Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Panggil Aku Mas Raja!


__ADS_3

Kenapa masih berdiri disini? Ayo masuk kami menunggu kalian dari tadi!" Seru Za seraya menarik tangan Maya membuyarkan semua lamunannya.


"Selamat Maya, aku sangat senang saat Mami memberitahuku tentang rencana pernikahan kalian." Ucapnya seraya menggelayut manja dilengan gadis itu. Maya hanya tersenyum, kini mereka masuk kerumah sederhana milik Maya dimana sudah ada beberapa perwakilan keluarga pramudza disana.


"Akhirnya yang ditunggu datang juga!" Seru Ibu Maya. "Kemari, Nak! duduklah disini."


Maya menurut ia duduk disamping Ibunya, sedangkan Za duduk disamping suaminya.


"Raja, duduk sama Mami disini, Nak!" Ucap Mami Maura begitu melihat putra sulungnya datang.


"Karena kalian sudah datang, kita langsung saja keintinya." Ucap Papi Rendy memulai percakapan. "Maya, kami datang kemari setelah mendapatkan kabar baik dari Raja semalam! Kami datang dengan membawa lamaran untukmu, kami ingin meminangmu untuk putra kami, Raja pramudza. Dan kami berharap kamu bersedia menerima lamaran ini..." Lanjut Papi Rendy.


"Maaf, karena acaranya sangat mendadak kami hanya bisa membawa seserahan alakadarnya." Ucap Mami Maura menimpali.


"Itu sudah lebih dari cukup, Nyonya." Sahut Ibu Maya. "Kami yang justru berterima kasih karena Nyonya dan Tuan sudah sudi untuk datang kerumah kecil kami, dengan membawa niat baik."


"Jangan seperti itu, Bu. Derajat manusia sama disisi Allah. Siapapun pilihan Raja kami tentu akan menyetujuinya." Ujar Mami Maura, kini perhatiannya beralih pada Maya yang masih menunduk. "Bagaimana, Nak Maya? Kami sangat berharap Nak Maya mau menerima niat baik kami." Ucap Mami Maura.


" Maya, apakah kamu menjadi istri putra kami satu-satunya, Raja pramudza?" Timpal Papi Rendy.


"Aku sangat berharap keputusanmu kemarin tidak berubah, May!" Ucap Raja penuh harap.


Maya menatap ibunya sebelum menjawab, Ibu tersenyum. "Ibu serahkan semua keputusan kepadamu, Ibu akan mendukung semua pilihanmu." Ucap Ibu seolah mengerti arti tatapannya, Maya menghela napasnya, sebelum menjawab. "Bismilahhirrahmanirahiim, dengan restu dari Ibu, saya menerima lamaran ini, insya allah saya bersedia menjadi istri pak Raja." Ucapnya.


"Alhamdulillah!!" Seru semua orang.


Za beranjak dari duduknya, ia menghampiri Maya dan memeluknya. "Selamat, ya Maya! Aku sangat senang kau jadi calon kakak iparku." Ucapnya tulus.


"Terima kasih!" Sahut Maya sambil tersenyum.


"Selamat ya Nak! Perjuanganmu tidak sia-sia!" Ucap Mami Maura memeluk putranya. "Semoga tak ada halangan sampai hari pernikahan nanti!" Sambung Mami Maura yang diamini semua orang.


Za baru saja akan menghampiri kakaknya bermaksud untuk memeluknya, dan memberi selamat, tapi ia urungkan begitu menyadari tarikan lembut tangan suaminya, membuatnya kembali duduk. "Selamat Kakak, aku turut bahagia." Ucapnya.


"Terima kasih, Queen!" Ucap Raja, ia tersenyum kecil, Raja jelas tau apa yang membuat adiknya itu kembali duduk.


Obrolan berlanjut pada rencana pernikahan mereka. Sudah diputuskan dua bulan kedepan pernikahan akan dilangsungkan.


Para orang tua dan para tamu lainnya sudah pamit untuk pulang, termasuk Za dan Inder. Pria itu masih begitu posesif pada Za, meski sudah jelas dia sudah memiliki gadis yang pernah dicintai olehnya itu.


"Sebucin itu kau pada adikku!" Cibirnya pada sang adik ipar yang kekeh mengajak Za pulang padahal gadis itu masih begitu betah ditempat ini.


