
Queenza
Dia memutuskan pulang kembali menuju rumah kontrakkan sepupunya. Pertemuan dengan orang dari masa lalunya membuatnya tak lagi bersemangat untuk menyusuri mall.
Ia merebahkan diri di kasur sejenak, bayangan wajah Mami dan Kakaknya kembali terbayang.
"Setidaknya rinduku terobati walau pertemuan kita hanya sebentar." Gumamnya.
Queenza beranjak, menuju lemari pakaiannya. Ia memasukan pakaiannya satu persatu kedalam tas untuk di bawa ie rumah Inder nantinya.
"Mulai besok hidupku akan berubah drastis, aku akan memasuki dunia baru yang bahkan tak pernah ku bayangkan sebelumnya... Tuhan... semoga aku bisa bekerja dengan baik." Gumamnya pada diri sendiri.
đşđşđşđş
Hari sudah malam saat Inder dan Rega sampai di Rumah utama. Ahhhh rasanya sudah cukup lama mereka tak mengunjungi tempat ini.
Biasanya setiap seminggu sekali Inder akan datang kemari untuk bertemu orangtua dan kakaknya, tapi... beberapa minggu ini ia belum sempat datamg karena kesibukan yang tiada akhirnya.
Dan Malam ini setelah percakapan panjang dengan Rega tadi siang ia memutuskan untuk pulang.
Flashback Siang tadi.
Rega masih bisa tertawa melihat raut kesal Inder dan juga mendengar Keluhan yang keluar dari mulut sahabatnya itu. "Sial..Kenapa lo malah nyuruh dia kerja besok? Padahal dia bisa menemani gue hari ini juga."
Rega menggelengkan kepalanya, untuk pertama kalinya ia melihat Inder begitu tidak sabar untuk bisa bersama wanita, membuatnya sangat ingin menggoda sahabatnya itu." Sabar pak bos. Lo cuma harus sabar sehari lagi untuk bisa bersama gadis itu, untuk hari ini mungkin lo busa gabti dengan wanita yang lain dulu yang sudah mengantri sebelumnya." Godanya, membuat kepalanya mendapat jitakan dari tangan Inder.
"Emang gue, cowok macem lo. Gue ini pecinta sejati, gak seperti lo yang mudah gonta-ganti cewek."
"Gara-gara siapa gue jadi playboy kayak gini? Gara-gara lo yang sering bikin nangus anak gadis orang, jadilah pria polos ini terkena imbasnya."
"Ceh..polos." Cibir Inder.
"Tapi gue beneran kesel sama lo, Ga. kenapa lo malah nyuruh dia kerja besok? Gue yakin dia gak akan nolak kalau tadi gue suruh kerla langsung." Sambung Inder.
"Ya... mungkin dia memang tidak akan menolak, tapi.. apa lo gak mikir? kalau tadi dia bersedia, pulang nanti lo mau bawa dia kemana?" Tanya Rega.
"Ya... ke apartemen gue lah. Masalah Art gue bisa bawa salah satu pelayan nyokap." Jawab Inder enteng.
"Apa lo lupa? Apartemen lo mungkin memang luas, tapi hanya ada satu kamar disana, lalu lo mau suruh mereka tidur dimana? Si sofa?" Kata Rega lagi.
Inder terhenyak, Rega benar apartemennya hanya punya satu kamar, kemudian ia mengingat sesuatu, "Ahhh Ga.." Ia baru akan bilang, kalau ia juga mempunyai sebuah rumah tapi sepertinya juga tak bisa karena sahabatnya itu bahkan langsung menggeleng sebelum ia berkata apapun.
"Rumah lo masih dalam tahap renovasi Inder, gadis itu akan curiga kalau dibawa ke rumah yang bahkan baru sampai 50 persen." Ujar Rega memotong perkataannya.
"Jadi gue harus membawanya kemana?" Keluh Inder lagi, ia terlihat berpikir, lalu berkata."Kalau begitu, belikan gue rumah yang bisa di huni malam ini juga, Ga!"
"Eh kampret, Lo pikir beli rumah seperti cek in di hotel? Lagian kenapa lo gak izin aja ke abang lo, bukannya setahun ini rumahnya kosong, ya? Lo izin aja tinggal disana sampai rumah lo selesai di renovasi."
Inder membenarkan perkataan Rega, lagipula waktu mereka juga sempit untuk mencari rumah. Akhirnya meski dengan introgasi panjang dari sang kakak, Inder memperoleh izin untuk tingggal disana, kakaknya bahkan berjanji menyuruh orang untuk menyiapkan rumah itu.
__ADS_1
Flashback Off
Dan sekarang tinggal satu hal lagi yang harus dilakukannya, meminta izin pada Bundanya untuk bisa membawa Art ke rumahnya. Bukan dia tak sanggup mencari Art lain, tapi ia jauh lebih nyaman dengan Art yang sudah bekerja bertahun-tahun di rumah utama.
"Selamat malam, Bunda cantikku.." Sapanya begitu masuk ke ruang keluarga, yang disambut kebingungan oleh Ayah, Bunda dan juga kakaknya.
"Eh."Pekik Bundanya ketika Inder memeluk sang Bunda. "Ada apa ini, datang-datang main peluk?" Ranya sang Bunda heran.
"Apa aku sudah tak boleh memelukmu lagi, Bunda?"
"Boleh dong, justru Bunda seneng anaak Bunda manja kayak gini." Ujar Bunda Arini.
"Tapi biasanya kalau manja-manjaan gini suka ada maunya." Timpal Kakak perempuannya.
"Suudzon, lo." Sungutnya. Sembari melempar kakaknya dengan bantal yang ada di sofa.
