Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Makan malam 2


__ADS_3

"Kau begitu mirip dengan putriku!" Ucap Maura, tiba-tiba membuat semua orang beralih menatapnya.


Za menatap Maminya itu lamat-lamat, nata wanita yang merawatnya selama delapan tahun itu mulai berkaca. "Putriku juga sangat perasa, dan berhati lembut sepertimu." Sambung Mami Maura lagi.


"Putri Tante?" Tanya Inder yang masih agak bingung, setahunya keluarga ini hanya punya satu putri, yaitu Friska.


Maura mengangguk.


"Maksud tante, Friska?" tanya Inder lagi.


Kali ini Maura menggeleng, "Bukan, tapi putri kecilku." Jawabnya serak, Rendy mengusap punggung sang istri lembut, ia tahu iatrinya maaih berat menerima kenyataan.


"Seandainya dia masih bersama kami, dia mungkin seusiamu, dan juga cantik sepertimu." Lanjut Maura lagi, dengan air mata yang kini berderai. Ada sedikit rasa bahagia di hati Za, mendengar perkataan Maminya, setidaknya sekarang ia tau Maminya masih mengingatnya.


Seandainya aku bisa mengatakan pada kalian, kalau aku adalah putri kalian, tapi... aku tak bisa mengingkari janjiku pada Bunda.


"Maaf memangnya putri tante kemana?" Sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh inder untuk menjawab rasa penasarannya.


Maura tersenyum pahit, ia menghela nafas panjang sebelum menjawab. "Dia... meninggal dua belas tahun yang lalu dalam kecelakaan yang kami alami."


Tes...


Buliran bening itu mengalir tanpa permisi, begitu mendengar ucapan Mami maura.


"Meninggal? Apa mereka pikir aku sudah meninggal?" Batinnya.


"Maaf! Saya tidak tahu kalau ternyata putri tante sudah meninggal." Ucap Inder penuh sesal.


Telinganya masih bisa menangkap permintaan maaf Inder dengan baik, tapi matanya tak lagi bisa melihat dengan jelas akibat air mata yang kini seakan berlomba-lomba mengaliri pipinya.


"Tak apa, Inder. Ini sudah takdir, tante sudah ikhlas walau masih sangat berat ketika kembali mengingatnya." Ucap Maura mencoba tersenyum walau terlihat kaku.


"Kenapa?" Ucap Za, yang dibalas tatapan kebingungan semua orang.


"Kenapa kalian bisa yakin kalau anak kalian sudah meninggal?" Ucapnya kecewa. "Apa kalian melihatnya meregang nyawa? Melihat dia menghembuskan nafas terakhirnya? Atau apakah kalian menghadiri pemakamannya?" Cercanya.


"Za, jaga bicaramu!" Tegur Inder.

__ADS_1


"Aku hanya ingin mendapatkan penjelasan Inder! Bagaimana bisa mereka menyimpulkan bahwa putri mereka meninggal jika mereka tak melihatnya sendiri?" Jawabnya, Ia mulai menangis, sungguh... baru saja hatinya membuncah mengira Maminya tidak melupakannya, tapi... justru kini kenyataan lebih pahit dari sekedar dilupakan yang ia terima.


"Tapi kau tak punya hak bertanya tentang masalah pribadi mereka, Za." Ucap Inder lagi.buatnya tersenyum pahit.


"Hak?" Ucapnya "Ya, Kau benar. Aku tak punya hak. Aku tak berhak menanyakan hal itu pada mereka."


Queenza menatap dua wajah yang kini menatapnya bingung, "Maaf atas kelancangan dan ketidak sopanan saya, dan terimakasih atas makan malamnya." Ucapnya kemudian berlalu, berlari keluar dari rumah itu.


Ia terus berlari tak perduli dengan tatapan dua pengawal yang berjaga di depan gerbang rumah, sebuah taksi yang kebetulan melintas ia hentikan, lalu segera masuk tergesa kedalam taksi itu.


🌺🌺🌺🌺


Raja


Pria itu terus memperhatikan raut muka gadis yang ia yakini adik kecilnya itu, perubahan drastis ekspresi Za saat Maminya mengatakan putrinya sudah meninggal tak luput dari netranya.


Dan saat segala pertanyaan menyakitkan yang terlontar dari bibir gadis itu sudah cukup untuknya meyakinkannya bahwa Za adalah adik yang ia cari.


Begitu gadis itu berlari keluar dari rumahnya, yang kemudian disusul pria yang tadi datang bersamanya, ia membantu Papinya untuk menenangkan sang Mami yang kini mulai kembali sedih.


"Sayang... gadis itu tak tau keadaannya, makannya dia berkata seperti tadi." Ujar papinya menenangkan.


"Untuk apa Papa membohongi kita, Sayang. Dan surat kematian dari rumah sakit adalah bukti kuat kalau Queen memang meninggal, dan makam itu, jika memang masih hidup lalu makam siapa itu? Sekejam-kejamnya Papa tak mungkin ia sampai hati membohongi kita sebesar itu." Ucap Papi Rendy.