"Harusnya kau senang, itu berarti aku sangat mencintai adikmu!" Ucap Inder menjawab cibirannya, sejujurnya Inder tak ingin membuat istrinya kecewa, jika bisa ia akan melakukan apapun yang membuat istrinya bahagia. Sayangnya Inder punya pekerjaan yang tak bisa ia tinggalkan, sedangkan untuk membiarkan Za bersama Raja disini, tentu tak akan pernah menjadi pilihannya!


Alhasil dengan sejuta jurus bujukan, akhirnya Za bersedia pulang meski dengan bibir mengerucut sempurna.


Raja tersenyum melihat betapa posesifnya Inder pada Queenza, setidaknya kini ia bisa tenang. Meski menyebalkan nyatanya Inder memang orang yang tepat untuk mendampingi adik kecilnya, dan tentu ia bisa melihat jelas kalau pria itu sangat mencintai Za.

__ADS_1


Dan perasaannya pada Za? Ia sudah memutuskan mengubur semuanya sejak hari resepsi saat ia meminta maaf pada adiknya itu, toh kini ia lihat sendiri, Za terlihat sangat bahagia bersama lelaki pilihannya, jadi ia akan mulai membuka lembaran baru hidupnya, dimulai dengan membuka hatinya untuk cinta yang baru. Raja melirik gadis disampingnya.


" Semoga kau pun akan bisa membuka hatimu untukku, May!" Batinnya penuh harap.


🌺🌺🌺🌺🌺


Tak terasa waktu sudah bergulir satu bulan semenjak lamaran, Maya ikut kembali ke ibu kota, ia tetap bekerja di butik milik Ivana hanya saja kini ia tinggal dirumah milik keluarga pramudza hingga hari pernikahan nanti.


Maya memang meminta Raja mengijinkannya tetap bekerja disana, ia bosan jika harus berdiam diri tanpa aktivitas. Raja menyetujuinya, tapi hanya sampai menjelang hari pernikahan mereka saja, seminggu sebelum hari H Maya harus resign dari pekerjaannya.


Sebulan berlalu membuat Raja menyadari sesuatu, entah mengapa ada rasa asing yang hadir dihatinya, Cinta? Entahlah...ia takut untuk mengartikan rasa itu sebagai perasaan cinta, rasanya terlalu cepat untuk mereka.


Sosok sederhana Maya yang mampu membuatnya berdamai dengan masa lalu seburuk apapun itu, tak pernah menyalahkan keadaan apalagi orang lain ketika kemalangan menimpa.


"Anggap saja Tuhan sedang menegur saya karena menerima pekerjaan yang saya sendiri tau itu tidak baik, tapi saya tetap melakukannya. Lagipula jika memang sudah takdirnya kehormatan saya terenggut sebelum waktunya, walau bukan Anda mungkin akan ada lelaki lain yang melakukannya! Mungkin ini juga cara Tuhan mengingatkan saya agar lebih bisa menjaga diri!" Ucap Maya ketika mereka bercakap diteras belakang rumahnya, saat itu Raja menanyakan alasan Maya maaafkannya. Jawaban Maya justru membuatnya makin yakin jika gadis didepannya memang patut ia perjuangkan.


Itulah sebabnya sebulan ini ia menyibukkan diri dengan menyelesaikan pekerjaan yang tak bisa dihandle Reihan dikantor, memajukan semua meeting diluar kota yang harus dihadirinya agar sebulan kedepan ia bisa pokus untuk menyiapkan pernikahannya dengan Maya.


Ia tak ingin gadis itu berpikir kalau pernikahan ini tak berarti baginya, karena itu ia ingin ikut andil dalam semua hal yang berhubungan dengan pernikahannya, sekaligus salah satu trik untuk bisa meraih hati gadis itu.


Dan... ia akan memulainya sekarang! Ya saat ini ia sedang dalam perjalanan menuju butik tempat Maya bekerja, berniat menjemput gadis itu untuk mengajaknya jalan-jalan. Anggaplah ini kencan pertama mereka!


🌺🌺🌺🌺🌺


Maya tersenyum mengingat semua hal yang terjadi dalam hidupnya sekarang ini. Tak pernah menyangka kurang dari sebulan lagi dia akan resmi menjadi istri dari orang berpengaruh dinegri ini.


Sebulan ini hubungannya dengan keluarga calon suaminya sudah cukup dekat, terutama dengan Za dan Mami Maura. Mereka cukup sering mengajaknya pergi shopping bersama, meski awalnya canggung, tapi Za selalu mampu membuatnya nyaman, terlebih Mami Maura juga memperlakukannya dengan sangat baik.


