
(Bab ini alurnya mundur ya guys😊)
Inder baru akan mengambil mobilnya, keningnya berkerut heran saat kedua ban mobil depannya tiba-tiba saja kempes. "Apa-apaan ini!" Ucapnya kesal.
Ia tak mungkin mengganti ban dulu, itu akan memakan waktu yang cukup lama sedangkan Za bersama Mami Maura dan Maya sudah menunggunya.
Ia berniat untuk kembali menghampiri istrinya, sembari memutuskan untuk memakai mobil yang dipakai pengawalnya saja.
sebuah panggilan membuat langkahnya terhenti. "Ya Mam?!"
"Inder, Za diculik!" Pekik Mami Maura panik.
"Apa?! Bagaimana bisa?! Aku kesana sekarang juga, Mam!"
………………
Inder berlari menuju lobby rumah sakit dimana Mami Maura berada. Seorang pengawal yang ia tugaskan untuk menjaga mereka menghampirinya.
Bugh. Sebuah pukulan mendarat di perut pria itu.
"Apa saja kerja kalian, Hah!" Hardiknya seraya melayangkan pukulan kedua pada lelaki itu.
"Hentikan Inder!" Seru Rega seraya menahan tangan sahabatnya, agar tak lagi memukul pengawal itu.
"Tak ada gunanya kau melampiaskan amarahmu padanya, sekalipun kau membunuhnya, itu tak akan merubah apapun!" Ucap Rega.
Inder menghempas kasar tubuh pengawal itu, dan Rega menyuruh lelaki itu untuk pergi menjauh. Ia sudah mengetahui kejadian yang menimpa sahabatnya itu.
Tubuh Inder merosot, kakinya tak mampu lagi menopang bobot tubuhnya yang melemah.
"Gue gak becus jaga istri gue, Ga! Harusnya gue gak ninggalin mereka..." Raungnya penuh sesal.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Inder?" Tanya Alika. "Kenapa Za bisa di culik?!"
Inder menggeleng keras. "Aku juga tidak tahu! Aku baru pergi lima belas menit yang lalu untuk mengambil mobil, lalu tiba-tiba Mami Maura menelponku dan bilang kalau Za diculik!" Ucap Inder menjelaskan.
"Ya Tuhan...Padahal kami baru saja bahagia dengan kabar kehamilan Za, dan sekarang seseorang sudah menculiknya!" Desahnya.
"Tenanglah, aku sudah menghubungi Raja dan Om Rendy mereka sedang dalam perjalanan kemari." Ucap Rega. "Kita cari Za sama-sama!"
"Gimana gue bisa tenang, Ga! sementara disana Za mungkin sedang ketakutan!" Sergahnya. Ia bangun dari duduknya, "Gue harus cari, Za!" Ucapnya.
"Alika tolong temani Mami sampai Papi Rendy datang, aku dan Rega akan mencari Za!" Ucap Inder seraya berlalu meninggalkan gadis itu.
"Cari lagi informasi dari Mami Maura, aku temani Inder dulu!" Pamit Rega yang diangguki oleh Alika.
"Kabari aku kalau ada apa-apa." Ucap Alika.
"Pasti!"
"Hati-hati, Ga!" Ucap Alika lagi.
Rega tersenyum seraya mengangguki. "Aku pergi!" Ucapnya sembari berlari menyusul Inder.
"Tuhan... tolong bantu mereka selamatkan Za!"
🌺🌺🌺🌺🌺
Raja, Papi Rendy dan Reihan baru sampai di rumah sakit ketika melihat Inder keluar dari pintu lobby dengan tergesa.
Dengan emosi yang memuncak ia menghampiri suami adiknya itu dan...
Bugh.
Satu pukulan mendarat diwajah Inder membuatnya tersungkur, darah mengalir disudut bibirnya yang pecah.
"Raja!" Pekik Papi Rendy. "Apa yang kau lakukan?!" Seraya menarik paksa putranya yang hampir melayangkan tinju keduanya.
"Dia pantas mendapatkannya, Pi!" Geram Raja. Matanya menatap tajam kearah adik iparnya itu. "Aku sudah merelakan Queen padamu, tapi kau bahkan tak becus menjaganya!" Hardiknya. Inder menunduk tak berniat membalas pukulan ataupun ucapan Raja.
"Sabar, Tuan! Bukan saatnya untuk saling menyalahkan!" Ujar Reihan berusaha untuk menengahi.
Raja menatap tajam pemuda itu. "Kau membelanya, Rei?!"
"Maafkan saya, Tuan! Tapi saya rasa akan jauh lebih baik kalau kita segera mencari nona, Queen!" Ucap Reihan.
"Asisten Anda benar!" Cetus Rega yang baru datang dan langsung membantu sahabatnya. "Dengan bertengkar seperti ini, kita justru hanya akan membuang waktu!" Ujarnya.
__ADS_1
"Mereka benar, Ja! Tahan emosimu, lebih baik kalian segera pergi mencari Queen." Timpal Papi Rendy. "Apa kau tau dimana istri saya sekarang?" Tanya Papi Rendy lagi pada Rega.
