
"Oh ya, Nak. Tante belum tau namamu, Siapa namamu?"
"Nama ku...Za! Tante bisa memanggilku Za." Ucap Queenza.
Inder sedikit heran mengapa gadis itu tak menyebutkan nama panjangnya. Tapi ya sudahlah, mungkin memang gadis itu lebih nyaman dipanggil dengan nama itu.
"Baiklah, Za. Tante menunggumu besok untuk makan malam di rumah kami." Ujar Mami Maura. Za hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
"Kalau kau tak ingin pergi, aku bisa bilang ke mereka kalau kau sedang banyak pekerjaan." Ucap Inder, merasa ada yang tidak beres pada gadis itu.
Za menggeleng, "Aku akan memenuhi undangan mereka."
đş đşđş
Hari menjelang malam ketika syuting selesai, Queenza lebih banyak diam selama perjalanan dan itu tak luput dari perhatian Inder.
"Kenapa ia selalu terlihat sedih setiap bertemu dengan mereka?" Batin Inder.
đşđşđş
Esoknya sepulang syuting Inder membawa Queenza ke butik kakaknya, Ivana.
Queenza yang menyadari jalan yang di lalui bukan jalan menuju rumah membuatnya bertanya. "Kita mau kemana, Inder?"
"Cari baju, buat malam ini." Jawab Inder.
"Apa itu tak terlalu berlebihan? Aku masih ada banyak baju di rumah, tak perlu beli baju baru untuk sekedar makan malam saja."
Inder menggeleng, "Kau harus tampil sempurna malam ini, Za! Aku tak mau kalau sampai Friska menghinamu lagi."
Queenza tak lagi menimpali ucapan sahabatnya itu, Ia diam mencoba untuk mengendalikan rasa di hatinya.
Akhirnya mereka sampai di sebuah butik yang cukup besar, begitu membuka pintu mereka di sambut ramah oleh pegawai butik.
Para pengunjung butik yang menyadari kehadiran Inder juga langsung mengerubuti pria itu, meminta tanda tangan juga meminta berselfi dengannya. Queenza sampai kewalahan menghalau mereka, beruntung para bodyguard sigap hingga semuanya bisa kembali terkendali.
"Aduhhhh kenapa gak nelpon dulu sih, kalau mau kesini. Jadi pada heboh kan." Keluh, Ivana.
"Bukan salahku kalau mereka mengagumiku, siapa yang tak akan menyukai wajah tampan ini?" Ujar Inder, percaya diri.
Ivana memutar bola matanya, jengah dengan kenarsisan adiknya itu. "Dasar narsis." Queenza hanya tersenyum melihat interaksi keduanya, dari cara mereka berbicara sepertinya mereka sangat dekat.
"Za, kenalkan ini kakakku tersayang, namanya Ivana." Ucap Inder mulai memperkenalkan mereka berdua.
__ADS_1
Ivana tersenyum ramah saat Za mengulurkan tangan dan memperkenalkan dirinya, "Hai, Aku Ivana. Kakaknya Inder." Ucapnya menyambut uluran tangan Za.
"Senang bisa bertemu dengan anda nona." Ucap Za.
"Oh ayolah, jangan bicara terlalu formal denganku, dan juga jangan menyebutku Nona. Panggil namaku saja Ivana."
"Tapi... itu terdengar tidak sopan."
"Kalau begitu panggil aku kakak, ok! Agar gelar kakak yang ku sandang sejak lahir tak mubazir, karna adik ku itu tak mau menyebutku kakak." Ujar Ivana dengan wajah di buat sedih.
Za tersenyum, wanita di depannya ini sangat ramah persis seperti Inder dan juga ayahnya. "Baiklah, Kak Vana." Ucapnya sedikit canggung.
"Bagus, sepertinya kau akan jadi adik ipar yang menyenangkan." Ucapnya membuat Za, mengernyit tak mengerti.
"Adik ipar?" Tanya Za.
"Jangan dengarkan dia, Za. Dia memang selalu begitu setiap aku membawa perempuan kemari." sanggah Inder, "Mbak, tolong bantu teman saya untuk mencari pakaian yang cocok, ya." Seru nya kemudian, memanggil salah satu karyawan kakaknya.
Za terlihat kikuk, "Ikutlah dengannya, Za. Kita tak punya banyak waktu." Ujar Inder lagi.
Gadis itu menurut, ia mengekor di belakang pelayan yang membawanya menyusuri jajaran pakaian mewah di butik itu.
Mata Inder tak pernah lepas dari gadis itu, dan Ivana menyadarinya. "Bukankah dia adalah gadis itu?" Tanyanya, sembari duduk di sofa yang Inder duduki.
Inder menatap sekilas kakak yang lebih seperti temannya sendiri, karena perbedaan usia mereka yang tak begitu jauh. "Rega yang cerita?" Katanya balik bertanya.
Inder menggeleng."Belum saatnya, tapi aku sudah mengenalkannya pada ayah, sebagai asistenku." Ucapnya sedikit terkekeh, tanpa mengalihkan pandangan dari gadis yang tengah memilih gaun itu.
