
"Diam disini, dan berhenti berpikir untuk pergi dariku!" Bentak Raja, ia membawa Queenza kekamarnya.
Queenza menatap takut pada kakanya, untuk pertama kalinya ia melihat sang kakak semarah ini.
Raja yang menyadari sang adik ketakutan segera merengkuh tubuh gadis itu dalam dekapannya. "Maafkan kakak, karena kasar padamu, tadi." Ucapnya penuh sesal. "Apa kakak membuatmu takut, hemz?" Ucapnya lagi.
Queenza mengangguk, dan mempererat pelukannya, "Jangan pernah marah seperti itu lagi." Ucapnya.
"Maaf, Maafkan kakak."
"Kakak, aku akan mencoba membujuk Bunda, agar mengijinkanmu untuk bisa mengunjungiku, kumohon jangan memperkeruh keadaan dengan mengurungku disini." Ucap Za.
Raja melepas pelukannya, ia menjauhkan sedikit tubuh sang adik agar bisa menatap wajahnya. "Kau ingin meninggalkanku lagi?" Ucapnya.
"Kakak..."
"Cukup! Tak ada lagi perdebatan. Aku tidak akan biarkan siapapun membawamu pergi lagi!" Ucap Raja.
Tok...tok..
"Raja buka pintunya, Nak!" Suara Papi Rendy, membuatnya mengernyit.
"Papi?" Gumamnya.
"Apa kali inipun Papi akan menyerahkan Queen pada Wanita itu? Tidak! Kali ini aku tidak akan membiarkannya." Batin Raja.
"Kakak, buka pintunya itu suara Papi." Ucap Za membujuk Raja.
Raja bergeming. Suara dari balik pintu kembali terdengar. "Raja jangan seperti anak kecil, Nak. Semua bisa kita bicarakan baik-baik." Kali ini Maminya yang berbicara.
Queenza menatap sang kakak, "Mami benar, kak. kita bisa bicarakan semuanya baik-baik." Sekali lagi ia mencoba membujuk kakaknya. Namun Raja masih bergeming.
__ADS_1
"Nak, Mami dan Bunda Resha sudah berdamai, kami sudah sepakat untuk merawat Queenza bersama, jadi bukalah pintunya."
"Berdamai? Benarkah?" Gumamnya.
Queenza tersenyum, saat sang kakak meraih tangannya dan berjalan mendekati pintu.
Ceklek. Pintu dibuka terlihatlah wajah-wajah penuh cemas dari balik pintu.
"Sayang!" Ucap Mami Maura membelai lembut wajah sang putra. "Semua sudah selesai, Nak. Tak akan ada yang bisa memisahkanmu dari adikmu, kau bisa lega sekarang." Ucap Mami Maura, seraya memeluk putra tercintanya, Raja membalas pelukan Maminya dengan sebelah tangannya sedang satu tangan lainnya masih menggenggam tangan Za.
Queenza tersenyum lega, ia menatap Bundanya. "Terima kasih, Bunda." Ucapnya tanpa suara, yang dibalas anggukan disertai senyuman dari Bundanya.
"Sekarang kau bisa melepas tangan adikmu, Nak! Dia tak akan bisa pergi kemana-mana lagi." Goda Papi Rendy, membuat semua orang tertawa, dan ia pun melepas tautan jemarinya.
Queenza menghambur memeluk Bundanya, kemudian berganti pada Mami dan Papinya. Lega rasanya mengetahui semua masalah ini sudah berakhir dengan sangat indah. Kini ia tak harus memilih salah satu dari mereka ia bisa bersama keluarganya secara utuh tanpa harus takut menyakiti salah satunya.
"Terima kasih, Tuhan. Kau telah mengabulkan keinginanku agar bisa bersama ibu kandung dan juga keluargaku." Gumamnya penuh syukur dalam hati.
đşđşđşđş
Ini sudah sore, tapi tak ada satu pesanpun yang dibalas kekasihnya itu, panggilannnya juga tak diangkat membuatnya frustasi, dan harus susah payah untuk bisa mempokuskan dirinya agar bisa melakukan pekerjaannya dengan benar.
Dan akhirnya syutingnya dapat ia selesaikan dengan baik, membuatnya langsung bergegas menuju mobil untuk segera menuju rumah sang kekasih guna mencari tahu apa yang menyebabkan kekasihnya itu tidak menghubunginya sama sekali hari ini.
Ia menghembus nafas kesal saat melihat sang manager sudah berada disebelah mobilnya. "Kemana aja, lo?" Tanyanya kesal, pada manager sekaligus sahabatnya itu, hari ini kekesalan nya berkali lipat karena kealfaan managernya, ia tak terbiasa dengan orang lain, bahkan hari ini ia lebih banyak melakukan segala hal sendiri meski ada dua asisten yang disiapkan oleh Rega untuk membantunya.
"Biasa aja napa, jelek amat muka lo hari ini!" Goda managernya.
"Beneran minta dipecat, nih orang!" Sungutnya.
"Jangan, Bro! Lo gak bakalan bisa dapet manager ganteng dan mempesona macam gue, nanti pamor lo turun kalau lo pecat gue." Rega masih mencoba berkelakar, ia tak ingin langsung menyampaikan apa yang dilihatnya dirumah, Za. Inder masih lelah dan ia ingin sahabatnya itu istirahat barang sejenak, karena jika ia langsung mengatakan kabar tentang Za sudah bisa dipastikan lelaki itu akan langsung melesat menemui kekasihnya itu.
__ADS_1
Rega menyuruh dua asisten yang ia tugaskan membantu Inder untuk pulang diantar oleh salah satu bodyguardnya, sementara dirinya masuk kedalam mobil bersama Inder.
"Jadi langsung balik?" Tanyanya, tapi Inder menggeleng.
"Anterin gue kerumah, Za." Ucapnya.
"Tapi lo baru aja selesai syuting, apa gak sebaiknya lo istirahat dulu." Bujuk Rega.
Inder menggeleng lagi. "Dari siang perasaan gue gak tenang, semua pesan dan panggilan gue gak da satupun yang di balas sama dia. Gue takut terjadi sesuatu dengannya." Keluh Inder.
Rega menghembus nafas kasar, padahal ia sengaja tak menceritakan tentang Za agar sahabatnya mau beristirahat dulu tapi tetap saja pria itu seperti bisa merasakan apa yang menimpa kekasihnya, Sepertinya ikatan batin mereka begitu kuat sehingga jika yang Za ditimpa masalah maka Inderpun bisa merasakan nya.
"Inikah yang dinamakan cinta sejati" Batin Rega.
"Heiii kenapa malah melamun, ayo kita berangkat." Ucapan Inder membuat lamunannya buyar, ia segera menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya sesuai keinginan sahabatnya itu.
Rega memperlambat laju mobilnya ketika sudah mendekati area rumah Za, sedang Inder masih berusaha menghubungi gadis itu.
Namun panggilan yang tak kunjung diangkat membuatnya benar-benar kesal, hingga akhirnya memilih meletakan ponsel itu.
Mobil mereka yang akan masuki halaman dihadang oleh para penjaga rumah, membuatnya dan juga Rega berinisiatif menghubungi Alika, yang kemudian diberikan pada. Queenza.
"Za, aku ada didepan rumahmu!"
**Queenza & Inder
Raja**
__ADS_1
Rega