
Queenza meninggalkan taman kenangan itu, menyusuri jalanan tempat ia dan Maminya sering lewati dulu.
Hari ini ia ingin bernostalgia, dengan menyusuri setiap tempat yang dulu sering ia datangi bersama keluarganya. Sebelum esok hari ia akan mulai mencari pekerjaan
Perut yang mulai keroncongan membuatnya berhenti di sebuah restoran seafood.
Restoran langganan keluarganya yang masih berdiri kokoh hingga sekarang.
"Aku tak pernah menyangka, akan duduk dan makan disini sendirian." Gumamnya pelan.
Hari ini benar-benar ia pergunakan dengan bernostalgia. Taman kota, Resto, bahkan hingga ke dufan ia sambangi. Untuk sekedar mengenang masa kecilnya dulu.
Dan ia putuskan pulang ke kontrakkan Alika menjelang malam agar sepupunya itu tak khawatir.
đşđşđş
Sementara itu, di belahan bumi lainnya Raja baru saja kembali ke Apartemen mewahnya.
Baru saja pria itu ingin merebahkan diri untuk melepas penat, sebuah panggilan mengharuskannya kembali bangun.
Nama seseorang yang ia kenal terpampang di layar ponsel membuatnya segera menggeser icon hijau di benda pipih itu.
"Apa kau akan memberiku kabar baik malam ini?" Ucapnya tanpa basa-basi.
" Kami sudah menemukan jejak wanita itu, Tuan. dia berada di pelosok barat kota Bandung."
"Dia berada tak jauh dari kota ku berasal dan kalian membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun untuk menemukannya? Lelet sekali cara kerja kalian." Hardiknya.
"Maafkan kami, Tuan."
"Ya sudah, Saya akan segera kembali ke indonesia pastikan kalian sudah menemukan orang yang saya cari itu."
Dan ia langsung menutup telpon itu tanpa menunggu jawaban dari sebrang telpon.
Raja mengambil sebuah Foto dari laci. Bibirnya melengkung, menatap foto masa kecilnya itu.
" Aku akan menemukanmu, Queen! Dan aku akan menepati janjiku untuk membawamu kembali."
đşđş
Queenza
__ADS_1
Gadis itu menghela nafas panjang. Lelah. Ini hari pertama ia mencari pekerjaan, dan sudah beberapa cafe dan Resto ia datangi namun hasilnya masih nihil. Keberuntungan masih belum berpihak padanya.
hari yang sudah beranjak sore membuatnya memutuskan untuk pulang. ia mencegat sebuah taksi, lalu masuk kedalamnya.
Namun saat hendak menutup pintu taksi itu sebuah lengan kokoh menahan pintu taksi, disusul dengan masuknya orang asing berjaket hitam, topi dan memakai masker.
" Jalan pak!" Seru orang itu.
" Eh.. tunggu dulu." Ujarnya heran. " Saya duluan masuk ke taksi ini, seenaknya saja kamu nyerobot masuk." gerutunya.
" Jalan sekarang, pak. saya bayar tiga kali lipat kalau bapak mau jalan sekarang." Ujar pria itu mengabaikan protes Queenza.
"Jangan, Pak. saya yang duluan masuk ke taksi bapak, jadi bapak harus nurutin saya!" Ucap Queenza tak mau kalah.
Sopir taksi itu menatap mereka secara bergantian.
" Lima kali lipat." kata pria itu lagi, dan sepertinya berhasil membuat si sopir taksi itu langsung tancap gas meninggalkan tempat itu.
" Uang mengalahkan segalanya." Keluh Queenza dalam hati.
"Mau diantar kemana, mas, mbak?" Tanya supir taksi itu setelah beberapa saat melajukan kendaraannya.
"Komplek Mentari."
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Ucap pria itu kemudian.
"Apa kau tak bisa mencari taksi lain? hingga harus memaksa masuk taksi yang sudah ku tumpangi?"
