
Tiga bulan Kemudian.
Saya terima nikah dan kawinnya Maya adelia bin Almarhum sapta sopian dengan seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan dibayar tunai." Kalimat ijab kabul terucap lantang dari bibir Tuan muda keluarga Pramudza Itu.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu pada dua saksi pernikahan Raja dan Maya.
"Sah!" Ucap kedua saksi itu bersamaan.
Raja menghela napasnya lega, dengan dibimbing oleh penghulu ia merapalkan doa seusai akad diakhiri dengan ciuman Maya dipunggung tangannya dan kecupan lembut nya di kening Maya.
Senyuman bahagia tak pernah lepas dari bibir kedua mempelai itu, mereka tak pernah menyangka kini sudah Sah menjadi suami istri meski harus mundur beberapa bulan karena harus menunggu pemulihan Raja bahkan tempat akad yang rencananya diadakan dikediaman Maya harus dipindah ke sebuah mesjid dikawasan hotel karena keadaan Za yang tidak memungkinkan untuk bepergian jauh, beruntung Ibu Maya tidak keberatan dan bisa mengerti.
Acara berlanjut dengan resepsi mewah di salah satu hotel bintang lima di kota ini. Tamu undangan yang terdiri dari para kolega bisnis, hingga kerabat keluarga memenuhi hotel.
Za ikut tersenyum melihat kebahagiaan kakaknya, "Berhenti memandanginya seperti itu, Sayang. Atau aku bisa cemburu." Bisik sang suami membuatnya langsung mendongak, dan mencebik. "Apa kau masih cemburu pada kakakku, huh?" cibirnya.
"Aku bercanda, sayang." Ucap suaminya. "Tapi aku akan cemburu kalau kau memperhatikan lelaki lain lebih dari pada aku."
"Oh ayolah, suamiku sayang!.Aku menatap kebahagiaan mereka, akhirnya aku bisa melihat senyum lebar kakakku lagi." Ucap Za. "Maya memang wanita yang tepat untuk kak Raja." Gumamnya sambil tersenyum.
"Dan kau wanita tepat yang dikirimkan Tuhan untukku." Ucap Inder, seraya memeluk istrinya.
"Oh ya ampun, berhentilah mengumbar kemesraan didepanku, apa kalian tidak kasihan denganku yang masih jomblo ini?" Cetus Alika yang baru saja datang dengan segelas minuman ditangannya.
"Jomblo? Memangnya kau masih jomblo?" ucap Inder sengaja menggoda.
"Jomblo lah, siapa juga yang mau dengan gadis buruk rupa sepertiku, hiks." Ucap Alika dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin, membuat Za tertawa geli.
"Sebenarnya bukan tak ada yang mau, hanya saja Anda yang selalu menutup diri!" Cetus Reihan yang tiba-tiba saja sudah duduk di damping Alika, membungkam mulut gadis itu.
"Kau? sedang apa kau ada disini?" Tanyanya ketus.
"Benar sedang apa kau disini? Pergi, jauh-jauh dari gadisku!" Seru Rega yang kini juga duduk mengapitnya.
"Kau tak punya hak mengusirku, Alika bukan siapa-siapa mu!" Ejek Reihan.
"Kau!"
"Wahh sepertinya pesaingan ketat sudah dimulai" Cetus Inder, "Kau harus memilih dengan bijak, Al!" Sahut Za, menggoda sepupunya.
Alika hanya mencebik dan memilih berlalu dari hadapan mereka.
__ADS_1
đşđşđşđş
Acara Resepsi sudah selesai, para tamu undangan satu persatu sudah meninggalkan pesta. Maya juga sudah berada dikamar hotel yang memang sudah disiapkan untuk tempat tidurnya malam ini.
Ia sangat kagum pada desain kamar yang terlihat sangat mewah, dan juga romantis dengan bunga-bunga bertebaran di ranjang mewahnya.
Maya tersenyum, tak pernah disangka lelaki yang pernah ingin ia hempas hidupnya kini justru menjadi suaminya. Padahal setelah kejadian malam itu Maya berniat melupakan Raja, dan ikhlas menerima semua kemalangan yang menimpanya sebagai takdir hidup yang harus ia jalani, tapi... Tuhan menyatukannya dengan pria perenggut kehormatannya dengan cara yang sangat unik. Lelaki yang kini sudah menempati ruang hatinya yang kosong setelah kepergian Ardi.
Ceklek. Pintu kamar terbuka dari luar mengaburkan lamunannya. Maya segera sibuk mencoba membuka resleting gaun pengantinnya.
Maya memejamkan matanya, ia merasa kesusahan tapi lidahnya terasa kelu untuk meminta tolong pada pria yang baru menjadi suaminya itu.
"Kau hanya perlu memintaku untuk menolongmu, May!" Bisik Raja ditelinganya, dengan tangan yang sudah menarik resleting gaunnya kebawah dengan lembut.
Glek. Raja menelan ludahnya kasar melihat punggung mulus istrinya membuat jiwa lelakinya meronta-ronta.
