa untuk kesembuhan sang calon suami.


"Tuhan... aku pernah mengikhlaskan lelaki yang kucintai untuk kembali menghadapmu, tapi kali ini... maaf, aku tak bisa melakukannya, kumohon sembuhkan dia, biarkan dia tetap bersamaku..." ucapnya lirih diiringi isakan.


Tak terasa hari sudah menjelang sore tapi Maya belum mau beranjak dari posisinya, ia masih duduk menggadap kiblat, ia sedang membujuk Tuhannya agar mau mendengar semua doa nya.


Maya bahkan tak menyadari ketika Mami Maura datang dan duduk disebelahnya, hingga usapan kecil di punggungnya membuatnya sedikit tersentak.


"Mami!" Ucapnya lirih.


Mami Maura tersenyum. "Sayang... Raja..."


Maya segera menggeleng membuat Mami Maura terkejut sekaligus bingung, " Aku gak mau denger!" Ucapnya seraya menutup kedua telinganya. "Aku gak bisa kehilangan lagi!" Ucapnya lirih.


Maya melipat mukena yang ia pakai, lalu berlari menuju ruangan operasi tadi, tapi sudah kosong hingga membuatnya semakin panik.


"Nona kami mencari Anda!" ucap Reihan dengan sumringah. Maya menoleh.


"Reihan, Mas Raja...?"


"Tuan muda sudah dipindahkan keruangan perawatan, mari saya antar!" ucap Reihan.


Maya mengekor langkah besar Reihan dengan cemas, hingga tiba di kamar vvip dimana semua orang sudah berada disana.


"Syukurlah kau sudah datang Nak!" ujar Papi Rendy yang baru keluar dari kamar rawat itu. "Masuklah, Raja menunggumu!"


Bukan tenang hatinya justru semakin resah, "Masuklah Nona!" ucap Reihan.

__ADS_1


Maya membuka pintu kamar itu, membuat Inder dan Rega segera beranjak dan keluar dari ruangan itu meninggalkan mereka berdua.


Raja tersenyum menatap calon istrinya. "Apa kau hanya akan berdiri disana, May?" tanyanya.


Maya melangkah gemetar mendekati calon suaminya itu, dan bruk ia memeluk erat lelaki yang masih berbalut perban itu, menumpahkan tangisnya di dada bidang lelaki itu, membuat Raja meringis karena masih merasakan sakit dilukanya.


"Bukankah aku menyuruhmu berhati-hati? Kenapa kau malah tertembak? Apa kau ingin membuatku mati karena khawatir, Hah? Aku bisa mati kalau sampai kehilanganmu!" Racau Maya ditengah isak tangisnya.


Bibir Raja melengkung, sepertinya calon istrinya kini sudah mulai mencintainya. Jemari Raja mulai bergerak mengusap rambut panjang Maya.


Cup. sebuah kecupan ia daratkan di puncak kepala gadis itu. "Aku sudah baik-baik saja, May!" ucapnya, tapi bukannya mereda Maya malah semakin sesegukan dan menenggelamkan kepalanya di dada Raja.


"Berjanjilah, jangan pernah terluka lagi." Ucapnya di tengah tangusannya.


Raja mengangguk, "Iya aku berjanji." Ucap Raja.


Maya melonggarkan pelukannya, ia baru ingat kalau suaminya baru saja dioperasi. "Maaf, kau pasti kesakitan tadi," Ucapnya.


Raja menggeleng, "Aku justru bahagia dengan begitu aku bisa tau seperti apa perasaanmu."


Maya mencebik. "Kau tak harus tertembak untuk tau perasaanku, kau saja yang tidak peka!" cibirnya.


Raja mengusap air mata yang masih membasahi pipi Maya. "Benarkah? Aku minta maaf kalau begitu." ucap Raja. "May!" Panggilnya.


"Hemz."


"Maukah kau menikah denganku?" tanya Raja.


Maya menunduk dengan pipi yang merona. "Bukankah kita memang akan menikah? Kenapa masih juga bertanya?" jawabnya.


Raja menggeleng, "Yang kemarin itu sebuah perjanjian, dan sekarang aku memintamu jadi istriku tanpa embel-embel apapun." Ucap Raja.


"Aku ingin kau menjadi istriku? Tanpa rasa terpaksa hanya karena aku sudah merenggut kesucianmu, aku ingin kita menikah karena saling mencintai, bukan karena alasan lain."


"Jadi, Maya Adelia... Maukah kau jadi istriku? Dan menua bersamaku?" ucap Raja.


Maya menatap lamat wajah tampan calon suaminya itu. Cup. Sebuah kecupan singkat ia daratkan dibibir pria itu. "Apa itu cukup sebagai jawaban?" ucap Maya.


Raja mengangguk, senyum mengembang di bibir pewaris keluarga pramudza itu. "Tapi ciumannya belum cukup!" ucap Raja seraya mendekatkan wajahnya, hingga tubuhnya ikut bergerak untuk menggapai wajah Maya.


Namun, sedetik kemudian ia meringis karena sakit di punggungnya terasa lagi ketika ia bergerak. "Awww!" Pekiknya, membuat Maya kaget.


"Kenapa Mas?" tanyanya sedikit panik.


"Aku lupa kalau aku belum boleh bergerak!" Keluh Raja membuat wanita itu terkikik.


"Makannya kalau lagi sakit gak boleh macam-macam!" Cibir Maya.


"Gak macam-macam hanya mau satu macam." Kilah Raja dengan bibir mengerucut.


Maya terkekeh merasa lucu, seorang Raja Pramudza yang dikenal arogan bisa besikap seperti anak kecil yang merajuk karena tak diberi permen.


Cup. Dengan memejamkan matanya Maya memberanikan diri menempelkan bibirnya di bibir pria itu, hanya ditempelkan karena sejujurnya ia terlalu malu untuk memulai.


Cukup lama bibir mereka saling menempel, tak ada reaksi apapun dari Raja membuatnya membuka matanya perlahan, dan berniat menjauhkan bibirnya, tapi ... sebuah tangan kokoh menarik tengkuknya, untuk memperdalam ciuman mereka, Raja mulai ******* lembut bibirnya, membuatnya terasa melayang menikmati semua yang pria itu lakukan.


(Happy reading)


1500k lebih lho, gimana? puas gak tuh😘


Sebagai bonus, nih kukasih visual Mas Raja sama Maya👇


__ADS_1


__ADS_2