Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Maukah Kamu Menikah Denganku?


__ADS_3

Beberapa hari dilalui Maya dengan berat, ia tak pernah menjauh sedikitpun dari sisi Ardi, Setiap hari ia mengajak Ardi bercerita sama seperti saat tunangannnya masih sehat dulu.


Dokter bilang meski dalam keadaan koma, Ardi masih bisa mendengar, jadi ia harus diberikan motivasi dan semangat untuk kembali sadar.


Namun, hari ini Maya memutuskan untuk pergi sebentar. Ini hari ulang tahun Ardi, ia ingin membeli sesuatu untuk tunangannya itu.


Maya kembali kerumah sakit dengan kue ulang tahun dan sebuah kado berisi sebuah baju couple ditangannya. Ardi selalu bilang ingin sekali memakai baju couple, tapi dulu ia selalu menolak ide tunangannya itu, terlalu lebay pikirnya. Dan hari ini ia ingin merayakan ulang tahun kekasihnya itu, dengan memakai baju couple seperti keinginan pria itu dulu, dengan harapan akan membuat Ardi segera bangun dari tidur panjangnya.


Namun, begitu sampai di depan ruang rawat, ia melihat keluarga Ardi menangis tersedu-sedu ia melangkah cepat menghampiri mereka. Ibu Ardi segera memeluknya, membuatnya mematung dengan banyak pikiran buruk yang muncul diotaknya. "Ke...kenapa Tante menangis?" Tanyanya terbata.


"Ardi... kondisinya drop, Nak! Dokter bilang ia tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi." Jawab Ibu ardi dengan tangis tertahan.


Maya menggelengkan kepalanya keras, kue dan kado yang dibawanya terhempas begitu saja, "Tidak! Ardi masih baik-baik saja saat kutinggalkan tadi!" Sergahnya, Maya melepas pelukan Ibu Ardi melangkah cepat untuk masuk keruangan rawat itu, tak perduli meski beberapa perawat menghalanginya, ia meronta, ia menjerit, ia mengiba.


Dokter yang sedang melakukan tindakan akhirnya mengijinkannnya masuk, ia melangkah dengan kaki yang gemetar, mendekat kesisi ranjang tempat tubuh Ardi terbaring.


Dokter masih mencoba memompa jantung Ardi, melakukan semua yang bisa membuat pria itu bertahan. Sementara Maya kini mematung melihat napas kekasihnya yang sudah lemah dan tersengal, Maya mendekatkan bibirnya ketelinga Ardi membisikan sesuatu.


"Bertahanlah jika kamu merasa masih sanggup, tapi berhentilah jika kamu sudah merasa lelah. Aku ikhlas kamu pergi, Di...! Aku ikhlas kamu pergi... semoga kamu bahagia disisi Tuhan, dan doakan aku bahagia tanpamu disini." Bisiknya penuh deraian air mata.


Tepat setelah Maya menyelesaikan kalimatnya Nafas dan detak jantung Ardi perlahan menghilang, pria itu dinyatakan meninggal dunia tepat di hari ulangtahunnya.


Flashback Off.


Usapan lembut dipuncak kepalanya membuat Maya kembali kemasa kini. Maya mendongak, matanya menatap tak percaya saat melihat wajah yang ia rindukan hadir didepannya. Pria itu tersenyum, senyuman yang sama seperti dua tahun yang lalu, Apakah ini mimpi? Maya tak perduli! Yang pasti ia bahagia bisa kembali melihat wajah Ardi saat ini.


Maya menghambur kepelukan pria itu, meluapkan semua rindu yang terpendam selama ini.


"Aku merindukanmu, Di! Aku sangat merindukanmu...huhuhu" Ucapnya dari hati terdalam.


"Sekarang tak ada lagi yang melindungiku, Di! Aku sendirian, aku butuh kamu....Aku butuh kamu, Di...! Bawa aku bersamamu..." Racau Maya pilu.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Raja bangun dan segera keluar dari kamar setelah membersihkan diri. "Selamat pagi, Bu, Mita!" Ucapnya menyapa penghuni rumah.


"Pagi, Nak!"

__ADS_1


"Pagi, Kak!" Jawab keduanya bersamaan.


Ia masih menoleh kesana-kemari, matanya beredar mencari seseorang yang masih belum terlihat.


"Kak Maya udah pergi dari subuh tadi." Ucap Mita seolah mengerti kegelisahannya. "Mungkin dia menemui kak Ardi." Lanjutnya.


"Ardi?" Tanyanya.


"Kak Ardi, Tunangannya Kak Maya." Ucap Mita, kini tak hanya wajah Mita tapi juga Ibu Maya berubah sedih.


Ada rasa yang tak bisa dijelaskan yang tiba-tiba saja memenuhi dadanya, rasa sesak dan sakit secara bersamaan, saat mendengar penuturan Mita. Maya menemui tunangannya? Sepertinya ia memang tak punya kesempatan untuk meraih hati gadis itu.


"Ini sudah dua tahun, tapi semua akan tetap sama saat Kak Maya teringat dengan Kak Ardi...," Keluh Mita. "Dia pasti seharian disana!" Ucap Mita lagi, membuat keningnya berkerut bingung.


Dua tahun? Jadi mereka sudah berpisah selama itu? Jadi benar mereka bukan berpisah karena kesalahannya! Haruskah ia merasa lega? Tapi mengingat Maya masih mengingat dan menemui lelaki itu, bisa ia tebak sedalam apa perasaan gadis itu untuk tunangannya.