"Kau salah Pi, Kakek memang membohongi kalian, demi kepentingan pribadinya, dan demi menutupi aibnya." Batin Raja.


Raja pamit pada Orang tuanya setelah melihat Maminya sedikit tenang, Ia masuk kekamarnya menelpon dua penjaga yang berjaga di gerbang, tapi terlambat mereka mengatakan gadis itu sudah pergi dan bahkan ia pergi sendiri dengan menaiki taksi.


Ia kembali mengirim foto Za yang pernah dikirim oleh Reihan, lewat pesan. Kemudian menghubungi pria itu" Cari tahu kemana gadis ini pergi saat ini?" Ucapnya tanpa basa-basi. "Bagaimanapun caranya kau harus mengabariku secepatnya." Lanjutnya kemudia menutup telpon itu tanpa menunggu jawaban Reihan.


🌺🌺🌺


Inder keluar dari rumah keluarga Pramudza setelah meminta maaf atas kelancangan asistennya itu.


Dia sudah mengedarkan pandangannya ke sekitar halaman, tapi nihil gadis itu sudah tak ada disana. Ia lalu berinisiatif bertanya pada dua penjaga di depan gerbang, gadis itu sudah pergi dengan menaiki taksi, membuatnya segera mengambil mobilnya dan melaju berharap gadis itu belum jauh, apalagi rintik hujan juga mulai turun membuatnya langsung bergegas.


Sembari mengemudi ia pun menghubungi orang rumah dengan harapan gadis itu pulang kembali kerumahnya, tapi harapannya pupus saat mendengar penuturan Bi irah. "Non Za belum pulang, Den."

__ADS_1


Ia menepikan mobilnya, mengacak rambutnya frustasi, dan mulai panik. "Kamu kemana, Za?"


Otaknya Buntu, tak tahu harus mencari gadis itu kemana? Ia tak mengenal satupun teman Za, kecuali... sepupunya. Ya ia harus bertanya pada sepupu Za, siapa tau Za pulang kesana, Kan?


Tapi lagi-lagi ia sadar, Ia tak punya nomor sepupu Za. Membuat otaknya kini berpikir keras, Rega. hanya nama sahabatnya itu yang terlintas, ia segera menghubunginya, meminta bantuannya.


Tak lama Manager sekaligus sahabatnya itu masuk ke mobilnya, "Kok bisa ilang tuh anak orang?" Tanyanya dengan kening mengkerut tak mengerti.


"Jangan banyak tanya, sekarang pokus nyariin dia, gue udah muter-muter tapi nihil." Ujarnya.


Rega langsung mengambil alih kemudi mobilnya, melajukannya pelan mereka masih berkeliling menengok ke kanan kirinya berharap bisa menemukan seraut wajah yang dicarinya. Namun sampai malam kian larut gadis itu belum bisa mereka temukan.


Mereka hampir putus asa apalagi hujan yang turun dari tadi malah semakin deras dan hari juga kian larut hampir menyentuh angka jam duabelas malam. beruntungnya ponsel Za, yang ternyata tertinggal di mobil berdering, nama Alika terpampang disana.


"Pantas dari tadi kuhubungi tidak ada jawaban, ternyata ketinggalan di mobil." Keluh Inder, mendapati ponsel gadisnya berada di dalam mobilnya.


Ia geser icon hijau untuk menjawab telpon itu. "Za...apa kau baik-baik saja? Ya ampun sejak kau cerita akan bertemu demgan keluarga pramudza hatiku tak tenang takut kau kenapa-napa." Ujar si penelpon di ujung sana, tanpa tau kalau yang mengangkat telpon itu bukanlah si pemilik telpon.


"Alika? Ini Inder!" Jawabnya, membuat telpon itu hening seketika.


"I-Inder, kenapa ponsel Za ada padamu? Dimana Za?" Tanya Alika sedikit terbata.


"Tadinya aku ingin bertanya padamu, tapi sepertinya dia tak sedang bersamamu."


"Ada apa, kenapa kau bertanya padaku? Bekankah Za pergi bersamamu? Apa terjadi sesuatu?" Cecar Alika penasaran.


"Iya, kami sempat bertengkar. Alika apa kau tau kemana Za akan pergi jika dia sedamg emosi?"


"Cari dia di danau, pantai, atau tebing." Ujar Alika membuatnya makin panik.


"Untuk apa dia ketempat seperti itu?" Tanyanya.


"Pokoknya cepat cari dia disana." Ucap Alika meyakinkan, membuatnya menyuruh Rega untuk menuju tempat-tempat yang dikatakan Alika tadi.


Dan benar saja ketika ia sampai di pantai dari kejauhan ia melihat sesosok tubuh di tengah guyuran air hujan, membuatnya makin mendekat menghampiri pemilik tubuh yang ia yakini gadis yang ia cari.


Inder menghembus nafas lega, ketika gadis yang menunduk memeluk lutut itu benar-benar Queenza.

__ADS_1


"Astaga Za... apa yang sedang kau lakukan?" Serunya sembari merengkuh tubuh si gadis.membuat gadis itu mendongak sesaat sebelum kemudian terkulai lemas di pelukannya.


__ADS_2