Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Aku menyerah (Alika)


__ADS_3

Alika terbangun dari tidurnya saat hari sudah mulai gelap, Ia meringis merasakan sakit dilututnya yang mulai terasa lagi.


Alika meraih ponsel diatas nakas lalu menyalakannya sebuah pesan muncul dilayar ponselnya.


pesan dari Queenza.


📩 : "Maaf, Al. Mendadak Kakak mengajakku pergi! Dan aku tak ingin mengganggu istirahatmu untuk sekedar berpamitan.


Jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa menelpon dengan telpon yang ada disebelah lampu tidurmu. Tekan 1 untuk menyambungkan pada kepala pelayan,


Oh, Ya obatmu kutaruh dilaci. Jangan segan menghubungiku kalau terjadi sesuatu yang mendesak."


Ia tersenyum membaca pesan panjang dari sepupunya, kemudian membalas dengan kata "ok" agar sepupunya itu tak menghawatirkannya.


Alika meraih telpon rumah dan menekan dial satu sesuai arahan Queenza, ia merasa sangat haus saat ini sementara kakinya masih terasa sakit jika dipaksa berjalan.


"Iya, Nona! Apa anda membutuhkan sesuatu?" Ucap suara di ujung telpon.


"Bisa tolong bawakan segelas air putih kekamarku?"


"Baik Nona, segera saya bawakan."


"Terima kasih." Ucapnya lalu mengakhiri panggilan itu.


Ia kembali duduk disisi ranjang, namun keinginan untuk buang air kecil membuatnya memaksakan diri untuk turun dan berjalan tertatih menuju kamar mandi.


Baru saja ia menurunkan kakinya dan melangkah pelan, secara tak sengaja kakinya terantuk nakas disebelah tempat tidurnya.


"Awwwww"


🌺🌺🌺🌺


Reihan baru saja masuk ke rumah setelah memastikan keadaan di sekitar rumah aman.


Tuan mudanya memberikan tanggung jawab untuk menjaga rumah ini beserta isinya padanya selama sang Tuan muda pergi membawa adiknya untuk bertemu orang tuanya.


Terkadang ia sendiri tak mengerti dengan cara Raja menyayangi Queenza, lelaki itu rela melakukan apapun untuk gadis itu padahal gadis itu bukan adik kandungnya. Atau mungkinkah Tuan mudanya itu punya perasaan lain pada gadis itu?

__ADS_1


Ahhh ia menggelengkan kepala menepis semua pikirannya, tak seharusnya ia memikirkan hal diluar apa yang di tugaskan padanya.


Ia menuju dapur untuk mengambil air minum, ia terbiasa melakukan semuanya sendiri.


"Tuan." Sapa kepala pelayan dengan hormat padanya.


"Air itu untuk siapa?" Tanyanya melihat sang kepala pelayan membawa nampan berisi segelas air putih.


"Ini untuk Nona Alika, Nona muda meminta saya yang melayani sepupunya secara langsung." Jawab pelayan.


"Kalau begitu biar aku saja yang mengantarnya, kau siapkan makanan lalu antarkan kekamar Nona Alika."


"Baik Tuan!"


Reihan melangkahkan kakinya menuju kamar tamu tempat Alika berada, Ia baru akan mengetuk pintu ketika mendengar suara pekikan yang berasal dari dalam kamar "Awwww"


ia langsung membuka pintu dengan cepat begitu mendengar pekikan dari dalam kamar. Dan mendapati Alika sedang meringis menahan sakit sambil memegangi kakinya.


"Astagaaa, kau kenapa?" Ucap Rei panik, ia menaruh nampan berisi air diatas nakas, lalu membantu gadis itu kembali ketempat tidurnya.


"Kamu mau kemana, sih? Kenapa tidak minta tolong padaku." Ucap Reihan.


"Ya sudah, ayo kubantu."


Alika tak menolak saat Reihan memapahnya menuju kamar mandi. Lagi pula apa yang bisa dia lakukan, kakinya masih terasa ngilu jadi ia hanya bisa pasrah, ia juga menurut saat Rei memapahnya dan mendudukkannya di sofa kamar itu.


