
Queenza dibawa kerumah keluarga Pramudza, rumah masa kecilnya.
"Kamar ini sengaja kami kunci, agar tak ada yang bisa menempatinya termasuk Friska. karena kami memang tak pernah berniat sedikitpun untuk menggantikanmu, Nak." Ucap Rendy saat membawa Za memasuki kamar masa kecilnya.
Za tersenyum, mengedarkan pandangan keseluruh sudut kamar, semua masih sama seperti saat terakhir ia tinggalkan.
"Istirahatlah, Nak! Kau pasti sangat lelah hari ini." Ucap Rendy lagi.
Za mengangguk, ia masuk ke kamar itu dengan ditemani Mami Maura yang seperti enggan melepas putrinya itu.
"Mi... biarkan Queen istirahat dulu." Bujuk Rendy, melihat Istrinya tak melepas genggaman tangannya pada Queenza. "Mami juga harus istirahat, kan."
Maura menetap suaminya, "Tak bisakah Mami istirahat disini saja?"
Raja tersenyum, "Queen sekarang sudah besar, Mam. kasurnya tidak akan muat untuk ditiduri kalian berdua."
"Tapi..." Ucap Maura.
"Queen tidak akan kemana-mana, Mi! Dia akan tetap bersama kita." Ucap Raja seakan mengerti kekhawatiran Maminya.
Queenza tersenyum dan mengelus tangan Maminya, "Setelah Istirahat, Mami bisa kembali menemuiku disini." Ucap Za menenangkan Maminya.
"Baiklah, Mami istirahat dikamar dulu, ya. Kamu juga istirahat." Ucap Maura, kemudian keluar dari kamar itu.
Queenza menatap punggung Maminya hingga menghilang dibalik pintu.
"Mami sangat takut kehilanganmu lagi." Ucap Raja membuat gadis itu menoleh padanya. "Istirahatlah, nanti kita makan malam sama-sama" Sambungnya, yang diangguki gadis itu, Raja kemudian keluar dari kamar itu.
Queenza merebahkan tubuhnya di tempat tidur masa kecilnya dulu, ia menatap langit-langit kamarnya yang masih berhiaskan lampu warna warni hadiah dari kakaknya.
Ia seperti bernostalgia, bayangan saat memasangkan lampu itu kembali terbesit di ingatannya.
Suara dering telepon membuat lamunannya buyar, sebuah nama yang muncul sebagai pemanggil membuat bibirnya melengkung.
"Aku sampai lupa kalau belum mengabarinya." Ucapnya seraya menggeser layar untuk menjawab panggilan video dari lelaki itu.
đşđşđşđşđş
Inder baru menyelesaikan semua syutingnya hari ini, lelah sudah pasti. mengingat ia harus ke empat lokasi syuting dalam sehari ini.
"Nih minum dulu." Ucap Rega sambil menyodorkan sebotol air mineral yang langsung ia teguk hingga habis setengahnya.
"Wihh capek, Bro?" Tanya Rega sambil terkekeh.
"Udah tau, masih nanya." Gerutunya, kesal.
"Gue punya kabar yang bisa bikin capek lo hilang seketika." Ucap Rega lagi, membuatnya memutar bola matanya.
__ADS_1
"Kabar apaan?" Tanyanya sembari bersiap memejamkan matanya.
"Za sudah berada di kota ini!" Jawab Rega membuatnya segera menoleh pada sang Manager.
"Dapet kabar dari mana, lo?"
"Gue ketemu dia tadi pagi." Jawabnya enteng, membuat mata Inder membulat.
"Lo ketemu dia tadi pagi, dan lo baru ngomong ke gue sekarang."
"Sabar, Bro. Kalau gue ngasih tau lo tadi pagi, lo bakalan mogok syuting dan langsung minta pulang." Cibir Rega.
"Lo pikir gue anak kecil. tunggu apa lagi? ayo kita kekostannya Alika sekarang juga!" Titahnya, tapi Rega menggeleng.
"Mereka sudah tak tinggal disana lagi."
"Mereka pindah kost an?"
Rega menggeleng lagi, "Raja membelikan rumah untuk Za, kyaknya saingan lo berat, men! Karena dari yang gue lihat Raja akan melakukan apapun untuk kenyamanan Queenza."
"Kenapa gue ngerasa kalau Raja punya perasaan lain pada Za." Ucap Inder.
"Apapun perasaan Raja pada Za, gue rasa perjuangan lo untuk dapetin dia gak akan mudah."
