
" Aku bisa mengabulkan keinginanmu, tapi tinggalkan Anak dan cucuku! "
Maura mematung, senyumnya menghilang seketika. Ia pikir sang ayah mertua benar-benar terenyuh dengan permohonannya, ternyata dia salah!
Andika Pramudza tetaplah seorang arogan berhati batu.
" Bagaimana? Aku memberimu pilihan, lepaskan anak itu, atau tinggalkan suami dan anak kandungmu." Suaranya pelan tapi mampu membuat jantung Maura seakan terlepas dari tempatnya.
" Pa..." Protesan sang putra tak dihiraukannya, mata tajamnya masih fokus mengintimidasi sang menantu.
" Bagaimana, Maura? " Tanyanya lagi prnuh penekanan.
Maura menangis, tulangnya bagai melentur membuat tubuhnya ambruk kelantai, tak ada satu katapun yg keluar dari mulutnya.
" Tolong, jangan keterlaluan seperti ini, Pa." Sekali lagi, Rendy mengajukan keberatannya atas sikap sang ayah.
" Keterlaluan kau bilang? Aku bahkan bisa melakukan lebih dari ini jika itu untuk mempertahankan nama baik keluargaku!" Bentaknya.
" Tak akan terjadi apapun, Pa! Kita bisa mengasingkan mereka. dan memastikan mereka tak kembali mencari kita."
" Kau salah Rendy, lihat ini!" Ujar Andika, ia melempar sebuah map coklat berisi data lengkap Resha dan Aldi.
" Aldi irawan, adalah kerabat dekat dari Herdi hendrawan. Seorang wartawan handal salah satu televisi swasta terbesar di indonesia! Bisa kau bayangkan, apa yg akan terjadi kalau tiba-tiba ia menghilang? Dan apa yg terjadi, kalau keluarganya tau dia bermasalah dengan kita? "
Rendy diam, ia tau maksud ayahnya. Tapi untuk melepas anak yg ia besarkan sejak bayi itupun, jujur ia tak sanggup.
__ADS_1
" Aku tak ingin berurusan dengan Media! " Tegas Andika lagi.
" Aku beri kalian waktu tiga hari! Serahkan anak itu pada orangtuanya, atau kuambil paksa anak itu!" Ucap Andika tegas, Ia menatap Menantunya dan melanjutkan kata-katanya, " Dan untuk kau, Maura. Pikirkan baik-baik, Kau harus memilih Anak dan suamimu? Atau anak pungut itu."
Ucapan Andika membuat tangis Maura kembali pecah, Rendy membawa istrinya dalam dekapan, " Kita akan cari jalan keluarnya, percayalah padaku! " bisiknya di telinga sang istri.
đ¸đ¸đ¸
Hari Sudah menunjukan pukul satu siang saat Queenza sampai di rumahnya.
Ia melangkah berniat menuju kamar Maminya, ia takut sang Mami masih sakit seperti kemarin.
Langkahnya terhenti mencium aroma makanan kesukaan yg menusuk indra penciumannya. Ia berbelok menuju dapur dan mendapati Maminya sedang memasak.
" Mami sudah sehat?" Pekiknya senang sembari memeluk.
Maura memejamkan matanya, saat mendapat pelukan dari putri kecilnya itu, ia gigit bibirnya kuat agar tak terisak. Setelah menghapus airmatanya, ia balikkan tubuhnya, berjongkok, menyetarakan tingginya dengan sang putri.
" Mami sudah sehat, sayang! Queen, kok terlambat pulangnya? " Tanyanya tersenyum.
" Tadi sangat macet, Mami. pak ilham jalankan mobilnya kayak siput, jadi lama sampai rumah" Jawabnya ceria.
" Oh, Mami masak kesukaannya Queen. Nanti makan yg banyak ya! Mami lanjutin masak dulu ya." Maura kembali menyelesaikan masaknya, lalu mulai menata satu persatu hidangan diatas meja makan.
" Queen ganti baju dulu,ya. sebentar lagi kakak pulang, trus kita bisa makan siang bareng." Titahnya, Queenza langsung menurut.
__ADS_1
Airmata sedari tadi ditahannya meluncur seiring kepergian sang putri kearah berlawanan. " Apakah Mami bisa melepasmu, sayang. "
đ¸đ¸đ¸
Malam telah larut, tapi di salah satu kamar rumah besar ini, dua insan masih terjaga tak bisa memejamkan mata.
Sedari siang tadi Maura menncoba bersikap biasa di depan anak-anaknya, namun tidak saat malam seperti ini.Saat ia hanya berdua bersama suaminya.
" Ini sudah malam sayang, Kita tidur ya! Besok kita coba bujuk Papa lagi." Bujukan Rendy yg kesekian kalinya itu, masih di abaikan Maura.
" Istirahatlah, Ra. Jangan pikurkan apapun! percayakan semuanya padaku."
" Bagaimana aku bisa istirahat, mas. jika di otakku penuh dengan ketakutan." Ucap Maura, ia menatap lekat suaminya. " Aku tak ingin kehilangan kalian! Tapi.. aku juga tak ingin kehilangan Queenza." Akunya.
" Mengapa Papa begitu kejam, memberiku pilihan seperti ini, mas? "
" Kau tau aku juga sangat menyayangi Queenza, akupun sama sepertimu, tak ingin kehilangan dia!"
" Kalau begitu, lakukan sesuatu!, pertahankan dia untuk tetap bersama kita! " Pinta Maura.
Rendy mengangguk. " Aku cari jalan supaya kita bisa tetap bersamanya, aku janji tak akan kubiarkan seorangpun membawanya pergi dari kita, aku berjanji padamu, Ra."
" Aku tidak bisa kehilangannya, mas. Dia seperti anugrah di tengah keterpurukanku, dia putriku, aku tidak bisa kehilangan dia."
Malam itu, seisi kamar itu di penuhi kepedihan, Dan tanpa mereka sadari ada seseorang yg mendengar percakapan mereka dari balik pintu kamar mereka.
__ADS_1