"Makanlah! Kau belum makan dari sore tadi." Ucap Reihan, dengan lembut.


"Terima kasih." Ucapnya.


Alika mengambil makanan yang di berikan oleh Reihan, dan mulai memakannya.


Reihan memperhatikan Alika, membuat gadis itu sedikit merasa tidak nyaman. "Kenapa, menatapku begitu?" Tanyanya ketus.


Reihan hanya tersenyum, kemudian menggeleng. "Tak ada!" Jawabnya.


"Ini sekarang minumlah obatmu!" Ucapnya lagi, sembari menyodorkan obat dan segelas air putih yang tadi dibawanya.

__ADS_1


"Terima kasih."Ucap Alika, membuat pria itu terkekeh kecil. "Kenapa tertawa?" Tanya Alika lagi.


"Kenapa kau terus berterimakasih, padaku? Bukankah di dalam persahabatan tidak ada kata terima kasih." Ucap Reihan.


Alika mendengus kesal. "Persahabatan? Bukankah apa yang kau lakukan padaku selama ini hanyalah sebatas melaksanakan tugas dari Tuan mudamu? Jadi persahabatan apa yang kau bicarakan?" Sindirnya dengan nada dingin. Entahlah tapi ia sungguh masih kesal pada lelaki didepannya ini.


"Apa kau tidak bisa memaafkanku, Alika? Tak bisakah hubungan kita membaik seperti dulu? Seperti sebelum kau tau jati diriku yang sebenarnya."


"Aku tau kau kecewa padaku, karena aku pernah memanfaatkanmu untuk mengorek informasi tentang Queenza dan aku minta maaf untuk itu! Tapi tak bisakah kita kembali dekat seperti dulu, berteman lagi seperti saat pertama kita bertemu." Ucap Reihan dengan wajah yang sendu.


Alika membuang muka kesembarang arah, "Tak ada pertemanan yang benar-benar tulus diantara lelaki dan perempuan, Rei." Ucapnya. Ia menghela nafas sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Mereka bisa dekat hanya karena ada perasaan atau unsur saling menguntungkan!"


"Lalu bagaimana dengan pria itu? Apa yang mendasari kedekatan kalian? Perasaan atau unsur saling menguntungkan?!" Cibir Reihan membuatnya menatap lelaki itu.


"Pria mana yang kau maksud?" Tanyanya bingung.


"Pria mana lagi, tentu saja pria yang mengantarmu pagi tadi. Ada hubungan apa diantara kalian berdua?" Sungut Rei lagi.


Melihat sikap yang ditujukan oleh Reihan membuatnya bertanya-tanya dalam hatinya. "Apa yang Rei maksud adalah Rega? Dan kenapa dia terlihat sangat kesal begitu? Apa dia cemburu pada Rega?" Batin Alika namun segera ia tepis.


"Tidak Alika, jangan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, jangan menyimpulkan sesuatu yang belum jelas!" Alika terus bertanya-tanya dalam hatinya, hingga suara Reihan menyadarkannya.


"Alika, aku bertanya padamu?"


"Emhh kenapa?" Jawabnya linglung.


"Apa hubunganmu dengan manager artis itu?" Tanya Reihan.


"Kurasa itu bukan urusanmu!" Jawabnya dingin.


"Tentu saja jadi urusanku, kau sepupu Nona mudaku, dan sudah menjadi tugasku untuk menyelidiki dan memastikan keamanan orang-orang disekitar Tuan dan Nona mudaku."


Alika tersenyum getir, "Ya, kau melakukan itu karena tugas, harusnya aku tau." Terselip rasa kecewa dalam suaranya.


"Padahal aku sempat berharap kau bertanya karena cemburu, Rei! Cukup sudah aku tak mau berharap lagi padamu." Batin Alika.

__ADS_1


Alika menatap lelaki didepannya, "Hubunganku dengan Manager artis itu adalah urusan pribadiku, dan kau tak berhak ikut campur!" Ucap Alika tegas.


"Aku menyerah, Rei! Mulai saat ini aku akan membunuh perasaanku padamu secara perlahan."


__ADS_2