
Queenza
Ia segera bersiap setelah membantu pekerjaan Bi irah, tadi ia sudah menelpon Inder meminta izin untuk bertemu sepupunya.
Dan disinilah ia sekarang, di area food court Mall terbesar di Ibukota. Ia duduk manis menunggu sang sahabat yang katanya masih terjebak macet di jalan, ketika netranya menangkap kehadiran Friska, gadis penggantinya di keluarga Pramudza.
Friska duduk membelakanginya, gadis itu tak sendiri, ia bersama teman-temannya.
"Pilih makanan apapun yg kalian mau, kita butuh tenaga untuk shoping hari ini." Ucap Friska pada teman-temannya.
"Wihhh gini nih senangnya punya teman putri dari konglomerat, kalau lagi happy kita kecipratan rezeki." Celetuk salah satu temannya.
"Iya dong, pokoknya gue jamin lo semua gak bakal nyesel temanan sama gue." Jawab Friska bangga.
"Jadi tadi lo ketemu sama Ivander yang ganteng itu?" Tanya temannya lagi.
"Enggak sih, tapi... Ivander sudah menandatangani kontraknya, dan itu berarti fiks, gue bakal syuting bareng dia." Ucap Friska lagi membuat meja itu riuh.
"Enak ya jadi putri keluarga Pramudza apapun yang lo mau bisa lo dapatkan."
"Oh pastinya dong, gue ini kan putri kesayangannya keluarga pramudza, jangankan hanya syuting dengan Ivander kalau gue mau, syuting dengan artis holywood pun pasti bokap gue usahain."
Queenza masih diam menyimak obrolan di meja belakangnya, ada sejumput kesedihan di hatinya mendengar penuturan Friska.
Bolehkah ia iri, mengapa kakeknya menolak kehadirannya di keluarga itu tapi bisa menerima anak lain yang hadir dalam.keluarga itu? Apa yang membedakannya denga gadis di belakangnya ini? Apakah Friska punya kelebihan yang tak ia miliki? Tuhan.... mengapa rasanya selalu begitu sakit, saat ia mengingat masa lalunya, perpisahan dengan keluarga yang di cintainya karena keegoisan sang kakek yang menganggapnya sebagai ancaman untuk nama baik keluarga.
Lalu... mengapa itu tak terjadi pada gadis di belakangnya ini? mereka sama-sama di adopsi, jadi apa yang membedakan mereka?
Queenza mencoba mengetik nama gadis di belakangnya dalam aplikasi pencarian.
__ADS_1
Air matanya meluncur saat mengetahui nama lengkap gadis itu. Friska Nathalia Pramudza.
"Bahkan kakek mengijinkannya memakai nama Pramudza di belakang nama gadis itu." Gumamnya getir.
Kenapa?? Ia bahkan tak di izinkan menyandang nama Pramudza saat masih di keluarga itu, dan itulah sebabnya nama Anindya lah yang tersemat di belakang namanya mengikuti nama sang Mami.
"Bokehkah Aku Iri padanya." Gumamnya pada diri sendiri.
Ia memutuskan untuk beranjak dari tempatnya, mengirim pesan pada Alika untuk bertemu di cafe dekat Mall saja. Telinganya sudah terlalu panas mendengarkan segala cerita bahagia Nona muda Pramudza itu, terlebih ketika gadis itu bercerita tentang bagaimana sayangnya sang kakak padanya.
Tidak! Cukup sudah!
Queenza keluar dari Mall itu, berjalan menuju cafe yang memang tak jauh dari mal tersebut.
Notifikasi pesan dari Alika yang mengatakan telah sampai di cafe membuatnya mempercepat langkahnya.
"Hai, Al." Sapanya, mencium pipi kanan kiri Alika.
Queenza menggeleng, "Tidak apa-apa, hanya saja kurasa disini jauh lebih nyaman." Ucapnya memberi alasan.
Mereka duduk di kursi menikmati makanan yang sudah di pesankan Alika, sepupunya itu tau benar makanan kesukaannya. Selepas makan mereka mengobrol ringan sambil menikmati aluna akustik dari band pemandu lagu di cafe. Alika bercerita tentang pekerjaannya di resto, dan juga bertanya tentang pekerjaan Queenza, bertanya tentang bagaimana perlakuan Inder padanya. "Dia baik padaku." Ucapnya kala Alika menanyakan sikap Inder padanya.
Hingga tanpa terasa matahari sudah merangkak naik membuatnya harus menyudahi pertemuan menyenangkan ini.
"Aku pulang duluan, ya. Inder berpesan agar aku pulang tak terlalu sore." Ucapnya.
Sepupunya itu tersenyum, "Kau seperti seorang istri yang khawatir suaminya marah karena keduluan pulang." Ucap Alika sambil tertawa.
"Bukan begitu, hanya saja dia atasanku jadi.."
__ADS_1
"Ya... aku sangat mengerti, jadi sekarang pulanglah sebelum bos mu itu pulang lebih dulu." Ucap Alika lagi, sembari mendorng pelan tubuhnya agar masuk ke taksi yang sudah ia pesan.
đşđşđş
Queenza sampai di rumah Inder saat hari sudah mulai gelap, dan saat ia turun dari taksi yang di tumpanginya saat itu pulalah mobil Range rover hitam milik Inder juga berhenti disana.
Inder keluar dari mobil dan menghampirinya, membiarkan Rega memarkirkan mobilnya.
"Baru pulang?" Tanyanya, membuat Queenza mengangguk canggung.
Kejadian tadi pagi membuat Queenza merasa canggung dengan bos sekaligus sahabatnya itu, membuatnya lebih memilih diam. Mereka berjalan beriringan.
"Nih, kunci mobil lo!" Ujar rega sembari memberikan kunci mobilnya.
"Mas Rega mau kemana? gak makan malam dulu? Bi Irah pasti sudah masak." Ucap Queenza.
Rega melirik Inder sekilas lalu menyeringai."Gue langsung balik aja! Biar kalian bisa lanjutin yang tadi pagi." Jawabnya tanpa dosa, membuat Queenza salah tingkah, dan menunduk dengan wajah memerah.
"Aku masuk duluan ya." Ucap, Za. kemudian berlalu meninggalkan mereka.
Rega terkekeh begitu Queenza masuk kerumah. Pletak.
"Aww." pekiknya merasakan kepalanya cukup keras di toyor oleh sahabatnya itu. "Sakit Inder!"
"Salah lo sendiri, kenapa juga mesti bahas soal tadi pagi?" Ujar Inder kesal.
Rega terkekeh."Aku hanya ingin melihat ekspresinya, ternyata sangat menggemaskan melihat dia tersipu begitu."
"Awas aja kalau lo jadiin dia target lo! Habis lo!" Ancam Inder.
__ADS_1
"Gak lah, kecuali kalau lo udah gak mau sama doi. Gue siap nampung dia, hahaha" Ujarnya sembari masuk kemobilnya kemudian melajukannya, menghidari amukan sahabatnya itu.
Inder menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu. Ia kemudian masuk kedalam rumah, matanya menyisir seluruh ruangan itu mencari wajah yang ia cari tapi nihil, sepertinya gadis itu sudah masuk ke kamarnya.