
Bruk... sebuah kayu penyangga menimpa punggung pria itu. Maya menyingkirkan kayu itu dari punggung Raja, membuat pria itu sedikit meringis dan itu tak luput dari perhatiannya.
Beberapa orang mulai berdatangan menghampiri mereka. "Mas baik-baik saja?" Tanya seseorang.
"Its oke, saya baik-baik saja. Terimakasih!" Ucap Raja.
"Syukurlah kalau mas baik-baik saja." Sahut yang lainnya. Ia tersenyum, mengucapkan terima kasih pada warga yang perduli padanya, setelah memastikan dirinya baik-baik saja mereka membubarkan diri. Kini Perhatiannya tertuju pada gadis didepannya.
"Kau baik-baik saja? Tak ada yang luka kan?" Tanya pria itu, pada maya yang kini menatapnya.
"Bodoh harusnya aku yang bertanya, apa kau baik-baik saja?" Tanya Maya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku baik-baik saja!" Ucapnya dengan bibir yang dipaksa terangkat. "Hei kenapa kau menangis?" Sambungnya sedikit panik, ketika melihat air mata Maya terjun bebas dipipinya.
"Aku baik-baik saja, May! Sungguh!"
"Coba kulihat!" Maya berputar untuk melihat punggung Raja, terlihat ada sedikit sobekan di jas pria itu. "Coba buka jas mu!" Ucapnya.
"Aku tidak apa-apa, sungguh!" Ulang Raja menyakinkan, tapi gadis itu tetap memaksa membuka jasnya, kini ia hanya mengenakan kemeja.
"Apanya yang baik-baik saja, punggungmu berdarah! Sepertinya ada paku di kayu itu." Ucapnya panik, setelah melihat noda darah di kemeja pria itu. "Ayo, kita harus mencari klinik!" Sambungnya seraya menarik lengan Raja. Namun, pria itu menolak.
"Kau belum selesai berbelanja, May!" Ucapnya. "Bukankah kau harus membeli beberapa barang di toko itu." Lanjutnya.
"Itu bisa kulakukan nanti, sekarang kita ke klinik terdekat dulu dan obati lukamu!"
"Ini hanya luka kecil, May! Aku tidak apa-apa." Ucap Raja. "Selesaikan belanjamu, aku tunggu di sini."
__ADS_1
Maya mengalah, ia segera pergi membeli barang yang dibutuhkan. Maya menyelesaikan semuanya dengan cepat, meminta beberapa pelayan toko itu membawakan belanjaannya sampai kemobil.
"Kau yakin kita tidak perlu kedokter? Lukamu bisa saja infeksi kalau tidak segera diobati." Ucap Maya, ia sungguh khawatir dengan pria itu, walau bagaimanapun pria itu sudah menyelamatkan nyawanya.
Raja tersenyum, entah kenapa ada rasa membuncah melihat perhatian kecil dari gadis itu.
"Jangan salah paham! Aku hanya takut disalahkan kalau terjadi sesuatu denganmu." Ucap Maya, melihat reaksi Raja.
"Aku baik-baik saja, kau bisa mengobatiku dirumahmu nanti." Ucapnya seraya mulai menyalakan mesin mobil.
Maya setuju, suasana menghening. Maya memilih mengalihkan pandang kearah luar mobil meski sesekali ekor matanya melirik pria yang terlihat meringis.
"Huhhhh apa-apaan dia, katanya baik-baik saja tapi bibirnya terus meringis seperti itu!" Keluh Maya dalam hatinya.
Mereka akhirnya sampai kerumah, Maya segera membawa semua barang dari bagasi mobil, lalu menyimpannya di dapur. Ia segera menyiapkan air hangat di sebuah wadah membuat ibu yang melihatnya heran.
"Mengompres, Bu! Pak Raja terluka tadi!" Jawabnya seraya kembali keruang tengah dimana Raja berada.
Ia menaruh wadah berisi air itu, lalu mengambil kotak P3K. "Buka kemejamu, biar kubersihkan lukanya." Ucap Maya.
Raja menurut, ia membuka pakaian atasnya hingga tubuh sispeknya terpampang didepan gadis itu. Maya dengan telaten membersihkan luka Raja, tak terlalu besar tapi sepertinya cukup dalam membuat pria itu meringis setiap kali Maya mengompres bagian lukanya.
"Ssshh." Raja meringis saat Maya membubuhkan alkohol di lukanya. "Apa sakit?" Tanya Maya, seraya meniup-niup luka dipunggung Raja, membuat bibir pria itu melengkung, Hatinya mulai menghangat mendapati perlakuan Maya.
"Sudah lebih baik!" Ucap pria itu.
"Apa susahnya bilang sakit! Gengsi banget, jelas-jelas kamu meringis!" Ucap Maya.
__ADS_1
Raja terkekeh, "Iya tadi memang sakit, tapi setelah kamu tiup rasanya lebih baik" Goda Raja yang mendapat hadiah pukulan ringan dipunggungnya.
"Awwwww!!" Keluhnya menggaduh, membuat Maya menyadari kesalahannya.
"Maaf....maaf! Makannya jangan menggombaliku!" Ucap Maya, sambil kembali meniup luka yang baru saja ia pukul.
"Aku tidak menggombal, aku mengatakan yang sebenarnya." Ucap Raja, sambil kembalu meringis.
"Kau benar-benar minta dipukul lagi." Ancam Maya, kesal.
"Tidak... Ampun, aku hanya bercanda." Ucap Raja, membuat gadis itu mencebik, Lalu kembali melanjutkan membalutkan perban di luka Raja.
"Selesai!" Ucap Maya. Ia hendak memberikan kemeja Raja tapi urung setelah melihat ada noda darah di pakaiannya.
"Tunggu disini!" Ucap Maya, ia pergi kekamarnya mengambil sebuah pakaian dari dalam lemari.
Maya memandang t-shirt itu sejenak, kemudian segera kembali menghampiri Raja.
"Pakailah! Itu masih baru." Ucapnya sembari memberikan t-shirt itu pada Raja.
Raja menerimanya, menatap pakaian itu dengan kening yang berkerut. "Ini pakaianmu?" Tanyanya.
Maya menggeleng pelan, "Tadinya itu untuk tunanganku..." Jawab Maya, kalimatnya terpangkas karena sesak didadanya yang tiba-tiba datang. "Sudahlah! Kau pakai saja, mungkin bukan pakaian mahal, tapi kujamin cukup nyaman untuk dikenakan." Ucap Maya, seraya pergi meninggalkan Raja yang kini mematung.
"Tunangan Maya? Jadi Maya sudah punya tunangan? Apakah itu yang membuatnya enggan untuk menerimaku? Karena dia... mencintai orang lain... tunangannya! Apakah kejadian malam itu membuat pertunangan mereka hancur?" Batin Raja.
Raja terus bertanya-tanya dalam hatinya, ada sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya.
__ADS_1