"Sepertinya kau belum menyatakan perasaanmu padanya? Benar kan?" Tanya Ivana lagi, Inder tak menjawab.
"Huh. Payah." Cibir kakaknya lagi, membuatnya beralih menatap kakaknya tajam.
"Kau bilang apa barusan?"
"Kalian sudah tinggal bersama selama berbulan-bulan, kau pasti punya banyak kesempatan untuk menyatakan perasaanmu, tapi kau tidak memanfaatkannya, apalagi namanya kalau bukan payah?"
"Kau tidak akan mengerti, Vana. Queenza tak seperti gadis lainnya, dia sangat tertutup." Ucapnya getir.
"Kau tahu Vana? Berbulan-bulan tinggal bersamanya tak membuatku bisa mengenalnya dekat, sampai saat ini aku bahkan belum tahu apa-apa tentang dirinya. Aku hanya tau dia terpaksa merantau kekota ini untuk mencari uang, karena ibunya sedang sakit keras dan ayahnya sudah tiada. Sebatas itu! dia tak pernah bercerita apapun padaku."
Ivana diam, entah mengapa ia sedikit iba pada adik bungsunya ini.
"Hei, jangan memandangiku seperti itu! Aku tidak semenyedihkan itu, Ya... aku hanya harus berusaha lebih keras untuk membuatnya nyaman denganku, Iya kan." Ucap Inder.
__ADS_1
Ivana mengangguk. Pertama kalinya ia melihat Inder begitu menginginkan seorang gadis, hingga nekat membuat gadis itu tinggal serumah dengannya.
"Kau sudah mendapatkan yang kau inginkan?" Tanya Inder begitu melihat Za berjalan mendekat padanya.
"Apa menurutmu ini cocok?" Ucap Za, sembari memperlihatkan gaun yang ia pilih.
"Seleramu bagus, Za. Ini akan terlihat cantik saat kau kenakan." Puji Ivana. "Ayo! Aku akan membantumu bersiap." Ucap Ivana lagi. Za melirik pada Inder seolah meminta persetujuan.
"pergilah dengannya, Za. Dia akan membuat tampil sempurna malam ini." Ucap Inder, yang diangguki oleh Za.
"Sebaiknya kau juga bersiap Tuan artis, kau juga harus tampil sempurna malam ini." Ucap Ivana lalu menarik tangan Za untuk mengikutinya.
Ivana membawa Za kesebuah ruangan Khusus tempatnya menjamu para tamu Vip nya, tak semua orang bisa dirias olehnya secara langsung, dan saat ini Ivana begitu antusias untuk merias gadis cantik pilihan adiknya ini.
"Kau sudah lama mengenal Inder?" Tanya Ivana, memulai obrolan disela aktivitasnya membubuhkan make up di wajah Za.
"Mungkin, sekitar enam bulan sejak pertemuan pertama kami." Jawab, Za. Ia tertawa kecil mengingat kekonyolannya waktu itu.
"Kenapa?" Tanya Ivana melihat ekspresi, Za. "Apa pertemuan pertama kalian tidak menyenangkan?" Tanyanya penasaran.
"Hanya sedikit lucu, aku sempat mengira Inder seorang penjahat." Ucapnya.
"Benarkah? Bagaimana bisa, kau berpikir begitu? Apa kau tidak mengenalnya saat itu?"
"Dia memakai masker, topi dan juga jaket hitam, Kak. Dan dia terus mengatakan kalau ada yang mengejarnya, bagaimana aku tidak berpikiran buruk padanya."
Ivana tertawa, "Lalu apa yang terjadi?"
"Dia membuak maskernya, tapi saat itu aku memang tidak mengenalnya, jadi aku tetap takut." Ucap Za.
"Ya ampun... sepertinya hanya kamu yang tidak mengenal Inder di kota ini, Za."
"Dia juga mengatakan hal itu padaku." Ucap Za. " Tapi... memang saat itu aku baru sampai di kota ini, dan saat didesa dulu aku tidak pernah di ijinkan menonton tv, jadi aku tak tahu mengenai artis-artis seperti itu."
"Tidak diizinkan menonton tv, kenapa?" Tanya Ivana lagi, wajah Za yang tadinya ceria berubah sendu mengingat alasan dirinya di larang menonton tv atau media apapun oleh sang Bunda.
Ivana menyadari itu, membuatnya tak lagi bertanya. "Inder benar! Gadis ini sangat tertutup kalau menyinggung masalah pribadinya, sepertinya ia menyimpan beban yang cukup berat." Batin Ivana.
"Selesai." Ucap Ivana, membuyarkan lamunan Za. "Ayo kita tunjukan pada boss mu itu."
Za hanya menurut, ia melangkah kembali keruangan tadi, Inder sudah berpakaian rapi dan menunggu dirinya.
"Lihatlah Inder, bagaimana menurutmu?" Tanya Ivana.
__ADS_1
Inder menoleh, ia menatap Za tak berkedip membuat Queenza menunduk malu di perhatikan seperti itu.
"Dia Cantik... Sempurna."