Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Kau harus mengiklaskan Adikmu!


__ADS_3

Raja


Membuka mata perlahan, " Uhhhh.." Keluhnya, ketika kepalanya terasa berdenyut, membuatnya reflek memegang kepalanya. Perban yg melingkar membuat kilasan kejadian semalam berkelebatan.


" Queenza.." Orang yg pertama muncul di ingatannya, kesadaran yg mulai pulih sepenuhnya membuatnya memaksakan diri untuk bangun. Mencari kabar tentang keadaan adik dan orangtuanya, itulah tujuannya saat ini.


Ia turunkan kakinya perlahan, berniat berdiri. Namun jarum infus yg tertanam di tangannya membatasi ruang geraknya.


"Lepasin, aku mau ketemu kakakku dulu! izinkan aku ketemu kakakku..." Teriakan yg ia dengar samar-samar, memaksanya untuk segera beranjak.


Jarum infus itu ia cabut paksa, dengan langkah terseok ia menuju pintu kamar rawatnya.


" Raja! kau sudah sadar? " Telinganya menangkap tanya sang kakek dengan sangat baik, namun tak ia perdulikan. Matanya masih bergerak liar mencari keberadaan adiknya.


" Raja, Ayo kembali ke kamarmu! Kau masih lemah, masih harus banyak istirahat." Bujuk kakeknya lagi.


Ia menggeleng. " Aku mau cari Queenza! tadi aku mendengar suaranya."


" Kau hanya salah dengar! Ayo masuklah .."


" Tidak! Aku yakin gak salah dengar." Suaranya meninggi.


" Aku mau ketemu sama kakak, lepaskan aku om! " Telinganya kembali mendengar suara itu, yg terasa semakin menghilang.


Dan... Ia melihatnya!


Ia melihat adiknya meronta dalam gendongan seorang pria yg berjalan menjauh. Kakinya baru saja akan melangkah untuk mengejar, namun cengkraman kuat di lengannya menghalangi.


" Biarkan dia pergi! " Ucap kakeknya.


" Ini ulah kakek, kan? Kenapa kek? " Cecarnya.


" Ini yg terbaik untuk keluarga kita! " Jawab sang kakek.


" Gak! Aku gak akan biarkan siapapun bawa dia pergi. Aku akan kejar mereka! " Ujarnya. Ia segera berlari begitu cengkraman kakeknya terlepas, namun baru beberapa langkah, tubuhnya ambruk.


Para pengawal membantunya untuk kembali berdiri, dan membawanya kembali kekamarnya. " Anda harus kembali kekamar anda, Tuan muda. "


" Tidak! Aku mau kejar adikku, mereka gak boleh bawa adikku! lepas. lepaskan aku."


Ia terus meronta, tapi percuma tubuh lemahnya bukan tandingan bagi dua pengawal itu.


" Lepas, lepaskan aku! kalian b******k lepaskan aku! " Hardiknya, kerika dua pengawal itu menurunkannya di kasur rawatnya.

__ADS_1


" Hentikan Raja! " Bentak sang kakek. Yang datang bersama seorang perawat yg kembali memasangkan jarum infus dan menyutikkan sesuatu di lengannya.


" Kek biarkan aku kejar mereka, kek! "


" Istirahatlah, kau perlu istirahat banyak agar cepat pulih." Ucap kakeknya tanpa menghiraukan rengekannya.


" Kenapa kek? kenapa kakek begitu tega? Kenapa tak membiarkannya untuk bersama kami? kenapa kakek sekejam ini pada kami? "


Namun kakeknya berkata" Dia bukan hanya memberi ancaman untuk keluarga ini, tapi juga kesialan pada kalian! Sudah sepantasnya dia di singkirkan."


" Kakek kejam! Aku benci kakek! Aku gak akan maafin kakek! Aku membencimu kakek.. Aku.... benci...." Raungannya makin melemah, bersama kesadaran yg mulai menghilang.


🌺🌺🌺


Andika


Pria paruh baya itu menatap sendu sang cucu yg tertidur pulas dari kemarin, akibat pengaruh obat penenang.


Bukan ia tak merasa iba melihat cucunya seperti itu, namun keinginan cucunya sangat bertentangan dengannya. Queenza bayi kecil yg dibawa anak dan menantunya itu sudah menimbulkan banyak masalah.


Dalam seminggu ini saja sudah ada berita beredar yg menyebutkan bahwa putranya merebut anak orang lain hanya karna sang menantu tak bisa melahirkan anak lagi.


