Takdir Cinta Queenza.

Takdir Cinta Queenza.
Mengajukan Cuti


__ADS_3

Hari berganti, akhirnya hari pernikahan itu sudah didepan mata. Dari kemarin Za sudah berada di kediaman sang Bunda, seperti keinginannya acara akad akan di laksanakan di kediaman Bundanya yang disusul resepsi sederhana mengundang kerabat terdekat dan tetangga sekitar.


Sebelum berangkat menuju kampung halamannya ia menyempatkan diri berziarah kemakam kakeknya bersama Inder, ia juga ingin meminta restu pada sang kakek, seberapa buruk perlakuan kakek padanya semasa hidup, ia sudah memaafkannya.


Kemarin Inder sendiri yang mengantarnya, sekaligus berziarah kemakam Ayah Aldi untuk meminta izin dan restunya. Ia tersenyum kecil mengingat bagaimana sulitnya menyuruh lelaki itu pulang.


Dan kakaknya? Ia menghela nafas panjang, sejak kejadian itu dia belum bertemu lagi dengan Raja, hanya kabar dari Papinya bahwa Raja sudah menemui Mami dan kembali kekantor cukup membuatnya lega, berati pria itu sudah baik-baik saja.


Za mengambil ponselnya mengirimkan pesan pada Alika yang belum juga datang, ia ingin sepupunya itu mendampinginya diacara bahagianya nanti.


"Semoga setelah ini aku bisa dapatkan kebahagiaanku yang sesungguhnya." Doanya dalam hati.


🌺🌺🌺🌺


Sementara itu di lain tempat Rega sedang tersenyum penuh arti menatap wanita didepannya. Alika baru saja mengajukan cuti untuk pulang kekampung halamannya, sebenarnya dia sudah tau tentang rencana kepulangan Alika, Inder sudah menyuruhnya memberi cuti pada gadis ini karena Za ingin Alika mendampinginya.


Keberatan? Tentu saja tidak! Di kantor semuanya bisa ia kendalikan tanpa bantuan Alika sekalipun, jadwal Inder juga sudah ia atur dari dua hari yang lalu.


Jadi... sebenarnya sudah tak ada pekerjaan yang harus Alika lakukan dikantor ini, hanya saja ia punya rencana lain! Bibirnya sedikit terangkat melihat gerak gadis itu yang gelisah, entahlah dia begitu suka menggoda gadis itu.


"ehemm!" Ia berdehem, membuat gadis itu menatapnya gugup. "Jadi... bagaimana, Pak?" Ucap Alika, yang kemudian segera memejamkan mata seraya menutup wajahnya menyadari sudah salah memanggilnya. "Bodoh kenapa aku memanggilnya pak lagi?" Batin Alika.


Ia mengangkat sebelah alisnya, kemudian tersenyum sambil beranjak menghampiri gadis itu. "Turunkan tanganmu! Saya sedang tidak mood untuk menghukum kamu!" Ucapnya tepat ditelinga Alika.


Gadis itu menurunkan tangannya perlahan , menatapnya waspada.


"Baik, saya akan beri kamu cuti, Tapi... Ada syaratnya."


"Syarat?" Tanya gadis itu mulai cemas.


"Hal gila apa lagi yang akan ia jadikan sebagai syarat? Dia sudah menyuruhku memanggilnya sayang, menghukumku dengan ciuman, sekarang apalagi yang laki-laki ini rencanakan?" Batin Alika.


Alika menatapnya sebal, "Anda mau meminta syarat apa lagi?" Cetus Alika dengan bibir mengerucut.


Rega mendekati Alika membuat gadis itu mundur selangkah kebelakang. "Anda mau apa?" Tanyanya dengan tatapan waspada.


"Jangan bilang kalau dia ingin mencium bibirku sebagai syaratnya! Pipi perawanku sudah dia nodai jangan sampai bibirku juga jadi korbannya." Batin Alika.


"Awas saja kalau dia berani menodai bibirku, akan kutendang juniornya sampai tidak bisa bangun lagi!" Tekadnya dalam hati.

__ADS_1


Namun, yang terjadi adalah, matanya reflek menutup begitu wajah Rega semakin mendekat, Alika bahkan bisa merasakan hembusan hangat napas pria itu menerpa wajahnya, tapi sedetik kemudian.


Cetakk... Rega menyentil jidatnya.


"Awww!" Pekik Alika sontak langsung membuka matanya membulat. "Apa yang kau lakukan?" Ucapnya seraya mengusap keningnya yang sakit.


"Itu hukuman karna kau sudah berpikir mesum!" Ucap Rega.


"Siapa yang berpikir mesum?" Sanggah Alika.