"Tak mudah melupakan seseorang yang berarti dalam hidupmu, Mit! Kamu harus bisa memakluminya." Ucap Ibu Maya, sembari menghidangkan beberapa menu makanan dimeja makan sederhana itu.


"Tapi ini sudah dua tahun, Bu! Harusnya Kak Maya sudah bisa move on." Ucap Mita.


Raja hanya menjadi pendengar, diantara percakapan Ibu dan anak itu, ingin rasanya ia menanyakan apa penyebab perpisahan mereka, tapi ia urungkan.


"Maaf, ya Nak. Kamu jadi mendengar perdebatan kami." Ucap Ibu Maya.


"Tidak apa-apa, Bu." Jawab Raja. "Tapi kalau boleh saya tahu, kenapa Maya dan tunangannya bisa berpisah?" Tanyanya penasaran membuat kedua wanita itu menoleh padanya. "Maaf jika saya lancang, saya tak bermaksud..."


"Tidak apa-apa, Nak! Ibu akan menceritakan semuanya."


Ibu Maya menceritakan semuanya tentang putri sulungnya, termasuk tentang kematian Ardi yang membuat Maya sangat terpukul. Kematian Ardi membuat Maya tak punya semangat hidup, Maya gadis paling cerewet dirumah berubah menjadi gadis pemurung dan tertutup.


"Butuh waktu setahun membuat Maya kembali bangkit, dan Ibu sangat berharap Nak Raja bisa mengembalikan senyum Maya yang hilang." Ucap Ibu, sembari menatapnya dalam.


Raja tersenyum, Ibu Maya sudah menaruh harapan besar padanya, sedang dia sendiri masih harap cemas dengan jawaban Maya. "Maya nya saja belum memberikan jawaban, Bu." Ucapnya jujur.


"Ibu yakin, dia akan menerimamu, Maya memang terlihat keras kepala tapi percayalah hatinya sangat mudah tersentuh. Kau harus berusaha lebih keras, Nak." Ucap Ibu Maya yang ia angguki.


"Semangat, Kak. Nanti kubantuin bujuk Kak Maya biar terima kakak." Seru Mita yang membuatnya tersenyum.

__ADS_1


Selepas sarapan Ibu dan Mita mengajaknya untuk menghampiri Maya ke makam Ardi.


"Apa kalian yakin tidak apa-apa kalau saya ikut masuk kedalam?" Ucapnya ketika mereka mengajaknya untuk menghampiri Maya.


"Tidak apa-apa, Nak. Ayo!" Ucap Ibu membuatnya mengekor langkah kedua wanita itu.


Dan...hatinya mencelos saat melihat Maya menunduk menekuk wajahnya dilutut, isak tangis Maya terdengar pilu hingga terasa menyayat hatinya.


Tanpa sadar Raja melangkahkan kakinya mendekat, ia ikut berjongkok menyetarakan badannya dengan Maya. "Kau sangat beruntung mendapatkan cinta yang begitu besar dari nya!" Gumamnya dalam hati, seraya menatap Nisan Ardi dalam.


Raja mengalihkan perhatiannya pada Maya yang masih tertunduk, gadis itu bahkan tak menyadari keberadaannya. Entah dapat keberanian dari mana, tangannya terulur mengusap lembut puncak kepala gadis itu.


Maya mendongak, menatapnya nanar. Sedetik kemudian gadis itu menghambur kepelukannya, menangis sejadi-jadinya.


"Aku merindukanmu, Di...Aku sangat merindukanmu... huhuhu!" Ucap Maya sambil memeluknya erat. Ia hanya diam membiarkan gadis itu meluapkan apa yang ada dipikirannya.


"Sekarang tak ada lagi yang melindungiku, Di...! Aku butuh kamu... Aku butuh kamu...bawa aku bersamamu...."


Raja memejamkan matanya, tangannya tak berhenti mengusap rambut panjang gadis itu, ia menghela napas. "Dari itu izinkan aku untuk bisa menjaga dan melindungimu, May!" Ucapnya tulus.


Maya mendongak kembali menatap wajahnya, tapi kali ini gadis itu segera melepaskan diri darinya.


"Aku tau, tak akan bisa menggantikan dia dihatimu. Tapi setidaknya izinkan aku untuk bisa menjagamu, dan melindungimu seperti yang dia lakukan." Ucap Raja meyakinkan.


Maya masih membisu, matanya menatap kosong pada pusara kekasihnya. Raja meraih jemari gadis itu, "Berikan aku satu kesempatan, May. dan jika kau tidak bahagia bersamaku, kau bisa meninggalkanku!" Ucapnya penuh keyakinan.


Ibu dan Mita menghampiri mereka, gadis berusia tujuh belas tahun itu memeluk kakaknya. "Kak Ardi pasti lebih senang jika kakak bisa menata kembali hidup kakak, dan aku yakin Kak Raja adalah orang yang tepat untuk mendampingi Kakak!" Ucap Mita.


"Ibu juga yakin, Nak Raja bisa membahagiakanmu, Maya. Nak Ardi juga pasti bahagia jika melihatmu bahagia." Ucap Ibu sembari mengelus rambut Maya.


Maya menatap keluarganya satu persatu lalu beralih pada pusara sang kekasih dan terakhir kembali menatap Raja.


"Maukah Kau menikah denganku, Maya?" Tanya Raja.


Maya terlihat menghela napasnya. dengan diiringi anggukan pelan, ia memberikan jawabannya. "Aku bersedia menikah denganmu..."


Tamat....πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒβœŒβœŒβœŒ

__ADS_1


__ADS_2