
Queenza masuk kedalam kamar masa kecilnya, tubuhnya ia rebahkan untuk melepas lelah.
"Capek banget, Ya?" Tanya Alika yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Astaga!" Pekiknya kaget. "Aku sampai kaget lho, Al! Kupikir gak ada orang."
Alika tertawa kecil. "Tadi aku izin sama Mamimu untuk Istirahat duluan, dia nyuruh aku istirahat dikamar ini." Ucapnya.
"Pantas dari tadi aku gak lihat kamu. Kau temani aku tidur disini saja, Al! besok pagi kau bisa berangkat kerja dari sini." Pintanya yang diangguki sepupunya itu.
"Oh, ya. kenapa kau malah pergi duluan dari pesta, apa pestanya membosankan?"
"Badanku cape banget, Za. Cowok menyebalkan itu ngasih aku kerjaan gak ada habisnya, perlu diruqiyah tuh cowok." Keluh Alika.
"Mas Rega?" Tanyanya, Alika sudah menceritakan tentang perjanjiannya dengan Rega, tak ada sesuatu apapun yang di sembunyikan oleh sepupunya itu.
"Masa, sih? Dia kan baik, Al."
"Baik apanya, seharian dia ngerjain aku." Rutuknya kesal. "Sudah jangan bahas tentang bos gila baru ku itu, ceritakan tentangmu! Kenapa kau terlihat murung dan capek gitu?"
Wajah Za kembali terlihat murung, ia menceritakan semua kejadian di tengah pesta tadi pada Alika.
"Kalau menurutku wajar Inder marah, mungkin dia udah terlanjur senang dapet restu dari keluargamu, terus tiba-tiba kakakmu bilang gak setuju kamu nikah, ya pasti kesel, lah!" Ucap Alika memberikan pendapatnya.
"Jadi aku harus bagaimana, Al? Satu sisi aku gak mau bikin kakakku kecewa, aku ingin membalas semua yang sudah dia lakukan untukku, dengan menuruti keinginannya untuk fokus kuliah, tapi disisi lain aku juga ingin bersama Inder." Keluh Za, ia benar-benar merasa dilema saat ini.
Alika memandang iba sepupunya itu, "Coba kau bicarakan lagi dengan kakakmu, dan coba yakinkan dia kalau hubunganmu dengan Inder tak akan berpengaruh pada kuliahmu."
"Ya, aku akan mencoba bicara dengan kakak nanti, tapi saat ini aku benar-benar khawatir pada Inder, entah dimana dia sekarang."
"Kenapa tidak coba menghubunginya?" Tanya Alika.
"Sudah puluhan kali, tapi dia sama sekali tak mau menjawab telpon ku, menyebalkan!" Gerutu Za.
"Mungkin dia akan menelponmu besok, sekarang lebih baik kau istirahat. ini sudah sangat larut, besok kau masih harus kuliah kan?"
Za mengangguk, Alika mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur. Mungkin karena memang tubuhnya lelah, Za begitu cepat tertidur.
Alika tersenyum melihat sepupunya sudah tertidur nyenyak, ia pun segera bersiap untuk tidur, namun getar ponsel Za membuatnya kembali beranjak untuk menerima telpon itu.
Nama Inder muncul dilayar, membuatnya bingung harus mengangkatnya, atau membangunkan Za yang baru saja terlelap.
"Maaf, Za sudah tidur!" Ucapnya kala mengangkat panggilan itu, ia tak tega membangunkan Queenza. "Perlukah ku bangunkan?" Tanyanya lagi ketika tak ada sahutan dari sebrang sana.
__ADS_1
"Tidak usah! Bilang saja besok pagi akan menelponnya lagi." Jawab Inder diujung telpon. "Baiklah aku tutup dulu, terima kasih, Al." Ucap pria itu kemudian menutup telponnya.
Alika mengembalikan ponsel itu ketempatnya, "Semoga akan ada jalan terbaik untuk hubungan kalian kedepannya." Ucapnya penuh harap.
đşđşđşđş
Queenza berdiri malas menunggu sang kakak yang akan mengantarnya kuliah, Berkali-kali ia mengecek ponselnya berharap ada pesan atau panggilan dari Inder, tapi nihil. padahal Alika bilang pria itu akan menghubunginya pagi ini.
Huft... ia menghembus nafasnya kesal, kemudian segera masuk kedalam mobil yang dikemudikan kakaknya.
"Kenapa wajahnya ditekuk begitu?" Tanya Raja. "Masih memikirkan pria itu?"
Za menyenderkan kepala pada kursi mobil, "Kenapa kakak tidak menyukai Inder?" Tanyanya tanpa menjawab satupun pertanyaan kakaknya.
"Kapan kakak bilang tidak menyukainya?" Tanya balik Raja. "Aku tak suka dengan semua pria yang dekat denganmu!" geramnya dalam hati.
