
Resha dan Aldi duduk di sofa ruang tengah rumah Tuan muda pramudza itu dengan gelisah. Pagi tadi mereka dijemput oleh dua orang berpakaian serba hitam, awalnya mereka tidak mau dan berdebat dengan kedua pria itu hingga memancing rasa ingin tahu para tetangga sekitar.
Akhirnya meski masih bingung, dengan terpaksa mereka mengikuti keinginan kedua orang itu.
Dan kini.... mereka berada di tempat ini, rumah Tuan muda Pramudza, dan mereka mulai menerka untuk apa mereka kembali dibawa kesini, setelah kemarin diusir dengan kasar.
*Apakah Sang tuan muda berubah pikiran dan bermaksud mengembalikan putrinya dengan ikhlas*?
Resha menggelengkan kepalanya menepis pikirannya yg mustahil.
Aldi yg melihat apa yg di lakukan Resha menautkan jemarinya, ia genggam tangan istrinya itu. Menguatkan.
" Semua akan baik- baik saja!" Ucapnya mencoba meyakinkan sang istri.
Suara langkah kaki yg menuruni anak tangga membuat keduanya mengalihkan pandang.
Rendy dan Maura terlihat menuruni anak tangga.
" Maaf membuat kalian menunggu lama." Ucap Suara lembut milik Maura, " Dan maaf atas kejadian kemarin, Tak seharusnya kami melakukan itu, kami terlalu kaget dengan kedatangan kalian yg tiba-tiba." Ucapnya lagi yg di sambut tatapan bingung dari keduanya.
Semalam Rendy dan Maura sudah membicarakan hal ini, awalnya Rendy berencana mengusir paksa kedua orang itu dari kota ini, lalu mengasingkannya di tempat yg jauh agar tak bisa lagi mengganggu keluarganya.,tapi... Maura menolak ide sang suami yg tidak berprikemanusiaan seperti itu.
Hati Maura terlalu lembut untuk menyetujui ide bar-bar suaminya, jadilah ia mengusulkan negosiasi dengan mereka. Dan Rendy menyetujuinya.
Maura akan meminnta agar mereka membiarkan Queenza untuk tinggal bersama Rendy dan Maura.
Ia akan tetap mengijinkan mereka bertemu dengan Queenza dengan catatan mereka tak boleh mengatakan pada Queenza tentang jati dirinya. Dan bahkan kalau perlu Maura bersedia membelikan sebuah rumah tinggal permanen di daerah dekat sini , agar mereka bisa dengan mudah bertemu Queenza.
Awalnya Rendy keberatan, namun dengan bujukan Maura dan demi bisa tetap bersama Queenza, mereka rela melakukan apapun.
" Tak perlu berbasa- basi, Nyonya Pramudza. Apa yg sebenarnya kalian inginkan dari kami? hingga repot-repot mencari dan menjemput kami? " Ucap Resha. Jujur saja kejadian kemarin masih membuatnya kesal.
__ADS_1
" Kau benar, tak ada gunanya berbasa-basi. Jadi katakan apa yg kalian inginkan dari kami? " Ucap Rendy balik bertanya, membuat Maura membelalakkan mata pada suaminya itu.
" Mas!"
" Kamu lihat caranya bicara padamu, sayang?
Apa kamu pikir, orang seperti dia bisa diajak bicara baik-baik? "
" Tapi mas, kamu sudah janji kita akan selesaikan dengan caraku."
" Tidak sayang! Maaf, tapi kurasa caraku lebih efektif untuk menyelesaikan masalah kita."
Rendy melayangkan tatapan tajam pada kedua orang yg mengusik ketentramannya, ia melempar sebuah cek kosong di meja.
" Tulis berapapun yg kalian inginkan! Tapi, jangan pernah menampakkan diri lagi di hadapan saya."
" Anda ingin membeli putri saya, Pak Rendy? Maaf tapi saya tidak berminat menjual putri saya, Saya datang kesini untuk mengambil hak saya sebagai seorang ibu."
" Tapi.... Saya sudah menyesalinya." Ucap Resha menyesal. " Saya terpaksa melakukan itu, Saya tak punya pilihan lain saat itu."
Aldi memandang sedih istrinya yg kini menunduk penuh penyesalan,
" Pak Rendy, Saya tau kesalahan istri saya tak termaafkan, tapi saya tau benar dia sudah sangat menyesalinya itulah sebabnya kami datang untuk mengambil bayi itu kembali, istri saya ingin menebus segala dosanya pada anak itu." Bela Aldi. " Tolong, izinkan kami membawa anak itu kembali."
" Tidak!! Dia putriku kalian tak boleh membawanya!" Pekik Maura.
" Tapi aku yg melahirkannya kedunia." Balas Resha dengan sengit.
" Kau hanya melahirkannya, kemudian kau membuangnya. Sedangkan aku, aku yg menyelamatkannya, aku yg merawatnya, akulah yg pertama kali mengajari kata pertamanya, aku yg memapah langkahnya, dan akulah yg selalu ada saat ia membutuhkan perlidungan, bukan kau! " Cerca Maura. " Jadi berhenti mengatakan ingun meminta hakmu sebagai ibu."
Resha terdiam, ia tak mampu membalas peekataan Maura, apapun yg dikatakannya benar, dan Resha tak bisa menyangkal.
__ADS_1
" Awalnya aku ingin bicara baik-baik, Tapi sepertinya suamiku benar, kau tak bisa diajak bicara baik-baik. " lanjut Maura.
" Nyonya, seburuk apapun diriku di masa lalu tetap saja darahkulah yg mengalir di tubuh Queenza, dan anda tak bisa menyangkal itu."
" Apa maumu sebenarnya? " Tanya Rendy yg ikut kesal.
" Saya sudah katakan saya ingin putri saya kembali."
" Kenapa? " Tanya Maura.
" Kenapa?" Ucap Resha mengulang perkataan Maura.
" Kenapa baru sekarang? Kemana saja selama delapan tahun ini? Asal kau tau, suamiku bahkan menyimpan kartu nama pada warga di sekitar mesjid, juga di kantor polisi. Tentu tak akan sulit menemukan kami di kota ini, Tapi Kenapa baru sekarang kalian datang dan mengusik hidup kami yg sudah bahagia."
Cecar Maura.
" Qurenza sudah bahagia bersama kami." Timpal Rendy.
Hening..... tak ada balasan ataupun sanggahan lagi dari Resha, ia mengakui kalau putrinya terlihat bahagia bersama keluarga barunya, haruskah ia egois dengan mengambil paksa putrinya?
Kalaupun ia berhasil membawanya kembali akankah putrinya itu bisa bahagia seperti saat ini?
Ataukah ia harus merelakannya bersama keluarga ini, toh keluarga ini terlihat begitu menyayangi putrinya.
Namun...ia juga tak bisa memungkiri, ia menginginkan anak itu.
Tuhan sudah menghukumnya dengan tak memberinya seorang anak, hingga membuatnya jadi bahan hinaan keluarga sang suami.
Tak cukupkah semua penderitaan itu sebagai karma dan penebusan dosanya?
Tak adakah kesempatan baginya untuk memperbaiki semuanya?
__ADS_1
Air matanya terjun bebas, tak ada yg bisa ia lakukan, Ia putus asa.