Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Aku sudah maafkanmu, Kakek!


__ADS_3

Queenza duduk di sebelah sang kakak, pikirannya menerawang sepanjang perjalanan.


Pulang? saat ini kakaknya akan mengantarnya pulang. Tapi...ia akan pulang kemana? kost an Alika? Sepupunya itu bahkan tak ikut dengannya, jadi mana mungkin dia kesana sementara yang punya kost an tak ada disana.


Rumah Inder? Ahhh... pria itu bahkan tak pernah menemuinya lagi. Entah dia marah atau memang sangat sibuk hingga melupakannya.


"Bodoh! Memang kau pikir siapa dirimu? Kenapa juga Inder harus terus menengokmu." Pikirnya


Za menggelengkan kepalanya, memgenyahkan semua pikiran yang memenuhi otaknya. "Kenapa Queen?" Tanya Raja, "Kau merasa pusing? Apa kita perlu berhenti dulu?"


Queenza segera menggeleng"Tidak kak! Aku tidak apa-apa." Sanggahnya.


Dan saat itulah ia baru menyadari kalau mobil yang di tumpanginya tidak mengarah kemanapun yang ada dipikirannya.


"Kita mau kemana, Kak.?" Tanyanya.


"Nanti kamu juga tau, kalau lelah atau ngantuk kamu tidur saja! Nanti kakak bangunkan kalau kita sudah sampai." Ujar kakak nya.


Ia menatap jalanan dari balik kaca mobil, sepertinya dia kenal jalanan ini, tapi rasa kantuk yang mulai menyerang membuatnya terus menguap.


"Tidurlah Queen, biar nanti kakak bangunkan."


Ia mengangguk, sekejap kemudian ia memejamkan matanya dan mulai masuk ke alam mimpi.


🌺🌺🌺🌺


"Queen...heii bangun, kita sudah sampai." Ucap Raja, membangunkan adiknya yang masih terlihat enggan membuka matanya.

__ADS_1


"Kalau kau tak mau bangun, terpaksa kakak menggendongmu kedalam." Ucapnya lagi, dengan melipat bisa bibirnya saat melihat mata sang adik membulat sempurna.


"Ayo!"


Za, keluar dari mobil pandangannya menyisir tempat itu lalu menatap sang kakak dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kakak, Ini....." Ucapnya tak mampu lagi melanjutkan kata-katanya.


Raja tersenyum dan mengangguk." Vila Keluarga kita! Tempat kita menghabiskan akhir pekan saat masa kecil kita."


Queenza tersenyum dan menangis bersamaan. "Aku sangat merindukan tempat ini." Ucapnya, menghambur kepelukan sang kakak. "Terima kasih, sudah membawaku kesini."


Raja mengelus lembut kepala adiknya itu. "Kita masuk, Ya." Ucapnya.


mereka masuk dan langsung di sambut oleh pegawai vila, "Ini mang asep, anaknya Bi asih dan mang Ujang pegawai kita dulu. Kamu masih ingatkan sama pak ujang?"


Queenza mengangguk, "Saya Queenza." Ucapnya ramah.


"Selamat datang, Non, Den." Ucap mang asep.


"Sudah Den. semuanya sudah ada di kulkas. Mau saya siapkan sekarang?"


"Gak perlu, nanti saja. sekarang kami mau istirahat dulu!"


"Baik, Den. kalau begitu mamang tinggal dulu, kalau butuh sesuatu rumah mamang di belakang." Ucap mang asep, lalu pergi meninggalkan mereka.


Mereka masuk kedalam vila, Raja menuntun Za menuju kamar yang biasa di tempatinya.


"Masuklah.".Ucapnya.

__ADS_1


Za menyisir ruangan itu, Ia tersenyum melihat keadaan kamar masih seperti yang ada di ingatannya.


"Semuanya masih tertata rapi, sama seperti sebelum kamu pergi." Ucap Raja, seolah tahu yang ada di pikirannya. "Aku selalu menguncinya, dan memastikan tak ada yang menempati kamar ini."


Za Mendongak menatap kakaknya dalam, "Kakak..." Suaranya terasa tercekat begitu melihat wajah sang kakak yang mulai basah.


"Aku selalu dihantui rasa bersalah, seandainya saja aku bisa meyakinkan papi waktu itu, mungkin kamu tak harus pergi."


Za menangkup wajah kakaknya, "Ini bukan salah kakak, ini sudah takdir, jadi berhenti menyalahkan diri sendiri. Lagipula bukankah sekarang aku sudah ada di hadapanmu." Ucapnya membuat sang kakak membawanya dalam pelukan, pelukan yang begitu erat dan lama, seolah takut untuk dilepaskan.


Hari demi hari di lalui Queenza dengan kebahagiaan, Kakaknya memperlakukan dia bagai Ratu, Raja juga mengajaknya bernostalgia ke banyak tempat yang dulu sering mereka kunjungi saat kecil.


Pagi ini Queenza sudah berdandan rapi, Raja bilang ingin mempertemukannya dengan kakeknya, sebenarnya ia masih takut pada kakeknya, tapi mengingat mimpi nya saat ia terbaring di rumah sakit dulu membuatnya mempunyai satu harapan bahwa sang kakek akan bisa menerimanya.


Queenza duduk manis di kursi sebelah Raja, ia sempat heran saat sang kakak menepikan mobilnya di sebuah toko bunga dan membeli sebuket bunga sedap malam. "Bunga untuk siapa kak?" Tanyanya, Kakaknya hanya tersenyum tak menjawab pertanyaannya.


Keningnya kembali mengkerut saat sang kakak membawa mobilnya ke parkiran Tempat pemakaman umum.


Hatinya menduga-duga tapi ia tak berani bertanya, ia hanya menurut saat lengannya di gandeng sang kakak masuk ketempat itu, hingga... mereka berhenti di sebuah nisan bertuliskan Andika Pramudza.


"Aku datang Kek, aku memenuhi janjiku untuk mempertemukannya denganmu." Ucap Raja membuatnya memandang tak mengerti pada kakaknya itu.


Raja tersenyum, "Kakek meninggal lima tahun yang lalu, sebelum meninggal dia sudah menyesali apa yang ia perbuat padamu. Dan dia sangat ingin bertemu dan meminta maaf padamu, Queen." Ucap Raja.


Pandangannya ia alihkan pada pusara kakeknya itu, sekarang ia mengerti apa arti dari mimpinya saat itu.


"Tuhan sudah menghukumnya, Dengan membuatnya tak berdaya si penghujung usianya, Kakek menderita stroke selama dua tahun sebelum ajal menjemputnya. Mungkin itu karma yang di berikan Tuhan padanya."

__ADS_1


Za masin mendengarkan cerita kakaknya, ia berjongkok, menengadahkan tangan mendoakan kakeknya.


"Aku sudah memaafkanmu kakek, istirahatlah dengan tenang disana."


__ADS_2