Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Kebaikannya Atau Kebaikan Anda?


__ADS_3

Alika sampai di rumah sakit ketika hari mulai gelap. Langkah kaki nya ia pelankan begitu melihat dua orang pria yang ia kenali berjalan kearahnya.


"Kau baru datang?" Ucap Inder. Ia mengangguk.


"Kalian sendiri darimana? Dan siapa yang jaga Za?" Tanyanya.


"Kita dari cafe depan, ini mau kekamar Za." Rega yang menjawab.


"Kalian tinggalkan Za sendirian? Ya ampun bagaimana kalau dia sadar saat kalian tak ada." Gerutunya.


"Tenang saja, Za sudah sadar kok, dan dia sudah baik-baik saja." Ucap Inder.


"Za sudah sadar? Syukurlah, lalu kenapa kau tidak menemaninya?" Tanyanya lagi, namun pria itu hanya tersenyum, membuatnya merasa aneh.


Padahal dari kemarin Inderlah yang selalu siaga menjaga Za, Kenapa justru saat Za sudah sadar ia malah terlihat murung dan juga acuh? Ada apa sebenarnya?


"Kalau begitu ayo kita temui za!" Ajaknya kemudian.


"Kau duluan saja, nanti aku menyusul." Ujar Inder membuatnya semakin keheranan.


"Iya kau duluan Nona, sahabatku ini perlu menyiapkan hatinya terlebih dahulu." Timpal Rega, yang dihadiahi sikutan di perutnya oleh Inder.


"Baiklah, aku duluan kalau begitu."


🌺🌺🌺🌺


Raja masih menggenggam tangan adiknya saat pintu kamar terdorong dari luar. Seorang gadis masuk kekamar lalu manghampiri mereka.


"Za..." Panggil gadis itu. yang kemudian mematung melihat mereka.


"Alika." Ucap Za, ia tersenyum padanya. Membuat gadis itu maju mendekati Mereka lalu kemudian memeluk adiknya.


"Aku sangat senang Mendengar kabar dari Inder kalau kau sudah sadar." Ucap gadis itu.


"Inder?" Ucap sang adik, seraya melepas pelukannya. "Dimana dia sekarang?" Tanyanya kemudian.


"Aku bertemu dengannya di depan." Jawab gadis itu lagi.


"Dia tak kembali setelah memanggilkan dokter untukku." Keluh adiknya, "Apa dia marah padaku?" lanjut Za. Membuatnya bertanya-tanya.


Siapa dia bagimu Queen? Hingga kau begitu perduli dia marah atau tidak padamu.


"Kurasa tidak, karena tadi dia bilang akan segera menyusul kemari!" Ucap gadis itu. Membuyarkan lamunannya

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu." Ucap Za lega. "Oh, Ya Al. kenalkan ini kakakku, kak Raja. Dan kakak ini sepupuku, Alika." Ucap Za memperkenalkan mereka berdua.


"Raja."


"Alika." Ucap keduanya bersamaan.


"Terima kasih,karena sudah membantu dan menjaga Queenza selama ini." Ucapnya tulus.


"Queenza juga saudaraku, lagipula bukan aku orang yang pantas untuk ucapan terimakasihmu itu, tapi Inder! Karena dialah menjaga Za selama ini." Ucap gadis bernama Alika itu membuatnya mengernyit. kemudia beralih memandang adiknya.


"Inder yang menjaga, apa maksudnya?" Tanyanya bingung.


"Karena sejak bekerja dengan Inder, Aku tinggal bersamanya, kakak." Ucap Za.


Membuat kedua pupil pria itu membesar. "Kau tinggal bersamanya?" Queenza meengangguk, "Kenapa?" Lanjut Raja lagi.


Sang adik menunduk takut. "Karena kami bisa saja pulang lewat tengah malam, jadi akan sangat repot kalau aku harus bolak-balik." Ucap Za, menjelaskan.


"Tapi...tak berarti kau harus tinggal bersama pria asing, Queen. Apa kata orang nanti." Ucap Raja lagi.


Za mendongak mendengar ucapan kakaknya."Kami tak pernah melakukan macam-macam, dan kami tak hanya tinggal berdua, kak. Ada asisten dan beberapa pengawal yang tinggal bersama kami."


"Tetap saja tidak boleh, Queen!" Tegasnya lagi. "Orang bisa saja berpikiran buruk tentangmu, dan kakak tak ingin orang lain merendahkanmu karena kau tinggal bersama lelaki yang bukan mahram mu."