"Tante Maura sudah masuk ruang rawat, saya dan alika sudah berusaha mencari informasi dari beliau, tapi beliau hanya menangis tak bisa menceritakan kejadian detailnya." Ucap Rega.
"Astagaa, dia pasti sangat syok!" Keluh Papi Rendy.
"Dan Maya? Bukankah dia juga menemani Queen bersama Mami? Dimana dia sekarang?!" Cecar Raja, pertanyaan Papinya tentang sang Mami membuatnya ikut khawatir tentang calon istrinya itu.
"Nona Maya mengikuti mobil penculik itu, Tuan!" Ujar satu mengajak yang tadi berada di tempat kejadian.
"Apa?!" Pekik Raja. "Bagaimana bisa kalian membiarkannya melakukan hal itu sendirian?!" Hardiknya.
"Maaf, Tuan! Kami tak sempat melarang Nona, kami sudah berusaha mengikutinya, tapi kami kehilangan jejak Nona!" Ucap Pengawal itu dengan takut.
Raja menggeram kesal, kini bukan hanya adiknya, tapi calon istrinya juga ada dalam bahaya. "Kita berangkat sekarang, Rei! Siapkan semua alat dan lacak ponselnya Maya!" Titahnya pada sang asisten.
"Baik, Tuan!" Ucap Reihan.
"Kami juga permisi, Pi!" Ucap Inder.
Papi Rendy mengangguk. "Semoga Za segera ditemukan, Nak! Papi sudah menyuruh anak buah Papi menyebar untuk mencari Za.".Ucap Papi Rendy. "Hubungi Papi jika kalian butuh bantuan!"
"Iya! Terima kasih Pi!"
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Raja dan Inder mencari Queenza dengan mobil terpisah, Raja terus berusaha menghubungi ponsel Maya, tapi nihil tak ada jawaban.
Mereka menuju arah yang di tunjukan oleh pengawal yang membuntuti Maya tadi. Dan berhenti disebuah persimpangan jalan.
"Disini kami kehilangan jejak Nona Maya, Tuan!" Ujar pengawal itu. "Kami sudah mencoba mencarinya dengan menyusuri jalan ini, tapi kami tidak menemukannya."
Didepan Mereka ada persimpangan jalan, jika para pengawal itu tak menemukan Maya di jalan yang berada lurus di depan mereka, itu berarti ada kemungkinan Maya masuk kejalan berbelok ini. Masalahnya, apa mungkin seorang penculik membawa sanderanya kedaerah pemukiman kumuh yang biasanya padat penduduk?!
Bukankah biasanya mereka akan menyekap seseorang di tempat yang sepi, seperti tengah hutan?!
Raja kembali menghubungi ponsel calon istrinya itu, tapi kali ini Maya bahkan menolak panggilannya. "Kenapa dia malah menolak panggilanku?"
"Mungkin Maya sedang bersembunyi!" Terka Rega.
"Mengirim pesan pada Maya! Ada GPS dikalung yang Za pakai, yang terhubung langsung keponselku, kita akan Menemukan lokasi mereka jika berlian ditengahnya ditekan!" Ujar Inder.
"Bodoh kenapa tidak dari tadi?!" Cibir Raja.
"Aku panik sampai melupakan hal ini!"
"Bagaimana Rei? sudah dapat lokasi Maya dimana?" Tanya Raja.
Rei menggeleng.
"Sebaiknya kita sambil jalan saja, sebelum terjadi apa-apa dengan mereka!"
"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo, kita pergi" Titah Raja.
Mereka bergegas kembali masuk mobil dan mulai menyusuri jalanan kumuh yang padat dengan penduduk itu.
"Kita dapatkan lokasi Nona Maya, Tuan!" Ujar Reihan.
"Bagus! pastikan dimana posisinya, Rei!" Titah Raja.
"Sepertinya dibelakang pemukiman ini, Tuan!"
"Kau yakin?" Tanya Raja memastikan, Reihan mengangguk pasti.
"Inder ponselmu!" Seru Rega, saat melihat ponsel sahabatnya menyala.
"Syukurlah, berarti mereka sedang bersama, dan Maya sudah membaca pesanku." Ucap Inder. "Tuhan tolong jaga mereka sampai kami datang!"
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Maya menggenggam erat tangan Za, "Sugesti dirimu dengan hal-hal yang baik, Za. Bayi dalam perutmu akan merasakan kegelisahanmu, dan mungkin rasa keram diperutmu itu karena kekhawatiranmu saat ini." Ucap Maya.
"Jangan memikirkan hal-hal yang buruk! Kau harus percaya Mas Raja dan Inder sedang dalam perjalanan untuk menyelamatkan kita!".
Za menetap calon kakak iparnya itu,.kemudia menunduk pada perutnya yang masih rata. "Tetap kuat, ya Nak! Jangan khawatir Daady pasti akan menyelamatkan kita!" Ucap Za sembari mengelus perutnya.
