Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Dasar Pria menyebalkan


__ADS_3

"Kau Mau ku laporkan ke kantor polisi?"


Rega mencoba menggertak gadis pengendara motor matic itu, entahlah ia cukup kesal karena mobil kesayangannya lecet. Apalagi gadis ini malah terlihat tak merasa bersalah sama sekali


"Kau pikir aku takut? ayo kita selesaikan ini di kantor polisi, dan kita lihat menurut polisi siapa yang salah.?" Alih-alih takut gadis itu malah balik menantangnya.


"Sial gadis ini malah balik menantangku" Batinnya.


"Minta maaflah dan ganti kerusakan pada mobilku, aku akan anggap semuanya selesai" Ucapnya kemudian.


"Apa?" Tanya gadis itu heran.


"Kau menabrak mobilku, kan?" Tanyanya, gadis itu mengangguk. "Jadi bukankah kau seharusnya meminta maaf dan ganti rugi padaku, bukan malah mengajakku berdebat. Atau kau sengaja ya, ingin bicara berlama-lama denganku?" Ucapnya penuh percaya diri.


"Astagaaa apa yang lelaki ini katakan?" Batin gadis itu.


"Tuan dengar, pertama aku sudah minta maaf padamu, tapi kau yang malah balik memarahiku, dan kedua kau mulai mengajakku berdebat bukan aku." Ujar gadis itu menjelaskan. "Dan bukannya anda mengajakku ke kantor polisi, kalau begitu ayo kita selesaikan di kantor polisi saja."


Rega menatap gadis itu, bibirnya sedikit terangkat melihat gadis itu menjawab setiap gertakannya. Cukup menarik. Pikirnya.


"Kenapa anda malah tersenyum begitu?" Tanya gadis itu memutus segala lamunannya.


"Apa? Siapa yang tersenyum? Jangan fitnah!" Ucapnya tergagap.


"Ktpmu." Ucap Rega kemudian.


"Apa?"


"Ktpmu, serahkan padaku!"


Gadis mengernyit bingung.


"Untuk jaminan kalau kau akan bertanggung jawab."


Gadis itu menghela nafas kesal, memberikan ktpnya dengan kasar.

__ADS_1


Rega memotret kartu identitas itu, lalu mengembalikannnya. "Ponsel." Ucapnya lagi.


"Apa kau ingin menjadikan ponselku sebagai jaminan?" Ucapnya kesal, tapi memberikannya juga.


"Kunci motor." Ucapnya lagi, tak menjawab pertanyaan gadis itu.


"Kunci motor?" Ucap gadis itu mengulang perkataan Rega. Wajahnya mulai berubah.


"Tuan dengarkan aku, Ok aku minta maaf. Aku salah karena menabrak mobilmu, aku janji akan bertanggung jawab, tapi tuan jangan ambil motorku, aku membutuhkannya untuk pergi bekerja bukankah ponselku sudah kau ambil sebagai jaminan?" Ucap gadis itu mulai panik.


Rega tertawa dalam hatinya melihat ekspresi gadis di depannya.


"Kunci motor, berikan kunci motormu. Apa kau pikir Ponsel zaman pra sejarahmu ini bisa menutupi perbaikan mobilku?"


"Tu..tuan aku akan membayar perbaikan mobilmu, tapi...."


"Berikan kunci motormu. Aku tak punya banyak waktu."Ucapnya lagi, dan gadis itu memberikannya meski terlihat tak Rela.


Rega melihat motor matic itu sekilas, kerusakannya memang cukup parah dibandi mobil mewahnya yang hanya tergores dan sedikit penyok di bagian belakangnya.


gadis itu masih mematung memperhatikan semua yang dilakukannya, "Kau bilang tadi kau akan pergi bekerja? ayo ku antar, aku juga harus segera melakukan pekerjaanku." Ucapnya kemudian.


"Lalu motorku?" Tanya gadis itu.


"Aku sudah menyuruh orang untuk membawanya ke bengkel." Ucapnya.


"Apa?"


"Kau bilang kalau aku juga bersalah kan? jadi ini bentuk pertanggung jawabanku. Aku akan memperbaiki motormu, dan kau mengganti biaya perbaikan mobilku nanti, cukup adil bukan?" Ucap Rega. "Dan ayo aku akan mengantarmu ketempat kerjamu, daripada kau terlambat, kan."


Gadis itu terdiam sejenak, lalu mengukuti langkah Rega dan masuk ke mobilnya.


🌺🌺🌺


Alika.

__ADS_1


Gadis berusia dua puluh tahun itu terdiam sejenak mendengar tawaran pria di depannya ini, dari awal kecelakaan ini terjadi dia cukup kesal pada pria ini.


Apalagi ketika pria ini mengambil ponsel dan kunci motornya, dalam hatinya ia mengeluarkan segala sumpah serapahnya pada pria yang dengan kejam menyita barangnya padahal kecelakaan ini terjadi juga karna kesalahan pria itu.


Tapi sekarang saat pria itu mengakui kesalahannya dan bertanggung jawab untuk memperbaiki motornya, rasa kesal itu sedikit berkurang. Apalagi sekarang pria itu menawarinya tumpangan.


"Emmhhh ternyata pria ini baik juga" pikirnya.


Ia akhirnya memutuskan naik ke mobil pria itu, mengatakan alamat tempatnya bekerja saat pria itu bertanya tujuannya.


" Ini..." Ucap pria itu, menyerahkan ponselnya yang diambil tadi, ia menatap pria itu heran


"Hei...apa kau pikir aku akan menjadikan ponselmu itu jaminan? Aku tidak akan sekejam itu." Ucap pria itu. "Aku hanya memasukan nomorku disana, dan mengambil nomor ponselmu saja. Lagipula aku tak tertarik denagn ponsel zaman firaun seperti itu." Ucap pria itu lagi, membuatnya kembali merenggut kesal.


"Enak saja ponsel Jaman firaun, aku membelinya dua tahun yang lalu, dan ini keluaran terbaru saat itu." Batinnya menggerutu. "Tapi meski caranya bicara sangat menyebalkan, dia pria yang cukup baik dan supel ternyata." Alika terus membatin.


Mobil itu berhenti tepat di resto tempatnya bekerja.


"Kau bekerja disini?" Tanya pria itu, sedikit kaget.


"Iya, terima kasih sudah mengantarku." Ucapnya tulus.


"Bukan masalah." Ucap pria itu, membuatnya menyunggingkan senyum, namun senyum itu lenyap begitu mendengar kata-kata berikutnya.


"Lagipula dengan begini, aku tau kemana harus mencarimu untuk memberikan tagihan perbaikan mobilku."


"Jadi ini tujuannya memberiku tumpangan? Aku ralat kata-kataku tadi, dia bukan pria baik, dia pria yang menyebalkan!" Batin alika.


"Dan Nona."


"Ya.."


"Untuk ongkos jasa mengantarmu sampai kemari, akan kumasukan dalam tagihanmu nanti, jadi sebaiknya persiapkan uangnya dari sekarang." Ucap Pria itu, sembari kembali melajukan mobilnya, meninggalkan Alika yang kini menggerutu di tempatnya.


"Dasar pria menyebalkan....."

__ADS_1


__ADS_2