"Kalau bukan mesum, lalu kenapa kau memejamkan matamu, seolah aku mau menciummu saja."Cibir pria itu.


"Itu... Aku... kupikir..." Alika berbicara gugup.


"Apa yang kau pikirkan?" Ucap lelaki itu.


Glek Alika menelan ludahnya saat wajah pria itu begitu dekat dengannya.


"Ahhh Sial! Kenapa dia terlihat begitu tampan?" Rutuknya dalam hati. Matanya tak bisa berpaling dari salah satu makhluk tuhan yang nyaris sempurna ini, bahkan untuk sekedar berkedippun matanya seolah tak Rela.


"Kenapa? Apa kau sedang mengagumi ketampananku?" Ucap Pria itu yang langsung membuatnya memalingkan muka mencoba menyembunyikan wajahnya yang merona. "Anda terlalu percaya diri, siapa yang mengagumi ketampanan anda!" Kilah Alika.


"Kau masih ingin mengajukan cuti?" Tanya Rega, mengalihkan pembicaraan.


Gadis itu menoleh, lalu mengangguk.


"Baiklah, tapi sebagai syaratnya aku yang akan mengantarmu kesana, dan kau harus mengijinkanku tinggal dirumahmu! Bagaimana?" Tanyanya santai.


"Hah! Tapi untuk apa anda repot-repot? Saya bisa pulang sendiri dengan travel, dan menginap dirumah saya? disana itu bukan kota metropolitan seperti disini, bisa digrebek saya kalau bawa lelaki nginep dirumah." Ujar Alika mencoba mencari alasan.


"Kalau begitu sayang sekali, kau tidak bisa mendampingi saudaramu dihari pernikahannya, karena pekerjaan disini masih sangat banyak, dan kau masih karyawan baru jadi aku tak bisa mengizinkanmu cuti." Ucap Rega santai. "Kau bisa kembali melanjutkan pekerjaanmu.


"Dasar Bos kejam, jadi dia ingin mengantar dan menginap dirumahku supaya aku masih bisa bekerja? Benar-benar tak berperasaan." Rutuk Alika dalam hati.


Rega kembali ke kursinya dan berpura-pura sibuk, ia mengabaikan wajah memelas Alika yang masih berdiri di depannya.


"Pak, emhhh maksudku Sayang, tolong pikirkan lagi, Za pasti akan sedih jika saya tak bisa mendampinginya, dan saya yakin CEO kita tidak ingin calon istrinya sedih di hari pernikahannya." Bujuk Alika lagi.


Rega menatap gadis itu, "Dari itu aku mengjukan syarat padamu, agar kau bisa tetap hadir disana sekaligus bertanggung jawab untuk pekerjaanmu!" Ujar Rega tak mau kalah.

__ADS_1


Telak! Alika tak bisa berkata-kata lagi, "Aku memang tidak akan bisa menang melawan dia!" Keluh alika dalam hati.


Dan akhirnya dengan berat hati, Alika menyetujui syarat dari Rega.


Mereka berangkat setelah jam makan siang. sepanjang perjalanan, percakapan mereka hanya tentang arah jalan yang harus dituju, hingga menjelang senja mereka baru sampai di kampung halaman Alika.


Alika segera keluar dari mobil. "Anda bisa parkir sebelah sana!" Ucapnya.


Alika sengaja menunggu Rega selesai memarkirkan mobilnya, ada sesuat yang harus ia rundingkan dengan lelaki itu.


"Sudah Selesai?" Tanyanya begitu Rega kembali. "Ia, kau masih disini, ayo kita masuk!" Ajak Rega


"Tunggu! Ada sesuatu yang harus saya bicarakan."


Rega menghentikan kakinya yang baru akan melangkah, menatap gadis itu. "Mau bicara apa."


"Bisakah selama ada disini, saya mamggil anda pak saja? Orangtua saya akan salah paham kalau saya memanggil anda dengan sebutan sayang." Ucap Alika Hati-hati.


Rega tersenyum, "Baiklah, tak masalah." Ucapnya.


"Sungguh? Anda tidak akan menghukum saya seperti tempo hari, kan?" Tanyanya memastikan. Bisa pingsan orangtuanya kalau melihatnya dicium sembarangan.


Rega mengangguk, membuat gadis itu tersenyum lebar. "Ternyata dia punya hari juga!" Gumamnya dalam hati.


"Tapi sebagai hukumannya masa kerjamu padaku diperpanjang jadi dua tahun." Ucap Rega dengan Santai.


"Huh kuralat ucapanku tadi, dia tak punya hati, dia itu hanya punya otak. Makannya selalu bisa manfaatkan segala kesempatan untuk keuntungannya!"



Inder dan Queenza.



Rega



Alika

__ADS_1


__ADS_2