
Queenza, sudah hampir seminggu ia dirawat di rumah sakit ini, hari ini ia diperbolehkan pulang. Ia hanya bisa memandang Alika yang sedang membereskan pakaiannya sementara sang kakak sedang mengurus administrasi untuk kepulangannya.
Ada sesuatu yang masih menganggu pikirannya, Inder... dimana pria itu?
sejak terakhir bertemu dengannya saat ia baru saja sadar, lelaki itu tak pernah menemuinya lagi.
"Apa Inder sedang sangat sibuk ya, Al? Sampai dia tidak bisa menjengukku lagi." Akhirnya pertanyaan yang tersimpan di hatinya itu ia keluarkan juga.
"Iya, sepertinya begitu. Kau tentu lebih tau sepadat apa jadwalnya." Jawab sepupunya.
Ia tak bicara lagi. Alika benar seharusnya dia lebih tau sesibuk apa pria itu.
Alika mendekat padanya, "Kenapa? Apa kau mulai merindukannya?" Goda sepupunya itu dengan menaik turunkan kedua alisnya.
Ia terkekeh, "Apa maksudmu?"
"Mengaku saja kau mulai meridukannya, kan? kalau kita merasa ada yang hilang saat seseorang tak ada di dekat kita, dan kita Sangat berharap bertemu dengan orang itu, berarti kita merindukan orang itu." Ucap Alika.
"Sok tau!"Cibirnya. "Mungkin karena selama beberapa bulan belakangan ini, aku selalu bersamanya, jadi rasanya aneh saat tak melihat dirinya."
"Ya, itu namanya Rindu." Ucap Alika lagi.
"Lalu apa yang salah jika aku merindukan sahabatku?" Tanyanya.
"Ya... tak ada, eh berarti kau mengakuinya kan, astagaa... Za, ku akhirnya merindukan orang lain selain keluarganya." Ucap Alika sumringah, sambil memeluk tubuhnya.
"Kau sangat berlebihan, Al. bukankah aku juga merindukanmu kalau kau tak ada di dekatku?"
"Itu berbeda, sayang."
Queenza baru akan membalas Alika, namun ia urungkan saat melihat seseorang muncul dari balik pintu.
"Sudah siap?" Ujar Raja.
Keduanya mengangguk, "Aku sudah membereskan semuanya, kita bisa pulang sekarang!" Ucap Raja lagi.
đşđşđşđş
Alika membantu membawakan tas berisi pakaian Queenza, tapi seorang bodyguard mengambil alih tas itu, jadilah ia hanya mengekor di belakang adik, kakak itu.
__ADS_1
Ia menatap punggung sepupunya dengan penuh rasa bersalah, "Andai aku bisa memberitahu apa yang sebenarnya terjadi , Za. Maaf tapi Rega memintaku untuk merahasiakannya Darimu."
Mereka sampai di mobil yang akan membawa Za dan Raja. Tadi Raja sudah mengatakan akan membawa Za ke tempat masa kecil mereka dulu.
"Maaf, aku hanya antar sampai mobil ya." Ujarnya pada Za.
"Kenapa?" Tanya Za, heran.
"Tadi aku di telpon oleh bos, aku harus segera ke resto." Ucap Alika berbohong.
"Ya sudah biar kami antar kamu kesana." Ucap Raja.
Ia segera mengatakan tangannya " Tidak perlu repot-repot kak, aku akan pergi sendiri, kalian bisa langsung pergi jangan lupa kabari aku nanti."
"Baiklah, kalau begitu kami duluan."
Alika melambaikan tangannya, ia segera kembali masuk kedalam untuk menjenguk Seseorang.
Ingatannya kembali pada satu minggu yang lalu saat ia merasa melihat Rega, berlari panik memanggil dokter.
Flashback On.
Dugaannya benar, ia memang tidak salah lihat. Rega, pria yang ia lihat tadi sedang berdiri cemas di depan pintu ICU.
"Sedang apa kau disini? Siapa yang sakit?" Tanyanya, membuat lelaki itu menoleh padanya.
