
Dengan senyum mengembang Maya melangkah menuju kamar rawat suaminya. Namun, tubuhnya mematung seketika, dadanya bergemuruh dan sesak saat melihat suaminya sedang disuapi oleh seseorang dengan rambut panjang tergerai.
Tes. setitik air matanya jatuh saat melihat suaminya bisa tersenyum begitu lebar pada orang itu, dengan emosi yang menggebu ia melanjutkan langkahnya. Hatinya benar-benar bergemuruh, bagaimana bisa suaminya bersama wanita lain padahal baru saja sebentar ia tinggalkan. Pikirnya.
"Mas!" Panggil Maya pada suaminya.
Membuat keduanya menoleh padanya, Raja dan seseorang berkumis tipis disampingnya tersenyum padanya. "Eh! Tunggu dulu, kenapa wanita itu berkumis?" Pekiknya dalam hati saat melihat orang yang bersama suaminya mempunyai kumis.
"Syukurlah kau sudah kembali, Sayang! Kemarilah kukenalkan pada temanku." Ucap Raja seraya melambaikan tangan menyuruh Maya untuk mendekat.
Maya menurut, ia mendekat pada suaminya sembari segera mengahapus air mata yang sempat membasahi pipinya sebelum Raja menyadarinya.
Maya menatap lelaki didepannya dengan seksama, ya yang bersama suaminya itu seorang laki-laki, bukan wanita seperti yang ada dipikirannya. Maya tersenyum kecil seraya menggelengkan kepalanya merutuki pikiran bodohnya.
"Sayang, kau kenapa? Apa kepalamu pusing?" tanya Raja khawatir melihat istrinya menggeleng-gelengkan kepala.
"Oh...tidak! Aku baik-baik saja, Sayang." Sanggah Maya. Ia tersenyum untuk meyakinkan suaminya.
"Syukurlah kalau begitu, kenalkan ini Adrian Asisten sekaligus sahabatku saat di New York." Ucap Raja. "Ian, ini istriku, Maya yang kuceritakan padamu." Imbuhnya pada lelaki di sampingnya.
"Adrian, senang berjumpa dengan Anda Nona." Ucap Adrian dengan bahasa Indonesia yang masih begitu kaku, seraya mengulurkan tangannya.
Maya menyambut tangan pria itu. "Maya, senang bertemu denganmu juga." Ucapnya tersenyum ramah.
"Kau beruntung mendapatkan istri yang cantik dan juga baik seperti dia, Ja!" Ucap Adrian.
"Aku memang merasa sangat beruntung." Timpal Raja sembari menatap sang istri.
"Baiklah, aku tak bisa lama-lama karena masih ada pekerjaan." Ucap Adrian kemudian. "Cepat sembuh, Ja! Dan semoga kalian selalu bahagia." Sambungnya.
"Aamiin" Ucap Maya dan Raja bersamaan.
"Aku pamit, ya!" Ucap Adrian yang diangguki oleh Raja.
Maya menatap punggung lelaki itu hingga menghilang di balik pintu, "Mas, kenapa temanmu itu memanjangkan rambutnya sampai sepanjang itu?" tanya Maya tanpa mengalihkan pandangannya. "Bikin salah paham aja." Keluhnya pelan tapi terdengar jelas di kuping Raja.
"Memangnya siapa yang salah paham? Kamu?" ucap Raja balik bertanya.
Maya mengangguk. "Kupikir dia wanita, apalagi tadi dia menyuapimu." Aku Maya.
Raja tertawa kecil. " Dan kamu cemburu?" tanyanya pada sang istri. Dengan polosnya Maya kembali mengangguk pelan dengan wajah memerah.
__ADS_1
"Adrian memang suka memanjangkan rambutnya sejak kuliah dulu, dan aku tak bisa melarangnya meski sekarang dia bawahanku, ya selama itu tidak mengganggu kinerjanya aku tidak masalah." Ucap Raja.
" Kami sudah bersahabat cukup lama jadi kami memang cukup dekat. Dan tadi dia memaksaku makan jadi aku tidak enak menolaknya." Tuturnya lagi.
Raja menatap lembut istrinya, dan mengelus pipi wanita itu. "Kau tak perlu khawatir, sekalipun ada banyak wanita disekelilingku, bagaimana mungkin aku akan berpaling jika di sampingku sudah ada istri yang begitu sempurna sepertimu." Ucap Raja membuat pipi gadis itu merona dengan bibir melengkung sempurna.
"Darimana kau belajar menggombal seperti itu, Huh?" ucap Maya tersipu.
"Itu dari lubuk hatiku, Sayang. Bukan gombalan," Ucap Raja membuat gadis itu semakin merona.
"Iya deh percaya." Ucap Maya menyerah. Wanita itu kembali menatap suaminya."Mas, aku punya kejutan untukmu." Ucap Maya seraya menyodorkan sebuah amplop berwarna putih berlogo rumah sakit padanya.
Kening Raja berkerut. "Apa ini?" tanyanya.
