Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Aku akan merebutmu kembali


__ADS_3

Inder duduk di ranjang rawatnya, menatap foto gadis yang berhasil menjungkir balikkan dunianya.


Sudah dari dua hari yang lalu ia siuman namun ia seolah tak bersemangat melakukan apapun, ia hanya duduk-duduk di ranjang mensrcoll foto-foto kebersamaannya bersama gadis itu.


Pintu bercat putih itu terbuka dari luar tak membuatnya mengalihkan perhatian.


Rega datang bersama kakaknya dan juga seorang suster yang membawakan nampan berisi sarapan untuknya.


"Taruh di situ saja, Sus." Ucap Ivana.


"Ayo Inder, makan dulu sarapanmu." Ucapnya lagi.


"Gue belum lapar!" Tolaknya.


"Tapi Lo harus minum obat, jadi harus makan dulu." Ucap Rega. "Ayolah Bro jangan seperti anak kecil." Ucapnya lagi sambal mengambil paksa ponsel Inder.


"Balikin, Ga!" Geram Inder.


"Makan dulu sarapan lo, setelah itu baru gue balikin." Ujar Rega, seraya pergi dan duduk di sofa.


"Mau gue suapi? Anggap aja Za yang sedang menyuapimu." Goda Ivana.


"Gue bisa sendiri." Kesalnya, sembari merebut makanannya dari tangan Ivana.


Ivana duduk di sebelah Rega, mereka menikmati sarapan bersama sambil sesekali bercanda. Sedangkan Inder sarapan di tempat tidurnya.

__ADS_1


"Hari ini, Bunda dan ayah pulang dari Swiss." Ucap Ivana membuatnya menghentikan makannya. "Mereka bilang, mereka akan langsung kesini."


"Lo kasih tau mereka?" Tanyanya.


"Tanpa gue kasih tahu, mereka juga pasti tahu. kayak gak tau aja mata-mata Bokap ada dimana-mana."


"Ya udahlah, paling cuman di omelin dikit sama Bunda, salah sendiri pake acara minum segala, jadi terima aja lah." Cibir Ivana lagi.


"Sebenarnya gue masih penasaran apa yang dibicarakan Raja waktu itu, sampe bikin lo kayak gitu?".Tanya Rega.


"Dia bilang dia akan bikin Queenza resign, gue gak mau itu terjadi. Kalau Za resign sama aja usaha gue selama ini sia-sia buat deketin dia."


"Gue gak bisa, Ga! Gue cinta mati sama dia." Ucapnya.


"Cemen, pengecut." Celetuk Ivana membuat keduanya menoleh pada gadis itu.


"Apalagi namanya kalau bukan pengecut?" Ucap Ivana lagi. Ia berjalan Mendengar, lalu duduk di sisi Inder. "Kalo lo cinta sama dia, perjuangkan dong! Jangan jadi pengecut, yang kalah sebelum berperang. Ungkapkan perasaan lo, mau lo cinta mati seperti apa juga, dia gak bakal tau kalau lo gak ngomong."


"Cewek itu butuh pengakuan gak cuman aksi, karena cewek itu kadang merasa takut salah mengartikan. Diterima atau ditolak itu Masalah nanti. Yang penting dia tau dulu perasaan lo." Petuah dari Ivana yang ia rasa ada benarnya juga, selama ini dia memang tak pernah menyatakan perasaannya, kalaupun dia bilang suka tapi selalu di selingi candaan.


Dia tak pernah serius menyatakan perasaannya.


"Tanks." Ucapnya sembari memeluk kakak perempuannya itu. "Tumben otak lo berfungsi dengan benar."


Ivana melepas pelukan adiknya itu dengan paksa, "Gue udah ngasih petuah Brilian, lo malah ngehina gue! Sialan."

__ADS_1


Sungut Ivana.


"Gue kan udah bilang makasih tadi." Ucapnya. Dengan senyum lebar.


"Lo harus janji sama gue, jangan pernah ngelakuin hal bodoh seperti kemarin, seberat apapun masalah lo kita pasti akan bantuin lo" Ucap Ivana dengan wajah yang berubah sendu.


Inder mengangguk, "Sory, karna sudah bikin semua orang jadi khawatir." Ucapnya seraya merengkuh kembali Kakaknya.


"Abis ini siap-siap lo diomelin nyokap." Ucap Ivana sambil tertawa kecil di pelukannya.


Ia terkekeh. "Kalo gitu gue akan pura-pura tidur saat nyokap datang." Ucapnya. "Enak aja, gue siram lo pake air biar ketauan bohongnya."


"Seneng banget sih kalau adeknya di omelin." Gerutunya.


Rega melihat dua kakak beradik itu dengan tersenyum, dua saudara yang tak pernah bisa akur namun tetap saling perduli ketika salah satunya kesusahan.


🌺🌺🌺🌺


Sementara itu di belahan bumi lainnya seorang wanita tengah menatap marah pada beberapa foto yang baru ia terima.


"Jadi ini yang membuatmu begitu betah di negaramu? Gadis ini yang membuat kamu begitu sibuk hingga melupakanku?"


Raisa melempar ponselnya, beberapa foto Raja bersama seorang gadis yang baru saja di kirim oleh calon adik iparnya membuat emosinya tak terkendali. Kecewa... marah... dan menyesal bercampur satu di benaknya.


Sekarang ia tau apa yang membuat kekasihnya itu tak lagi mau mengangkat telpon darinya, "Semudah itu kamu berpaling dariku, Ja. Aku melakukan segala cara untuk membuatmu kembali padaku." Ucapnya yang di susul isakan tangis. Ia menyesal sangat menyesal, tapi kini semuanya sudah terlambat. Namun ia tak akan putus asa ia bertekad mendapatkan lelaki itu kembali.

__ADS_1


"Aku akan merebutmu kembali, Ja! Kamu milikku dan selamanya hanya akan jadi milikku."


__ADS_2