Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Menjalankan Rencana


__ADS_3

"Kau sudah siap, Kak?" Tanya Friska pada Raisa yang masih bergeming di tempatnya.


"Ya, ayo kita pergi!" Ucap Raisa yang kemudian beranjak menghampiri nya.


Mereka lalu keluar dari penginapan tempat mereka tinggal beberapa hari ini, sudah dua hari ini mereka menginap di sebuah penginapan di desa tempat Za tinggal. Mereka ingin mengawasi Za dari dekat sebelum melakukan rencana mereka.


Dengan mengendarai sebuah mobil mereka melaju menuju tempat tujuan mereka.


"Kau yakin rencanamu akan berhasil?" Tanya Raisa.


"Aku sudah merencanakannya dengan sempurna, wanita miskin itu akan menyesal sudah berurusan dengan kita." Ujarnya yakin.


Mereka sampai di depan sebuah Villa mewah yang terlihat asri, tak berapa lama datang dua pria menghampiri mereka dan mengetuk kaca mobil mereka.


Friska membuka kaca mobilnya. "Bagaimana?"


"Semuanya sudah siap, Non." Ujar pria itu.


"Kami sudah membayar beberapa orang untuk menghasut warga agar ikut dalam penggerebegan ini."Ucap pria satunya.


Friska tersenyum. "Bagus! kalau begitu tunggu apalagi bawa mereka kemari!"


"Baik, Non."


Kedua pria itu lalu pergi.


"Ayo, Kak!" Ajak Friska. "Kita beri wanita itu pelajaran!"


🌺🌺🌺🌺


Queenza dan Alika duduk santai di depan televisi, "Gak ada acara yang bagus, ya." Ucap Alika kesal, lalu mematikan televisi itu. Ia melirik sepupunya yang sedang sibuk dengan sebuah buku.


"Za, jalan yuk!" Ajaknya penuh harap.


"Jalan kemana, Al. aku lagi males ah cuaca dingin banget hari ini." Jawab Za, tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku yang ia baca.


"Kemana aja, gimana kalau kesekitar perkebunan? Pasti pemandangannya indah banget, kita selfi-selfi disana." Bujuknya lagi.

__ADS_1


"Aku gak suka selfi!" Jawab Za sekenanya.


"Ayolah, bosen tau terus diam dirumah begini."


Za menghela nafasnya, sepupunya ini kalau ada maunya tak akan pernah bisa di tolak. "Ya, sudah aku ambil jaket dulu, di luar dingin banget." Ucap Za sembari beranjak menuju kamarnya.


"Ok. Aku tunggu disini ya!"


Za melangkah ke kamarnya mengambil jaket dalam lemari lalu kembali pada Alika. Samar-samar dia mendengar keributan, ia mempercepat langkahnya menghampiri Alika yang Sepertinya juga mendengar keributan itu.


"Ada apa, ya? Kok kayaknya ribut banget." Tanyanya. Alika menggeleng.


"Kita lihat aja, yuk." Ajak Alika, mereka melangkah mendekat dan membuka pintu Villa.


"Astaga..." Pekik Alika.


Mereka terkejut melihat puluhan orang berkumpul di halaman Villa, tatapan semua orang langsung mengarah tajam pada mereka berdua.


"Kami tidak menerima pelakor!" Seru seseorang.


"Ada apa, ini?" Tanya Za pada seorang pengawal.


"Hei Nona, kalau mau berzina silahkan cari tempat lain jangan di desa kami." Ucap seorang warga.


"Berzina?" Ulangnya. "Maaf apa maksud bapak? siapa yang berzina?" Teriak nya tak terima.


"Tidak usah pura-pura, cantik-cantik kok mau dijadikan simpanan!" Ujar warga A, di sahuti warga lainnya.


"Kami tidak mau menanggung dosa atas perbuatan kalian."


"Kami juga tak mau, suami kami jadi korban berikutnya." Ucap seorang Ibu.


Za masih bingung dengan apa yang terjadi, kenapa mereka bisa menuduhnya sekeji itu?


"Saya benar-benar tidak faham maksud kalian?" Ucapnya tegas. "Bapak-bapak dan ibu-ibu pasti salah faham!"


"Gak ada yang salah faham!"

__ADS_1


Ucap seorang perempuan yang muncul dari kerumunan warga.


Za mengernyit melihat perempuan yang sangat ia kenali. "Friska?"


Seorang pengawal menghalangi langkah Friska saat akan mendekatinya. "Wah-wah, bahkan Kakakku menempatkan banyak pengawal untuk menjaga simpanannya."


"Friska kamu salah faham! Aku dan kak Raja, kami..."


"Cukup, jangan dilanjutkan. Awalnya aku heran kenapa kakakku bisa menaruh simpati yang besar pada orang yang baru di kenalnya, tapi kemudian aku mulai mengerti setelah dia membawamu kesini." Ucap Friska memangkas Ucapan Za.


"Aku tak menyangka, Raja bisa berpaling dariku hanya karena wanita sepertimu. Apa kelebihanmu di bandingkan denganku?" Ucap wanita yang tadi datang bersama Friska.


"Hei kalian bisa jaga ucapan kalian? Jangan seenaknya menuduh jika tak ada bukti." Teriak Alika.


"Nona, sebaiknya Anda berdua kembali kedalam!" Ucap pengawal yang berada di dekatnya.


"Kenapa mau bersembunyi, dasar pelakor!" Teriak Friska.


"Ayo, Za! Kita masuk saja." Ajak Alika, tapi Za menggeleng.


"Kalau aku masuk, sama saja aku membenarkan apa yang mereka tuduhkan." Ucapnya.


"Bapak-bapak, Ibu-ibu, ini hanya Kesalahfahaman! Saya mohon berikan saya kesempatan untuk menjelaskan semuanya."


"Menjelaskan apa? Bukankah sudah jelas? Raja menempatkanmu di Vila keluarga, kalian berdua tinggal bersama itu sudah menjelaskan semuanya." Ujar Friska yang membuat warga kembali riuh menghujat Za.


"Ibu-ibu, bapak-bapak semua apa kalian ikhlas desa kalian ini di jadikan tempat berbuat Zina?" Teriaknya lagi, membuat Za semakin tersudut.


Alika melihat warga semakin tak terkendali, para pengawal yang berjaga bahkan terlihat mulai kewalahan menghadapi warga yang jumlahnya lebih banyak dari mereka.


Ia masuk kedalam Villa mengambil ponselnya, yang ada di pikirannya saat ini adalah ia harus meminta tolong, tapi pada siapa?


Lalu nama lelaki menyebalkan itu muncul di benaknya, entahlah otaknya terasa buntu. Segera ia menghubungi lelaki itu.


Kata menggoda dari bibir lelaki itu ia jawab dengan kepanikan.


"Pak Rega, Tolong Za.

__ADS_1


__ADS_2