Bruk....bruk...suara gedoran dari arah pintu mengagetkan mereka. "Buka pintunya, aku tahu kau ada didalam sayang!"
__ADS_1
"Itu Mike, May! Bagaimana ini?!" Pekik Za saat mendengar suara lelaki yang hampir memperkosanya tadi.
"Tenanglah, aku akan cari sesuatu untuk menahan pintu itu, Ok!" Ucap Maya seraya beranjak. Ia mendorong kursi dan nakas yang berada dikamar itu dan meletakannya dipintu kamar, berharap bisa menghalau para penjahat itu.
"Dobrak pintunya! Apa lagi yang kalian tunggu!"
Suara dari balik pintu membuat tubuhnya sedikit bergetar, tapi dengan cepat Maya menguasai diri, ada Za yang butuh dukungannya, jika ia panik siapa yang akan menguatkan gadis itu.
Maya mendorong meja rias yang berada dikamar itu, untunglah tak terlalu besar hingga ia bisa mendorongnya hingga pintu.
Brak... pintu itu berhasil di jebol. Namun, para lelaki itu kesulitan untuk masuk karena banyaknya barang yang menahan pintu itu.
"Kurang ajar! Kalian pikir kalian bisa kabur, Hah!" Geram Mike kesal melihat para bodyguardnya kesulitan membuka pintu.
Sementara Maya sudah menarik tangan Za agar keluar dari kamar lewat balkon.
"Ini cukup tinggi, May!" Ucap Za, tak yakin dengan ide calon kakak iparnya.
Maya menarik gorden kamar dan menyambungnya. "Kita turun pakai ini!" Ucapnya.
"Kau yakin!" Tanyanya.
"Sebenarnya tidak! tapi kita harus mencobanya!"
"Maya kau membuatku takut!" desah Za.
"Ayo Za! Kita tak punya pilihan lain! Kecuali kau mau ditangkap oleh mereka lagi."
Za menggeleng. "Kalau begitu ayo! kau pasti bisa, Za!" Ujar Maya menyemangati." Pegang gordennya erat, turunlah perlahan, tutup matamu jika kau merasa takut!" Ucap Maya lagi.
Za menurut, ia mulai turun dari balkon itu perlahan, dan Maya menyusul setelah Za hampir mencapai bawah.
Diatas Mike dan Friska bersama anak buahnya berhasil masuk kekamar itu, tapi terlambat Maya dan Za sudah berada dibawah balkon kamar membuat Friska mengumpat.
"Sial! Mereka berhasil kabur!" Ucap Friska.
"Cepat kejar mereka!" Titah Mike, seraya berlari keluar untuk mengejar Za.
Maya sudah sampai kebawah dengan selamat.
"Kita berhasil, May!" Seru Za seraya memeluk Maya.
"Kita tidak bisa senang dulu sekarang, Za! Kita masih harus keluar dari sini." Ujar Maya.
"Hei berhenti kalian!" Teriak seorang pengawal di belakang mereka.
"Ayo Za!" Seru Maya seraya menarik tangan Za.
Dua wanita itu berlari menuju gerbang rumah itu, sayangnya didepannya sudah ada dua orang lelaki berbadan besar menghadang mereka.
"Kalian pikir bisa kabur, Hah!" Ucap salah satu pria itu sembari menyeringai.
"Cepat tangkap mereka!" Teriakan dari arah belakang membuat dua pria itu semakin mendekat.
Maya menggenggam erat tangan Za, ia berusaha memutar otak mencari cara untuk mengalihkan perhatian dua pengawal itu.
Sreeeet... Maya merobek pakaian bagian dadanya membuat dua pengawal itu melotot menikmati pemandangan mulus didepannya.
Maya tersenyum miring melihat dua lelaki itu terpaku menatap dada mulusnya. Dia menoleh kearah Za yang juga sedang menatapnya heran. "Tendang juniornya, Za!" Ucapnya membuat wanita itu reflek melakukan perintahnya.
"Awwww" Kedua pengawal itu menggaduh saat pusaka mereka ditendang sekuat tenaga tanpa perasaan.
Za dan Maya kembali berlari dan berhasil keluar dari gerbang rumah itu.
Mereka terus berlari hingga tiba -tiba tangan mereka ditarik membuat keduanya terpisah.
"Lepas...lepaskan aku...lepaskan aku!" teriak Za seraya meronta.
"Za sadarlah! Ini aku, sayang!"
Suara yang sangat dikenalnya membuatnya berhenti, ia menatap wajah lelaki itu. "Inder!" Ucapnya, seraya menghambur kepelukan sang suami.
Inder menghela napasnya lega. "Syukurlah kau baik-baik saja, sayang!" Ucap lelaki itu lega.
"Syukurlah kalian selamat!" Ucap Raja yang juga memeluk calon istrinya. Raja melonggarkan pelukannya ia menangkup wajah calon istrinya itu.
"Jangan pernah coba melakukan hal berbahaya seperti ini lagi, May! Aku tak akan bisa memaafkan diriku kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu!"
__ADS_1