Dan hubungannya dengan Raja? Tak banyak yang berubah, masih sangat kaku. Dalam sebulan ini mereka hanya bertemu beberapa kali, karena Raja begitu sibuk dengan pekerjaannya, dan sering bolak-balik keluar kota. Tak mengapa, ia memang tak berniat menuntut apapun dari lelaki itu. Ia cukup tau diri untuk tak meminta perhatian lebih.


Namun, sore ini ada yang berbeda, ketika ia keluar dari tempat kerjanya bersama sang atasan. Sebuah mobil mewah keluaran terbaru sudah terparkir didepan butik, ia tau benar siapa pemilik mobil itu.


"Cieeee... yang dijemput calon suami!" Goda Ivana sambil menaik turunkan kedua alisnya, saat melihat Raja keluar dari mobil dan menghampiri mereka.


Ia hanya tersenyum malu menanggapi godaan bosnya itu.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Tanya pria itu sembari tersenyum dengan begitu manis.


"Emhhh..."


"Sudah! Tentu saja sudah selesai!" Seru Ivana. Ia menatap bosnya itu penuh tanya, padahal tadi mereka berdua keluar butik berniat untuk bertemu klien, tapi sekarang bosnya bilang kalau pekerjaannya sudah selesai.


Ivana tersenyum, "Aku akan mengajak Asri saja!" Bisik Ivana seolah mengerti arti tatapannya.


"Tapi, Bu?"


"Pak Raja sudah meluangkan waktu untuk menjemputmu, kalian sangat jarang mempunyai waktu berdua, jadi kau tak boleh menyia-nyiakannya, Bukan begitu Pak Raja?" Ujar Ivana.

__ADS_1


"Benar-benar bos yang sangat pengertian! " Pikir Raja.


Raja mengangguk sembari tersenyum. "Tapi saya bisa menunggu jika memang Maya masih ada pekerjaan." Kata Raja.


Ivana menggeleng, sambil mengibaskan tangannya."Tidak, kau tak perlu menunggu, pekerjaan Maya sudah selesai kok!" Sergah Ivana, kini perhatiannya ia tujukan pada gadis disebelahnya."Pergilah, May! ada banyak orang yang bisa menggantikan tugasmu disini!" Sambung Ivana lagi.


Maya mengangguk, ia pamit dan berterima kasih pada atasannya itu.


………………


"Kita Mau kemana, Pak?" Tanyanya ketika meyadari jalan yang mereka lewati bukanlah jalan pulang.


"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan!" Ucap Raja.


"Jalan-jalan? Kemana? Memangnya Anda tidak sibuk?" Cecarnya masih merasa heran.


Raja menggeleng pasti, "Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku, jadi sebulan ini aku punya banyak waktu untukmu." Ujar lelaki itu sembari menatapnya penuh arti.


"Hei...Apa Maksud perkataan dan tatapanmu itu? Tolong jangan membuat aku kegeeran." Gumamnya dalam hati.


"May!" panggil lelaki itu lembut.


"Hemh?" Jawabnya sambil menoleh.


"Bisakah mulai sekarang kau jangan bicara terlalu formal padaku? Dan tolong jangan menyebutku 'Pak', Aku ini calon suamimu bukan atasanmu!" Ucap lelaki itu, membuatnya berkerut bingung.


"Lalu saya harus menyebut Anda apa?" Tanyanya.


"Apapun, selain Tuan dan Pak!"


"Haruskah saya memanggil Anda Mas?" Gumamnya pelan, namun Raja mendengarnya.


"Cukup bagus, aku menyukainya!"


"Menyukai apa?" Tanyanya dengan raut wajah bingung.


"Panggilanmu! Mas Raja, bukankah itu terdengar mesra?" Ucapnya tersenyum.


"Hah, Maksud Anda pak!"


"Mulai sekarang panggil aku Mas Raja! Dan berhenti bicara formal padaku, mengerti!"


"Iya, pak!" Ucapnya.


"Pak lagi?"


Maya menggigit bibirnya, gugup. "Maksudku, Mas Raja." Katanya tersipu.

__ADS_1


"Gadis pintar!" Ucap Raja sambil mengusap lembut rambutnya, dan itu sukses membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


Kenapa dia begitu manis hari ini....


__ADS_2