"Kalian ini, Ya. kalau ketemu udah kayak Tom dan Jerry, berantem terus." Ucap Ayahnya.
"Dia Yah, yang nyebelin." Adu Inder
"Apaan, dasar tukang ngadu."
Rega menatap Interaksi keluarga ini dengan senyuman, inilah yamg membuatnya betah bertahan sebagai manager Inder. Rega bukanlah pemuda biasa yang kekurangan uang, jika ia mau apapun bisa ia dapatkan tanpa harus bekerja.
Tapi.... bukan uang yang ia inginkan, tapi kehangatan keluarga yang bahkan tak bisa di berikan oleh orangtuanya. Orangtuanya terlalu sibuk mengejar duniawi hingga membiarkannya kesepian.
"Rega..apa kau hanya akan berdiri disana? tak mau bergabung bersama kami?" Ucap Bunda Arini. Rega melangkah menghampiri keluarga itu, disambut gelayutan Ivana kakak perempuan Inder di tangannya.
"Katakan padaku, Ga. Apa saudaramu itu sedang kerasukan? Atau dia sedang menginginkan sesuatu dari Bunda?" Todongnya sembari menaik turunkan kedua alisnya.
"Kalau kau bicara sesuatu padanya, aku akan memotong gajimu." Ancam Inder, yang membuat semua orang terkikik geli.
"Jadi benar ada sesuatu kan, Ga?" Tanya Bundanya Antusias.
"Ayo ceritakan pada kami, Ga." Timpal ayah.
Ia menatap semua orang yang memandangnya dengan tatapan ingin tau.
"Kau lihat Inder, semua orang bertanya padaku, haruskah aku ceritakan semuanya?" Jawabnya membuat suasana kembali riuh.
"Ayo, Ga. cerita saja gak usah takut sama Inder." Ujar Ivana.
"Kalau Inder memotong gajimu, Ayah tambahin dua kali lipat." Timpal sang ayah, yang di angguki Bunda.
"Ok...ok.. aku akan cerita." Ucapnya yang sukses mendapatkan pelitotan dari sa
habatnya itu. " Inder itu memang kerasukan, kerasukan cinta." Ucapnya.
Ruang kekuarga itu riuh seketika, apalagi melihat wajah Inder yang memerah.
__ADS_1
"Wahhh sepertinya kita bakal punya mantu lagi, Bun." Celetuk Ayahnya.
"Iya, Yah. kita harus siap-siap nih kayaknya." Timpal sang Bunda.
"Omongan Rega, gak usah di anggap serius, Bun, Yah. dia bohong itu." Sanggah Inder.
"Bohong kok mukamu semerah tomat? Jadi yang bohong Rega apa kamu?" Goda kakaknya membuatnya makin kesal, sekali lagi dia melempar bantal pada kakaknya itu namun tak kena hingga sang kakak meledeknya dengan menjulurkan lidahnya.
"Bun, kenapa dia gak disuruh tinggal sama mertuanya aja sih?"
"Aku kan kesayangannya Ayah sama Bunda, Lagipula kalau aku pergi siapa yang akan menemani Bunda disini?" Cibir Ivana.
Inder sudah tak mau menanggapi kakak perempuannya lagi, ia tau tak akan ada habisnya jika terus meladeni kakaknya. Inder beralih pada sang Bunda.
"Bun, Inder mau minta sesuatu dari Bunda." Ucapnya.
"Anak Bunda mau minta apa sih?" Tanya sang Bunda antusias.
"Mau minta nikah, Ya?" Goda Ayahnya.
"Ayah..." Keluh, Inder.
"Iya...iya.. Maaf, Ayah bercanda kok. Kalian lanjutkan saja ya, Ga ikut ayah ada yang harus ayah bicarakan denganmu."
"Baik, yah."
"Aku juga mau kekamar, deh. Mau telpon my husband." Ujar Ivana sambil berlalu.
Sekarang ruang keluarga itu hening, hanya menyisakan Inder bersama sang Bunda.
"Kamu mau minta apa, Inder?"
"Inder ingin bawa Bi Irah untuk tinggal bersama Inder, Bun. Bolehkan?"
"Bi Irah?" Tanya Bunda Heran.
Inder mengangguk pasti, "Aku sudah minta izin sama Bang Andra untuk tinggal di rumahnya sampai Renovasi rumahku selesai, dan aku butuh seseorang menemaniku disana. Jadi Bun, boleh aku bawa Bi irah bersamaku?"
"Kamu mau tinggal di rumah Andra? Kenapa tiba-tiba?"
"Aku belum bisa cerita Bun, tapi aku janji akan cerita nanti. Untuk saat ini aku butuh Bi irah untuk menemaniku dan membantuku di sana, Boleh?"
Meski bingung namun pada akhirnya Bunda mengijinkan."Baiklah, tapi ingat! Bi irah sudah seperti keluarga kita sendiri, dia yang bantu merawat kakak-kakakmu dan juga kamu sejak bayi, jadi... perlakukan dia dengan baik." Pesan Bunda.
"Tentu Bun, aku akan memperlakukannya dengan baik. Terima kasih Bun."
"Sama-sama, tapi kamu bikin Bunda jadi kepo deh, kenapa tiba-tiba ingin tinggal di rumah Bang Andra? dan sekarang minta bi irah untuk nemenin, kalau kamu ingin tinggal di rumah kenapa tidak tinggal disini saja?" Keluh Bundanya.
Inder hanya tersenyum, tidak.. ini belum saatnya Bunda tau, nanti saat di sudah mendapatkan apa yang dia inginkan baru dia akan bercerita.
__ADS_1