"Gue akan hadapi apapun rintangannya, jangankan Raja Pramudza, Raja iblis sekalipun bakalan gue hadapi kalau perlu!"
Rega dan Inder sampai di rumah, Inder langsung pamit kekamarnya dengan alasan lelah padahal lelaki itu justru melakukan panggilan video dengan gadis pujaannya.
Setelah menunggu beberapa saat sampai panggilan video itu tersambung dengan wajah cantik dan suara lembut Za yang menyapa dilayar ponselnya.
"Haiii!" Ucap gadis itu dengan senyum manisnya.
"Kau sudah dikota ini dari pagi, tapi tidak mengabariku, uhhh kau membuatku kecewa."Ucap Inder pura-pura kesal.
"Maaf. "Ucap Za."Tadi siang aku berniat menelponmu, tapi tiba-tiba kakak mengajakku pergi jadi lupa deh." Ucap Za sembari tersenyum.
"Pergi kemana?" Tanyanya.
"Emmhh bertemu dengan Mami dan Papi. Bahkan sekarang aku sedang berada di rumah keluarga Pramudza!" Ucap Za, dengan senyum yang lebar. "Dikamar masa kecilku lebih tepatnya."
Inder bisa melihat senyum bahagia gadis itu, "Aku turut bahagia." Ucapnya.
Za tersenyum. "Terima kasih, Inder."
"Za?"
"hemh.."
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu!" Ucapnya, "Bisakah kita bertemu?"
"Kapan?" Tanya Za membuat senyum di bibir lelaki itu mengembang.
"Sebenarnya... aku ingin bertemu sekarang." Ucap Inder membuat gadis itu tertawa.
"Jangan bercanda, aku sedang berada di rumah keluarga Pramudza saat ini."
"Memangnya kenapa? Aku bisa kesana kalau kau mau." Ucap Inder.
"Benarkah? Datang saja kalau kau berani" Cibir Za.
"Apa kau sedang menantangku, Za?" Tanyanya.
Za terkekeh, "Aku bercanda, Inder. lagipula ini sudah malam kau pasti terlalu lelah untuk bepergian." Ucap Za.
"Tunggu saja, aku akan kesana." Ucap Inder seraya memutuskan Video call nya.
Za mengerutkan keningnya, "Dia tidak mungkin datang, kan?"
"Ahhh, dia tidak akan senekat itu hanya karena candaanku."
Za tadinya berniat untuk kembali menghubungi Inder tapi Maminya sudah memanggilnya untuk makan malam bersama.
Ia turun dengan perasaan canggung, di meja makan itu tak hanya ada Mami, Papi dan Kakaknya saja tapi juga sudah ada Friska yang menatapnya tak senang.
"Ayo, sayang. Duduk disebelah Mami." Ucap Mami Maura seraya menepuk kursi di sampingnya.
Ia menurut, dan duduk dikursi yang ditunjuk Maminya. Selama makan malam ini Maura tak henti-hentinya menaruh makanan kesukaan Queenza dipiringnya.
"Cukup, Mi. Apa kau ingin membuat anakmu segemuk sapi?" Tegur Papi Rendy, membuat Maura mendelik tapi berhasil menghentikan aksinya dan kini berganti menyuapi Queenza.
"Aku sudah besar, Mi! Aku bisa makan sendiri." Ucap Za, namun diberi gelengan oleh Maminya.
"Kau tak boleh menolak! Sudah sangat lama Mami tidak menyuapimu, dan Mami sangat merindukan itu." Ucap Maminya membuat Za membuka mulutnya menerima suapan demi suapan dari tangan Maminya.
Dan ia baru akan menyelesaikan makannya ketika seorang pelayan datang menghampiri mereka.
"Maaf, Nyonya. Didepan ada tamu untuk Nona Queenza." Ucap pelayan itu, membuat kening semua orang menatapnya. "Apa kau mengundang seseorang, Queen?" Tanya Papi Rendy.
Za menggeleng meski dalam hati ia sudah bisa menebak siapa tamu itu.
"Aku izin kedepan untuk melihat tamuku dulu, ya Mi, Pi." Ucap Za yang diangguki oleh Mami dan Papinya.
Ia berjalan menuju ruangan tamu, dan benar saja, lelaki itu menyeringai begitu melihat ia sampai disana.
"Hugh, Padahal aku hanya bercanda!" Keluhnya dalam hati.
__ADS_1