
"Lepas! Jangan sentuh saya!"
Maya menggertak seraya melepas diri dari gamitan tangan Raja dipinggangnya, ia menatap Raja dengan penuh kebencian sebelum akhirnya memilih melarikan diri keluar dari butik tempatnya bekerja.
Raja masih mematung, menatap punggung gadis itu yang sudah menjauh. "Kenapa dia begitu marah? Aku kan hanya menolongnya agar tak terjatuh?" Pikirnya. "Dasar gadis aneh!"
Ia memasuki butik dengan mood yang memburuk. Hari ini ia terpaksa menemani Maminya untuk mencoba pakaian yang disiapkan untuk acara resepsi pernikahan Queenza dan Inder.
Sesungguhnya, ia belum benar-benar merelakan Za bersama lelaki lain, tapi demi kebahagiaan keluarganya dia akan berusaha ikut berbahagia untuk Queenza.
Ia memilih duduk di sofa tunggu dan menelpon Maminya kalau ia akan menunggu disana saja, lagipula saat ini ia terlanjur kesal pada gadis tadi, jika melihat raut wajahnya saat ini Maminya bisa berpikiran buruk tentangnya.
đşđşđşđşđş
Maya berlari menuju jalan raya, menaiki angkutan untuk sampai ke kostannya.
Begitu sampai di kostan yang baru seminggu ini ditempatinya, ia hempaskan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamarnya nyalang.
"Kenapa aku harus bertemu dengan lelaki itu lagi!" Keluhnya.
Pertemuannya kembali dengan Raja membuat ingatan menyakitkan itu kembali membayang.
Flashback On
Maya baru sampai di club tempatnya bekerja, baru beberapa bulan dia bekerja sampingan di club ini. Gaji dari hasilnya bekerja di sebuah butik ternama sebenarnya sudah sangat cukup jika untuk mencukupi hidupnya sendiri.
Namun, dia juga harus mengirim uang yang cukup banyak untuk orangtuanya dikampung juga, hutang yang ditinggalkan almarhum ayahnya sangat banyak dan hanya dia yang bisa diandalkan untuk bisa membayar hutang itu atau ia harus rela dinikahi oleh kepala desa di kampungnya untuk dijadikan istri keempat.
Alhasil dengan modal nekat ia merantau keibukota berharap bisa memperbaiki ekonomi keluarga serta melunasi hutang ayahnya.
Beruntung ia bertemu dengan Asri yang kemudian memberinya pekerjaan di butik, tapi beberapa bulan ini Ibunya memberi kabar yang tidak mengenakan, sang kepala desa hanya memberi waktu tiga bulan untuk melunasi hutang-hutang ayahnya, membuatnya memutar otak mencari pekerjaan sampingan agar bisa menghasilkan lebih banyak uang.
Hingga akhirnya ia bertemu dengan Attar pemilik club yang menawarinya untuk bekerja paruh waktu di tempatnya sebagai pelayan.
Meski sedikit takut akhirnya ia menerima tawaran itu karena memang sangat membutuhkan pekerjaan, dan juga uang.
Dan dimalam nahas itu, ia berjalan menuju club yang masih terlihat sepi. Wajar saja ini baru jam sembilan malam sedangkan club baru akan dibuka pukul 22.30, sembari melangkah ia membuka media sosialnya mengintip beberapa pesan yang masuk hingga membuat pokusnya teralihkan
Bruk. karena tak memperhatikan jalan tubuhnya menabrak seorang pria membuat pria itu oleng dan hampir terjatuh, dengan sigap ia menarik tangan si pria. Namun, ternyata tubuhnya tak mampu menahan tubuh pria itu membuatnya ikut terjatuh dan tubuhnya tertindih pria itu.
__ADS_1
"****" Pria itu mengumpat kasar, seraya bangun dari posisinya.
"Maafkan saya, saya Benar-benar tak sengaja!" Ucapnya merasa bersalah.
Pria itu tak menanggapinya, malah melengos. Berjalan sempoyongan, hingga kembali terhuyung membuatnya sigap kembali menahan tubuh pria yang sangat mabuk itu.
"Anda baik-baik saja, Tuan?" Tanyanya "Sepertinya anda terlalu banyak minum!" Sambungnya seraya mulai memapah pria itu menuju mobil yang ditunjuknya.
"Apa anda datang sendiri kesini?" Tanyanya lagi ketika berhasil mendudukan pria itu di mobilnya.
"Hemh."Jawab pria itu membuatnya sedikit kesal.
"Lalu bagaimana caranya anda bisa pulang? Tidak mungkinkan anda bisa menyetir dengan keadaan seperti ini!" Gumamnya.
"Tolong suruh orang antarkan aku, keapartemenku!" Titah pria itu dengan suara serak dan mata yang mulai terpejam.
Kening Maya mengkerut, ia sudah sering melihat orang mabuk, bahkan yang terparah sekalipun, tapi melihat pria ini rasanya berbeda.
Raut wajah pria ini meringis seperti menahan sesuatu, apakah selain mabuk pria ini juga sedang sakit?
