Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Tunangan Maya.


__ADS_3

Matahari bahkan masih enggan menampakkan sinarnya, tapi Maya sudah keluar dari rumah. Pagi-pagi sekali ia sudah melangkahkan kakinya menaiki angkutan umum, ia hendak menemui seseorang, seseorang yang sudah cukup lama tak ia kunjungi.


Sebuah pemakaman keluarga menjadi tujuannya, ia menatap gerbang masuk makam itu cukup lama, sebelum akhirnya memberanikan diri melangkahkan kakinya yang gemetar, menuju tempat peristirahatan terakhir orang terkasihnya.


Air mata yang mengintip disudut matanya segera ia seka, ia pernah berjanji, hanya akan kembali dengan senyuman bukan lelehan airmata seperti dua tahun lalu saat mengantar jasad kekasihnya itu pergi untuk selamanya.


Maya menekuk kakinya, senyum ia kembangkan saat menatap nisan bertuliskan Ardi lesmana itu.


"Haiii, Di. Apa kabar? Maaf, aku baru berani datang sekarang!" Ucapnya, dengan suara serak.


Maya menghela napasnya panjang, menahan sesak yang datang memenuhi dadanya. Bulir bening yang yang sedari tadi ia tahan meluncur bebas membasahi pipi, menjadi bukti betapa berartinya si pemilik nisan baginya.


"Maaf, ternyata aku masih saja cengeng." Ucapnya pelan, Maya mengusap pipinya yang basah. "Ini karena aku sangat merindukanmu!" Sambungnya dengan hati yang pedih.


"Apa kau tak ingin tanya kabarku?" Tanyanya pada batu nisan yang membisu itu. Ia berkata seolah sipemilik nisan berada di depannya. Maya memanyunkan bibirnya, seperti saat ia merajuk didepan kekasihnya dulu, bedanya ...kini tak akan ada lagi yang membelai lembut pipinya seraya mengucap kata maaf, atau menawarkan konpensasi seperti nonton atau ajakan jalan-jalan sebagai penebus kesalahan.


"Tentu kau tidak akan bertanya! Kau kan sudah melupakanku!" Ucapnya menjawab pertanyaannya sendiri.


"Kau pasti sudah ditemani banyak bidadari disana, kau pasti sudah bahagia disana!" Gumamnya. Mata sendunya tak lepas dari batu nisan. "Kau jahat, Di! Kau meninggalkan aku sendirian, kau mengingkari janjimu, bukankah dulu kau yang bilang akan menjagaku, sekarang lihatlah! tanpamu aku hancur, Di... Aku hancur... Tak ada yang melindungiku, tak ada lagi tempatku berkeluh kesah..." Maya menggigit bibirnya, tak mampu lagi melanjutkan kata-katanya.


Ia menekuk wajahnya kelutut, isakan kecil mulai terdengar, ingatannya kembali pada dua tahun lalu saat kejadian menyakitkan itu terjadi.

__ADS_1


Flashback On


Sore itu, Maya berdiri didepan toko milik sang Ayah. Hari ini sengaja ia izin untuk pulang cepat, Ardi tunangannya berjanji akan mengajaknya makan malam bersama keluarga besarnya. Mereka adalah teman dari kecil, persahabatan yang berlanjut jadi cinta. Semua perlakuan manis pria yang ia kenal sedari lahir itu, mampu menerobos dinding ketusnya. Menjadikan Ardi satu-satunya pria yang mampu menyentuh hatinya.


Wajah sumringahnya perlahan memudar berganti wajah kesal, setelah lebih dari satu jam sang tunangan masih belum juga datang menjemput. Aneh! Padahal biasanya tunangannya itu selalu on time, tak pernah molor apalagi ingkar janji.


Ia masih berbaik sangka, mungkin jalanan macet. Ia memutuskan pulang kerumah dengan mengendarai ojek, biarlah nanti Ardi menjemputnya dirumah saja. Dalam hatinya ia sudah menyiapkan banyak kata untuk meluapkan kekesalannya pada sang kekasih, jika bertemu nanti.


Namun, ketika ia sampai dirumah, ia melihat ibunya tengah mengunci pintu bersiap untuk pergi, "Ibu mau kemana?" Tanyanya saat sudah berada didekat ibunya.


Ibu terlihat sedikit kaget, "Syukurlah kamu sudah pulang, Nak! Ardi..." Ucap sang Ibu tanpa menjawab pertanyaannya.


"Ardi kenapa, Bu?" Tanyanya, dihatinya sudah muncul berbagai pikiran buruk yang segera ia tepis. Namun, pernyataan Ibu selanjutnya menghancurkan harapannya.