"Lalu kenapa kakak tidak setuju saat Inder melamarku?" Tanyanya sengit.
Raja menghela nafasnya, "Kakak sudah bilang alasannya semalam." Jawabnya.
"Aku tetap bisa kuliah walau sudah menikah dengan Inder, aku janji akan menyelesaikan kuliahku!" Ucap Za.
Ciiitttttt, Raja menghentikan mobilnya mendadak mendengar ucapan Queenza, ia menatap gadis itu dengan tajam.
Raja mencengkeram lengan Za kuat, membuat gadis itu meringis.
"Apa aku tak berarti lagi untukmu, Queen? Apa sekarang lelaki itu jauh lebih penting dari diriku?" Geramnya. "Aku tidak akan membiarkan kau meninggalkanku hanya karena lelaki itu."
Bukannya menjawab, Za justru meringis kesakitan, "Kakak tanganku sakit!" Keluhnya membuat pria itu melepaskan tangannya.
"Maaf, Queen! Kakak tak bermaksud untuk menyakitimu." Ucapnya. Seraya memeriksa lengan Za. "Astagaaa apa yang sudah kulakukan?" Keluhnya dalam hati.
"Mana yang sakit, kita kedokter saja ya! hari ini kau bisa izin." Bujuknya. Tapi Za menggeleng.
"Aku sudah tidak apa-apa." Ucapnya kemudian. "Bisakah kita lanjutkan perjalanan? Aku takut terlambat!"
Raja mengangguk, dan kembali melajukan kendaraannya. tak ada lagi pembicaraan diantara mereka, Raja fokus pada jalanan dan Queenza memilih mengalihkan pandangan keluar mobil.
Mobil berhenti tepat didepan gerbang kampus, Za segera keluar dari mobil dan pamit kemudian berlari tergesa masuk area kampusnya.
đşđşđşđşđş
Za berlari kecil menuju kantin kampus, ia membeli sebotol air mineral kemudian meneguknya, ia duduk.di meja kosong dikantin itu.
__ADS_1
"Ada apa dengan kak Raja? Kenapa dia terlihat begitu menakutkan tadi."
"Dan kenapa dia bertanya seperti itu padaku?" Za masih sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga ucapan seseorang membuatnya sedikit terusik.
"Heh Pelakor, minggir! Ini meja tempat gue." Sentak seorang perempuan.
Za mendongak, matanya menyipit. "Kamu ngomong sama saya?" Tanyanya.
"Ya sama lo, lah! Emang siapa lagi pelakor dikampus ini?" Sahut Mahasiswi lainnya.
"Pelakor?"
"Iya pelakor! Perebut laki orang!" Ujar Mahasiswi itu.
Za mengernyit heran, dia baru beberapa hari di kampus, dan bisa-bisanya mereka mengatainya seperti itu. Ada apa lagi ini, Tuhan..." Keluhnya dalam hati.
"Gak nyangka, ya. muka aja polos, tapi kelakuan bejat!" Ucap Mahasiswi lainnya. dan masih banyak lagi kata menyakitkan yang ia dengar.
"Kenapa kalian menghujat saya tanpa bukti?" Teriaknya tak tahan. "Saya bahkan baru beberapa hari masuk kampus ini, saya gak pernah ada masalah dengan kalian semua."
"Atas dasar apa kalian menyebut saya pelakor?" Bentaknya.
"Ini lo, kan?" Ujar seorang Mahasiswi, menyodorkan ponsel yang tengah menampilkan video.
Video dirinya saat di villa dulu, tapi bagaimana bisa mahasiswi itu mempunyai video ini?
"Jadi jika bukan pelakor kami harus menyebutmu apa? Simpanan?"
"I...itu salah faham, itu semua tidak benar!" Ucapnya terbata.
"Terserah, tapi kita disini hanya ingin mengingatkan lebih baik lo keluar dari kampus ini sebelum nama kampus ini tercoreng gara-gara kelakuan lo."
"Ishhhh bikin malu, pantas saja Bu karin langsung yang ngasih dia kelas tambahan ternyata simpenannya konglomerat, toh!"
Za tak lagi menjawab, percuma, pikirnya.
Apapun sanggahan yang keluar dari mulutnya tidak akan dipercaya oleh mereka, ia lebih memilih keluar dari kantin bahkan memutuskan untuk keluar dari area kampus. Kini ia baru menyadari semua orang menatapnya sinis.
Ia berlari, sembari sesekali menyeka air matanya, menyetop taksi dan meninggalkan kampus itu.
Dan tanpa ia sadari sedari tadi, !!ada seseorang yang menyimak semua kejadian itu dari layar laptonya.
"Rasakan itu, Za! Ini baru awalnya, tunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya kepadamu!
__ADS_1