Ia celingukan melihat sekitarnya berharap bisa menemukan seseorang yang bisa dimintai tolong untuk mengantarkan pria itu, tapi nihil tak ada seorangpun yang bisa dipercayainya.
"Ba..baiklah biar saya yang mengantar anda!" Ucapnya pada akhirnya.
Dengan gugup ia duduk dibelakang kemudi, meski ia pernah belajar menyetir tapi ia belum pernah membawa mobil dijalan raya.
"Uhhhhhh" Rintihan yang keluar dari mulut pria itu membuatnya iba, ia mulai menyalakan mesin, kemudian melajukan kendaraan beroda empat itu dengan hati-hati.
"Apa tidak sebaiknya saya antar anda kerumah sakit saja, Tuan?" Tanyanya.
Pria itu menggeleng keras. "Antar aku keapartemen xx!" Ucapnya.
"Baiklah!"
đşđşđşđşđş
Maya mengantar Raja ke apartemen yang dimaksud, sebuah apartemen yang sangat mewah.
"Sepertinya pria ini bukan orang sembarangan!" Pikirnya dalam hati.
__ADS_1
Seorang satpam menghampiri mobil membuatnya meminta bantuan untuk mengantar pria itu menuju kamarnya. Dengan dibantu satpam ia memapah pria itu lalu satpam meninggalkannya begitu sampai di pintu apartemen milik pria itu. "Apa satu lantai ini milik dia semua?" Gumamnya.
Pria itu memberikan sandi kamarnya, meski ragu ia memapah pria itu menuju kamar pribadinya.
tubuh mungilnya rasanya sudah tak bisa menahan lagi tubuh kekar pria itu, membuatnya menghempaskan tubuh pria itu diranjang.
"Ahhh, leganya." Serunya. "Kau harus berterima kasih padaku saat sudah sadar nanti, Tuan! Karena jika orang lain mungkin dia akan memanfaatkanmu!" Ujarnya pada lelaki yang kini terbaring ditempat tidur.
Sejenak ia tergoda untuk duduk dan memandangi pria yang baru saja ia tolong itu, "Ternyata anda begitu tampan." Gumamnya, lalu sesaat kemudian menggelengkan kepala mengusir pikirannya sendiri.
Maya baru akan beranjak dan berniat pergi ketika tangannya dicekal kuat oleh tangan kekar milik pria itu. "Jangan tinggalkan aku, Queen! Aku tak bisa hidup tanpamu, kumohon jangan tinggalkan aku!" Racau pria itu. Matanya masih terpejam namun, Maya bisa melihat jelas kesedihan diraut wajah pria itu
"Apa dia baru saja ditinggalkan kekasihnya? Astaga kasihan sekali pria ini, padahal dia tampan!"
Maya mencoba melepaskan cengkraman tangan Pria itu, tapi pria itu malah menariknya hingga tubuhnya kini berada tepat di atas tubuh lelaki itu.
"Tu...Tuan tolong lepaskan saya!" Ujarnya terbata. Namun, pria itu malah menarik tubuhnya membalik posisi mereka.
Maya kini berada dibawah kungkungan pria itu, yang sedang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa ia artikan. "Tu..tuan, apa yang anda lakukan?!" Pekiknya ketika pria itu mendekatkan wajah mereka.
"Aku tidak tahu, aku tak bisa mengendalikan diriku!" Ucap pria itu serak.
"Jangan Tuan, kumohon lepaskan saya!" Jeritnya ketika pria itu terus menyurukkan wajahnya keleher Maya.
Maya menggelengkan kepalanya, derai airmata mulai membasahi wajahnya ketika membayangkan apa yang akan menimpanya.
"Jangan...kumohon! Lepaskan saya!" Sekali lagi ia mengiba ketika pria itu mengunci kedua tangannya dengan sebelah tangan sementara tangan lainnya mencoba melucuti pakaiannya satu persatu.
Ia meronta, ia menjerit sekuat tenaga berharap seseorang datang dan menolongnya. "Kumohon, Tuan. Jangan!!" Ucapnya dengan suara yang hampir tak terdengar, tenaganya sudah habis, hanya airmata yang terus mengalir ia jadikan senjata berharap lelaki itu iba dan melepasnya.
"Ahhhhh, jangannnn!!!" Jeritan Maya menggema memenuhi ruangan itu, ketika pria itu berhasil menembus mahkotanya, isak tangis Maya seolah menjadi musik pengiring yang merdu mengiringi setiap gerak pria yang kini menggagahinya.
Maya terus meronta meski itu tak membuat lelaki itu melepaskannya, lelaki itu terus menikmati tubuhnya, hingga akhirnya gerakannya lebih cepat, saat ia mendapatkan puncak kenikmatannya.
Tubuh pria itu ambruk disamping tubuh Maya, yang berkilat karena keringat. Maya menangis meratapi nasibnya, ia bergerak perlahan setelah memastikan pria itu sudah terlelap.
Maya mengambil pakaiannya satu persatu, ia meraih ponselnya menelpon tukang ojek langganannya.
Setelah berpakaian ia melangkah tertatih menuju lift untuk turun, dengan berderai airmata, dan menahan sakit di area sensitifnya ia turun dan bergegas keluar dari gedung bertingkat itu.
__ADS_1