"Terima kasih." Ucap Maya, seraya beranjak menuju kamar mandi. "Aku mandi dulu," Ucap Maya sebelum menghilang dibalik pintu
Raja menggelengkan kepalanya. "Sial! Ada apa dengan otakku." Umpatnya.
Raja merebahkan tubuhnya ia raih benda pipih yang sedari pagi tak disentuh, untuk mengalihkan pikirannya.
"Sudah." Sahut Maya dari dalam menbuatnya mengkerut kening heran.
"Kalau sudah kenapa masih belum keluar?"
Maya melongokkan kepalanya, "Aku akan keluar tapi kau tutup mata dulu!" Titah Maya.
Kening Raja kembali berkerut. "Kenapa?"
"Pokoknya tutup mata! atau berbaliklah baru aku akan keluar."
"Oke!" Ucap Raja berbalik memunggungi Maya. Maya segera keluar dari Kamar mandi dengan gaun tidur tipis yang membuat otak Raja kembali melanglang buana. "Astaga... jadi ini alasannya menyuruhku berbalik." Ucap Raja saat melihat pantulan bayangan istrinya di cermin, "Kalau dia malu kenapa memakainya?" gumamnya lagi dengan senyum yang belum lepas dari bibirnya.
"Sudah! Kau boleh berbalik." Ucap Maya setelah merasa aman dibalik selimut tebalnya.
"Aku mandi dulu, ya!" Ucap Raja yang segera kekamar mandi.
"Huh... untungnya dia tidak banyak bertanya kenapa aku menyuruhnya berbalik tadi." Desah Maya lega. "Kalau tidak dia akan berpikir aku sengaja menggodanya. Ini semua karena Mita, bisa-bisanya dia menyiapkan baju kurang bahan semua. Awas kamu ya Mit, kakak hukum nanti." Gerutunya.
Suara knop pintu yang diputar membuat Maya merebahkan tubuhnya, ia berpura-pura sibuk dengan ponselnya saat Raja keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk dan rambut yang masih basah.
__ADS_1
Glek. kini giliran Maya yang menelan paksa ludahnya menyaksikan dada bidang sang suami tanpa berkedip. Raja tersenyum jahil seraya berdehem melihat istrinya begitu terpesona.
Maya mengalihkan perhatiannya dengan pipi yang merona, menyadari bahwa suaminya memergokinya.
Setelah selesai berpakaian Raja mendekat, ia duduk disamping sang istri. "Kau tak perlu sembunyi-sembunyi untuk memandangku, semua ini adalah milikmu" Ucapnya membuat pipi gadis itu semakin memerah.
"Siapa yang memandangimu? Kau percaya diri sekali?" cibir Maya.
"Jadi kau tak mau mengakuinya? Baiklah kalau begitu biar aku saja yang memandangimu!"ucap Raja seraya menarik selimut yang menutupi tubuh Maya.
"Mas!" Pekik Maya seraya menarik selimut itu kembali keatas.
Raja terkekeh. "Kenapa kau harus menutupi tubuh indahmu dariku, May? Bukankah aku sudah berhak melihatnya?" Goda Raja.
"Bu... bukan begitu, hanya saja aku takut kau berpikir kalau aku sengaja menggodamu dengan berpakaian seperti ini, tapi sungguh ini semua ulah Mita, isi tas ku isinya pakaian kurang bahan semua." Ucapnya kesal.
Raja tertawa mendengar penuturan Maya.
"Kau malah menertawakanku, Mas? Menyebalkan!" Rajuk Maya.
"Maaf!" ucap Raja dengan tawa tertahan. "Aku tak bermaksud menertawakan, hanya saja aku tidak menyangka Mita bisa berpikiran sejauh itu."
Maya mencebik, "Entahlah, entah dari mana dia dapatkan pakaian kurang bahan seperti ini." Keluh Maya sembari menatap pakaiannya.
"Tapi aku menyukainya! Aku suka apapun yang kau pakai." Ucap Raja menggoda.
Pria itu semakin mendekatkan dirinya, memangkas jarak mereka dan menyatukan bibir mereka.
Maya menikmati semua yang dilakukan suaminya, ia terbuai dengan semua sentuhan dan kecupan dari sang suami.
"Boleh aku melakukannya sekarang?"ucap Raja dengan suara yang serak, Maya mengangguk pelan, membuat bibir lelaki itu melengkung sempurna kembali menyerangnya dengan ciuman-ciuman lembut hingga sentuhan-sentuhan memabukkan.
Maya menutup matanya sembari berusaha menikmati semua perlakuan suaminya, memahan diri untuk tak mendorong tubuh suaminya itu, kilasan bayangan kejadian dimasa lalu masih menyisakan trauma pada dirinya.
Namun, pertahanannya roboh saat Raja mulai menyentuh area sensitifnya Maya mendorong tubuh lelaki itu hingga terpental kebawah ranjang.
"Lepaskan aku! Jangan sentuh aku... kumohon jangan sentuh aku..."
Racaunya dengan tubuh bergetar hebat, membuat Raja mematung di tempatnya.
"Ya Tuhan... apa dia masih trauma dengan kejadian malam itu?"
__ADS_1