" Tadi itu urgent, kalau aku harus mencari taksi dulu, mana bisa aku kabur dari mereka." Ucap Pria itu tanpa merasa bersalah.
"Kabur?" gumamnya. Ia menatap pria itu curiga. "Jaket hitam, topi, dan juga memakai masker." Queenza terus memperhatikan gerak-gerik pria di sebelahnya. Dan apa yang ia katakan tadi? Kabur? Kabur dari siapa? Dan kenapa dia harus kabur?
"Aku sudah menyamar seperti ini, masih saja mereka mengenaliku, sial!" Gerutu pria itu.
Queenza menatap pria di sebelahnya penuh selidik, banyak pertanyaan berputar di otaknya mendengar gerutuan pria itu. membuatnya mengeluarkan dugaannya lewat sebuah pertanyaan.
"Apa kau penjahat?" Tanya yang seharusnya tidak lolos dari bibirnya. Karena kini lelaki itu menatapnya tajam.
"Kau bilang apa barusan?"
"Kau memakai jaket hitam, topi dan juga menutupi wajahmu dengan masker, kau masuk terburu-buru ke taksiku, melakukan penyamaran, lari kejaran seseorang, bagaimana aku tidak berpikir kalau adalah penjahat yang sedang melarikan diri, Atau apa kau buronan?" Ucapnya mengeluarkan segala analisanya sepanjang perjalanan.
__ADS_1
Lelaki itu tak menjawab, malah membuka masjer dan juga topinya, membuat bukan hanya dia tapi juga sopir didepan yang kini melongo melihat wajah tampan di balik masker itu.
"Sekarang kau masih berpikir kalau aku penjahat?" Tanyanya, dengan senyum memikat.
"Walah... mas Ivander, mimpi apa saya semalam bisa bawa penumpang seperti mas ivander." Ujar sopir taksi dengan penuh kekaguman, membuatnya bertanya bingung.
"Bapak kenal dia?" Tanyanya, si pak sopir
mengangguk. "memangnya siapa yang tidak kenal sama mas Ivander? Saya boleh minta tandatangannya, ya, mas. Anak saya penggemar beratnya mas lho." sambung sopir itu panjang lebar.
"Tentu, pak." Ucap pria itu tanpa mengalihkan pandangan dari nya. Membuatnya mengalihkan pandang keluar jendela taksi.
"Wahhhh makasih, lho mas. Anak saya pasti seneng banget ini." Si pak sopir masih saja berceloteh ngalor ngidul.
"Jadi sekarang kau masih berpikir aku penjahat?"
Ia menggeleng.
"Baguslah." Kata pria itu lagi.
"Kau tak ingin meminta tanda tanganku? atau meminta berselfi denganku?" Katanya lagi, membuatnya menoleh.
"Kenapa aku harus melakukannya?" Cibirnya.
"Kau tidak tahu siapa aku?"Ia menggeleng. Membuat kedua alis pria itu berkerut, tak percaya.
"Memangnya kau siapa?"
"Ivander kamal prasetya, Sekarang kau sudah tau kan?"
"Oh."
"Hanya Oh?"Kata pria itu lagi.
"Lalu aku harus bagaimana? berteriak histeris begitu tahu nama lengkapmu?" Ucapnya, lelaki itu menatapnya seolah tak percaya dengan ucapannya barusan. "Seperti kau orang penting saja."
"Kau sungguh tidak tahu siapa aku? Kau berasal dari planet mana, hingga tak tahu siapa aku?"Sungut pria itu, membuatnya memutar bola matanya.
"Memang harus, ya? Memang kau ini presiden hingga aku harus mengenalmu."
Queenza bisa melihat lelaki itu tertawa kecil.
__ADS_1
"Kau tau? Kau orang pertama yang tidak mengenaliku di kota ini! Dan asal kau tau kau bisa masuk rekor MURI karena itu."