
"Apa kau tau sesuatu?"
"Ada hubungan apa antara Za dengan keluarga Pramudza?"
Membuat Alika menyadari kesalahannya, harusnya ia bisa menjaga mulutnya. "Aku... tidak mengerti maksudmu?" Ucapnya. Za tidak mau jati dirinya diketahui siapapun, jadi ia juga harus menjaga rahasia ini walau ternyata, mulutnya tak bisa diajak kompromi dan malah keceplosan seperti tadi.
"Jangan pura-pura bodoh!" Ucap pria menyebalkan yang berada di samping Inder, membuatnya tersulut emosi. "Siapa yang pura-pura bodoh? Aku memang tidak mengerti apa maksud kalian." Ucapnya ketus.
Inder mencengkram kedua lengannya, "Alika, apa hubungan Za, dengan keluarga Pramudza? Tolong beritahu aku." Ucap pria itu penuh penekanan.
Alika sedikit meringis mendapati perlakuan Inder dan sepertinya pria itu menyadarinya.
"Maaf." Ucap Inder seraya melepaskannya.
"Kenapa kau ingin tau?" Tanyanya penasaran, Ia merasa sikap Inder terlalu berlebihan terhadap sepupunya yang hanya seorang pegawai.
"Karena aku perduli padanya." Jawab lelaki itu. "Aku ingin tau apa yang membuatnya begitu marah hingga dia menyakiti dirinya sendiri? Saat menemukannya di pantai semalam, aku bisa melihat kemarahan sekaligus kesedihan di matanya sebelum dia pingsan. Dan aku ingin tau penyebabnya."
"Za..."
Ting.
Sebuah notifikasi pesan masuk si ponselnya membuatnya segera membuka pesan itu. "Astagaaaa." Pekiknya.
"Ada apa?" Tanya Rega, dan Inder bersamaan.
"Orangtua dan bibiku, akan datang. Ya tuhan... bagaimana ini."Ucapnya panik.
__ADS_1
Ia lalu menatap Inder. "Kau mau tahu apa hubungan Za dengan keluarga pramudza, kan?" Tanyanya, Inder mengangguk.
"Kalau begitu, bantu aku meyakinkan mereka kalau Za, baik-baik saja dan mereka tak perlu kemari!"
"Kenapa?"
"Tolong lakukan saja, larang mereka untuk datang dan aku akan mengatakan semuanya padamu tentang Za."
Akhirnya Inder menyetujui permintaan Alika, ia membantu Alika meyakinkan Ibu Za lewat percakapan di telpon, beruntung Ibu Za percaya padanya. Sayangnya Alika tak bisa bercerita sekarang karena ia harus berangkat bekerja, dan ia berjanji akan mengatakan semuanya saat ia kembali kerumah sakit pulang kerja nanti.
đşđşđşđş
Raja
Hari sudah lewat kam makan siang, tapi ia
"Aku sudah tak bisa menahannya lagi, aku harus segera menemuinya." Gumamnya .
Ketukan pintu membuatnya menoleh dan mempersilahkan si pengetuk masuk.
"Tuan." Reihan masuk ke ruangan itu, menunduk hormat pada atasannya.
"Ada kabar apa? Bagaimana keadaannya." Cecar Raja dengan tidak sabar.
"Nona Queenza terkena Hippotermia, Tuan."
"Hippotermia?"
__ADS_1
Rei mengangguk, "Tadi sebelum kemari saya sempat mencuri dengar pembicaraan mereka, Nona ditemukan di pantai dalam keadaan pingsan." Ucapnya melaporkan informasi yang ia dapatkan.
"Ya Tuhan! Dia pasti merasa sangat terluka."
Erang Raja, "Aku harus menemuinya!" Ucapnya lagi seraya beranjak dari tempat duduknya, membuat Rei ikut berdiri juga yang membuat Raja kembali berbalik.
"Kau gantikan aku di kantor, periksa semua dokumen itu, aku ingin semuanya sudah siap saat aku kembali." Ucapnya membuat pria itu kembali ketempatnya dan mengangguk paham.
đşđşđş
Raja berjalan cepat menuju tempat mobilnya terparkir, ia langsung melajukan mobil itu menuju Rumah sakit tempat sang adik dirawat.
Hatinya begitu pedih mendengar penuturan Reihan, "Kau pasti sangat terluka mendengar cerita Mami, kan? Maafkan kakak Queen, harus nya kakak lebih cepat menemukanmu."
Raja setengah berlari menuju kamar rawat Za, hatinya terasa tak tenang sebelum melihat keadaan adiknya itu. "Hippotermia? Apa ia sengaja menyakiti dirinya sendiri dengan membiarkan dirinya kedinginan dibawah guyuran air hujan?" Ia bertanya-tanya dalam hati. Akhirnya ia sampai di depan pintu ruangan yang di dominasi cat putih itu.
Ia membuka pintu dan berjalan gontai menuju tempat tubuh adiknya dibaringkan. Ia memejamkan matanya begitu melihat wajah sang adik yang terlihat lemah. "Kakak merindukanmu, Queen." Ucapnya dengan airmata yang susah tak bisa ia tahan lagi.
Ia menggenggam tangan sang adik dengan lembut, mendekatkan bibirnya pada telinga gadis yang sedang tertidur panjang itu. "Bangunlah, Agar kita bisa bersama lagi." Ucapnya,
"Izinkan kakak menepati janji untuk membawamu kembali, Queen."
"Mulai saat ini, tak akan kakak biarkan satu orangpun memisahkan kita!" Lanjutnya.
"Bangunlah, Queen. Kakak rindu memelukmu." Ucapan terakhir yang ia iringi dengan kecupan lembut di kening sang adik.
Tepat saat ia menempelkan bibirnya di kening sang adik, mata coklat itu terbuka.
__ADS_1
"Kakak."