"Bukalah!"
Raja membuka amplop itu, di dalamnya ada sebuah foto hasil usg yang membuatnya segera membuka secarik kertas lain yang berada di dalam amplop itu.
Dengan tangan bergetar ia membaca satu persatu kata di kertas itu dengan teliti, lalu menatap Maya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Ini...? Ka...kamu hamil, Sayang?" tanya Raja.
Maya mengangguk sembari tersenyum, membuat lelaki itu menghambur memeluknya. "Terima kasih, Sayang!" Ucapnya. "Kau sudah memberiku banyak kebahagiaan. Aku berjanji akan menjaga kalian berdua dengan segenap jiwaku." Sambungnya, sambil mengecup puncak kepala Istrinya.
"Tapi anehnya kenapa justru kamu yang merasakan gejala kehamilan?" keluhnya.
"Mungkin Tuhan tahu kalau aku sangat mencintaimu dan tak bisa melihatmu kesakitan, atau mungkin Tuhan ingin aku lebih peka terhadap perasaanmu dan lebih menyayangimu itu sebabnya Tuhan membuatku merasakan semua ini." Ucap Raja membuat sang istri melonggarkan pelukannya dan menatapnya dalam.
"Terima kasih karna sudah mencintaiku, dan terima kasih sudah jadi suami terbaik untukku." Ucap Maya sambil kembali mengeratkan pelukannya.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Hari sudah memasuki jam makan siang ketika Mami Maura diantar oleh Papi Rendy datang menjenguk Raja di rumah sakit.
"Bagaimana keadaanmu, Sayang?" tanya Mami Maura khawatir.
"Aku sudah baik-baik saja, Mam. Lagipula dokter bilang ini adalah hal yang normal." Ucap Raja, membuat semua orang mengkerut.
"Normal?" tanya Papi Rendy.
"Kami punya kejutan untuk Mami dan Papi." Ucap Raja. "May, berikan hasil tes itu pada Mami." Imbuhnya lembut pada sang istri.
Maya memberikan hasil tes kehamilannya pada Mami Maura yang langsung dibuka oleh ibu mertuanya itu.
__ADS_1
Mami Maura tersenyum begitu membaca isi kertas itu. "Kamu hamil, Sayang? Selamat ya, Nak." Ucap Mami Maura sembari memeluk menantunya. "Mami bahagia sekali."
"Selamat ya, Nak! Papi benar-benar bahagia karena dalam tahun ini rumah kita akan segera ramai oleh kehadiran bayi-bayi kecil." Ucap Papi Rendy beralih memeluk Maya.
"Terima kasih, Mi, Pi." Ucap Maya. "Dan maaf, karena kehamilan ini malah menyusahkan putra kalian." Sambungnya.
"Kenapa harus minta maaf, Nak. Bukankah itu bagus? Dulu Papimu juga mengalaminya." Ucap Mami Maura.
"Benarkah?"
"Iya, dan bahkan lebih parah dari ini." Ujar Mami lagi. "Jadi Raja, kau tak boleh mengeluh." Sambung Mami Maura.
"Siap, Mi."
Suara handle pintu yang terbuka membuat semua orang mengalihkan perhatiannya. Dan ternyata itu adalah Za dan Inder.
"Kakak bagaiman keadaannmu?" tanya Queenza khawatir, dengan dibantu sang suami wanita hamil itu mendekat keranjang kakaknya.
"Aku baik-baik saja, Queen." Ucap Raja.
"Tenang saja, Sayang. Kakakmu baik-baik saja, dia mengalami Syndrome cauvade yang membuatnya seperti ini." Ucap Papi Rendy menjelaskan.
"Syndrome Cauvade? Itu berarti..." Za tak melanjutkan kata-katanya, ia justru mengalihkan pandangannya pada Maya.
Maya tersenyum seraya mengangguk, seolah mengerti arti tatapan penuh tanya adik iparnya itu.
Za menghambur memeluk kakak iparnya. "Selamat, Ya May! Aku benar-benar bahagia untuk kalian." Ucapnya sungguh-sungguh.
"Terima kasih, Za." Ucap Maya.
"Selamat Maya, Raja." Ucap Inder.
"Terima kasih, Inder."
Mami Maura tersenyum lebar, tak ada yang lebih membahagiakan dari ini, putra dan putrinya kini sudah mendapatkan kebahagiaannya masing-masing.
Setelah banyak cobaan dan musibah yang di rasakan keluarganya, kini Tuhan memberi mereka kebahagiaan yang berlipat ganda, semoga kebahagiaan ini tak akan pernah berakhir. Harapnya dalam hati.
Assalammualaikum, Maaf ya baru bisa up
๐
__ADS_1
Makasih untuk semua yang mendukungku sampai Bab ini, cuma tinggal satu bab lagi, yang akan ku publish nanti siang.
Makasih banyak untuk semua yang masih stay di novel remahanku ini๐ dan maafkan bila masih banyak kekurangan dalam tulisanku.