"Kakak percaya padamu, tapi tidak pada pria itu." Ucapnya membuat sang adik terdiam.


"Kakak hanya ingin yang terbaik untukmu, Queen. Kamu ngerti kan maksud kakak?"


Queenza mengangguk faham. "Tapi aku membutuhkan pekerjaan ini, Kak. Bunda masih butuh pengobatan, dan aku..."


"Jangan pikirkan soal pengobatan Bundamu! Kakak yang akan mengurus semuanya." Ucapnya memangkas ucapan adiknya. "Kau percaya pada kakak, Kan?".


Za mengangguk menyetujui, tak ada lagi alasan baginya untuk mendebat kakaknya lagi.


"Mulai sekarang, kakak ingin kau pokus untuk mulai menata masa depanmu, yang lainnya biar jadi urusan kakak."


Meski ragu Za mengangguk, ia tau apa yang dilakukan kakaknya adalah demi kebaikannya.


"Kakak harus keluar sebentar, kau ditemani Alika dulu tidak apa kan?"


"Iya Kak. gak apa-apa."


Ia beranjak meninggalkan kamar setelah mencium kening adiknya, baru saja ia akan meraih handle pintu ketika Inder dan Rega muncul dari balik pintu.

__ADS_1


"Setelah ini, aku ingin bicara empat mata denganmu!" Ucapnya, kemudian pergi.


🌺🌺🌺


Inder masuk ke kamar Sweet room itu, ucapan dari Raja tak membuatnya mengurungkan niat.


setelah berbicara dengan Za, ia segera pamit dan menyuruh gadis itu untuk istirahat.


Inder melangkah keluar dari kamar rawat itu, ia baru menutup pintu ketika seorang lelaki mendatanginya. "Tuan muda menunggu Anda di cafe di depan rumah sakit ini." Ucap pria itu.


Ia melangkah, mengekori pria tadi dengan di temani Rega. Dalam hatinya ia mulai bertanya-tanya apa yang ingin dibicarakan pria yang membuatnya cemburu itu? Dan ada hubungan apa diantara mereka?


Sesampainya di cafe, orang tadi memintanya untuk masuk sendiri, "Lo tunggu di mobil aja, Ga." Ucapnya lalu Kimball melangkah memasuki cafe tersebut.


"Apa yang ingin Anda bicarakan" Ucapnya tanpa basa-basi, begitu sampai di hadapan pria itu.


Lelaki itu tersenyum smirk, "Saya suka cara bicara anda! Baiklah, saya akan langsung kepermasalahannnya."


"Boleh saya tau, apa alasan Anda menyuruh adik saya untuk tinggal di rumah anda?" Ucap Raja.


"Adik?" Ulangnya, "Maksudnya?" Tanyanya mulai bingung.


"Queenza, dia adik saya." Ucap Raja lagi, membuatnya tercengang.


"Queenza, adik Anda?"


"Iya, dan sebagai kakaknya saya ingin Anda melepaskan adik saya." Lanjut Raja.


"Melepas? Apa maksud anda?"


"Saya tidak ingin Queen bekerja lagi pada anda, Saya akan membayar berapapun denda yang harus di bayar Queen pada anda." Ucap Raja lagi.


"Tidak bisa! dia Tak bisa seenaknya resign dari pekerjaan ini." Geramnya.


"Kenapa tidak bisa?.Anda hanya perlu mengatakan berapa denda yang harus dia bayar, dan saya akan dengan senang hati membayarnya." Ujar Raja.


"Ini bukan masalah uang!" geram Inder.


"Lalu, masalah apa?" Ucap Raja. "Dengar Tuan Ivander kamal prasetya, saya tidak ingin adik saya dipandang rendah oleh oranglain, karena tinggal serumah dengan lelaki yang bukan mahramnya. Jadi saya harap anda bisa mengerti, ini demi kebaikannnya!"


"Kebaikannya? Atau kebaikan anda?"


"Sekarang anda yang harus mendengarkan saya, Tuan.Raja pramudza! Urusan saya dengan Za, jadi jika dia mau resign dari pekerjaan ini, dia harus bicara langsung pada saya."

__ADS_1


"Saya akan melepasnya jika memang itu menjadi kemauannya, Saya tak ada urusan dengan anda. Jadi jika sudah tak ada yang tak ingin dibicarakan lagi saya permisi."


__ADS_2