Dan mungkin beritanya akan melebar kemana-mana jika saja orang-orangnya tak berhasil meredam berita itu dengan mengancam si pencetus berita itu.


"Tuan besar, Tuan Rendy sudah sadar. " Lapor salah satu anak buahnya.


Ia menghela nafas berat, satu lagi orang yg harus ia beri penjelasan, tapi ia melangkah yakin menuju tempat putranya di rawat. Sejak bertemu dangan orangtua Quenza di kamar rawat kemarin, ia sudah memikirkan sebuah rencana. Rencana yg akan segera ia realisasikan.


🌺🌺🌺


Rendy


Membiarkan dokter memeriksa tubuhnya dengan seksama, sejak ia siuman setengah jam yg lalu para dokter begitu sibuk memeriksa keadaannya.


" Syukurlah kau sudah sadar. " Suara sang Papa, membuatnya menoleh.


" Bagaimana keadaanmu? Apa yg kau rasakan? "


" Aku tidak apa-apa, Pa. Aku justru khawatir dengan keluargaku, bagaimana keadaan mereka? " Tanyanya, namun Papanya membisu. " Keluargaku bagaimana, Pa? mereka baik-baik sajakan? " Cecarnya pada sang Papa.


Papanya menghela nafas, sebelum menjawab " Raja baikbaik saja, ia hanya mendapat luka ringan. Sedangkan Maura ia masih belum sadar, Dokter bilang cedera di kepalanya cukup parah. Tapi kau tenang saja ! Papa akan menerjunkan dokter terbaik untuk menangani Maura."


" Lalu Queenza? Bagaimana keadaannya? " Lanjutnya.

__ADS_1


" Queenza.... dokter tak bisa menyelamatkannya! dia meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit." Ucap papanya.


Rendy merasakan dadanya seperti di hantam, gadis kecil yg sedang keluarganya perjuangkan justru harus tiada dengan mengenaskan.


" Ikhlaskan dia, Nak. Masih ada Maura dan Raja yg membutuhkanmu." Ucap Papabya lagi.


Papanya merangkulnya dengan penuh kasih, " Tapi Maura akan hancur, Pa! Raja juga, mereka sangat menyayanginya." Keluhnya disela tangisnya.


" Tuhan lebih menyayanginya, jadi kau harus bisa mengikhlaskan kepergiannya."


" Kau tak boleh serapuh ini, Rendy! kau harus kuat untuk bisa menguatkan anak dan istrimu." Ucapan sang ayah ia benarkan.


Ya, ada anak dan istrinya yg membutuhkannnya, ia tak boleh lemah saat seperti ini.


Lama ia berusaha menegarkan diri, kini ia siap melihat istri dan putranya.


Dengan kursi roda, sang ayah mengantarnya ke ruangan Maura di rawat. " Maura belum bisa di jenguk, jadi kita hanya bisa melihatnya dari sini." Ucap sang ayah.


Ia mengangguk mengerti, " Apa yg akan ku katakan padanya saat ia sadar nanti." Batinnya.


Kemudian Papanya membawanya menuju ruangan rawat sang putra, ia bisa melihat wajah pucat putranya.


Ia mengelus lembut wajah putranya itu, dan tersenyum saat sang putra membuka matanya.


" Papii " Ucap Raja lirih.


" Kau sudah sadar, nak? "


Putranya tersenyum tipis, tapi kemudian mata sang putra membelalak seperti mengingat sesuatu.


" Queenza! " Ucapnya dan langsung memaksa bangun. Segera ia dekap tubuh sang putra meski harus menahan sakit yg masih terasa di badannya.


" Nak, kau mau kemana? tenanglah nak! " Ujarnya, sembari memeluk tubuh putranya yg berontak.


" Aku harus mengejar Queenza, Pi. Orang2 itu membawanya pergi, aku harus membawanya kembali." Raung sang putra dalam dekapanya, ia menatap Papanya mencari jawaban.


" Raja melihat Perawat membawa jenazah Queenza, setelah itu dia pingsan." Ucap Papanya menjelaskan.


"Kakek bohong, Pi! Dia suruh orang itu untuk bawa Queenza..Pi. Ayo kita kejar Queenza, Pi.Sebelum mereka jauh." Rengek Putranya lagi.


" Nak.. Adikmu sudah meninggal, yg mereka bawa itu jenazahnya. " Ucapnya berusaha menjelaskan.


" Kau harus mengiklaskan adikmu!! "

__ADS_1


__ADS_2