Maya tak lagi banyak bertanya, ia bergegas menuju rumah sakit dimana tunangannya itu dirawat. Sepanjang perjalanan ia terus berharap ini hanya sebuah prank dari kekasihnya itu, sama seperti yang dilakukan pria itu beberapa bulan yang lalu saat anniversary hubungan mereka, pria itu berpura-pura kecelakaan, nyatanya ia diberi kejutan makan malam romantis, semoga... semoga kali inipun begitu.


Mereka sampai menjelang malam karena lokasi rumahsakit berada di tengah kota, Maya bergegas mencari kamar rawat atas nama Ardi lesmana, ia seperti orang gila bertanya kesana kemari, lupa bahwa di sakunya ada ponsel yang bisa ia gunakan untuk menghubungi keluarga Ardi.


Seorang perawat mengantarnya keruang ICU, dimana di ruang tunggu sudah ada keluarga Ardi yang menunggunya. "Maya!" Ibunda Ardi menjadi orang pertama yang menyadari kehadirannya, ia memeluk Maya erat, menumpahkan tangisnya di bahu gadis itu.


"Syukurlah kamu sudah datang, Nak! Maaf kami tak bisa menjemputmu." Ucap Ayah Ardi.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, Tante? Kenapa Ardi bisa masuk kerumah sakit? Dan kenapa diruang ICU?" Tanyanya, dengan suara yang sudah serak.


"Ardi menderita leukemia stadium 3, May! Tadi pagi dia mimisan, kami sudah membujuknya kerumah sakit, tapi ia menolak! Dia bilang dia punya janji denganmu sore ini." Ucap Ibu Ardi dengan derai tangis.


Leukemia? Bukankah itu penyakit kanker darah? Tapi bagaimana bisa? Yang ia tau selama ini Ardi baik-baik saja, tak pernah mengeluh sedikitpun, lalu bagaimana bisa tiba-tiba ia menderita penyakit mematikan itu?.Dan sudah stadium 3? Ya Tuhan... bagaimana bisa ia tidak tau!


"Sejak kapan Ardi mengidap penyakit ini, Tante? Bukankah selama ini dia baik-baik saja? Dia bahkan tak pernah terlihat sakit, Tante! Bagaimana bisa sudah stadium 3?" Cecar Maya.


Ayah Ardi menghela napasnya, ia mulai menceritakan."Ya! Ardi memang tak pernah terlihat sakit, dia memang akan selalu berusaha baik-baik saja didepanmu." Ucap Ayah Ardi." dokter mendiagnosanya menderita leukemia akut dua tahun yang lalu, dokter menyarankan kemoterapi, tapi Ardi menolak! Ia tak ingin kamu tau tentang penyakitnya, sedangkan efek dari kemo sudah pasti akan sangat Kentara." Lanjut Ayah Ardi.


Tubuh Maya limbung, ia bisa saja terjatuh jika saja sang Ibu tidak menahannya. "Maya!"


Maya mematung hanya airmatanya yang menjadi bukti betapa berat ia menerima kenyataan ini.


"Lalu apa kata dokter, Pak? Bagaimana kondisinya sekarang?" Tanya Ibu Maya.


Ayah Ardi menghela napasnya. "Sel kankernya sudah menjalar keorgan vital tubuhnya, Ardi dinyatakan koma!" Ucap Ayah Ardi.


"Tidak! Itu tidak mungkin!" Seru Maya. "Ardi cuma lagi ngerjain aku, Om! Dia lagi ngeprank! Aku mau ketemu sama dia, aku akan bangunkan dia! Aku akan buktikan sama kalian Ardi tuh cuma lagi ngerjain aku, dia pasti lagi menyiapkan kejutan untukku didalam." Cetus Maya, sekuat tenaga ia bangkit, melangkah menuju ruang ICU. Seorang perawat memberinya pakaian khusus, ia tertegun jika memang ini hanya sebuah prank haruskah melibatkan perawat juga? Tapi ia tetap menyangkal, dan berkeyakinan bahwa ini hanya bagian dari rencana kekasihnya itu. Maya memakai baju khusus itu dan mulai masuk keruangan khusus rumah sakit itu.


Maya mematung melihat kekasihnya terbaring lemah di ranjang rumah sakit, banyak alat yang menempel ditubuhnya, ia melangkah gemetar mendekati tempat tidur orang yang sangat dicintainya itu.

__ADS_1


Air matanya sudah tumpah ruah, menganak sungai membasahi pipinya. Maya menatap tubuh Ardi yang tak bergerak, hening ... hanya bunyi mesin EKG menjadi musik pengiring mereka.


Maya menggigit bibir bawahnya kuat, suaranya tercekat. "Bangun, Di... ini tidak lucu!" Ucap Maya mulai membuka bibirnya yang bergetar. Ia masih berharap tunangannya akan bangun dan tertawa melihat wajahnya saat ini, sambil berkata "Surprise!"


__ADS_2