
Inder tersenyum lega saat bisa menyelesaikan syutingnya lebih cepat, hari ini ia berencana mengajak kekasihnya untuk jalan-jalan.
Ia mampir ke resto miliknya untuk memastikan semua bisnisnya aman terkendali, kemudian dengan semangat 45 ia melajukan mobilnya menuju kampus tempat kekasihnya itu menuntut ilmu.
Biasanya kelas Za akan selesai sebelum jam makan siang, ia berharap tak terlambat dan bisa memberikan gadis itu kejutan dengan kedatangannya disana.
Ia langsung disambut oleh beberapa mahasiswi yang mengerumuninya, meminta tanda tangan dan berfoto denngannya. membuatnya harus tertahan di halaman kampus untuk bebberapa waktu hingga ia harus meminta bantuan sekuriti dan mengecap maaf pada para fansnya karena ia harus cepat pergi.
Dengan senyum merekah membayangkan ekspresi Za, ia melangkah menuju ruangan yang diinformasikan dimana Za berada.
Dan Jeng...jeng...jeng
Alih-alih mengejutkan gadis itu, justru ia lah yang terkejut mendapati gadisnya tengah berduaan dengan seorang pria.
Ia bersidekap dan melayangkan tatapan tajam pada mereka.
"Siapa dia!?" Tanyanya dingin.
"Temanku!" Ucap Za tanpa ragu, "Kenapa kau tidak bilang kalau mau menjemputku." Ucap gadis itu, seraya mendekat padanya.
"Inder kenalkan ini, Mike. dia teman baruku di sini!" Ucap gadis itu memperkenalkan mereka. "Dan Mike, Ini Inder, dia..."
"Pacarnya Za." Ujarnya memotong perkataan gadis itu.
"Oh aku Mike, senang bisa bertemu denganmu." Ucap lelaki itu, mengulurkan tangannya "Kuharap kau tak salah faham dengan kebersamaan kami disini." Ucapnya lagi yang justru tedengar seperti cibiran ditelinganya.
"Tentu saja tidak, aku cukup percaya pada pacarku, karna aku yakin hanya aku yang ada dihatinya, bukan begitu sayang?" Ucap Inder yang hanya dibalas senyuman canggung dari kekasihnya.
"Maaf, Mike. sepertinya aku harus pergi, kita makan lain kali saja." Ucap Za, kemudian beralih padanya. "Antar aku bertemu dosenku." Ucapnya seraya menarik tangannya agar mengikutinya.
Za menyerahkan tugas pada dosen pembimbingnya,lalu mereka melangkah keluar dari gedung itu dengan tangan Inder yang tak pernah melepas tautannya. Membuatnya menunduk, sedikit risih dengan pandangan semua orang yang menatapnya dengan banyak ekspresi.
__ADS_1
Inder melajukan kendaraannya dengan cepat membuat gadis yang duduk disampingnya memegang kursi mobil erat karena ketakutan.
Ia tepikan mobilnya dipinggir jalan saat menyadari ketakutan yang mendera kekasihnya. "Maaf." Ucapnya tanpa menatap gadis itu. Ia sedang berusaha mengendalikan emosinya.
"Kau marah padaku?" Tanya Za yang kini menatapnya nanar.
"Sayangnya aku tak bisa marah padamu!" Ucapnya, ia menatap gadis itu. "Kalian berencana pergi makan tadi?"
Za mengangguk, ia tak ingin menyembunyikan apapun dari pria itu."Sebagai ucapan terima kasih karena Mike membantuku mengerjakan tugas." Ucapnya jujur.
"Hanya itu?" Tanyanya lagi.
"Apa kau tidak percaya padaku?".
Inder menggeleng, "Bukan begitu, hanya saja..." Belum ucapannya ia selesaikan...
Cup.
"Aku bukanlah orang yang bisa dengan mudah merasa nyaman dengan orang lain, dan bahkan saat bersama Mike tadi aku berusaha keras untuk bisa tetap berada di tempatku alih-alih lari keluar dari tempat itu."
"Inder sampai saat ini hanya kau diluar keluargaku yang bisa membuatku bisa nyaman berada didekatmu. Aku bersama Mike karena aku membutuhkan bantuannya, dan sebagai ucapan terima kasih aku menyetujui ajakannya untuk makan."
"Hanya itu! tak ada yang lebih, jadi kumohon belajarlah untuk percaya padaku!" Ucap Za panjang lebar, ia tak mau ada kesalahpahaman diantara mereka.
Tatapan Inder melembut, "Maafkan aku." Ucapnya. "Entah kenapa aku cemburu dengan semua lelaki yang berada disekitarmu!"
"Aku suka dicemburui, karena itu berarti kau benar-benar mencintaiku." Ucap gadis itu manja membuat bibir Inder melengkung.
"Kau sudah berani menggodaku, hemz."
"Siapa yang menggodamu?" Sanggah Za.
__ADS_1
"Kau! Dan kau juga sudah berani nakal, mencium pipiku" Ucapnya lagi membuat gadis itu merona malu.
"Apa itu buruk?"
Inder menggeleng, "Aku menyukainya!" Bisiknya. "Dan aku menginginkannya lagi."
"Tidak ada tayangan ulang!" Kata gadis itu membuat Inder semakin gemas.
Kalau begitu aku ingin yang lainnya." Ucapnya sembari mendekatkan wajahnya, Seperti terhipnotis gadis itu mematung tak ada penolakan membuat Inder semakin memangkas jarak diantara mereka, semakin dekat hingga ia bisa merasakan hembusan nafas gadis itu menerpa wajahnya.
Cup. Satu kecupan lembut ia daratkan dibibir gadis itu membuat mata gadis itu membulat sempurna, Inder tersenyum melihat ekspresi dari kekasihnya.
Kembali ia mendekatkan wajahnya, mata gadis itu terpejam seiring jarak yang terpangkas diantara mereka. Kali ini Inder memperdalam ciumannya, *******-******* lembut, dan gigitan kecil di bibir bawah sigadis membuat lidahnya merangsek bebas mengaksen tiap inci rongga pengecap kekasihnya itu.
"Emmhhhh" Lenguhan yang terdengar begitu merdu di telinganya membuatnya makin bersemangat, tangan Za ia tuntun perlahan agar melingkar di lehernya sementara tangannya melingkar di pinggang ramping kekasihnya.
Sebuah ciuman menghanyutkan yang membuatnya enggan untuk melepas pertautan bibir itu, apalagi kekasihnya juga terlihat begitu menikmati.
Sampai sebuah suara membuat mereka menghentikan aktifitas menyenangkan itu.
Kruyuk...
Suara perut Za yang berbunyi disaat yang tidak tepat.
Gadis itu melepas pagutannya, matanya terpejam paksa, bersama pipi yang kini memerah sempurna. Sungguh memalukan!
Inder melipat bibirnya agar tak tertawa, ciuman pertamanya harus berakhir karena suara cacing dalam perut sang kekasihnya yang sepertinya sudah berorasi minta diisi.
"Kita cari restoran dekat sini, ya." Ucapnya dengan senyum tertahan seraya melajukan kembali mobilnya.
Sementara Za, hanya mengangguk sambil membuang muka kearah lain, tak berani menatapnya.
__ADS_1