Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Luka lama


__ADS_3

Queenza


Queenza baru saja menyelesaikan masakan terakhir yang ia buat saat Alika keluar dari kamarnya. Ia segera menata makanan itu di meja makan.


"Udah bangun? Ayo sarapan, Al!" Ajaknya.


Alika bergeming, dengan wajah yang murung.


"Kenapa, Al? Kamu sakit?" Tanyanya, seraya berjalan menghampiri Alika.


"Badanmu gak panas, tapi mukanya di tekuk gitu, ada apa?"


Alika menatapnya, ia yakin ada yang ingin disampaikan sepupunya itu "Maaf!" Ucap Alika, membuatnya bingung.


"Maaf? Maaf kenapa?"


"Manager Resto tempatku bekerja baru saja menghubungiku, lowongan pekerjaan yang aku tawarkan padamu sudah terisi." Ucap sepupunya itu dengan nada menyesal. "Padahal kamu udah jauh-jauh datang kesini, tapi pekerjaan itu malah sudah di ambil orang."


Queenza tersenyum " Jadi itu yang membuatmu keluar dari kamar dengan muka ditekuk, ku kira kenapa." Katanya dengan menyunggingkan senyum.


"Kamu gak marah?" Tanya Alika


"Kenapa harus harus marah? Kalau pekerjaan itu sudah di isi orang lain, berarti aku memang tidak berjodoh dengan pekerjaan itu! Jadi kenapa harus menyalahkan oranglain?" Ucapnya santai.

__ADS_1


"Tapi kamu kan Sangat membutuhkan pekerjaan itu, apa kamu tak kecewa?"


"Al, dikota ini ada ratusan Restoran bahkan mungkin ribuan, aku yakin salah satunya ada yang sedang membutuhkan pegawai, jadi tak perlu merasa bersalah seperti itu." Ucapnya "Anggap saja ini cara tuhan untuk membuatku kembali ke kota ini, dan aku yakin tuhan punya rencana yang lebih baik untukku."


Alika menghambur kepelukan sepupu sekaligus sahabatnya itu. "Aku sempat takut kalau kau akan marah padaku, Za."


"Kenapa aku harus marah? Lihat sisi fositifnya saja, setidaknya dengan alasan tawaran pekerjaan itu aku bisa meyakinkan bunda untuk mengijinkanku kembali ke kota ini." Ucapnya sembali tertawa kecil, yang membuat sepupunya tertawa juga.


" Jadi apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Alika kemudian


" Mencari pekerjaan! Memang apalagi? Aku butuh banyak uang untuk pengobatan Bunda, Hasil penjualan kebun,dan tabungan sudah hampir habis tapi pengobatan Bunda masih belum selesai." Ungkapnya. "Aku ingin Bunda kembali sembuh, hanya dia keluargaku sekarang." lanjutnya.


"Dan keluarga angkat mu dulu? Apa kau tak ingin bertemu mereka? Bukankah kau sangat merindukannnya?" Tanya Alika, yang membuat dadanya terasa kembali sesak ketika ingatan itu kembali menghampirinya.


"Apa tidak sebaiknya kau melamar pekerjaan di perusahaan mereka? Siapa tau keterima.Jadi setidaknya kemungkinan kau untuk bertemu mereka jauh lebih besar." Saran Alika.


Queenza menggeleng "Meski aku sangat merindukan mereka, tapi aku tak akan menemui mereka. Al." Ucapnya lirih.


"Kenapa? Kau kan merindukan mereka, dan mereka juga pasti sangat merindukanmu, Za."


Ucap Alika lagi. Namun lagi-lagi Queenza menggeleng.


"Aku sudah janji sama Bunda, kalau aku tak akan mencari ataupun menemui mereka. Lagipula aku ini siapa, Al? Jangankan merindukanku, mereka bahkan mungkin sudah tak mengingatku lagi, dan mungkin bisa saja mereka telah membenciku." Ucapnya dengan mata yang menerawang jauh. Ia menghela nafas panjang sebelum melanjutkan. "Seperti yang dikatakan kakek saat itu, aku ini memberi kesialan pada mereka. Mana berani aku mengharapkan mereka mengingat dan merindukanku, Al. Mereka tidak membenciku saja sudah untung!"

__ADS_1


Sebulir airmata jatuh membasahi pipinya, disusul buliran lainnya bersamaan dengan rasa sesak yang kembali hadir di dadanya. Sudah dua belas tahun berlalu, namun sakitnya masih terasa sampai sekarang ketika ia kembali diingatkan pada kejadian memilukan itu.


Alika tau benar, kepahitan yang dialami sepupunya ini, cerita dari ibunya dan juga curahan hati Queenza tiap kali merindukan keluarga yang merawatnya itu membuatnya serasa ikut merasakan kepedihan hati Queenza.


"Maaf?" Ucapnya merasa bersalah. "Maaf mengingatkanmu akan luka lama itu, maaf membuatmu sedih!"


"Bukan salahmu, aku terlalu cengeng." Ucap Quennza. "Kenapa kita malah nangis-nangisan gini?" Ucapnya sembari memaksakan diri untuk tertawa. "Makanannya sampai dingin, ayo kita sarapan saja." Ujarnya. Yang diangguki oleh Alika.


🌺🌺🌺


Selepas Alika pergi bekerja, Queenza memutuskan untuk jalan-jalan. Ia menaiki ojek online menuju Taman kota.


"Taman ini sudah banyak berubah!" Gumamnya lirih, ketika melihat banyak perubahan pada taman penuh kenangan ini.


Ia melangkahkan kakinya menuju sebuah bangku taman panjang dan duduk disana.


"Berjanjilah apapun yang terjadi kau tidak akan pernah meninggalkan kakak!"


Janji yang diminta kakaknya malam itu, seolah kembali terngiang di telinganya. Membuatnya kembali teringat kejadian malam itu, Malam dimana untuk pertama kalinya ia mengetahui jati dirinya.


Ia menghela nafas panjang, "Kakak. Aku sangat merindukanmu, apa kau juga merindukanku?"


"Maaf, aku tak bisa menepati janjiku. Lalu akankah kau menepati janjimu padaku."

__ADS_1


__ADS_2