Namun sebelum lelaki itu menjawab, seorang wanita menghampiri mereka dan langsung memeluk pria itu.
"Kenapa semua ini bisa terjadi, Ga?" Ucap wanita itu terisak. "Dia tau kondisinya tapi kenapa masih nekat juga, astagaaa apa yang akan terjadi padanya nanti, Ga."
"Tenanglah, Vana. Dia kuat, dia pasti baik-baik saja." Ucap Rega sembari mengelus rambut wanita yang ada di pelukannnya itu.
Sementara ia hanya bisa menatap interaksi mereka dengan perasaan yang...Ahhh ia sendiri tak tau, tapi ada rasa tak nyaman melihat kedekatan lelaki itu dengan wanita lain.
Rega masih menenangkan Ivana yang masih terisak di pelukannya, namun matanya justru tak lepas dari dirinya yang berada didepannya yang juga tengah menatapnya.
Rega melepas pelukannya begitu merasa Ivana sudah lebih tenang.
"Duduklah, kita tunggu dokter, Ya." Ucapnya membuat wanita itu mengangguk meski masih sesegukan.
__ADS_1
Dokter keluar dari ruangan khusus itu, membuatnya, Rega, juga Ivana mendekat. "Bagaimana keadaannya, Dok?"
"Apa pasien tahu kalau tubuhnya mempunyai alergi terhadap alkohol, serendah apapun kadarnya?" Tanya Dokter. Rega mengangguk mengiyakan. sementara dirinya masih kebingungan siapa yang ada di ruangan itu.
"Lalu bagaimana bisa dia meminum nya? padahal dia tau itu akan membahayakan nyawanya?" Tanya dokter lagi.
Ia melihat pria itu menggeleng, lalu menunduk.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang, Dok? Adik saya baik-baik saja kan?" Tanya wanita di sebelahnya.
Dokter terlihat menghela nafas, "Masa kritisnya sudah berlalu, beruntung dia cepat dibawa kemari. Tapi setelah ini pastikan tak boleh ada setetespun alkohol yang masuk ke tubuhnya." Pesan dokter.
"Baik, Dok. Apa kami sudah bisa menjenguknya?" Tanya wanita itu lagi.
"Kami akan memindahkan pasien keruang rawat, baru anda bisa menjenguknya.
Ucap Dokter seraya meninggalkan mereka Bertiga.
"Vana, kau tak apa jika ku tinggal sebentar?" Tanya Rega, dan wanita itu mengangguk.
"Ikut aku. "Ucap Rega, menarik tangannya menuju tempat yang sedikit jauh dari ruangan tadi.
"Siapa yang sebenarnya sakit?" Tanyanya masih penasaran.
"Inder."Ucap Rega, seraya menghela nafasnya. "Dia meminum dua gelas minuman beralkohol tinggi, sedangkan sejak kecil ia sudah di vonis dokter menderita alergi parah terhadap alkohol." Lanjut Rega dengan wajah yang sendu.
"Tubuhnya akan langsung melakukan penolakan, biasanya hanya akan muntah jika dalam jumlah yang sedikit, tapi sepertinya dia sengaja ingin menyakiti dirinya sendiri. Dan sialnya aku datang terlambat kesana." Sesal Rega.
"Menyakiti diri sendiri? Tapi kenapa ia ingin melakukan itu?" Tanyanya tambah penasaran.
"Ini karena pria sialan yang bersama sepupumu, entah apa yang dikatakannya hingga Inder senekat ini." Geram Rega.
"Kak Raja maksudmu? memangnya ada apa dengan nya."
"Inder terlihat marah saat keluar dari cafe tempatnya bicara dengan Raja, dia pergi ke club, dan tentunya kau tau apa yang selanjutnya terjadi." Ucap Rega dengan berapi-api. membuatnya tak bisa lagi bicara.
"Dengar! Jangan katakan apapun pada Za, aku tak ingin dia melihat Inder seperti ini."
Flashback Off.
__ADS_1